
Didalam kabin pesawat.
"Alhamdulillah. Al'asya tahduts bi almarakat taj'alaini asy'ar bi alsu' Arwa?" (Aku merasa bersalah, apa kau terluka?) tanya gadis bergamis coklat kopi.
"La, Ana bikhayr. Mujarad darb wa'anah lan yahduth maratan akhr." (Tidak, aku baik saja. hanya terbentur sedikit, semoga gak terjadi lagi) jawab Arwa, gadis bergamis coklat tua.
Keduanya menghela nafas, masih diberi rezeki masuk dalam penerbangan yang telah memanggil penumpang di detik akhir.
Setelah pesawat lepas landas. Mereka mulai lengang, melepas sabuk pengaman dan sedikit santai. Tiga jam akan dihabiskan mengambang diudara hingga tiba di kota tujuan nanti.
...***...
Setelah mengejar sang gadis di Bandara tadi. Fayyadh kehilangan jejak, ia pun memutuskan segera pulang ke Tazkiya sebab dua hari lagi orang tuanya akan datang sebagai pemenuhan janji nadzor yang pernah disampaikan keluarga Zaidi pada Yai Zainal.
Sepanjang perjalanan.
"Ya Allah, hatiku. Dia begitu jelas hadir di setiap mimpi namun sulit ku kenali. Aku harus mencari kemana? kemungkinan terbesar tadi, gadis itu. Aku yakin itu dia, mata cantiknya telah terpatri dalam benak," gumam Fayyadh, melepaskan pandang pada padatnya lalu lintas jalanan.
Jemarinya mengusap gawai pipih di tangan. Dia teringat seseorang. Dibukanya medsos toko online milik Floffy, sekedar melepas rindu bilamana terdapat berita baru mengenai Fiora.
"Tentangmu, yang ku kagumi dalam diam, Fio."
Harapan kiranya enggan menghampiri, tak Fayyadh temukan satupun postingan baru disana. Akun toko online itu seakan mati suri.
"Terakhir, tiga bulan lalu. Fio, kamu baik-baik saja kan?"
"Hai ... dipakai gak sama pasanganmu disana? maaf ya nanti jika aku membuangmu bila telah ada seseorang di sisiku."
Huft.
"Aku gak akan mengambilmu dari Tuhan yang kau yakini, juga tak menentang jika Tuhanmu menyiapkan jodoh lain, setidaknya rasa sayangku ini tulus."
Ada sesak hadir, batinnya tegas menyatakan bahwa dia peduli pada sosok mungil nan ayu itu.
"Ternyata benar kata Shan. Aku rindu dia." Fayyadh memejam, menghalau rasa yang tak seharusnya tumbuh.
"Ada Zaynah yang menunggu, Fayyadh."
Di kediaman lainnya.
Beberapa hari ini Aiswa kehilangan kontak dengan pemilik Floffy Craft. Setelah pemenuhan pesanan terakhir, gadis ayu itu sekarang menghilang.
Dirinya telah menanyakan pada sang mertua namun jawaban Abah juga sama mengambang. Fiora tidak ditemukan, bahkan ketika Kusuma mengunjungi kediaman Tusakti. Tuan besar mengatakan bahwa putrinya telah tiada. Entah ketiadaan yang bagaimana, pria itu tak jua angkat bicara.
Dua hari kemudian.
__ADS_1
Keluarga inti Fayyadh telah berkumpul di Tazkiya. Pagi ini mereka akan bertolak ke priuk dimana kediaman Yai Zainal berada.
Satu jam lebih perjalanan berjibaku dengan kendaraan padat merayap. Kini rombongan memasuki pelataran kediaman mewah sang tokoh masyarakat.
Perbincangan singkat terjadi sebelum Fayyadh meminta ruang untuk bicara.
Ditemani sang Bunda dari kedua belah pihak, muda mudi itu mengutarakan pertanyaan pribadi.
"Hm, Ana boleh lihat Anti pakai niqab gak?" pinta Fayyadh.
Zaynah mengangguk lalu sedetik kemudian dia memakai tabir yang menutup wajahnya.
Sejenak Fayyadh melihat, menelisik ke dalam mata, namun sejurus itu dia menunduk. Hati pun kecewa, bukan wanita dalam mimpinya.
Pandangan sendu dia layangkan pada sang Bunda. Dia tak bernafsu melanjutkan proses ini.
Beberapa saat setelah nadzor. Keluarga Yai memberi ruang bagi Kusuma untuk berembug. Fayyadh mengutarakan keberatannya sebab satu alasan tadi.
"Gak logis, Mas. Beri alasan tepat," desak Amir.
"Intinya aku gak mau. Kalau dia mau lanjut ya silakan, tapi aku tetap pada jawaban awal. Mundur," teguh Fayyadh.
Dia lalu menunjukkan keseharian gadis itu. "Bii, Alpha woman. Dia gak butuh aku, jadi untuk apa?" tegas Fayyadh menyertakan hasil penelusuran yang dilakukan Shan.
Amir dibuat pusing oleh sikap putranya, namun keputusan bijak dia serahkan kembali pada keluarga Zainal.
"Jikalau memang takdir, kiranya berjumpa kembali," pungkas Amirzain zaidi menutup perjumpaan kedua keluarga.
Terlihat kekecewaan mendalam di wajah Zainal terlebih Zaynah. Namun sang pria muda Kusuma hanya diam menundukkan pandangan. Tak lagi ingin mengangkat wajah barang sedetik.
...***...
Kediaman Tusakti, Solo.
Sudah tiga bulan putri sulungnya meninggalkan kediaman mewah. Melepaskan segala pemberian dari nya. Glenn kembali sehat setelah berjibaku bangkit dengan rasa sakit dan sedih apabila teringat anak gadis itu.
Kini, lelaki bertubuh senja tengah berada dikamar sang anak. Menyusuri setiap benda yang terpajang disana.
"Ini sengaja kamu tinggalkan atau bagaimana, Fio? agar Papa mengenangmu dengan rasa bersalah atau membencimu?" lirih Glenn menyentuh semua koleksi tas crochet hasil karya sang putri yang apik terpajang di lemari kaca.
"Papa ingat, kamu membuat semua ini dengan gigih, mempelajari tehnik baru hingga tercetus nama Floffy," tuan besar bermonolog.
"Kemana kamu, Nak? Papa menemukan motor milikmu di pasar loak, tempat jual beli barang bekas dalam keadaan ringsek. Kata penjualnya, rongsokan itu dia tarik dari tempat pembuangan kendaraan laka lantas. Fio, mungkin ayahmu konyol. Aku mencari ke semua rumah sakit berharap membawa pulang jasadmu," kekeh Glenn seraya berlinang air mata.
"Apa kini ucapanku terbukti? kau betul-betul meninggalkanku? aku yang tak sudi di urusmu," bahu ringkih itu bergetar menahan isak penyesalan.
__ADS_1
Dia memeluk boneka milik Fio yang tergeletak diatas pembaringan. Mengusap tas tangan yang kerap putrinya kenakan.
"Maaf, Fio."
Suara berat itu tergugu, mengguncang tilam king size dalam kamar mewah nan chic, bernuansa pink dan biru.
Setiap hari, disinilah Glenn berada, menghabiskan waktu. Berharap sosok pendiam nan mungil itu kembali. Lama menerawang sekeliling kamar, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Tubuh tua itu dipaksa berjongkok, membuka kunci brangkas yang tersembunyi dalam lemari. Jemarinya perlahan menekan satu persatu angka kode di papan panel.
Biipp.
"Nah ini. Surat Fio terakhir kali."
"Maaf ya, Papa baru akan membacanya. Setelah kamu pergi, sekian lama."
Glenn membuka satu lembar kertas yang dilipat apik, berwarna biru langit.
"Assalamu'alaikum, Pa."
"Aku tidak akan pernah lupa untuk selalu berdoa pada Tuhan, meminta-Nya untuk selalu melindungi Papa. Meskipun aku tidak bisa bertemu denganmu setiap hari, yakinlah bahwa Papa selalu ada di dalam hatiku."
"Fio tahu di balik senyum Papa, terdapat jutaan kekhawatiran yang disembunyikan bukan? Papa tidak gagal mendidikku."
"Bukan karena Fio tidak menyayangi Papa tapi sudah saatnya aku menentukan apa yang terbaik saat ini. Seiring berjalannya waktu ada hal-hal yang tiada sesuai lagi. Putrimu pergi hanya tak ingin mematenkan sugesti pada otak bahwa Papaku kerap memaksakan kehendak."
"Jangan risau, semua nilai luhur kehidupan yang Papa ajarkan padaku, akan Fio pegang teguh. Tidak akan melanggar norma."
"Beribu kata tidak cukup untuk memberitahu betapa aku mencintai Papa. Cintamu adalah hadiah berharga dalam hidupku. Terima kasih, Pa."
"Sampai jumpa lagi, entah sampai kapan. Jaga diri ya Pa. Jika umur Fio panjang, kala saat itu tiba, ku harap keadaan kita sudah lebih baik dari ini."
"Peluk sayang. Fiora."
Glenn menghela nafas. Benar, putrinya telah dewasa, dia lupa. Namun rasa hati tetap saja enggan mengakui terhadap apa yang Fiora inginkan.
"Semoga Kasih-Nya dapat membawamu kembali, Fio."
Glenn menutup kamar sang putri, seiring kenangan yang ada didalamnya.
.
.
...________________________...
__ADS_1
...Alpha woman : perempuan yang mandiri, berjiwa pemimpin, percaya diri, penuh ambisi, dan dihormati orang-orang di sekitarnya. ...