
"Mas Mahendra, bolehkah kami mengutarakan sesuatu?" tanya Ezra, mencoba mengadu argumen mengapa putranya bersikukuh dengan sang princess.
Mahen mengerti, mereka akan mencoba membujuk dirinya. Dia tahu, bahwa sosok muda nan tampan di hadapan kini adalah pria yang di cintai Maira.
Namun, lagi-lagi perasaan takut membayangi benak pasangan Guna bilamana sang putri kesayangan di poligami sebab Shan atau lelaki mana pun pada akhirnya akan menyerah atas kondisi Maira.
"Rasanya apapun yang akan kalian sampaikan tetap tidak mengubah keputusan kami, mohon maaf sekali lagi. Maira di ambang vegetatif, tiada seorang pun dapat memprediksi kapan dia bakal kembali membuka mata dan memijak bumi," tegas Kepala Keluarga Guna.
"Bang, beri kesempatan Pak Ezra atau Shan mengutarakan sesuatu. Terlepas apakah nanti Abang teguh pendirian maupun sebaliknya," saran Rey, membantu keinginan sang tamu.
Huft. Mahen menghela nafas, menoleh ke arah sang adik angkat, menelisik manik mata segelap malam.
"Baik, silakan Mas Ezra." Mahen mengizinkan El Qavi mengutarakan maksud.
"Shan, kamu atau Ayah yang bicara?" tanya Ezra pada Shan. Putra sulungnya mengangguk tanda agar ia diizinkan bicara.
"Silakan, Shan." Mahen menyilakan pemuda tampan itu agar menyampaikan niatan.
"Boleh lihat Maira dulu gak, Om? hanya ingin memastikan bahwa dia ridho denganku," pinta sang pemuda.
Mahen menoleh ke arah kanan, pada sosok ayu untuk meminta persetujuan. Naya pun mengangguk, lalu ia pamit lebih dulu menuju kamar sang putri. Merapikan kondisinya agar aurat Maira tidak terbuka.
"Saya permisi sebentar, Maira tidak memakai hijab sempurna. Hanya pashmina panjang melilit, jadi khawatir ada aurat yang terbuka. Nanti Bu Dila dan Shan boleh naik setelah Maira siap ya," tutur sang Nyonya Guna, izin undur diri.
Sepuluh menit berlalu.
Suster yang menjaga Maira turun ke lantai dasar dan menemui tuan rumah di ruang tamu. "Pak, kata Ibu, Nyonya dan Tuan muda Qavi sudah boleh masuk," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Mahendra mengangguk, lalu menyilakan Dilara dan Shan ke atas. Sementara dirinya bersama Ezra tetap berada di ruang tamu.
Suster pun memandu langkah kedua orang Qavi menaiki puluhan anak tangga menuju kamar sang princess. "Silakan masuk," ucap tenaga medis tanpa uniform putih itu, seraya membuka handle pintu agar terbuka.
Naya menoleh ke arah dua tamu berdiri di ambang pintu. "Mari masuk. Aku minta doa dari kalian berdua untuk kesembuhan putriku," ucap Naya, suara serak nan berat itu kembali hadir. Memicu satu tetes bening kecil menyembul diujung netra. Istri Mahendra ini hanya berdiri tak jauh dari sisi ranjang yang kosong.
Dila mendekat, mengawali perjumpaan pertama dengan calon menantunya dengan sangat lembut. Dia duduk di sisi ranjang Maira. Mengecup tangan kiri yang masih terpasang alat diujung jari.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Salam kenal, aku Bunda Dila, ibu kandung El Shan. Mana yang sakit? sembuhkan diri dulu ya jiwa raga, jangan terburu-buru ... Maira gak akan sendirian lagi, ada Shan menemani. Tugas dia sebagai anak hampir selesai, saatnya menyongsong kewajiban baru, sebagai suami bucin milik istrinya," bisik Dila di telinga Maira untuk kalimat terakhir.
Naya tak mengira, cara Dilara berkomunikasi dengan Maira sedikit berbeda dengan yang lain. Jika kebanyakan kerabat meminta Maira agar lekas sadar kembali, justru Ibu empat orang putra ini sebaliknya.
"Kak, ayo." Dila melirik putra sulung lewat ekor matanya meski tak beranjak dari sisi ranjang. Sejak masuk ke kamar tadi, Shan lebih banyak menunduk. Kini, ia hanya berdiri di ujung ranjang Maira.
"Assalamu'alaikum Ai, yang selalu indah di setiap pandangan. Aku hanya ingin halal bersamamu. Dan hari ini, ku katakan dengan segenap kerinduan. Bismillahirrahmanirrahim, jadikanlah aku pendamping hidupmu, Ai." El Shan menjeda ucapannya.
"Menikah adalah salah satu sunah yang dapat menyempurnakan separuh agama dua insan. Jadi, maukah kau menghabiskan banyak waktu bersama denganku?" ucap Shan mencuri pandang pada wajah ayu nan pucat.
"Beri isyarat pada Bunda, Sayang. Maira dengar kan? bisa gak gerakkan mata atau jari?" bisik Dila.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin, tibbil quluubi wa dawaa-iha, wa 'aafiyatil abdaani wa syifa-iha, wa nuuril abshoori wa dliyaa-iha, wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallim," lirih Shan melantunkan sholawat.
Naya trenyuh atas apa yang dilakukan kedua orang tamunya. Tak henti bibir sensual itu merapal sambung doa untuk Maira. Meski harapan mendapatkan respon Maira terbilang nihil, tapi baik Dilara ataupun Ainnaya merasa bahwa putri sulung keluarga Guna, mendengar apa yang disampaikan.
Dilara menyeka air mata yang turun dari kedua sudut mata putri sulung Guna. "Bunda ridho sama Maira, semua keputusan Shan akan kami support. Aku juga bakal bantu princess Kusuma ini untuk menjaga hati Shan agar setia padamu. Jika Maira berkenan dengan lamaran tadi ... boleh minta air mata serupa gak, Sayang? setelah itu, kamu bisa istirahat sampai waktunya tiba untuk bangun dan mengembalikan semua kasih sayang Shan. Kasihi putra Bunda Dila ya," bisiknya lembut.
Tangis Naya perlahan pecah, begitu tulus Dilara menyambut putrinya masuk dalam keluarga besar El Qavi.
__ADS_1
Hening.
Tak henti lantunan doa mereka panjatkan di sana. Shan memilih duduk di sofa single kamar itu, menjauh dari ranjang sang pujaan meski bibirnya urung diam, terus mengirimkan sholawat bagi calon istri tercinta.
Tak luput dari pandangan Dilara dan Naya, wajah ayu keturunan ningrat terlihat damai dalam tidurnya.
Tiba-tiba. "Alhamdulillah, syukron Maira putriku." Dilara kembali menyentuh lembut wajah ayu, menyeka lelehan lava bening dari sudut netra.
Bunda Shan lalu memperlihatkan cairan basah di ujung jarinya pada Naya. "Maira memberikan jawaban kah ini maknanya?"
Melihat apa yang calon besannya julurkan, Naya mendekat lalu menyeka kembali dari mana asal cairan itu bermula. "Kak, ini kah yang kamu mau? dia Knight of Rollies milikmu," bisik Naya. Tak kuasa menahan isak, dia jatuh luruh di sisi ranjang Maira.
"Allah, Bu Naya!" seru Dila menahan bobot tubuh sebisa yang ia jangkau.
"Ayo kita doa dulu." Dilara bangkit, memutar ke sisi dimana Naya jatuh. Ia menarik wanita rapuh itu dan memeluknya.
"Semoga Shan diizinkan menjadi penyemangat Maira. Kami sebagai orang tuanya tak akan pernah mencampuri urusan rumah tangga putraku," bisik Dilara. Dia memahami hati seorang ibu yang gundah bahkan merasa tak pantas apabila berada di posisi demikian.
Naya hanya mengangguk samar dalam pelukan calon besannya. Sangat bersyukur atas karunia hari ini.
"Keputusan ini, aku serahkan pada Abang ya Bu Dila. Dia sangat terpukul juga kehilangan, suamiku merasa bahwa yang menimpa Maira adalah kesalahannya. Mohon dimaklumi," ucap Naya melerai pelukan.
Shan hanya menatap dari kejauhan ujung ranjang Maira. "Ai, kamu dengar? aku gak akan menyerah dengan mudah, Ahya."
.
.
__ADS_1
...______________________...
...🤧 aduh mamae...