ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 109. TANGISAN KEDUANYA


__ADS_3

Glenn meninggalkan putrinya begitu saja, dia lalu masuk ke ruang kerja. Membuka surat yang dititipkan padanya.


"Selamat pagi Tuan Glenn."


"Perkenalkan saya Shihab, sahabat baik Raden Mas BrajaWisesa. Beberapa bulan yang lalu beliau menitipkan seorang gadis. Bukan untuk di tempa menjadi muslimah namun hanya sekedar disediakan tempat tinggal nan aman dari jamahan kejahatan jalanan."


"Nona Fiora masih sangat taat dengan keyakinan sebelumnya meskipun masuk dalam lingkup kawasan muslim. Kami hanya membantu sesama mahluk Allah dengan kasih yang dipunya, sebab anjuran agama nan rahmatan lil alamin."


"Lambat laun, putri Anda banyak menanyakan hal diluar kebiasaan orang yang memeluk agama warisan. Nona Fiora sangat kritis membandingkan berbagai ilmu yang dia pahami dari ajaran lain, hingga suatu ketika dia datang pada saya di waktu subuh. Menangis dan mengucap kalimat syahadat."


"Hidayah itu berasal dari Tuhan, bukan asbab hamba, wali atau pemuka agama. Saya menyampaikan bahwa semua hal baik, datangnya dari Sang Pencipta. Janganlah Anda menyalahkan Nona Fiora atas apa yang dipilih. Beliau, akan tetap menjadi putri Anda, tiada yang dapat merebut dari Tuan Glenn."


"Terima kasih banyak telah mendidik Nona Fiora dan menjaganya hingga menjadi sosok yang religius di keyakinan sebelumnya. Bakti beliau, tidak akan pernah putus sebab perbedaan prinsip rohani, birrul walidain akan terus berjalan."



Pandangannya memendar menembus jendela kaca yang dominan dalam ruangan itu.


Lama dia merenungi sesuatu, lalu jemarinya mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang disana.


Senyumnya terbit sekaligus lega. Mungkin ini hal terbaik yang dapat dia lakukan sebagai seorang ayah. Setelah urusan beres, karena dia telah menyerahkan sepenuhnya pada sang rekan, Glenn keluar ruangan mencari Fiora.


Suami almarhumah Georgia melihat anak gadisnya duduk di teras halaman belakang.


"Fio."


"Ehm, ya Pa?"


"Kamu marah sama Papa?" tanya Glenn.


Fiora terdiam. Dia berusaha menahan gejolak hati, sebisa mungkin tidak ingin lagi menyakiti sang ayah.


"Fio."


"Hmm, enggak Pa. Kenapa? in sya Allah ikhlas, Fio dengerin Papa kali ini tapi jika untuk melepas kembali sesuatu nan sudah Fio yakini, aku enggan," ucapnya tak menoleh pada wajah sang ayah. Dia sibuk menghalau sesuatu yang merangsek keluar diujung netra.


"Syukurlah. Jadi manut apa kata Papa kan?" tegas Glenn lagi.


Kali ini wajah ayu itu menoleh ke arah ayahnya sekilas lalu menunduk kembali. "Iya."


Glenn bangkit, mengusap kepala putrinya lembut. "Sebentar lagi maghrib. Gak siap-siap ngaji atau sholat gitu, Sayang?"


**Satu detik. Dua detik. Jeda**.


Fiora menengadah. "Apa tadi Papa bilang?"


"Kamu, gak ngaji atau sholat gitu?" ulang Glenn atas kalimatnya.


"Pa."


"Jika itu pilihanmu, beribadahlah dengan baik dan taat, Fio."


Seketika embun yang susah payah dia tahan, luruh juga. Glenn mulai melunak. Fio terisak seraya bangkit memeluk sang ayah. "Syukron, Pa."

__ADS_1


Pria berusia menjelang senja itu menepuk lengan dan mengusap punggung Fiora. "Jadilah muslim yang taat, sholihah ya kalau kata Mas. Berikan Papa waktu untuk menerima Fio kembali ya. Menjelaskan pada Febian bahwa pilihan kakaknya tidak salah. Papa juga masih menyesuaikan diri denganmu."


"Semua pemikiran Papa, cara menghadapi keluarga besar, sindiran atau cacian bahkan mungkin dijauhi circle, harus Papa terima. Kamu ngerti kan, alasan ini? meskipun tidak semua orang menilai sama tapi pada awal setiap peristiwa tentulah ada pro dan kontra."


Fiora hanya mengangguk dalam pelukan sang Ayah. Meski tak mendapat apa yang dia mau, penerimaan Glenn bagai sebuah angin segar untuk saat ini.


Ba'da isya.


Fio meraih gawai diatas ranjang. Ragu ingin membuka chat disana, namun hatinya mengatakan harus agar tiada lagi harapan semu. Dia akan memeberikan jawaban hari ini.


**Supplier Floffy Craft**.


"Assalamu'alaikum." Fiora type.


**Satu menit, hening**.


"Wa'alaikum." Balas Fayyadh.


"Wa'alaikumsalam." Tulis Abah lengkap sebab tahu bahwa Fiora muslim.


"Apa kabar semuanya? maaf ganggu lagi ya, lama menghilang dari peredaran siklus rotasi bumi, hehe."


"Alhamdulillah baik, Nak Fio. Monggo jika ada yang ingin disampaikan," balas Abah.


"Kamu kemana aja sih? gak ngasih kabar, kan sudah ku wanti, info ke Abah biar aku gak khawatir." Cecar Fayyadh panjang.


"Mas."


"Eh, maaf Mas. Gak sempet, kan hapenya mati. Aku mau nanya sama Abah, sebaiknya pilih mana? antara bakti sama orang tua atau keinginan hati?"


"Begitu ya?" Fiora membalas.


"Betul."


"Kamu gak nanya aku, Fio?" tanya Fayyadh lagi.


"Enggak ah. Jawaban Mas pasti sama kan?"


"Ya sama sih."


"Terima kasih semua, sudah banyak bantu Fio selama ini. Aku pamit ya, Abah, Mas sebab gak lagi menjalin kerjasama. Juga menjaga agar hatiku aman sebab disini ada Mas. Assalamu'alaikum."


~ Fiora left.


"Baaaah." Fayyadh membalas.


Chat berakhir.


Lelaki muda yang masih berkutat dengan bacaan etiket keraton keluar kamar mencari keberadaan sang Kakek.


"Abaaaaaaahhh."


"Maas! Astaghfirullah, sudah malam. Uyut baru mau tidur. Abah di pendopo depan, lagi ada tamu tukang dekor," tegur Aiswa yang baru keluar dari kamar Danarhadi.

__ADS_1


"Tukang dekor? buat apa?"


"Oh iya lupa. Dua hari lagi, kamu lamaran. Katanya lagi istikharah, apa jawabannya?" tanya Aiswa menarik lengan Fayyadh agar duduk di sofa ruang keluarga.


**Degh**.


"La-maran? ke siapa, Umma? kok gak ngasih tahu aku?" ucap Fayyadh terkejut, wajahnya pias.


"Kemarin Umma sama Abah, nadzor gadis. Kan kamu bilang semua apa kata Umma, dan dia pilihan kami berdua, siapin mental ya sebab mau jadi suami," ujar Aiswa lagi.


"Su-suami, dalam dua hari? nanti dulu, mana bio nya? CV dia? sebelumnya kan Umma selalu kasih unjuk ke aku kenapa sekarang enggak?" protes Fayyadh tegas.


Aiswa masih berniat menggoda. "Eh iya lupa. Besok deh dimintakan ... ayo cerita, apa jawaban mimpi kamu, Mas," desak ibu Athirah.


"Percuma, wong sudah ketok palu."


"Yee cerita aja dulu. Nanti Umma bocorin siapa yang akan kamu nikahi," kekeh Aiswa lagi, seru menggoda putra sulungnya.


Fayyadh terpancing ingin tahu siapa calon istrinya, hingga jawaban mimpi itu pun dia kemukakan.


"Sudah lama aku mimpi dia secara tiba-tiba. Semenjak putus harapan dengan Maira, juga saat yang sama mengenal Fio. Heran, mata indah itu justru muncul. Jika sebelumnya kerap ku lihat dia duduk, atau berdiri mengenakan busana serba hitam. Lain hal dengan isyarat beberapa hari ini ... aku tetap melihat wanita sama, memakai niqab namun kali ini dengan pakaian serba putih. Mata itu, milik Arwa."


"Namun, hatiku mengatakan bahwa aku sayang Fiora, Umma. Bagaimana ini? clue dari Shan mengisyaratkan bahwa antara Fio dan Arwa adalah satu orang, tapi aku gak bisa memastikan lebih detail sebab keterbatasanku," cicit Fayyadh menunduk. Dia terlihat meneteskan air mata.


"Mas."


Fayyadh merangsek ke pangkuan Aiswa, menangis disana. "Mas, Umma lamarkan Fiora untukmu kemarin, jawabannya dua hari lagi, maka Abah siap-siap."


"Umma jangan bohong. Fio tadi tanya, pilih mana antara bakti ke orang tua dengan pilihan hati, dan Abah jawab, harus memilih orang tua. Fio pamit, seketika aku mengerti, dia akan menolak lamaran ku bukan?" isaknya kian kentara.


**Ting**. Notifikasi masuk ke ponsel Aiswa.


Wanita ayu itu, membuka pesan, ternyata dari Fiora.


"Assalamu'alaikum Umma. Aku ingin memberikan jawaban atas khitbah Mas. Maafkan jika mengatakan ini hanya melalui pesan singkat. Esok, Papa akan ke kediaman Kusuma untuk memberikan jawaban resmi."


"Fio memilih Papa, sebab beliau mengatakan tidak akan datang pada pernikahanku," tulis Fiora, Aiswa membacakan pesannya lirih.


"Jadi dengan berat hati, aku ingin fokus berbakti pada Papa sehingga Allah melembutkan hati beliau jika ada seorang lelaki sholeh datang kembali. Maafkan Fio selama ini ya Umma. Semoga aku masih dapat menjalin hubungan baik dengan kalian. Wassalamu'alaikum."


"Tuh kan, isyarat dia jelas...." Fayyadh menenggelamkan wajahnya ke pangkuan Aiswa.


"Sabar, Mas. Umma akan cari Arwa kalau begitu," ujarnya lembut seraya tersenyum simpul.


"Ta-tapi aku baru menyadari sayangku untuk Fio, meski Arwa yang menjadi isyarat mimpi...."


"*Cinta kok dipendam, untung umma cerdas baca gelagat kamu itu, Mas, Mas*."


.


.


...\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_...

__ADS_1


...Menggoda reader, kegemaran ku. ...


__ADS_2