
Sebelumnya.
Setelah membaca surat dari Nyai Shihab, Glenn merenung. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman.
Dia lalu memejamkan mata, samar bayangan Georgia yang tersenyum melihatnya dari taman bunga di halaman belakang. "Georgia, ini demi kebahagiaan kalian."
Glenn meraih ponsel, menghubungi Wisesa. Lelaki itu mengatakan bahwa sebagai ayah biologis Fiora, dia menerima lamaran Fayyadh dan tetap ingin melanjutkan ke proses berikutnya. Namun kali ini, keluarga Tusakti tidak melakukan banyak persiapan demi menghindari kecurigaan sang putri.
Berhubung Nyai Shihab sedang tidak di Indonesia, maka prosesi akad nikah akan dilangsungkan bersama dengan lamaran. Glenn memilih halaman belakang kediamannya sebagai tempat prosesi ijab kabul karena lokasi itu adalah tempat favorit Georgia.
"Nanti aku akan menemani Fio tepat setelah isya, membawa semua kebutuhan dia agar tak keluar kamar sepanjang malam. Aku akan minta WO menata backdrop dibawah dan MuA bakal datang tepat sesudah subuh. Untuk tamu undangan pihak laki-laki dibebaskan. Namun dari pihakku, hanya kerabat dekat, pejabat setempat untuk mendaftarkan akta nikah," tutur Glenn.
Abah mengerti, pria itu ingin memberikan yang terbaik di hari istimewa putrinya. Mendengar permintaan Glenn, Kusuma pun bersiap sejak kepulangan mereka hari itu.
Setelah mendapatkan jawaban Tusakti dari Abah, Aiswa mengubungi Shan tanpa jeda meminta pria itu mengatur segalanya. Hingga menjelang malam saat menantu Kusuma ini melaporkan pada Danarhadi dikamar, pekerjaan rahasia mereka telah usai. Istri Amirzain lalu keluar kamar Danarhadi kala mendengar teriakan Fayyadh yang mencari kakeknya.
Di penghujung malam.
Kedua insan berbeda tempat namun satu harapan, tengah sama menengadahkan kedua tangan, memohon kelapangan hati atas segala ketidaktahuan dalam menerima guratan takdir sebagai hamba.
...***...
H-1.
Seharusnya keluarga Tazkiya berkumpul di kediaman Danarhadi, namun Shan mengatur semua akomodasi keluarga besar di satu hotel sebab Tusakti meminta syukuran sementara sekaligus ingin mengenal keluarga besar Kusuma dan Tazkiya secara private.
Jika Tusakti sibuk menyiapkan ballroom, lain hal dengan Shan. Pria muda itu berupaya membooking beberapa mobil hotel untuk membawa rombongan menuju venue akad. Juga menyiapkan laskar agar iringan panjang saat akan menuju Hotel tidak terlalu membuat kisruh suasana jalan raya.
Keduanya pun kerap melakukan panggilan, seperti saat ini.
"Umma, done untuk semua acara. Bunda tiba siang ini sekalian menyiapkan wardrobe keluarga inti ... Tazkiya juga Wardhani. Aku dan Ai, terbang sore ini sebab pekerjaanku disini tidak dapat ditinggal. Besok pagi in sya Allah sudah di Solo supaya Ahya dapat bedrest sebentar karena istriku tengah mengandung sembilan minggu," tulis Shan panjang pada pesan yang dia kirimkan ke Aiswa.
"Allah, Umma nyusahin kamu berarti ya Shan. Maafin sebab gak tahu begini. Mabruk ya Shan, waladun sholih sholihah, mufti, mufid wa muflih, aamiin," doa Aiswa beruntun untuk sang keponakan. Sambungan percakapan via udara pun berakhir.
Shan lega, tugas yang diberikan padanya telah rampung. Saatnya berkonsentrasi melihat sang istri yang juga turut sibuk berkoordinasi dengan para laskar via streaming.
...*...
__ADS_1
Pasangan Guna dan Keluarga Zaidi telah tiba di Joglo Ageng. Namun mereka berpisah tempat. Naya mengatur kamar hotel yang telah Shan reservasi untuk keluarga besar mereka, Wardhani juga Tazkiya. Tak lupa langsung membagi seragaman untuk acara akad nikah esok pagi.
Seharian Fayyadh nampak murung dikamar, dia ditemani oleh Athirah dan Hanan yang terus membuatnya sibuk dengan berbagai tugas sekolah mereka. Keduanya mendapat misi dari Aiswa untuk terus membersamai sang Kakak.
Amir dan Abah menuju ke Kebon, memilih bunga dan tatanan rangkaian untuk dekor nanti malam di kediaman sang besan juga hotel tempat syukuran mereka.
Kesibukan Aiswa kentara siang itu, dia mondar mandir meminta tatanan apik bagi barang seserahan yang bernuansa biru. Keluarga Tazkiya baru saja tiba namun ada Naya yang menemani, sehingga istri Amir tak terlalu bingung.
"Gini nih, kilat, instan. Untung punya EO, bahan baku dekor, juga wardrobe milik keluarga, coba kalau dadakan semua, ambyar gak akan sempat," gumam sang Nyonya Zaidi.
Menjelang malam.
Suasana Joglo Ageng mulai aman terkendali dan sentosa. Amir mengajak Fayyadh bicara empat mata di pendopo.
"Mas, isyarat dalam mimpi kan Arwa, lamaran kamu juga di tolak Fiora. Yowes mau gimana?"
"Ya gak gimana, lagian Umma kan udah minta Arwa juga kan?"
"Lah iya, sesuai kan berarti dengan keinginan Mas itu. Soal rasa, cinta bisa tumbuh. Tapi kalau enggak mau ya jangan dipaksain, mumpung belum di gelar," ujar Amir kemudian.
"Dari banyaknya pria, gadis itu cuma mau di nadzor dua kali, pertama oleh kerabat Mangkunegaran dan terakhir sama Umma. Wali nasabnya yang menerima langsung khitbah kamu itu. Terus masih ragu dimana?" desak sang Ayah.
Fayyadh merenung.
"Mas kan nyari Arwa setengah mati, kata Shan. Dah dibantuin, istikharah, isyarat kenapa masih begitu?" cecar Amir lagi, susah sekali mendapat jawaban kejujuran Fayyadh.
"Ya sudah iya."
"Pasrah gitu, kemarin kamu ngajuin proposal niatnya biar apa ke Arwa?" tegur Amir gemas.
"Biar bisa denger suaranya yang mirip Fio," cicitnya takut sebab Amir menatap tajam.
"Aneh kamu ini. Proposal masuk, diterima malah gak bersyukur. Inget loh Mas, menikah saling mencintai itu anugerah tapi mencintai yang dinikahi, itu kewajiban ... sudah, sana sholat hajat dulu, besok mau ijab jangan kesiangan bangun," pesan sang Ayah.
"Sampe hari ini aku gak menerima CV Arwa, Umma gimana sih?" keluhnya seraya bangkit mencari sang Bunda masuk ke dalam hunian utama.
Kegalauan Fayyadh akhirnya menemui titik temu. Dia melihat Aiswa tengah menyesap teh di halaman belakang, duduk diatas bale panjang. Tuan muda Zaidi, menghampiri sang Bunda.
__ADS_1
"Umma."
"Eh, si ganteng kenapa murung? sini Mas." Aiswa membuka kedua lengannya seraya menepuk paha yang beralas bantal agar Fayyadh duduk bersama.
"Mana CV Arwa, aku mau lihat dulu," keluhnya lagi.
"Liat langsung aja besok," kekeh Aiswa lagi. Wanita cantik ini akan memberikan wejangan panjang bagi sang putra.
Putra Amir merebahkan kepalanya di pangkuan Umma. Jemari lentik nan seputih kapas milik Aiswa, membelai lembut anak kesayangan.
"Mas, Umma gak akan memaksakan sesuatu yang tidak Mas sukai dan inginkan, semoga kali ini pilihan Umma tidak salah ya ... Mas itu selain anak lelaki juga akan memimpin keluarga kelak, jangan ragu setiap akan mengambil keputusan. Ajak Arwa terlibat langsung, hargai pendapatnya."
"Wanita itu menyukai kata cinta, jangan pelit memuji, menunjukkan perasaan dengan jelas sebab itu bagai pupuk kasih sayang. Para gadis juga mengidamkan pria lemah lembut, pandai lah menempatkan diri."
"Kami juga menyukai pria dengan penampilan yang baik, rapi, wangi disetiap keadaan. Jangan mendekati Arwa ketika tubuh Mas basah oleh keringat dan pakaian yang kotor, berdebu, bau matahari, karena batinnya akan mengeluh. Meski jika Mas memerintahkan sesuatu, raga selalu taat tetapi kalbu merasa enggan ... ini versi Umma, tapi Alhamdulillah Abi gak begitu," kekeh Aiswa disela kalimat panjang.
"Rumah itu bak istana bagi wanita, dia merasa bagai ratu. Jangan minta Arwa memilih antara Mas dan keluarganya. Perlakukan dia, gauli dengan baik. Perempuan memang diciptakan dari tulang rusuk, itu merupakan bagian dari kecantikan juga pesona, bukan sebuah aib. Jika Arwa salah, maka luruskan, jangan Mas patahkan hati atau meninggalkan begitu saja sehingga akan semakin bengkok."
Fayyadh mendengarkan seksama wejangan sang Bunda, tangannya menggenggam telapak tangan Aiswa kemudian dia dekap diatas dada.
"Bijak menyikapi mood saat Arwa sedang haid atau nifas. Jadilah teman yang baik, sebab ketika wanita menikah, jiwanya tergadai oleh ikrar, dia akan menjadi tawanan Mas. Lebarkan dada dan bahumu agar dia nyaman bersandar. Bersyukur ya, terima Arwa lebih dan kurangnya sebab dia juga sangat berusaha untuk menerima diri Mas secara utuh."
"Jangan mengutamakan Umma selama kebutuhan istrimu belum sempurna sebab ibumu masih milik suaminya, in sya Allah Abi mencukupi. Bakti Mas ke Umma banyak jalannya, tidak melulu materi."
"Arwa in sya Allah gadis baik, bismillah ya sholehnya Umma," Aiswa mencium tautan telapak tangan Fayyadh.
Air matanya menetes, seakan baru kemarin dia melahirkan putra tampan ini ke dunia.
"Umma ku, Maa sya Allah sholihah meski galak," ujar Fayyadh seraya tersenyum menyeka air mata yang keluar dari sudut netra sipit sang Bunda.
.
.
...____________________...
...😠totalitas Aiswa fajri...
__ADS_1