
Menghabiskan waktu sepanjang hari hanya dengan Maira, membuat Shan kian berharap pada wanita ayu yang duduk di sebelahnya ini akan lekas mengingat memori mereka.
"Ai. Kata senja, janganlah menjadi sepertiku yang indah namun sementara. Mempunyai kisah hati nan singkat, yaitu mencintai lalu pergi begitu saja," bisik Shan, menyandarkan punggung Maira ke dadanya.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu?" wanita ayu melirik dengan ekor mata pada lelaki yang memeluk tubuhnya di atas kursi malas.
"Gak ada. Hanya kuat bertahan denganku, itu saja. Namun jika terlalu sulit, jangan memaksakan diri, my affection for you will never be the same as the beautiful twilight only for a moment," ucap Shan, mengecup kepala Maira. (Rasa sayang ku kepadamu tidak akan pernah sama seperti senja yang indahnya hanya sesaat.)
"Bisakah aku, meski hati ini masih meragu?" keluh Maira masih merasa bersalah.
"Pada apa? Fayyadh? besok dia datang, Sayang. Kamu bisa memastikan perasaanmu padanya," ucap Shan dengan suara berat menahan sesak yang tiba-tiba hadir.
"Jika semua tak sesuai dengan keinginanmu, bagaimana hubungan kita ini?" cemas princess Kusuma.
"Ai, tak pernah aku lelah menunggu, walau senja telah banyak berganti, akan selalu berada disini untuk menantimu pulang. Meskipun diriku bukan rumah yang kau harapkan, tapi aku adalah tempat nan siap menemanimu setiap hari. Jangan khawatirkan aku," ujar Shan lagi.
Entah apa yang dirasakan Maira, hatinya gamang. Sejenak luluh dan menyukai apa yang Shan lakukan namun seketika menolaknya.
Maira memilih menekan gejolak penolakan. Dia memeluk tubuh tegap yang mendekapnya dari belakang, beringsut menenggelamkan kepala kedalam dada bidang lelaki idaman itu.
"Biarkan semua berjalan sesuai apa yang Allah takdirkan ya Ai, ikhlaskah bersikap manis begini denganku saat ini?"
Maira mengangguk. "Hmm, ikhlas. Peluk aku nanti malam ya, jangan pergi."
Shan menarik nafas dalam. Mengeratkan pelukan, satu tangan melingkari sedangkan lainnya mengusap tubuh molek yang bermanja. Entah esok akankah dapat mengulang moment seperti ini lagi.
Mertua pria dan ayah Ezra berkata, jika Shan ingin melepaskan bayang Fayyadh dari ingatan Maira, maka sang istri harus dihadapkan pada sosok tersebut. Dewiq bahkan memberikan arahan serupa, mungkin bertemu Fayyadh justru dapat membangkitkan memorinya yang terberai.
Pembicaraan antar pria berujung pengukuhan keputusan Shan. Apabila justru kenangan mereka membawa hati Maira pada cinta sesungguhnya, maka putra Dilara akan siap melepaskan dan menyatukan mereka.
Keputusan berat bahkan di tentang oleh semua pria Kusuma, termasuk Abah dan Uyut kala Shan mengutarakan niatan beberapa waktu lalu. Namun alasan pria muda itu mampu membungkam keinginan para tetua.
"Untuk apa memiliki raga namun tidak jiwa dan hatinya? hanya akan ada luka bagi kita bertiga, terlebih kami adalah keluarga. Jika aku melepaskan Maira, setidaknya El Qavi akan mudah membebaskan diri," tegas Shan kala itu.
Adzan maghrib berkumandang.
Pasangan muda masih bergeming, enggan beranjak karena mereka tahu, ini adalah malam kemungkinan mereka bersama untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Namun Shan tak ingin semua sikap manis Maira membuatnya kian sulit pergi di kemudian hari. Dia mengajak sang istri menunaikan ibadah bersama.
Suasana malam ini kental terasa kekosongan dalam diri. Shan tak henti murajaah bacaannya hingga Maira yang berusaha mengikuti apa yang dia mampu baca pun, menangis.
"Dia pria baik ya Allah, menghargaiku dengan tidak memaksa menyentuh dan meminta hak meski dia bisa. Jangan timpakan kesulitan juga nestapa padanya. Salahku, yang lamban mengingat sosok bersahaja ini. Andai aku wanita tanpa separuh rasa hati, tentu telah jatuh cinta serta mengabdi penuh kasih untuk suamiku."
"Ai. Makan diluar aja yuk ba'da isya. Besok aku mulai ngajar ke kampus pagi hari, akan ku usahakan telah di rumah saat Fayyadh tiba," ucap Shan setelah selesai murajaah.
Maira hanya diam tak menjawab. Dia masih memandang sosok kalem nan sabar dihadapannya. Seakan ingin menyimpan wajah tampan dalam memori yang baru.
"Kenapa?" tanya Shan tersenyum dilihat sedemikian rupa oleh Maira.
"Cepet banget ya. Kemarin kita baru ke istal dan lapangan tem-bak. Ke markas pun sebentar. Kapan aku bisa mengingatmu kalau jarang pergi ke tempat kenangan kita?" gerutu Maira.
"Besok pagi mau ikut ke Kampus gak, Sayang? pulangnya mampir ke istal lagi. Berkuda bareng seperti kemarin," ajak Shan.
Maira mengangguk antusias. "Mau mau iya mau." Dia menghambur ke pelukan.
Shan kesulitan menopang badan saat wanita ayu yang masih mengenakan mukena menerjang tubuhnya diatas sajadah.
"Masih punya wudhu loh, bentar lagi isya." Shan tak berani menyentuhnya.
"Tinggal wudhu lagi aja, air banyak dan gratis karena ayah yang bayar," seloroh putri sulung Guna.
Shan tertawa, mengusap pipi Maira. "Sayang, jaga diri yaa nanti kalau gak ada aku."
"Jangan bilang gitu, aku juga sedang berusaha. Kamu tahu? setiap malam terkadang aku terjaga hanya karena kilatan bayangan sosok pria yang belum ku ketahui wajahnya. Dia berlaku sama sepertimu. Apakah itu Fayyadh atau kamu?" keluh Maira lagi.
"Entah. Tanya Allah saja Sayang, sholat hajat, istikharah agar diberikan pilihan terbaik."
Maira meneteskan air mata, merembes hingga ke baju koko yang Shan kenakan. "Ikhlas ya, Sayang. Kadang Allah itu hanya mempertemukan bukan menyatukan. Jikalau bersama, bisa jadi hanya sementara. Semua titipan," Shan membelai lembut punggung Maira.
"Sudah, jangan nangis lagi. Kan masih bisa sama aku sampai besok," bisik Shan memeluk tubuh di atasnya.
"Mengapa kamu sangat ikhlas menghadapi ini semua?" bisik Maira disela isakan.
"Tidak ada pilihan yang lebih baik, Sayang. Terkadang harus menerima bahwa tak semua harapan jadi kenyataan. Dan yang kamu butuhkan adalah keberanian untuk merelakan. Aku juga sama berusaha, Ahya."
__ADS_1
"Jangan pergi, hingga semuanya jelas." Tangis Maira kian kentara.
"Tapi aku gak bisa lihat kalian tersiksa karena aku. Ahya, percayalah, hatiku pun berat terlebih aku mencintaimu kan," tutur Shan.
"Apakah harus seperti ini, dan semua karena aku? jangan pergi hingga semua jelas," rengeknya lagi mengulang kalimat yang sama seraya memeluk Shan erat.
"Sayang, jangan membuatku kian berat mengambil keputusan."
Shan membiarkan wanita yang dia puja, meluapkan kebimbangan hatinya dengan menumpahkan berkubik air mata. Dia pun sama, netra dengan retina sekelam malam kini nampak dipenuhi genangan bening, hanya menunggu bendungan di ujung kelopak membuka jalan.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Ahya," bisik Shan parau.
"Maka jangan lepaskan aku," isak Maira. Entah apa yang mendorong putri sulung Guna mengucapkan kalimat itu. Hatinya terus mengatakan agar meminta Shan tidak menjauh.
...***...
Sementara di kota lain.
Seorang pemuda juga gadis ayu tengah sama menatap langit kelam tanpa bintang. Hati keduanya gelisah.
Bila sang lelaki gamang akan pertemuan esok hari dengan wanita yang membuatnya patah hati. Lain hal gundah milik kalbu seorang Fiora. Dia berusaha menekan, menetralisir kebingungan nan menelisik nurani.
Kilatan perjuangan sang Bunda kala berpindah keyakinan, kerap menghantui. Akankah dia seteguh beliau saat mengikuti jejaknya? tidak ada sosok pria nan lembut menemani jalan terjal yang menghadang.
"Semua menjauh, aku harus menghadapi ini sendiri, tanpa sosok panutan bagai Umma atau Fayyadh."
"Bisakah aku, tak merusak hubungan kalian? juga keluarga besar? Fiora, mungkinkah bila aku membagi ini denganmu?"
Empat mahluk Tuhan, tengah diuji sesuai kadar hati masing-masing. Akankah mereka lolos dengan mudah atau justru hancur nan terluka parah.
.
.
...______________________...
...😠belum ngebom tapi udah sesak....
__ADS_1