
Fiora kembali ke kediaman Tusakti ditemani Abdi dalem dari Joglo Ageng. Saat baru melangkah menuju pantry untuk meletakkan barang bawaan, dia dikejutkan Sindy yang menarik paksa lengan kanannya dan meminta nona muda bergegas menuju kamar sang ayah.
"Sin, ada apa?"
"Tuan besar kolaps, sesak mendera tadi," ujar Sindy masih mencekal pergelangan tangan Fio.
"Bagaimana kondisi saat ini? Apa dokter sudah datang?"
"Iya. Sudah dipasang selang oksigen lagi dan dipakai alat deteksi detak jantung. Tuan besar menolak dipindah ke rumah sakit. Nona, juga tadi ada perwakilan dari pengurus kampus ingin bertemu Anda esok pagi," terang Sindy saat keduanya telah didepan kamar Glenn.
Fiora mengangguk lalu menyerahkan barang bawaanya pada Sindy dan membuka handle pintu kamar sang Ayah.
"Puas, Kak?" tuntut Febian kala melihat Fio merangsek masuk kedalam kamar.
Terlihat dua orang dokter ditemani ketiga suster masih melakukan pemeriksaan serta pendampingan di sisi pasien. Memasang alat yang tidak Fiora pahami.
"P-pa," isaknya, mengabaikan cibiran sang adik.
"Nona Fio, Tuan besar dilarang stres. Usahakan asupan nutrisi tambahan masuk selain suplemen juga obat-obatan dari kami. Bila dalam dua hari kondisi beliau kian memburuk, segera alihkan pengobatan ke rumah sakit," ujar Dokter setelah memberikan resep obat, keduanya lalu keluar meninggalkan ruangan ditemani Aldo, sang aspri Tusakti.
Sang Nona muda mengangguki ucapan dokter. Tubuhnya menegang.
Monolid eyes putri sulung Georgia memejam, meluruhkan bulir bening diujung netra. Gadis itu tertatih mendekat ke ranjang sang ayah. Mengusap lengan yang nampak mengeriput dalam beberapa hari ini. Dia lalu jongkok menekuk lutut sebagai tumpuan, bersandar pada sisi ranjang sembari menciumi telapak tangan terkulai diatas pembaringan.
"P-pa, papa maafin a-aku. Iz-in-kan a-agar Papa lega, tidak akan ada yang berubah. Fio jan-ji," isak Fiora seraya berbisik.
"Bu-kka-nn salah Pa-ppaa ... ini mur-ni pilihanku. Papa, sudah mendi-dik Fio dijalan Tuhan dengan ba-iik. T-tapii...." nona muda tergugu, tangisnya pecah.
Tubuh semampai Fiora luruh tak kuasa menahan sakit. Hatinya dihimpit sesak, dia merasa bersalah atas kondisi sang ayah. Kekerashatian sedikit banyak turut andil mempengaruhi pola istirahat beberapa bulan belakangan.
"Tuhan masih baik. Gak buat kamu nyesel tadi, Papa tertolong," cibir Febian, kalimatnya menambah dalam luka di kalbu Fiora.
"Apa sih bedanya? bukankah semua ajaran itu baik? tak cukup menjadi contoh hamba yang taat kah sosok Papa bagimu, Kak?" cecar Febian lagi.
"Tiada nyata kah rasanya kasih Tuhan untukmu, Fiora Akshaya, jawab aku!" sentakan Febian menghempas bahu kakak kandungnya.
Pemilik Floffy Craft duduk terjengkang, namun gadis itu hanya pasrah. Dia sibuk dengan rasa sesaknya.
Fio merangkak kembali mendekat ke sisi ranjang. Menggenggam telapak tangan sang Ayah.
"Pa, bangun ya. Beri Fio pelukan sebelum pergi ... Paa," lirihnya pilu.
__ADS_1
Glenn masih diam tak merespon apapun. Namun sudut matanya mengeluarkan sebaris cairan bening.
Entah apalagi ocehan Febian, makian juga cacian yang keluar dari mulut pemuda itu. Fio bergeming hingga Aldo menarik dia keluar kamar, membiarkan Fio hanya berdua dengan sang ayah.
Ini adalah kesempatan baginya menunjukkan betapa kasih sayang antara anak dan ayah tiada pernah putus meski terhalang satu prinsip berbeda.
Putri sulung Glenn, menyeka air matanya lalu bangkit menuju bathroom dan berwudhu. Dia tak berani menyentuh mushaf, hanya beberapa surat telah dia hafal akhir-akhir ini.
"Bismillah."
Menggunakan tasbih pemberian Fayyadh, Fiora mulai berdzikir, menyebut nama Rosulullah, para sahabat juga ayah ibunya. "Al-fatihah."
Surat mu'awidzatain perlahan terdengar dari bibir tipis merona. Kalam Allah yang diturunkan sebab kekasih-Nya hendak di kirim sihir berupa 'ain oleh kaum Quraisy bernama Lubaid bin A'sham.
Kedua surat ini disebut juga sebagai al-muqasyqisyatain nan memiliki maksud dua surat yang membebaskan manusia dari kemunafikan, perlindungan dan penjagaan, selain menjadi syifa atau obat bagi orang yang tengah sakit.
Gadis ayu terjaga sepanjang malam, sadar kewajiban mendapat project dia mengerjakan apa yang ia bisa sembari bibirnya tak putus oleh berbagai macam pujian, lantunan kalam Allah yang dimampu.
Menjelang subuh, Tuan besar memberikan reaksi. Putri cantik Glenn tertidur. Kepalanya bersandar pada sisi ranjang, tubuh Fio terduduk, tangan lentik itu masih memegang benang rajut dan sebuah tas dipangkuan.
"K-kak."
Lirih suara sang Papa nyata membangunkan raga letih nan baru saja lelap. Fiora tergagap. "Y-yaa, saya Fio."
Dalam keadaan setengah sadar, Fiora menoleh. "Papa!" sorot matanya berbinar indah memancarkan kebahagiaan.
"Alhamdulillah, ya Allah. Papaku," lirihnya mengucapkan syukur.
"Mau minum, Pa?" ujar Fio bersemangat.
Glenn hanya diam, netra tua itu berkaca-kaca menatap ke dalam manik mata indah sang putri.
Ditatap intens sang ayah, Fio mengulangi permintaan maafnya. "P-paa, ma-aaf."
"F-fio gak bisa ikut Papa, ka-li ini." Dia menggenggam jemari sang ayah, kuat.
"Maka kamu akan lebih cepat melihat Papamu mati, Fio."
"Papa akan tetap sehat. Meski tan-pa Fio sejenak, Oke?"
Glenn memalingkan muka, tak lagi menatap wajah sendu dihadapannya.
__ADS_1
"Jangan kembali kesini lagi. Kamu bukan lagi bagian dari Tusakti," lirih Glenn, air matanya jatuh.
"Aku tetap jadi anak Papa. Akan terus berbakti meski Papa enggan. Izinkan Fio ya."
"Semua gara-gara ibumu!"
Keduanya sama meneteskan air mata.
"Ini pilihan F-fio, Pa. A-ku berat melangkah jika Papa be-gini."
"Pergilah. Tapi jangan lagi menyentuhku, aku tak sudi diurus olehmu, Fiora. Pergi!" Glenn mendorong tubuh kuyu itu sekuat tenaga yang dia mampu.
Nafasnya tersenggal. Bola mata tua itu membelalak, menahan sakit yang tiba-tiba hadir.
"Pa!"
Melihat reaksi kemarahan Glenn. Fio bergegas membangunkan suster pria yang tertidur di sofa untuk memeriksa sang ayah.
Beberapa menit berikutnya.
Kondisi sang ayah berangsur-angsur kembali terkendali. Fiora diminta oleh suster memberikan ruang agar pasien tidak terlalu tertekan.
Batinnya menangis. Beliau adalah orang tua satu-satunya kini. Bukankah ridho Tuhan ada pada kasih orang tua.
"Ini adalah ujian batinku. Apakah aku tetap teguh atau sebaliknya? Mas bilang, Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Maka tolonglah Fio ya Robb, tunjuki jalan yang mudah meski aku tahu, tiada ringan ujian yang kau timpakan pada Mahluk. Namun, Engkau tak akan melampaui batas kemampuan ummat-Mu kan?"
Adzan subuh bergema. Fiora memejamkan mata, menghayati setiap seruan, menjawab dalam hati panggilannya. Tanpa terasa, air mata nya kembali luruh.
"Begitu mudah memahami bahwa Engkau sayang Ummat-Mu ya Robb."
Mata indah itu kini terlihat bengkak sebab terlalu kentara kesedihan menggelayut di wajah sembabnya.
Sekali lagi, sebelum Fiora keluar kamar, dia mendekati ranjang sang ayah.
"Pa, lekas sehat ya. Fio izin pergi sebentar...."
Dengan langkah gontai, dia meninggalkan sejenak sang Ayah yang kembali terlelap.
.
.
__ADS_1
..._______________________...
...Penyakit 'Ain : Pandangan mata yang tidak dapat dilihat namun dapat merusak dan bahkan membinasakan. ...