ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 87. KATA HATI


__ADS_3

"Oh, gitu. Dia cantik dan terlihat sepadan buat Mas," lirih Fio seraya menunduk, lalu mulai melangkah meninggalkan kedua pria.


"Aku tidak hanya menilai fisik," ujar Fayyadh menyusul gadis yang dua langkah lebih jauh darinya.


"Dia sempurna. Semoga Mas didekatkan dengan wanita sholihah, lancar segala urusan dunia dan akhiratnya aamiin," balas Fio memberikan doa, seraya menoleh kearah kiri saat Fayyadh berhasil mensejajarkan langkah.


"Aamiin. Jaga kesehatan ya Fio, kabari Abah jika ingin bepergian," pinta sang lelaki tampan.


"Why?"


"Agar aku tahu, setidaknya untuk meredam kecemasan berlebih. Intens jalin komunikasi dengan Umma supaya kamu punya teman mengobrol, tidak memendam semua sendiri," lirih Fayyadh.


Abah memperhatikan interaksi keduanya dari belakang mereka. Sepuh Kusuma menilai, Fayyadh mulai ada kecondongan perasaan untuk Fiora. Namun dia menahan diri.


"Kamu pinter Mas, minta Aiswa milihin jodoh sekaligus mengarahkan Fio agar melekat di hati menantu sholihah ku."


"Hmm ... bukan upaya Mas agar Umma memilihku kan?" gadis ayu tertawa renyah.


"Eh pede tingkat provinsi ya, Dek," elak Fayyadh meski batinnya mengiyakan.


Putri Glenn masih saja tertawa. "Aku sadar diri kok. Mas-ku terlalu tinggi digapai, juga kita tidak sejalan," ujarnya di sela tawa.


Abah hanya tersenyum samar, ketika mereka masuk ke dalam lift menuju lantai empat dimana kamar Glenn berada.


"Fio sebut aku dengan, Mas-ku."


"Hmm, gak salah dengar kah aku? dia manggil Dek?eh Fio, jangan ge-er, Mas itu gak setara dengan kamu."


"Mir, anakmu mulai tebar pesona. Siap-siap ngadepin gejolak batin Fayyadh nanti, moga kamu bisa bijak mengarahkan putramu."


Ting. Pintu kotak besi terbuka.


Fayyadh melihat aksesoris lucu dari luar etalase kaca ketika melewati mini cafetaria juga toko perlengkapan disana. Dia meminta izin pada Fio agar menunggunya sejenak.


Lelaki Kusuma pun masuk kedalam kios, membeli beberapa barang disana dan tak lama keluar dengan menjinjing totebag.


"Beli apa, Mas?" tanya Abah melihat wajah cucunya sumringah.


"Buah tangan. Masa gak bawa apa-apa ke ca--"


"Terus, teruuuusss, Mas," sindir Abah diiringi kekehan Fayyadh yang mengikuti langkah kedua orang didepannya.


Tak lama kemudian, mereka telah berada di ruangan Glenn Tusakti.


Lelaki paruh baya yang tergeletak diatas brangkar hanya tersenyum tipis melihat Kusuma datang menjenguk.


"Thanks, Pak Wisesa. Maaf telah kasar beberapa waktu lalu," ujarnya lirih pada Abah saat Sepuh Kusuma duduk di sisi brangkar Glenn.


Keduanya berbincang sesaat sebelum bait doa diberikan oleh beliau. Fayyadh mengamati dari jauh, dia duduk di lengan sofa single berhadapan dengan nona muda Tusakti.


"Fio, dipake ya."


Fiora yang tengah menadahkan kedua tangan, untuk mengamini doa Abah, terkejut kala sebuah gelang kayu gaharu diletakkan Fayyadh disana.


"Ih lucu, imut bentuknya. Buat aku, Mas?" binar matanya cerah menoleh ke arah Fayyadh.


Putra Amir menunduk, tak kuasa menerima senyuman manis gadis ayu ini. "I-iya, buat kamu. Aku sudah pakai, nih," lirih Fayyadh seraya menunjuk pada pergelangan tangan kiri yang tertutup kemeja panjang.


"Hm, sebelahnya tasbih ya? buat aku boleh?" ujar Fio melihat batu hitam yang melilit disana.


"Ini? tasbih kesayangan aku hadiah dari Umma kala ujian dan mendapat nilai mumtaz di beberapa mata kuliah," Fayyadh melepas tasbih yang melilit tangan kirinya, meletakkan diatas meja.


"Eh boleh? ini pake karet ya? jadi lentur," bisik Fio kala meraih benda kesayangan lelaki tampan.

__ADS_1


"Iya. Umma yang mendesign khusus untukku. Gunakan dengan baik ya Fio, benda itu sudah dua tahun menemaniku," lirihnya menunduk.


Fiora menggenggam erat dua benda pemberian lelaki muda Kusuma. Bibirnya lirih melantunkan sholawat.


"Eh, dia hafal? sejak kapan?"


Fayyadh mendengar lirih suara yang hampir tak tercetak diudara. Abah kemudian menepuk bahu Fayyadh untuk pamit dari sana.


Putra sulung Aiswa, mendekat ke ranjang Glenn. Meraih tangga kanannya lalu mencium takzim. "Lekas sehat lagi ya Tuan besar. Aku titip Fio. Semoga Anda sekeluarga dijaga oleh Allah, aamiin," doa Fayyadh mengalir tulus untuk beliau.


Glenn tak menyangka bahwa Kusuma masih berlaku lembut setelah insiden beberapa waktu lalu. Dia menutup kelopak matanya serta mengangguk samar pada sang putra mahkota Danarhadi.


"Thanks, Mas Fayyadh," lirih Glenn melepas keduanya pergi.


Fio mengantar Kusuma ke muka kamar, dia berdiri diambang pintu.


"Ini, tempel di handphone ya."


"Apa ini, lampu?"


"Iya. Kalau ada lampu serupa didekatnya, dia bakalan berkedip. Nih kayak gini, kata penjual tadi lagi trending," kekeh Fayyadh mendekatkan ponselnya pada hiasan lampu di tangan Fio, dia merasa konyol tapi ingin melakukannya.


"Gak bakalan ngedip lah nanti, karena Mas jauh, tidak disini kan," ujar Fio tertawa.


"Ayo Mas." Abah menarik lengan cucunya.


"Pokoknya dipakai ya. See you Fio," ujar Fayyadh saat lengannya ditarik paksa sang kakek.


"Hem, hati-hati di jalan Mas," Fio melambaikan tangan. Melepas kepergian pria itu.


Sesekali Fayyadh masih menoleh ke arah pemilik Floffy Craft yang belum menutup pintu dan sama tengah menatap dirinya, hingga pandangan kedua insan terhalang pilar lift.


"Ada Zaynah yang menunggu jawaban kamu, Mas," Abah mengingatkan saat telah masuk ke dalam lift.


"Jangan sampai ketika kamu melakukan ibadah, isinya hanya tuntutan. Kalau istikharahmu cuma itu, mending gak usah," tegas Abah. Paham cucunya galau.


"Aku tahu, kudu ikhlas ibadah maring Gusti Allah bukan karena ngarep atau justru meminta hal sesuai kehendak," sahut Fayyadh, jarinya memainkan gelang yang baru saja dia kenakan.


...***...


Satu bulan kemudian.


Setelah pertemuan dengan Zainal, Abah menegur Hariri tentang pengajuan Fayyadh pada sahabatnya.


Ternyata Hariri tak mengetahui bila Zainal adalah kawan lama sang besan. Dia juga mengatakan bahwa Zaynah adalah putri kedua dari istri ketiga pria itu. Wisesa terperanjat, namun setelah mertua Amir menjelaskan kedudukan ibu Zaynah, Abah mengerti.


"Oh istri pertamanya meninggal, istri kedua bercerai dan sekarang dengan si ibu Zaynah. Pantas, kok anak dia seumur cucuku," ujar Abah.


Mereka berdua lalu merencanakan kapan jadwal untuk nadzor sebab Fayyadh akan kembali ke Indo saat jeda triwulan.


...*...


Orchid, menjelang siang.


Setelah hampir satu bulan penuh pasangan muda Qavi melanglang buana di benua Eropa dan sempat mampir ke Dubai, kini keduanya tiba di Indonesia.


Tumpukan pekerjaan telah menunggu Shan. Besok dia sudah harus masuk kerja mengejar ketinggalan materi bagi para Mahasiswa, termasuk melayani pasien klinik pet shop miliknya.


Biiip.


"Assalamu'alaikum ... kakak pulang, Ajmiiiiiiiii," teriak Maira kangen adiknya.


"Wa'alaikumsalam, Ayaz belum pulang," suara kedua orang tuanya dari ruang keluarga.

__ADS_1


"Ayaaah," Maira berlari ke arah ayahnya, dia menangis.


"Kenapa kak? baru pulang kok begini?" tanya Mahen memeluk putrinya, dia kangen.


"Shan? Nak, kenapa Maira?" tanya Naya kala melihat Shan kerepotan menarik dua koper mereka.


"Eh, Ai. Baby, kenapa?" tanya putra Ezra melihat istrinya terisak.


"Dia...." Maira menunjuk Shan. Sementara yang ditunjuk, kebingungan.


"Jelaskan Shan, kenapa?" Mahen menoleh ke arah sang menantu.


"Aku gak ngerti, tadi Ai baik-baik aja malah manja banget sama aku," jujurnya dengan wajah polos.


Naya tak kuasa menahan senyum melihat wajah Shan yang merasa bersalah.


"Maira, jelaskan!" Naya kali ini menegur sang putri.


Dengan nafas terengah akibat terharu, Maira mulai bicara. "Aku pernah bilang bahwa ingin punya suami seperti Ayah agar bisa bermanja dan menerimaku yang kekanak-kanakan. Zie malah men-treath aku melebihi Ayah," ujarnya menyeka air mata.


Seketika Naya dongkol, dia mentoyor kepala Maira. "Dasar manja. Bunda kira kenapa, haduh Maira, lihat muka Shan tuh!"


"Aduh, sakit Bun...." keluh princess memegangi kepalanya.


Mahendra terkekeh renyah. "Shan udah pucet, takut Ayah marahin sebab bikin kamu nangis, Sayang. Lihat dia tuh, gih minta maaf," lelaki paruh baya itu menunjuk ke arah dimana Shan berdiri.


"Zie, maaf ... ngeprank," Maira cengengesan melihat ke arah suaminya.


"Kebiasaan, bikin sport jantung aja. Aku duluan naik ya Ai, beresin ini." Shan menghela nafas, lalu mengangkat koper mereka menuju lantai dua.


"Zie?" tanya Naya dan Mahen bersama.


"Panggilan sayang aku buat Kakak," ujar Maira menyusul Shan seraya berlari.


"Ziiieeee...."


Shan menoleh. "Ai, jangan lari-lari! Astaghfirullah ... awas jatuh, Sayang!" putra Dila menangkap tubuh istrinya yang berlari ke pelukan. Dia sekuat tenaga menahan bobot tubuh agar tak terjatuh dari atas tangga.


"Maira!" Mahen ikut histeris melihat kelakuan putrinya itu.


"Aman Yah, aman," ujar Shan, memegang pinggang ramping istrinya.


"Anak tarzan gitu tuh, persis Ibunya," sindir Mahen untuk Naya.


Uhuk. Uhuk.


...*...


Sementara itu, Di Solo. Saat yang sama.


Glenn Tusakti tak kunjung membaik setelah satu bulan dirawat intensif. Terlebih dia melihat perubahan signifikan anak gadisnya, membuat mental Glenn terpukul.


"Pa."


"Pergi!"


"Enggak, sebelum Papa sehat," lirih nona muda, pemilik Floffy Craft bersimpuh.


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2