ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 115. HAJAT


__ADS_3

Mau tidak mau, Rayyan mengajak Ryuki juga Dwiana untuk membicarakan hal serius ini. Pasalnya, Amir menyampaikan akan langsung mengkhitbah Ryuki tanpa proses ta'aruf sebab keduanya kerap bertemu.


Terlebih, saat Ryuki sekolah di Malaysia, Kaffa kerap membagi atau mengiriminya makanan lebih intens.


Saat Rayyan menanyakan pada Gamaliel mengenai keputusan Kaffa yang memilih putrinya, lelaki humoris itu hanya mengatakan alasan lucu Kaffa.


"Assalamu'alaikum, Mas Gamal, aku mau konfirmasi pesan dari perantara Mas bahwa Mas Amir mengatakan akan melamar Ryuki, betul?" tanya Rayyan didengarkan oleh keluarganya.


"Betul. Aku meminta Amir menjadi perantara sebab Alma sakit dan Kaffa masih di Malaysia. Jadi agar niatan putraku tidak tertunda, diwakilkan sementara," jelas Gamaliel pada sambungan telepon.


"Jika boleh tahu, apa dasar Kaffa menginginkan putriku? ku kira akan memilih Athirah sebab signal Kaffa merujuk pada putri Mas Amir," Rayyan ragu. Jangan sampai Ryuki menjadi pelarian Kaffa sebab cintanya diabaikan Athirah.


"Kaffa bilang, butuh seseorang yang lebih dewasa dan dapat menjaga diri sebab anakku itu akan sering bolak balik Jakarta-Malaysia. Jika memilih Athirah, kami masih satu lingkup sepupu meski beda buyut. Juga memang Kaffa lebih condong pada Ryuki setelah dia meminta bantuan untuk di istikharah kan oleh Abyan dan paman Almahyra, pemilik pesantren Al-islah di Semarang. Nilai istikharah dengan Ryuki angka delapan, artinya pernikahan ini akan baik untuk keduanya, serta keluarga," tutur Gamaliel.


Obrolan singkat malam itu berakhir setelah Rayyan meminta waktu untuk bertemu langsung dengan Amir esok siang di kediaman mereka.


"Ryu, beneran mau sama Kaffa? Nuha, gak ada rasakah?" pancing Dwiana.


"Amih kan gak izinkan aku pacaran. Nuha itu kawan lah, aku gak ada rasa sama dia," jelas Ryuki masih memainkan ponselnya.


Dwiana curiga, jangan-jangan putrinya memang telah mengagumi Kaffa sejak lama. Wanita tomboy itu, perlahan dan dengan gerakan secepat kilat meraih ponsel Ryuki yang sedang di genggamnya.


"Amih! jangan!"


"Ini anak sama emak, kebiasaan ribut melulu." Rayyan hanya mendiamkan aksi Diana dengan Ryuki.


Dwi berlari ke kamar utama, mengunci pintu dari dalam, sementara Ryuki menggedor kencang. "Amiiiiiihhhh!"


Semenit kemudian.


Dwiana membuka pintu, ponsel bercasing merah itu langsung disambar Ryuki dari cekalan sang Bunda.


"A, anaknya emang demen sama Kaffa. Banyak candid foto Kaffa dari kejauhan. Bilang kalau suka, Neng. Pake acara tanya terserah Apih segala padahal emang cinta. Pret," cibir Dwiana menjelaskan hasil temuannya, seraya duduk disamping Rayyan.


"Hmm, gitu ya. Ryu, kamu main dibelakang diam-diam," tegur Rayyan ternyata kecolongan.

__ADS_1


"Miih, jangan bongkar aib aku, please," pinta Ryuki seraya duduk dan mengguncang lengan Dwiana.


"Piiiiihhh, katanya mau jalan. Roseyra pengen ikut les ini, biar Mifyaz lirik aku," ujar putri bungsu mereka.


"What, Mifyaz? sejak kapan kamu ngefans sama putra Bunda Naya?" ujar Dwiana, keduanya kerap bertemu sebab selain satu sekolah, Roseyra juga sering menemani Dwi kala siaran di Queennaya.


"Dia tuh cool meski antipati sama cewek. Jago basket pula dan aktif di Rohis. Idola di sekolah dan cuma aku yang bisa ngajak dia ngomong meski cuma Hai," ujarnya antusias.


"Lah apa hubungannya dengan kursus basket? Rose, kamu kan sudah ikut les sempoa, gak usah aneh-aneh deh ah. Waktu kamu penuh dengan banyak kegiatan, nanti kita susah kalau mau kumpul," cegah Dwiana.


Riuh perdebatan antara Dwiana dengan kedua putri mereka membuat Rayyan pusing. Keluarga yang penghuninya kebanyakan wanita, apakah begini? pikir Rayyan seraya memijit pangkal alis.


Keesokan Siang.


Setelah mengurus pernikahan putranya di Solo, Amir langsung terbang ke Jakarta menunaikan tugas dari sahabat juga saudara sepupunya, Gamaliel untuk menemui Rayyan. Disamping itu, keluarga Tazkiya meminta agar Fayyadh datang ke kediaman kakek neneknya itu pekan depan sebab akan menggelar syukuran.


Kini, kedua pria telah bertemu di ruang tamu kediaman Rayyan.


Pembicaraan serius itu hanya berlangsung satu jam, sebab Ryuki menyetujui dan menerima lamaran Kaffa. Seserahan juga proses akad nikah akan mereka langsungkan dua pekan dari sekarang.


...***...


Syaharan tak henti membujuk Dila untuk segera sowan ke kediaman Amir agar Athirah menjadi miliknya. Namun sang Bunda justru enggan sebab ia belum lulus sekolah menengah atas, juga janji untuk meneruskan pendidikan agar dapat menggantikan Ezra belum dia tunaikan.


"Bun, please," bujuk si putra kedua Dila.


"Enggak. Bunda gak mau sebab hutang Aran masih banyak ke Ayah," tegas Dila seraya melanjutkan dzikirnya.


"Aran, kalau jodoh ya gak akan kemana. Kalian itu masih belia. Impian kamu semua belum tuntas, sabar dulu lah," sambung Ezra saat putranya menggelayut di kaki yang menggantung sebab dia duduk di sofa.


"Kenapa Kak Shan boleh? pilih kasih ini namanya," keluh Syaharan membandingkan dirinya dengan Shan.


"Kakakmu telah finish meraih semua keinginan. Punya Breeder iya, ngajar, peduli dunia hewan pun berhasil dia capai, Aran. Kamu gimana? baru dua dari lima cita-cita bukan? Ayah tidak pilih kasih, tapi ketika pria telah selesai dengan mimpinya, maka apabila hadir orang lain dalam hidupmu, engkau telah siap menyelami dunianya juga," ungkap Ezra memberi gambaran.


"Jadi? menurut Bunda, aku gak bisa ya sambil jalan," Syaharan tak putus membujuk.

__ADS_1


"Bunda ragu, Aran bisa sinergi. Capek Nak, kamu tahu kemampuan diri bukan? jangan memaksa, bilamana Athirah memang Allah jodohkan denganmu ya bakal nyampe meski jalannya rumit. Ayo, buktikan dulu jika Aran sanggup menopang diri, sebelum menjadi sandaran bagi orang lain," imbuh Dila, mengelus rambut sang putra yang masih bersimpuh.


Lelaki usia belia itu hanya duduk diam merenungi semua ucapan kedua orang tuanya.


Terbayang wajah malu-malu Athirah yang jarang dia temui dari kebanyakan gadis di sekitarnya. Namun restu Dilara adalah kunci agar bakti sebagai anak dapat dia tunaikan.


Syaharan keluar dari kamar kedua orang tuanya dalam keadaan lesu. Pria muda ini lalu turun ke lantai dasar bermaksud melepaskan penat dengan menyesap secangkir kopi.


Teeeeett. Suara bunyi interkom, tanda ada seorang tamu di depan.


Maid kemudian melangkah ke arah ruang tamu bermaksud membuka pintu, namun Syaharan cegah.


"Biar aku, sekalian mau ke bawah beli es kopi," ujarnya sambil lalu menahan langkah maidnya.


Adik Shan lantas membuka panel pintu. Dia melihat sosok mungil memakai hijab membelakangi dirinya.


"Hai, mau ketemu siapa?" tanya Aran pada sang gadis.


Wanita muda dengan dress Sage dan pashmina hitam, menoleh seraya berbalik badan menghadap asal suara.


"Assalamu'alaikum. Bang Shan ada? atau Bunda Dila? aku diminta Ayah untuk menitipkan ini untuk Mbak Maira sebab Bang Shan bilang akan menginap di sini setelah dari Solo," ujar sang gadis ayu seraya menyerahkan paper bagian warna merah dan Jingga.


Syaharan membeku. Suaranya sangat lembut. "Wa-wa'alaikumsalaam. Isinya apa?"


"Teh rempah khas Bali. Ibu pulang kampung kemarin dan baru tiba. Tolong sampaikan untuk Bunda Dila dan Mbak Maira. Permisi, terima kasih," terangnya sembari berbalik badan.


"I-iya, thanks."


"Raline ya? kok gak masuk dulu?" tegur Nyonya rumah saat mendengar suara samar tamu setelah mendapat pesan dari Naya, bahwa dia mengirimkan seorang gadis membawa sesuatu untuk putrinya dan Dila.


Gadis itu kembali menahan langkah kala mendengar sapaan pemilik rumah. Dia tersenyum manis, menghadap Dilara seraya mengangguk.


"Cantiknya."


.

__ADS_1


.


..._______________________...


__ADS_2