
"Ai. Aku umroh dulu ya Sayang, mumpung disini. Nanti kalau kamu mau, kita kesini lagi dengan keluarga besar atau hanya berdua ... Allah, kangen banget. Terlebih aku baru tahu bahwa kamu memilihku," lirih Shan kala bersiap check-out. Senyum tak surut mengembang dari wajah tampan keturunan bangsawan itu.
Dia membayangkan banyak moment manis yang akan terukir setelah ini. "Pacaran dulu ya Ai. Puas-puasin, kamu belum kenal aku lebih jauh," gumamnya kala membuka dompet, melihat foto ayu Maira saat akan memanah.
"Mahya Humaira, jadikan dia satu-satunya istriku ya Robb. Bismillah."
Putra Dilara turun ke lobby untuk mengembalikan kunci kamar ke FO, Dia malah menerima sepucuk pesan lengkap dengan nomer ponsel, dari petugas receptionist.
Pria tampan Qavi membuka pesan dan membacanya. Senyum terukir di wajah bagai bule Arab itu. "Tuan muda, Nyonya Mahya meminta izin pada Anda untuk melakukan aktivitas di luar ruangan ditemani oleh ayahnya."
Shan kemudian meminjam pulpen pada petugas lalu menulis balasan tepat dibawah kalimat sang informan. "Aku mengizinkan istriku melakukan aktivitas apapun untuk menunjang kesehatan atau kesukaannya selama dia aman berada diluar rumah kala aku tiada disisi. Juga, tolong sampaikan pada Ai bahwa ada dua buah kartu di laci tempat obat, gunakan untuk memenuhi kebutuhan Ahya. Pin-nya tertulis disana. Thanks."
Menantu Mahendra kemudian meminta agar receptionist menghubungi seseorang pada nomer yang tertera di kertas untuk mengambil notice pesan darinya. Setelah memastikan amanah tersampaikan, Shan keluar hotel bersiap memulai ritual ibadah.
...***...
Solo, Indonesia.
Saat yang sama.
Joglo Ageng kedatangan tamu istimewa siang ini. Abah dan Danarhadi sedang tidak ada di kediaman, mereka pun terburu pulang.
"Sa, siapa? buru-buru banget," keluh Danarhadi.
"Putri Yai Shodiq pemilik pondokan tahfidz dimana aku nyantri dulu, Kek. Anak guruku," jawab Abah.
"Mau apa? ngelamar kamu?"
Abah Wisesa tertawa. "Hah? udah gak mood nikah Kek. Ya belum tahu maksud kedatangannya. Kakek mau stay atau ikut pulang?" tanya sang cucu.
"Pulang aja," ujar Danarhadi.
Tiga puluh menit berselang. Alphard hitam memasuki Joglo Ageng. Kedua pria sepuh namun masih sangat berkharisma turun dari sana.
"Assalamu'alaikum, Den Mas Brajawisesa, Den Arya Tumenggung Danarhadi," sambut salam seorang wanita memakai niqab kala kedua tuan rumah menapaki tangga pendopo.
Danarhadi membungkukkan badan sebagai tanda hormat balasan. "Wa'alaikumsalam."
"Wa'alaikumsalam. Maaf lama nunggu Nyai, monggo mari masuk," ajak Abah pada rombongan putri Yai, pindah ke ruang tamu dalam.
Setelah para tamu lungguh, Abah membuka suara.
"Apa yang membawa Nyai kemari? seharusnya kami yang kesana, ngapunten," ujar Abah.
"Kami yang memiliki kepentingan, maka sudah sepatutnya sowan. Ana langsung saja ya Den Mas. Dua hari lalu, salah seorang alumni santriwati pondok meminta pada Ana untuk membantu, menjembatani keinginan beliau. Gadis ini ingin ta'aruf dengan salah satu cucu Anda," tutur sang Nyai.
__ADS_1
Wisesa masih diam mendengarkan.
"Ini CV-nya, monggo di nilai lebih dulu. Jika diterima maka silakan Den Mas melanjutkan runutan menuju khitbah termasuk nadzor, karena beliau memakai niqab," ujar putri Yai Shodiq.
Abah menerima uluran map berwarna coklat dari santri khidmah. Kemudian membukanya dengan sang Kakek.
"Afra Arundati? beliau ingin ta'aruf dengan?" tanya Danarhadi, dirinya sudah curiga karena cucu lelaki Wisesa yang siap memasuki jenjang pernikahan hanyalah Fayyadh. Mifyaz belum lulus dan Hanan masih sangat belia.
"Raden Mas Althafaris Fayyadh," sahut Nyai.
Dhuaar.
Abah menahan telapak tangan Danarhadi diatas paha beliau agar sesepuhnya ini tenang.
"Kek." Wisesa menoleh ke arah kakeknya, memberikan isyarat dengan anggukan samar seraya menepuk tangan mengeriput itu. Danarhadi menghela nafas, memilih mengikuti arahan sang cucu.
Lima menit kemudian.
"Nyai, afwan. Ana tidak dapat memberikan jawaban saat ini sebab bukan wewenang langsung. Akan Ana sampaikan pada wali sah Fayyadh. Kiranya berapa lama waktu yang diberikan oleh beliau?" selidik Abah.
"Satu pekan, Den Mas. Nggih, monggo dibicarakan. Ana kembali kemari jika tenggat waktunya telah habis," imbuh beliau.
Abah mengangguk. "Tafadhol, Nyai."
Karena kepentingan sudah tersampaikan, putri Yai Shodiq pamit undur diri dari kediaman Danarhadi.
"Sa. Gak usah bilang Mas Amir. Enak aja cicitku mau diambil wong gendeng. Curang dia itu, dari dulu emang keluarga culas! nyari bibit unggul buat nutupin bobrok turunan. Mboten ridho, Uyut!" serunya berapi-api.
"Istighfar Kek. Inget tensi, tensi haduh. Aku ngerti, pelan-pelan sini duduk dulu," Abah menarik lengan Kakeknya agar kembali duduk tenang.
"Gak boleh gitu. Ini kuasa Amir. Kakek ceritakan detailnya sama dia. Kalau memang bagus dan sholihah kenapa enggak. Meski syaratnya berat ini," Abah kembali menelaah tulisan disana.
"Suruh jadi apa Mas Fayyadh?" seru Danarhadi.
Abah seketika menutup telinganya. "Kek, gak usah teriak, aku gak budeg loh," kekeh Wisesa.
"Terjun ke dunia politik."
"Dasar %€x#×% ... mbasuh pencitraan. Tenan pinter, cicitku hafiz, aaahhh kudu di datengin ini," geram Danarhadi lagi, dia bangkit hendak menyambangi kediaman Bima Arundati.
"Stop. Pak Kusno," panggil Abah pada asisten kesayangan Danarhadi, agar membantu mencegah sepuhnya berulah.
"Sampun sepuh, Den Arya, tunggu dulu penjelasan Den Mas Wisesa," cegah Kusno Kalani menahan lengan Danarhadi.
"Ngelu atiku, No." Tumenggung memukul pelan dadanya.
__ADS_1
Abah menarik lengan Danarhadi kembali duduk. "Kita call Amir dulu," ujar Abah.
"Nggih, Sa. Tapi kalau sampai Mas Amir atau Nduk Aiswa ridho. Uyut ngambek," tegasnya.
Abah tergelak atas kelakuan sang Kakek. Perasaanya mengatakan bahwa Aiswa yang akan menolak gadis ini, entah mengapa demikian.
Tuut. Tuut. Panggilan terhubung.
"Assalamu'alaikum, Bah. Maaf ini Ais, Qolbi lagi ada tamu. Mau bicara?"
"Wa'alaikumsalam, sampaikan saja Nduk. Ada CV proposal ta'aruf untuk Mas Fayyadh. Abah kirimkan lewat e-mail saja ya di capture atau bagaimana?" tanya Wisesa.
"Ta'aruf. Fayyadh masih lama Bah, kasihan wanitanya. Anak itu janji sama Ais," elak putri Tazkiya.
"Dilihat saja dulu, jangan langsung menolak," saran Abah lagi.
"Nduk, jangan diterima ya. Elek, eman-eman Mas Fayyadh," seru Danarhadi.
Aiswa tertawa mendengar teriakan Danarhadi. "Nggih, gimana Abah aja. Boleh tolong kirimkan dulu CV-nya nanti Ais bicarakan dengan Qolbi. Batas waktu menjawab berapa lama, Bah?"
"Satu pekan, Nduk."
Setelah perbincangan singkat, panggilan berakhir. Abah lalu meminta Kuntara agar mengirimkan berkas milik Afra ke email Amir segera.
...***...
Sementara di kediaman lainnya.
Seorang wanita mulai mengumpulkan berbagai macam buku pembelajaran tentang apa yang dia cari selama ini.
Didalam kamar mewah, sosok ayu yang mulai sedikit demi sedikit menutup rapat auratnya tengah membaca satu kisah wanita shalihah.
"Ketika Asiyah mendapati kejahatan, keburukan, dan cobaan yang menimpa. Dia selalu memohon perlindungan dan keselamatan pada Allah. Hanya Tuhan tempat mengadu segala keluh kesahnya ... ~dan selamatkanlah aku dari Fir’aun serta perbuatannya~."
"Hmm, itu maksudnya apa ya? apakah sebagai permohonan ... selamatkanlah diriku dari Fir’aun sebab aku berlepas diri dari semua perbuatannya demi engkau ya Rabb. Begitukah?"
"Tanya siapa ya? eh aku tahu, tapi boleh gak ya?" Gadis ayu bermonolog lirih, dia khawatir keliru menafsirkan satu kisah.
Jemarinya meraih ponsel tak jauh dari ranjang. Mulai membuka satu grup. "Bismillah."
"Eh, kok bismillah," senyumnya mengembang.
.
.
__ADS_1
...____________________...