
Pekan selanjutnya.
Kamis sore, pasangan Qavi tiba di Joglo Ageng. Fayyadh sudah lebih dulu sampai dan kabarnya pria lajang itu tengah gencar mencari sosok yang dia minta sejak beberapa pekan lalu.
"Abah kira besok baru tiba, nikahannya sabtu kan?"
"GR dulu, Bah. Briefing dengan para koordinator keamanan pondok juga. Dimulai besok pagi," jawab Shan kala baru masuk ke hunian utama.
Dia baru pertama kali menginjakkan kaki di kediaman buyut Kusuma. Shan takjub, teringat pendopo milik buyutnya di Yogyakarta.
"Shan, bawa kerak telor gak? pesanan Uyut?" serbu Danarhadi kala melihat cicit mantunya tiba.
"Ada sama Ai, bentar di siapkan ya Yut. Aku bawa perlengkapan dulu," ujarnya menuju mobil kembali.
"Ambil apa?" tanya Abah, seraya memanggil Kuntara agar membantu cucunya.
"Prosedur keamanan, earphones, mini mic wireless, walkie talkie, drone, senpi, belt, shoes, rompi, juga lainnya," balas Maira, berlalu masuk kedalam.
"Nduk, gak bantu suamimu, bawa itu tadi?" Danarhadi terheran, kapten laskar tapi malah acuh.
"Zie udah biasa sendiri, malah dia lebih teliti dari aku," ujar Maira lagi, melenggang menuju dapur.
Sementara itu.
Fayyadh menemui Glenn hampir setiap hari. Pria tua itu nampak menerima dengan baik pemuda kawan putrinya. Bahkan berkali mengatakan bahwa Fiora sudah dia ikhlaskan bilamana memang jasadnya tidak ditemukan.
"Aku sudah lelah bayar orang, Mas, gak ketemu," ujarnya lesu.
"Sudah coba sewa shadow, Tuan? hubungi nomer ini, silakan," tawar Fayyadh menyerahkan kontak ponsel Adnan. Dia tidak berani memberikan nomer ponsel Mahendra.
Glenn menerima uluran kartu nama dari Fayyadh. Keduanya berbincang hingga pria tampan itu pamit undur diri menjelang maghrib.
Joglo Ageng.
Shan sedang menstimulasi Maira dengan belt design Mifyaz. "Gimana? ringan gak?" tanya Shan.
"Iya Zie. Kamu kok kepikiran?"
"Lihat belt laskar wanita itu harusnya pakai yang simple, ringan dan elegan biar tetap feminim meskipun mereka bodyguard," pendapat Shan.
"Wooo Woo, ada apa ini?" ujar Fayyadh kala memasuki ruang tamu, melihat Shan mengokang pistol.
"Besok GR dengan keamanan pondok juga polisi di As-shidqu. Malam ini mau lihat lokasi," ujar Maira.
Fayyadh hanya mengangguk, dia melihat berbagai peralatan bak pengawalan pejabat negara.
"Bener ya, kalau bukan Shan, mana ngerti beginian," imbuh Fayyadh mendekat, duduk di sofa single dan menyentuh salah satu pisau kecil-kecil.
"Makanya, sekarang makin paham kan?" sindir Abah, ditanggapi hanya dengan senyum terpaksa Fayyadh.
"Cuma Maira yang punya izin pakai senpi ya, Shan? lainnya enggak?"
"Aku, Ayah juga dua orang laskar wanita yang sudah punya lisensi. Tetap wajib lapor sih, ini gak pakai timah, hanya peluru karet sebab tujuannya pengawalan. Bukan misi khusus," ucap Shan lagi seraya memasang beberapa alat pada belt.
"Ckckck Maira, beginikah setiap tugas?" Fayyadh takjub.
__ADS_1
"He em," jawab Maira singkat.
"Sayang, coba kamu sesuaikan kalau untuk gerakan cepat, ini nyangkut dan ganggu gak?" ujar Shan meminta Maira berdiri.
"Yuk, try on. Kamu siap? aku swing ya," ujar Shan bersiap melayangkan gerakan mengayunkan lengan seraya berbalik.
Shut.
Pasangan sehati, berlatih.
Krak.
Pinggang Shan, di todong moncong senjata. "Beng, Zie," lirih Maira sedikit terengah, akibat menangkis lengan Shan.
"Good Ai. Gak nyangkut ya?"
"Enggak. Ini enak kok magnet pengaitnya, kokoh tapi gak ribet." Keduanya asik stimulasi .
"Coba kalau jadi sama kamu Mas, Maira bakal latihan sama siapa? dan yang nyiapin semua alat ginian," kekeh Abah masih menyindir Fayyadh.
Shan lalu melepas belt dari pinggang istrinya dan menyusun rangkaian alat untuk para laskar yang telah tiba di pondok.
"Yang nikah kan anak pejabat dengan tokoh masyarakat. Kirab juga. Maira koordinasi dengan Akhwat dan aku membantu masuk ke ikhwan," ujar Shan seraya melihat map pada laptopnya.
"Iya, aku shock. Ternyata benar Afra menikah dengan sahabat satu flat di Jeddah ... wah alatnya canggih begini, Ayah Mahen investasi besar-besaran berarti ya disini," tanya Fayyadh lagi.
"Itulah jodoh, Mas. Gak bisa dipaksa," sambung Danarhadi.
"Sekarang diserahkan padaku utuh, Mas. Memang untuk akses perizinan, masih dibantu Ayah ... Ok done. Doakan misi lancar ya," ujar Shan seiring adzan maghrib menggema.
...***...
Pondok As-shidqu.
Maira sigap memberikan briefing pada dua puluh anggota laskar yang dia bawa serta membagikan cara susunan belt mereka. Sementara Shan menjadi penyambung komando dikalangan ikhwan serta pimpinan keamanan setempat.
Istri Shan Qavi lalu menyambangi kediaman pemilik pondok, menanyakan permintaan lanjutan serta arahan singkat.
"Nanti Ana ngikut apa kata Arwa saja ya, Nak Maira. Sebab mesti fokus juga dengan EO," ujar sang Nyai.
"Nggih Nyai. Saya selalu ada disamping dan sekitar para tamu penting," sambut Maira.
Menjelang pukul sepuluh malam.
Shan menyusul istrinya yang masih membagi mapping untuk kirab dengan Arwa.
"Baby, sudah selesai?"
"Sedikit lagi. Zie, beliau koordinator range keluarga inti, kita setting frekuensi besok ya ... nanti ada alat tambahan dari kami," ujar Maira mengenalkan keduanya.
"Ini?" tanya Arwa menunjuk Shan.
"Zauji," jawab Maira lugas.
Shan melihat ke arah gadis itu sekilas, dalam temaram lampu taman, dia seakan mengenali kedua matanya.
__ADS_1
"Kami pamit dulu, besok GR stimulasi keluarga inti. Malamnya real GR satu kali, yang paling penting kalian paham mapping jadi tidak kacau," ujar Shan menegaskan pada para koordinator akhwat.
Sepanjang perjalanan pulang. Lukisan sketsa Fayyadh dengan mata Arwa membayangi ingatan Shan.
"Apa iya dia? masa sih, harus ku pastikan esok pagi dan membagi info ini dengan Ahya," lirihnya.
"Sayang, besok kalau bisa, aku minta pindai mata Arwa kira-kira dapat gak?" pinta Shan ragu.
"Untuk?"
"Mas Fayyadh, dia sedang mencari seseorang. Nanti kutunjukkan sebuah sketsa mata," sahut Shan lagi.
"Oke, aku usahakan."
Tak lama, keduanya tiba di kediaman Danarhadi. Shan tak langsung beristirahat, dia melacak sesuatu dan mencatat apa yang ada dalam otaknya.
"Tinggal besok, eksekusi."
"Zie, bobok." Maira sudah merengek sebab telah menjelang tengah malam, Shan masih asik dengan laptopnya.
Keesokan pagi.
Berdasarkan rencana semalam dengan Shan. Menantu Qavi berusaha mendapatkan foto mata cantik Arwa.
Hari yang panjang dilewati semua insan yang terlibat dalam pagelaran pernikahan mewah pekan ini. Maira bahkan tak sempat menyambangi lokasi sang suami sebab dirinya disibukkan oleh beberapa kordinator yang tak jua paham tugasnya.
Hingga ba'da isya, sapaan Hubabah Aminah Al-kahf menyejukkan kalbu sang gadis, kala beliau baru tiba dan melintasi halaman depan aula.
"Maira, hati-hati ya besok sebab pasti ramai sekali orang yang melihat sepanjang jalan. Ana kan tidak ikut, sebab tugas Ana hanya ausiah dikalangan akhwat setelah akad nanti, menunggu disini," pesan sang guru Mulia, mendoakan dirinya.
"Jazakillah kheir, ustadzah." Shan menyusul istrinya sebab ia telah selesai.
"Shan ya? alhamdulillah, Ana titip Maira ya. Maa sya Allah, jodoh sehati namanya ini. In sya Allah semua urusan lancar termasuk ini," ujarnya menyentuh perut rata Maira.
"Aamiin," ucap keduanya seraya bersholawat dan pamit dari hadapan sang guru.
Dikarenakan fisik yang lelah. Maira lupa memberikan hasil foto mata Arwa pada Shan, dia langsung terlelap begitu sampai di Joglo Ageng.
Keesokan pagi.
Ba'da subuh, kedua pasangan itu telah siap dengan uniform masing-masing. Maira memakai outer gamis hitam dipadu pant longgar, sementara Shan membaur mengenakan kemeja seragaman keluarga inti pria sebab dia berkutat dengan para pejabat dari kalangan Bima Arundati.
Jam delapan pagi.
Fayyadh bergabung dengan iringan pengantin pria yang mulai memasuki kawasan pondok. Pandangannya tak sengaja tertuju pada sosok yang tengah bicara dengan Maira di seberang sana.
"Dia. I-itu dia kan?" lirihnya gusar, mencari Shan namun tak kunjung bertemu pandangan.
.
.
..._____________________...
...Sabar, dijelaskan alurnya ya biar gak berasa lompat-lompat...
__ADS_1