ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 66. SAMA BERJUANG


__ADS_3

Penerbangan kali ini terasa lebih lama. Fayyadh merasa dirinya ikut melayang, ringan seolah mati rasa.


Ba'da isya.


Pria muda Kusuma telah menapak dibumi para syuhada. Dia memasuki flat hanya sekedar meletakkan semua bagasi nya, kaki panjang itu lalu dia langkahkan menuju rooftop. Memandang langit malam di gurun pasir, hawa panas bercampur bulir debu menyapu wajah kusam akibat lelah jiwa raga.


Fayyadh melepas sesak. Sendiri berdiri dinegeri asing.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad." Bibirnya hanya melantunkan sholawat ke atas Nabi berharap ketenangan hadir kala mengingat Rosul-Nya.


"Maafkan aku, Kak. Entah bagaimana menjelaskan dengan kalimat yang baik bahwa aku tak berniat melukaimu. Aku memilih bertahan dengannya meski secuil hatiku mungkin pernah menaruh suka padamu. Jangan menungguku. Karena walaupun ingatan tiada kembali utuh, keputusan ini tetap sama, akan menjaga kekerabatan serta berusaha mencintai suamiku segenap hati. Maaf untuk kedua kalinya, Kak," tutur Maira dengan susah payah di sela sedu sedan tangisan.


Deretan kata menyayat hati itu meluncur cepat memecah gendang telinga Fayyadh seketika. Kalbunya koyak melihat lelehan air mata Maira yang begitu deras. Kini, semua ingatan perih siang tadi kembali muncul diingatan.


"Aaaaaarrrrrgggghhh!"


Kali ini, putra Aiswa merasakan kesakitan lebih dalam dari yang lalu. Dia tak ingin lagi menahan diri. Dibiarkannya duka sejenak menghuni raga.


Fayyadh jatuh bertekuk lutut, kepalanya menunduk, bulir debu bening satu persatu membasahi lantai rooftop namun seketika menguap akibat hawa panas, sepanas hatinya. Netra nan perih dia paksa untuk memejam, berharap dapat menghentikan laju luncuran air mata.


"Wanita sholihah bukan hanya dia. Semangat !"


Suara wanita bercadar yang hadir dalam mimpi, menguar, berdengung di telinganya.


Degh.


"Mata itu mirip seseorang. Siapa, kamu siapa?" lirih pangeran Kusuma.


Suara petugas patroli malam yang memukulkan tongkat ke pilar lampu jalan, menyadarkan cicit emas Danarhadi untuk segera kembali ke dalam flatnya. Meninggalkan segala rasa sakit agar membaur bersama awan dilangit Negeri Ummul-Quro.


...***...


Jakarta, Indonesia.


Sebagian keluarga Ezra tengah menghabiskan waktu di Mall, mencari buku bacaan untuk anak kembar juga membeli perlengkapan project yang sedang di kerjakan Syaharan.


Ponselnya berdering, menampilkan satu nama disana. "Raden Panji Mahendra, ada apa ya?"


"Segera angkat, Sayang. Siapa tahu penting," suara lembut Dila disampingnya.


Ezra menggeser tombol hijau dilayar gawai. "Assalamu'alaikum, Mas. Gimana kabar?"


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah Kheir. Mas Ezra lagi dirumah gak? mau tanya Shan, apakah ada kabar darinya? dia ngilang sejak siang tadi, Maira berusaha call namun off," suara berat di ujung sana.

__ADS_1


"Aku sedang diluar dengan Dila, anak-anak juga Mama Deva, kemana ya? Shan gak pernah pergi tanpa pamit. Nanti aku tanya ke Syamil dirumah dan segera ku kabari kembali. Maaf ya Mas, anak itu nyusahin keluarga Guna," balas Ezra. Panggilan pun terputus setelah Mahen mengucap salam dan terima kasih.


Dila mengusap lengan sang suami. "Ada apa dengan Shan?"


"Pergi tanpa kabar, Sayang. Gak biasanya dia begini," bisik Ezra ditelinga Dila agar Devana tak mendengar dan khawatir terhadap cucu kesayangan itu.


"Aku call Syamil atau Bi Inah dulu. Mungkin ponsel putraku kehabisan daya atau dia terlalu lelah hingga mengabaikan itu semua." Dila beringsut menjauh dari keluarga yang masih memilih benda keperluan mereka.


Beberapa menit selanjutnya.


"Gimana, Sayang?" cemas Ezra kala Dila kembali ke sisinya.


"Kata Bibi, gak ada. Syamil bilang juga di kamar Shan gelap. Tak nampak siapapun. Baiknya lekas pulang dan minta orang Abang cari Shan segera," pinta Dila. Dia mengatakan hal serupa pada Syaharan dan lainnya agar mempercepat menyelesaikan apa yang tengah di cari.


Tak lama kemudian keluarga El Qavi meninggalkan Mall dan kembali ke kediaman mereka.


Dua keluarga, sibuk mencari keberadaan Shan. Signal yang berhasil Mifyaz deteksi menunjukkan lokasi kampus tempat Shan mengabdi kemudian menghilang sekitar pukul lima sore tadi.


Berbeda dengan Mifyaz. Rey dan Rolex membantu pencarian sang menantu emas Kusuma. Kedua orang berbeda majikan itu lalu mengabari satu sama lain.


"Rolex bilang mobil Shan ada di gedung ini. Orang ku tengah menyusuri pub dan club di sekitar kawasan PIK meski anak itu tak pernah mendatangi tempat demikian," terang Ezra pada Mahen. Mereka terhubung kembali via udara.


"Aku percaya Shan jauh dari hal begitu. Maira demam. Sejak siang mengunci diri di kamar. Kami terpaksa mendobrak pintu barusan," ungkap Mahen.


"Kak, Bunda tahu bagaimana rasanya. Jangan mengikuti jejakku Shan, itu salah. Bicarakan dulu dengan Maira, tunggu dia, ya Nak. Bunda mendoakan kalian dimanapun berada."


"Sayang." Ezra mengusap lengan Dila setelah panggilan dengan besan terputus. Dia mengerti perasaan istrinya. Merasa bagai de javu.


"Hmm, aku ke kamar Shan dulu." Dila beringsut turun dari ranjang, keluar kamar menuju ke lantai dua dimana ruangan pribadi sang putra berada.


"Shan?" Dila menyalakan lampu.


Kosong.


Sunyi.


Dilara masuk ke kamar putra kesayangan, menyentuh foto tampan Shan di meja samping ranjang. Dia mengingat flashback kejadian silam di kamar ini, master bedroom yang Ezra tempati dulu. Sumber segala duka juga cinta keduanya. "Semoga kisahmu tak sepelik Bunda, ya Nak."


Hatinya merasa sangat dekat dengan Shan kini. Namun nyatanya ruangan ini benar kosong. Dila pun memilih keluar dan menutup pintu kamar lagi.


Tak lama kemudian, sosok yang dicari semenjak petang tadi muncul dari balkon. Shan menyimpan semua makanan yang dia bawa ke dalam kontainer di bawah meja. Dia hanya dikamar saat melakukan sholat saja, setelah itu mengunci pintu balkon dari luar agar kesendirian itu tak terganggu.


Dirinya apatis terhadap suara dan sekitar. Hanya mengagumi indah ciptaan Rabbnya terhadap semesta. Memikirkan liku jalan kisah nasib.

__ADS_1


Kedua pemuda tampan, tidur dalam gelap gulita di dua negara berbeda.


Sementara di Orchid.


Maira demam. Naya menemaninya tidur dikamar malam ini. Dahi putri sulungnya kerap mengeluarkannya keringat sebesar bulir jagung.


Tidur sang Princess Kusuma gelisah. Berkali Naya berusaha membangunkan Maira namun tak kunjung netra bulat itu membuka.


"Katamu mau berjuang. Katamu--" gumam Maira.


"Kak, Sayang. Maira, buka mata dulu. Ini Bunda, minum yuk," bujuk Naya, wajah ayu itu diselimuti kecemasan melihat sang putri dalam kondisi demikian.


"Aku gelisah. Kamu ingat kan dengan El? meskipun pertemuan kita singkat tapi Mahya Humaira membekas di ingatan. Berharap kau pun begitu ... namun andai engkau lupa, aku akan terus mengulangi kisah kita, membuat hal indah bersama sehingga diriku akan tetap ada dalam setiap memory mu, masa kini, lalu dan nanti."


"Suara, su-ara itu."


"Maira, jangan begini," isak Naya mulai muncul.


"Mata akan lupa siapa yang ia lihat. Akan tetapi hati tidak akan lupa siapa yang ia cinta."


"Dia. Iya itu dia," lirih Maira. Bibirnya semakin pucat dan pecah-pecah akibat dehidrasi.


Bila Naya dan Dila mencemaskan anak masing-masing. Berbeda dengan Mahen, dia tengah mengatur semua orangnya atas bantuan Rey untuk mencari Shan. Bahkan pria itu menyadap banyak CCTV.


"Bang. Kangen misi Shadow," ujar Rey saat terhubung dengan microphone mereka.


"Temukan menantuku, Rey. Jangan lamban," tegas Mahen.


"Laksanakan, Delta 04. Aku yakin, Shan ada di kediamannya." Rey membagi capture cctv gedung PIK.


"Aku pun begitu. Anak itu bukan penganut Hedonism. Namun Ezra bilang kamarnya kosong."


"Butuh little fly kayaknya Bos."


"You can do this. Zero level," titah Mahen, mengisyaratkan agar Rey melakukan segala upaya.


"Copied." Rey menutup panggilan. Bergerak mencari keberadaan sang menantu Guna.


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2