
"Abrisam?"
"Iya. Wardhani gak sekejam Danarhadi. Dia fleksibel apalagi keluarga besar mereka tidak seglamour Wisesa. Namun kedua kandidat itu, setara dengan Fayyadh, Afra. Mereka mandiri dan berkecukupan," bujuk Bima tak putus asa.
"Buka dulu pintunya, baca informasi yang Ayah dapatkan tentang kedua pria ini."
"Aku enggan. Tolong Ayah, biarkan aku sendiri," ujar Afra lagi.
"Atau kau ingin berkenalan dengan cucu Galuh? putra Matthew, meski tidak se religius Fayyadh namun Manggala dan Melviano, keduanya pria metroseksual yang modern. Galuh tak seperti Wisesa, dia berani menentang Danarhadi jika kau ingin tetap dengan Kusuma. Banyak kandidat baik Afra dan semuanya berkualitas," ungkap Bima tak jemu menyodorkan berbagi pria muda siap menikah dari trah Kusuma.
Afra jengah. Dia lalu bangkit, menyeka wajah yang bersimbah air mata. Perlahan tubuh bagai disangga tulang rawan itu melangkah gontai menuju pintu.
Cklak.
"Alhamdulillah."
"Letakkan saja semua file yang Ayah bawa ke meja ku. Aku ingin makan," ujar wanita ayu meninggalkan kamar menuju lantai dasar.
"Afra, gak pake ini?" tanya Bima menunjuk niqab diatas meja.
Afra berhenti, menoleh ke arah ayahnya yang berdiri di ambang pintu kamar. "Dibawah gak ada pria kan?"
Bima mengangguk. "Iya gak ada."
Gadis berhijab sebatas dada pun melanjutkan langkah menuruni anak tangga lalu berbelok arah menuju dapur.
Disana, dia membuat sesuatu yang dokternya larang konsumsi. Mie instan bertuliskan ramen pedas.
Bima menyusul sang putri ke dapur beberapa menit kemudian. Mereka bersitegang kembali dengan Afra saat suapan pertama akan masuk ke mulut gadis itu.
"Sekali saja. Aku mohon, butuh booster menangis," pinta Afra.
"Sekali dan kamu berujung opname, tidak!" Bima membuang mie yang baru saja matang.
Gadis itu semakin lemah melihat apa yang ayahnya perbuat, wajah ayu tanpa niqab memucat, tekanan denyut dikepala kian berat membuat pandangan Afra berkunang.
Brugh. Nona muda Arundati, pingsan.
"Afra!"
Kepanikan Bima menjelang pukul sebelas malam mengundang reaksi berlebihan para penghuni rumah. Afra dibopong beberapa maid menuju kamar.
Keesokan pagi.
Joglo Ageng.
__ADS_1
Bima mendatangi kediaman Danarhadi saat lelaki Kusuma sedang melaksanakan sholat duha di kamar masing-masing. Suaranya lantang memanggil Wisesa.
"Raden Mas Wisesa!"
"Silakan duduk dan menunggu sejenak di Pendopo. Tidak perlu berteriak, disini penghuninya masih waras, sehat, gak budeg, Tuan Bima," jawab Kuntara menghalau langkah sang pejabat saat akan merangsek masuk ke dalam hunian utama.
Bima tak menghiraukan asisten rumah tangga itu. Dia tetap melakukan apa yang dimau.
Danarhadi yang tidak terbiasa dengan suara gaduh, merasa risih dan terganggu. Ibadahnya tak lagi khusyu, lelaki renta namun masih sangat bugar itu lalu keluar dari kamar. Geram, sebab mengenali suara nan menyebalkan. Jikalau bisa, dia akan menyemburkan api pada sumber keributan agar Bima terbakar menjadi abu.
"Wong gendeng! kenapa lagi ini?" seru Danarhadi tersulut emosi.
"Mana Wisesa. Aku gak punya urusan maring njenengan," ujarnya pongah.
"Weh, gak sopan! pancen anake wong culas!" balas Danarhadi tak kalah sengit.
Abah muncul dari dalam. Menepuk lengan sang kakek agar sabar menghadapi mahluk Tuhan paling anu ini. "Assalamu'alaikum, Mas Bima. Monggo ke depan jika ingin bicara," ajak Abah seraya menjulurkan tangan menunjuk ke arah luar hunian utama.
"Sa...."
"Nggih Kek. Paham," Abah menenangkan Danarhadi dan meminta Kuntara mengawasi sepuhnya.
Kedua pria itu lalu menuju pendopo.
"Kuasa hati Mas Fayyadh niku. Gak ada campur tangan kami, kan file yang dicetak juga kelihatan asal documentnya dari mana," terang Abah.
"Tapi kan kalian bisa membujuk, seharusnya santun, fleksibel gitu loh. Tahu gak? Afra down, dia pingsan semalam," keluh Bima lagi mengundang simpati.
"Justru Mas Fayyadh langsung memberikan keputusan karena tidak mau menggantungkan status Nak Afra terlalu lama. Apabila ingin mengajukan diri pada lelaki sholeh lain atau ditunjuk oleh seseorang, kan bebas tidak sedang dalam kondisi menjalin atau menunggu kepastian. Lagipula cucuku terikat janji pada ibunya," ungkap Abah dibalik penolakan Fayyadh.
"Janji dibuat untuk dilanggar, Den Mas. Masa gak bisa longgar sedikit kan demi kebaikan siapa tahu saling suka," kicau Bima.
"Astaghfirullah, ngapunten Mas Bima. Keluarga putraku tidakkah demikian. Janji adalah janji apapun itu."
"Jadi gimana nasib Afra? kalian harusnya tanggung jawab atas kondisi fisik putriku yang memburuk!" cecar sang pejabat lagi seraya menggebrak meja.
"Aku akan menjenguk putrimu, sebagai perwakilan keluarga kami," ujar Abah menengahi.
"Harusnya Fayyadh yang datang siapa tahu Afra sehat dan mau melanjutkan pengobatan," kilah keturunan Arundati.
"Apa bedanya? semangat sehat itu datang dari diri sendiri, yang menyembuhkan adalah Allah bukan manusia. Afra lebih paham daripada Mas Bima, patah hati wajar sebab manusia punya naluri. Dan putri njenengan pasti ngerti bagaimana menyikapi ini," bantah Abah mulai jengah.
"Tolonglah, beri kesempatan pada mereka," Bima memohon, gurat wajahnya tak menampik kesedihan muncul disana.
"Mutlak urusan Mas Fayyadh. Tapi akan aku sampaikan padanya. Mohon jangan banyak berharap," tegas Abah.
__ADS_1
Pandangan netra lelaki Kusuma nan bersahaja teralihkan sebab kedatangan sebuah mobil mercedes-benz yang memasuki pelataran Joglo Ageng.
"Punten ya Mas Bima. Saya ada tamu," ujar Abah bangkit, izin undur diri dari Pendopo guna menyalami rombongan dari pihak Tusakti.
Bima terpana, relasi Wisesa bukan dari kalangan sembarangan kala melihat Tusakti. Kian mengukuhkan Afra agar menikah dengan salah satu Kusuma.
Abah meninggalkan Pendopo, mengajak kedua pria itu masuk ke hunian utama.
"Tuan Glenn, silakan duduk. Maaf ya kita jadi bertemu di rumah," sambut Abah menyisakan mereka.
"Nevermind, Pak Wisesa. Kita langsung saja," ujarnya dengan wajah datar tanpa ekspresi ramah seperti sebelumnya.
Pembicaraan alot di diskusikan selama hampir kurang dua jam hingga berujung pada kesepakatan pemberhentian kerja sama antara dirinya dengan trah Kusuma.
Abah legowo, mungkin ini yang terbaik bagi keduanya ditengah kisruh internal keluarga mereka nan menyeret nama Kusuma.
"Dimana putriku," tanya Glenn setelah penandatanganan pengakhiran kontrak.
"Maaf Tuan Glenn, mengapa menanyakan hal ini pada Saya?"
"Karena Anda pasti orang yang Fio hubungi," tuduhnya.
"Tidak ada orang lain kah?"
"Putriku tidak memiliki teman. Yang aku tahu hanya Richard dan Fayyadh saja. Richard tidak di indo, dan Anda adalah keluarga Fayyadh. Tentulah mengetahui apa-apa yang dikerjakan anakku," sinis Glenn Tusakti melayangkan tatapan.
"Fayyadh juga tidak di Indonesia. Saya tidak berwenang bahkan bertanya tentang aktivitas nona muda. Kami bukan mahram atau tengah terjalin hubungan selain bisnis. Bilamana membantu putri Anda, itu murni sebagai kepedulian antar sesama ... Nona Fiora ada di kost-an Kenanga," jujur Abah, bermaksud agar mereka berdamai.
"Sudah ku duga, Kusuma dibalik semua ini," tuduh Glenn lagi.
"Dibalik apa? jangan salah sangka Tuan besar, putri Anda menangis dan meminta bantuan semalam. Dunia jalanan kejam, Fio mudah dikenali sebagai wanita berpunya mala riskan bagi keselamatan, maka aku mengarahkan ke sana...."
"Dia jadi membangkang sejak bertemu Kusuma," sinis Glenn.
"Aku tidak mengerti kisruh yang terjadi di antara kalian. Namun ku pastikan, Kusuma sama sekali tidak mempengaruhi perangai atau lainnya," tegas Abah tak kalah serius.
"Intinya begini ... sampai kapanpun, aku tidak akan pernah merestui," tandas pemilik Universitas Tusakti ini, bangkit berdiri.
"Dia akan tetap menjadi putri Anda, Tuan." Abah berdiri, menyilakan tamunya pergi.
"Ck, tapi tidak dengan Kusuma," sungutnya berlalu keluar dari Joglo Ageng.
.
...______________________...
__ADS_1