ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 27. JODOH MASIH OTEWE


__ADS_3

Karena Danarhadi telah sepuh maka semua tugas yang dahulu ia emban, kini beralih ke Wisesa alias Abah.


Pagi ini kedua pria beda jaman sudah rapi dan bersiap menuju pendopo untuk salam pada Sinuhun lalu melanjutkan kegiatan mengunjungi kebun sedap malam juga usaha Danarhadi lainnya.


"Mas, kalau tinggal di sini mau gak? nerusin kewajiban ngabdi sama Sinuhun. Sekolah PAUD kamu juga bimbel bisa dipantau jarak jauh kan? Solo itu asal usul keluarga kita. Jangan sampai putus pengabdian, meski kehidupan keraton juga ya begitulah," pinta sang Kakek setelah mereka keluar dari pendopo.


"Gak ada yang mau nerusin ya?"


"Bukan gak ada, tapi belum ada. Abyan punya dua putri, Amir ada kamu si sulung dan meski Naya mendidik Maira bagai pria tapi kan dia wanita. Satu-satunya harapan ya Kamu tok," balas Abah kemudian seraya masuk kembali ke dalam mobil.


"Gak bisa nawar ya Bah, kudu ada penerus? rumahku di Bekasi gimana donk? kan ngebangun dekat Arza itu supaya bisa sekalian handle punya Abi. Kalau menetap di Solo, terbengkalai semua," Fayyadh menimbang permintaan kakeknya.


"Rumah di sana buat transit kamu atau Abi kalau kontrol bisnis ke Jakarta. Biar gak numpang di Tazkiya atau Orchid meski dua tempat itu ya keluarga kita juga ... dipikirkan dahulu saja. Siapa tahu juga nemu jodoh di sini kan? banyak putri Yai kalau kamu mau, nanti Abah kenalkan," tawar Wisesa mencoba peruntungan membujuk Fayyadh.


"Nanti deh, sekalian rembukan dulu. Aku cuma mau healing sebentar sebelum balik bantuin Abi di rumah sana. Kita kemana, Bah? kebun Jiddah Artha masih produktif?"


"Masih donk, kan dijaga. Ini mau ketemu sama buyer dari Surabaya, join florist karena beliau mau buka toko bunga gedean di Solo. Semoga aja deal," jelas sang Kakek.


Tiada lagi obrolan di antara mereka sepanjang menempuh sisa perjalanan, hingga sepuluh menit kemudian, mobil rangers rover hitam yang dibawa Darso, menepi di pelataran parkir depan kebun.


Fasad depan lokasi kebun kini nampak sangat berbeda. Terdapat bangunan dengan atap semi permanen juga beberapa bungalow setelah undakan anak tangga menuju bawah, terlihat indah dari parkiran atas yang lumayan luas.


"Kebon ArthaFlo, di sewakan gedung dan venue untuk event. Loh Bah, sekarang renov full nih," tanya Fayyadh kagum akan landscape Kebun milik neneknya kini.


"Punya mantu pinter di bidang landscape kudu di manfaatkan. Ini hasil kerja dan saran dari Ayah Mahen idolamu itu, designnya dia yang buat dan pengerjaannya di awasi Om Rey. Cakep ya, unik. Makanya kalau weekend lokasi ini full, bahkan kata Pak Kusno full booked hingga awal tahun. High price sewa tempat, saat semua bunga yang di sela bangunan itu semua mekar. Mas Panji itu memang cemerlang kalau soal bisnis," tutur Abah mengajak Fayyadh menuruni undakan.


"Luar biasa, meski mangkas area depan buat lahan parkir. Jadi sektor 4 yang adaa ayunan masih gak Bah?" Fayyadh takjub.


"Masih, buat Center Point foto prewed malah. Tuh lihat, lagi ada yang sewa lokasi foto. Uyut beli lahan baru di belakang dan samping, sebagai ganti area depan yang terkikis. Nambah kebun mawar lagi juga sekarang nanem krisan dan sedang belajar pembibitan bunga import," jelas Abah menunjukkan satu persatu arah area baru kebun.


"Nah, tuh tamu kita udah nunggu di bungalow. Kita ke sana dulu ya Mas, baru keliling kebun nanti," ajak Abah pada Fayyadh menemui calon kliennya.


Tak tertarik obrolan yang sama sekali membuat jenuh. Fayyadh pamit undur diri ke toilet untuk membasuh muka agar lebih segar.

__ADS_1


Sepanjang langkah menuju mini bathroom, indera penglihatan di manjakan oleh hijaunya daun serta bunga rumput yang menyegarkan mata. Interior luar wastafel juga kondisi bilik kamar mandi sangat rapi dan apik. Hiasan lampu kuno, ubin jadul menambah kesan etnik.


"Ayah Mahen emang gak ada lawan kalau tentang pemilihan benda yang estetik. Pantesan dapat Bunda Naya, punya anak macam Maira. Bibit sempurna, duh. Makin galau enggan move on sama kamu Mahya," gundahnya kembali hadir, namun seketika pudar akibat seseorang masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya.


"Eh, toilet wanita di sebelah." Fayyadh terkejut, pintu bathroom di dorong oleh seorang gadis dengan pakaian minim bahan.


Tak dia pedulikan ucapan Fayyadh, gadis itu langsung masuk ke bilik.


"Astaghfirullah, innalillahi." Putra sulung Amir tergesa keluar toilet hingga pinggangnya membentur handle pintu. "Awh." pekiknya tertahan.


Mulanya hendak menuju bungalow bergabung dengan sang Kakek, namun ia urungkan sebab melihat pasangan calon pengantin yang sedang melakukan foto prewed.


"Selalu ingat kamu," keluh Fayyadh, namun entah mengapa ia enggan beranjak dari sana.


Lama memperhatikan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, membayangkan andai itu dirinya dan Maira. Sadar semua dalam benaknya hanya angan, Fayyadh membalikkan badan berniat menemui Abah.


Tiba-tiba. Brugh.


"Kok aku? kan situ nabrak. Astaghfirullah," Fayyadh memalingkan wajah. Pandangan pertama rezeki, selanjutnya zina mata, batinnya. Dia pun berlalu begitu saja meninggalkan gadis sembrono.


"Mas, sini." Suara Abah memanggilnya kembali bergabung.


Perbincangan kedua Sepuh akhirnya menemui titik terang, kerjasama itu disepakati dan peresmian perjanjian kerja akan dilakukan esok hari ditempat ini.


"Fiora, ayo kita pulang," ujar Tuan Glenn Tusakti memanggil putrinya.


"Sudah Dad? aku suka tempat ini, kayaknya bagus kalau florist kita sekalian jadi galery tas Chrocket aku," jawab seorang gadis.


"Loh, kamu lagi." Suara Fayyadh dan Fiora berbarengan, saling menunjuk jari.


"Sudah kenal?" tanya Abah pada Fayyadh.


"Boro, enggan malah. Orang ini nyasar ke toilet pria dan nabrak aku tapi dia malah nyalahin," kesal Fayyadh malas melihat sang gadis.

__ADS_1


"Eh, kamu salah, balik badan gak liat-liat!" elak Fio enggan disalahkan.


"Heh, aku mana liat, kan jalan lega. Situ aja mata kemana, aku lebih dulu di sana. Yeeeee," balas Fayyadh merasa dirinya benar.


"Sudah-sudah. Dosen kok debat, gak elok Fio. Lagian pakai jaket kamu, demen amat seksi begitu," tegur Tuan Glenn pada putrinya yang mengenakan jeans hipster dipadu kaos ketat tanpa lengan dengan panjang sebatas dada, menunjukkan perut rata juga pusar seksi tubuh mulusnya.


Fayyadh juga Abah menundukkan pandangan saat Fiora bersama mereka. Gadis itu menyambar jaket di kursi lalu melengos begitu saja meninggalkan para pria.


"Mohon maaf atas sikap putriku, Fiora sempat down saat Mamanya meninggal belum lama ini. Dirinya tak lagi percaya Tuhan. Nanti sambung lagi ya, Pak Wisesa. Kami pamit," ujar Tuan Glenn menjabat tangan keduanya kemudian berlalu.


"Cantik, semuanya indah tapi kok dipamerkan ya Mas. Kamu liat ya, hayo," goda sang Kakek.


"Ya gimana gak liat, kan tadi dia nyelonong aja. Cuek begitu, juga gak sopan. Masa dosen sih? kelakuan minus kok. Jangan salahkan mata lah Bah, rezeki kalau gak sengaja," gelak Fayyadh seraya keluar dari bungalow.


Abah menggelengkan kepala. "Beda banget sama Amir yang kalau di goda cuma senyum. Lah dia, mirip Aiswa suka ceplas-ceplos. Fayyadh Fayyadh, manisnya cuma sama Maira doank," gumam Abah menyusul cucunya menuju pos lima.


Menjelang sore, kedua pria beda jaman itu memutuskan pulang ke Joglo Ageng. Sejenak, Fayyadh lupa akan rasa kehilangan akibat sosok ayu sepupunya. Menikmati hari di kota Solo dengan sang Kakek kesayangan juga panutan.


Semua nasihat yang Abah selipkan dalam refresing mereka berdua kali ini nampaknya masuk ke dalam kalbu Fayyadh. Pria tampan nan muda itu perlahan terbuka dan mengerti bahwa posisi Mahen juga Amir sulit jika hubungan mereka berlanjut.


"Bukan cuma Mas Fayyadh yang patah hati. Ayah Mahen juga Abi pun sama. Kami yakin, kalian akan sama-sama bersikap santun dan dewasa. Namun seiring jalan nanti, apabila salah satunya tersakiti maka bukan tak mungkin rumah tangga kamu cuma kedok dan menjadi toxic. Mengupayakan agar tidak bercerai berai, dengan mempertahankan mahligai yang rusak dan busuk itu akan lebih sakit. Dampak pada keluarga pun bisa jadi lebih besar," tutur Abah mengajak Fayyadh berpikir luas.


"Who knows, Bah."


"Abah balikin lagi, siapa yang tahu nanti masa depan kalian macam mana, hayo? in sya Allah jodohmu lagi otewe Mas. Sabar dulu, bukan gak pantas untuk Maira tapi waktu belum berpihak padamu. Ingat gak kata Imam Ghazali? apa yang di takdirkan untukmu akan tetap jadi milikmu, kayak Umma dan Abi kamu dulu," imbuh Abah menutup percakapan.


Fayyadh hanya mengangguki semua perkataan kakeknya. Banyak yang harus dia renungkan malam ini. Hatinya kini hanya berharap, semua sakit akan perlahan memudar dan berganti bahagia.


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2