
"Sayang, sabar sedikit lagi ya." Shan terengah, dia membungkukkan badan dengan kedua lengannya bertumpu pada lutut. Peluh menetes, ritme jantung berdegup kencang, nafas pun masih memburu membuat tubuh tegap itu bergerak naik turun kentara akibat tarikan cepat oksigen yang memasok diafragma.
"Shan," Sabrina menepuk bahu keponakan yang masih setengah membungkuk di depan batas antar passenger.
"Excuse me," suara petugas bandara.
Sabrina dan Shan menoleh, pasti teguran untuknya yang memicu keributan tadi. Dengan sigap, salah satu anak buah sang wakil kepala kepolisian Dubai itu berbicara dengan para petugas Bandara, merek menjauh dari keluarga Qavi.
"Onty, aku salah. Jangan di tangguhkan apabila ada sanksi," ucap Shan sedikit lebih lega.
"Paling teguran agar tak mengulangi hal serupa. Ayo ke mobil, kamu harus lekas nyusul Maira kan?" ajak Sabrina, merangkul bahu keponakan yang kini lebih tinggi darinya.
"Tapi tadi," Shan tak enak hati melihat tatapan sinis petugas kala dia pergi.
"Diurus mereka, tenang saja. Ck, kamu makin tinggi dan tegap mirip Ezra. Bunda gimana kabar? ayahmu masih pelit membagi info tentang istri kesayangannya itu. Syaharan dan si kembar sehat?" tanya tante Shan beruntun.
Lelaki Dilara tersenyum. "Alhamdulillah semua baik ... Onty, aku langsung ya. Maaf sudah merepotkan semua, nanti mampir kesini lagi sebab kita mau holiday ke Oma, terima kasih banyak," Shan pamit saat telah berada di mobil yang akan membawanya kembali ke Sharjah.
"Nevermind Shan. Salam buat Maira and be carefull," Sabrina melambai saat mobil yang membawa keponakannya perlahan meninggalkan Bandara.
Sepupu Ezra itu lalu mengabarkan padanya bahwa tugas yang diamanahkan telah selesai dan Shan kembali ke Sharjah, terbang menuju USA menggunakan jet pribadi Asyraf Hamid.
Satu jam kemudian.
Asyraf Hamid menyusul ke Bandara Sharjah, menyapa sang cucu sejenak sebelum dia lepas landas kembali. Memberikan syal couple hasil buatan tangannya untuk mereka, juga menyerahkan banyak print-out reservasi hotel serta semua kebutuhan honeymoon pengantin baru.
Shan merasa tak enak hati. "Oma, kan belum tentu juga Ai mau honeymoon langsung. Dia baru pulih," cegah Shan, namun tak dapat menolak sebab semua sudah neneknya siapkan.
"Pasti mau. Sudah sana, pergi. Ini dimakan ya, Oma masakin kesukaan kamu. Pesawat ini bakal langsung antar kalian ke Switzerland. Pulangnya pake komersil saja, semua sudah lengkap di map itu. Opa yang siapkan, jadi dijamin ajib," girang Asyraf Hamid memberikan satu lunch box ke atas meja di kabin.
"Ayo, jangan lama-lama. Kasihan Shan, salam buat Maira ya. Selamat honeymoon, sampai jumpa dua pekan lagi," ujar Andre, menarik lengan istrinya agar lekas turun.
Shan mengucapkan banyak terima kasih, dia memeluk Andre sebelum mereka turun.
Selang beberapa menit berikutnya. Shan pun take-off.
Putra Dilara bersandar di kursi kabin private jet yang lega nan luxury. Dia memejamkan mata, menghela nafas atas runutan kejadian tadi.
__ADS_1
"Pada akhirnya aku tetap merepotkan banyak orang. Astaghfirullah, Shan Shan," keluhnya mengucap istighfar meski dia tahu, mereka melakukan ini semua sebab rasa sayang padanya dan Maira.
"Punya dua ayah yang super gini nih, apa-apa main spy, ranger. Sengaja gak bawa ponsel biar leluasa tapi tetap aja bisa ditemukan dengan mudah," kekehnya lagi seraya membuka bekal dari Oma.
"Empat belas jam lagi. Semoga gak terlambat sampai ke acara kamu ya, Sayang. Mepet waktu banget ... kamu juga jangan jetlag sebab hanya punya satu jam prepare sebelum acara kan? Eh, aku mesti siapin sesuatu kayaknya biar dia gak kecewa sebab kejadian tadi."
Shan membuka tabnya, lalu mencari sesuatu .
Dia kemudian bertanya pada co-pilot apakah sudah bisa menyalakan wifi atau menyambungkan panggilan dengan nomer yang tertera di salah satu toko incaran Shan. Setelah menunggu beberapa saat hingga ketinggian pesawat aman, cucu Emery mulai menjalankan rencana.
Shan menghubungi Naya. Mengatakan bahwa dia tengah menyusul Maira, membagi informasi hotel tempatnya akan reservasi juga sederet rencana lainnya. Tak lupa, mengirimkan pesan untuk wanita pujaan.
"Usahakan tidur ya, Ai. Aku menyusul di belakangmu, jangan khawatir. Maaf sudah membuat istri cantikku gelisah dan kesusahan. Aku pakai nomer yang tidak banyak orang tahu, kamu dapat menyimpannya sebagai nomer darurat, ya Sayang. Take care, Ai."
Setelah urusan urgent selesai. Shan melanjutkan misi. Satu jam berdiskusi panjang lebar dengan seseorang di California, membuat konsep yang mereka ajukan disepakati oleh Shan, pria muda ini nampak puas. Senyum tersungging dibibirnya yang sensual.
"Semoga kamu suka, Sayang. Aku tidur dulu ya, Ai. Mudah-mudahan kamu nyaman di perjalanan, thanks sudah membawa dan memakai jaket aku," gumam Shan, bangkit menuju ruang tidur dibelakang kabin.
...***...
Wanita ayu keturunan ningrat, masih sibuk menyemprotkan micellar water lalu membubuhkan pelembab juga rangkaian perawatan kulit lainnya berharap agar wajahnya tak terlihat lelah dan kusam.
Ratih bertanya pada flights attendance apakah dapat memanfaatkan fasilitas wifi satu jam kedepan. Setelah mendapatkan izin dan password, asisten Maira melaporkan kondisi terkini pada Mahen. "Nona, buka ponsel Anda. " ujar sang pengawal.
Maira meraih gawai dari dalam tas, lalu mengaktifkan menggunakan mode wifi.
Ting. Pesan beruntun masuk dari ibu juga satu nomer asing, dia membukanya satu persatu.
Sudut bibir istri tuan muda Qavi, tertarik keatas membentuk segaris senyuman. Maira membalas pesan Shan. "Iya. Aku nurut kakak, ini mau tidur." Dia lalu mengirimkan capture kondisi kabinnya, tanpa sengaja lengan berbalut jaket Shan ikut tersorot.
Ini adalah kali pertama kedua insan itu saling mengirim pesan. Senyum tak luput dari wajah ayu Maira, hatinya berbunga-bunga.
Keduanya pun tertidur menjelajah angkasa alam mimpi dalam pesawat berbeda dengan tujuan yang sama.
...***...
Dua belas jam kemudian.
__ADS_1
Pesawat Maira landing. Tak ada kejanggalan saat burung besi itu mendarat perlahan disana. Mahen pun sudah bersiap menunggu di gate kedatangan.
Saat princess Kusuma akan memasuki gedung airport. Buket bunga rose pink dihadiahkan petugas wanita padanya. Awalnya Maira menolak namun ucapan gadis bule itu mengatakan bahwa dia hanya harus menyusuri jalan ini agar menemukan jawaban.
Wanita ayu pun dibuat heran sebab sepanjang jalur menuju pengambilan bagasi, bertaburan balon berbentuk love dilantai hingga berujung pada banner romantis diujung lorong.
"Maaf atas keterlambatan ku datang menyambutmu, Nyonya Shan."
Maira membola, teddy bear Jingga juga satu buket coklat menyambutnya disana. Seketika ruangan besar itu riuh akibat tepuk tangan ratusan passenger.
Ucapan selamat juga pelukan dari sesama penumpang pesawat yang sama dengannya, diterima oleh Maira dengan sukacita. Gadis bule lain pun menghampiri dan menyerahkan teddy bear juga buket coklat pada sang bintang utama.
Putri cantik Kusuma memeluk semua pemberian Shan. Terlebih saat mereka menuju pintu gate keluar, Mahen menyambut dirinya dengan papan nama serupa. "Diminta oleh menantuku, untuk menjemput istrinya yang ayu. Selamat datang, Nyonya Shan."
Ratih menjadi sasaran pelimpahan dua buket tadi. Hanya teddy bear yang masih Maira pegang.
"Ayah!" Maira berlari memeluk ayahnya. Dia terharu.
"Udah gede, masih cengeng aja."
"Dia manis banget sih," ucap Maira dalam pelukan, menyeka air mata bahagia.
"Ayo siap-siap. Semua itu Shan yang atur, dia menyiapkan semua ini masih didalam pesawat loh, Sayang."
Maira melepas pelukannya. "Benarkah? so sweet," ujarnya seraya mengambil kedua buket dari tangan Ratih.
"Ratih, tolong bereskan ini dan minta EO nya mengantar ke hotel ya. Hotel Shan," bisik Mahen untuk kalimat terakhir.
Dari kabin pesawat yang masih mengudara. Shan menerima konfirmasi pesan dari EO. Video juga foto Maira saat dia landing sukses membuat senyum menawan Shan terbit. Terlebih dia membaca pesan balasan dari istrinya itu.
"Satu lagi. Tunggu ya, Ai."
.
.
...________________________...
__ADS_1