ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 40. MENANTI HASIL


__ADS_3

Netra amber pemilik wajah oval itu mengerjap beberapa kali. Dirinya berusaha membiaskan cahaya pada retina mata sebab terlalu lama memejam.


Naya mulai dilanda kebingungan. Bukan hanya Shan yang masih tak sadarkan diri sepenuhnya melainkan Maira juga sulit di ajak bicara.


Satu jam bagai setahun akhirnya terhempas kala Dewiq tiba. Bunyi langkah kaki yang tergesa seketika membuat Naya menoleh ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum. Ya Allah alhamdulillah," suara Dokter spesialis Internist kebanggaan Hermana dan Tazkiya terkejut melihat Maira telah sadar.


"Wa'alaikumsalam, Wiq. Ini gimana?" Naya menjawab salam saudara jauhnya seraya menarik lengan dokter itu mendekat ke ranjang Maira.


"Jangan panik, Naya. Sebentar aku cek Maira dulu ya. Shan gimana?" tanya Dewiq seraya mengeluarkan catatan juga stetoskop dari tasnya.


"Tadi sudah di periksa dokter jaga dari klinik Orchid. Demam juga tekanan darahnya rendah, dia gak makan apapun sejak kamu kembali kemarin siang itu," ungkap Naya atas kondisi sang menantu.


Dewiq memperhatikan seksama perkataan Naya. "Ok, nanti aku lihat kondisi Shan juga setelah ini," ujar putri Hermana. Lalu dia duduk berhadapan dengan Maira. Menyentuh telapak tangan gadis itu yang bergetar halus.


"Halo Maira, ingat gak sama uwa Dewiq?" tanya istri Ahmad, menatap tajam manik mata keponakannya.


Maira mendongak, sorot mata sendu itu bersirobok dengan manik wanita ayu didepannya. Menelisik ke dalam, seakan mencari jawaban disana.


"Maira bisa bicara. Kamu adalah gadis energik seperti dulu, cerdas juga sholihah. Mau coba ngomong langsung atau menulis?" tawar Dewiq pelan, masih mencari tahu kondisi putri sulung Naya.


Gadis itu hanya diam. Mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Ok. Uwa cek kondisi Maira boleh? beri respon ya," ujar Dewiq lagi.


Kakak sulung Ajmi tetap bergeming. Perlahan Dewiq menstimulasi pendengaran, memeriksa kondisi mata amber nan cantik itu juga meminta Maira membuka mulut.


"Astaghfirullah. Dia iritasi akut ini, kelamaan gak bicara jadi sakit dan sulit mengeluarkan suara. Apa tadi dia berteriak?" selidik Dewiq pada Naya.


Ibunda Maira mengangguk. "Hanya satu kali, lalu ku beri minum. Kenapa Maira, aku salah bertindak kah, Wiq?" Naya cemas.


"Enggak. Maira butuh banyak minum agar tenggorokannya kembali basah juga suplemen untuk kulitnya. Nanti ku resepkan setelah ini," ujar Dewiq masih melanjutkan pemeriksaan terhadap keponakannya.


Lima belas menit berlalu.


Dewiq telah selesai memeriksa kondisi keseluruhan Mahya Humaira. Segala yang dia temukan juga di catat dalam jurnal. Sejenak, dia meninggalkan Maira dan beralih menuju di mana Shan berada.


Mahendra menepi kala Dewiq memakai glove untuk memeriksa menantu Guna. Beberapa luka di tubuh pria tampan itu terlihat sudah diberi tindakan.


"Dia bentar juga sadar. Obatnya sudah di minum kan? biarkan istirahat. Anak ini memporsir diri sendiri. Tidak terlihat dari luar namun Shan bagai aku," ucap Dewiq.


Dia meminta Ulfara menyelidiki sosok menantu idaman keluarga Guna ini. Hasilnya menakjubkan, Shan adalah sosok pria jenius sekaligus memiliki kepribadian introvert, sama seperti Maira. Hanya nyaman dengan beberapa kerabat terdekat untuk dijadikan teman.


"Iya sudah tadi saat setengah sadar, langsung ku paksa menelan makanan sedikit juga obatnya," jawab Mahendra.

__ADS_1


"Wiq, Maira gimana? kayak asing sama kita," bisik Mahen kemudian.


"Siang nanti team dokter datang ke sini, dan akan kami simpulkan dari hasil pemeriksaan nanti. Mas Panji gak pergi kan?"


"Enggak. Ada Adnan yang ngurusin semua. Naya juga gak pergi siaran atau ke kantor Quenny. Kita stay," jelas Mahen lagi.


"Ok deh. Takut minta persetujuan tindakan medis nanti. Aku balik dulu ya, ada operasi jam sepuluh nanti. Ba'da dzuhur kesini lagi dengan Mas Ahmad in sya Allah," balas sang dokter seraya bangkit dan kembali menuju ranjang Maira untuk membereskan semua perlengkapan yang ia bawa tadi.


Naya masih dilanda kecemasan. Namun setelah mendengar apa yang Dewiq instruksikan, dia sedikit lega.


"Thanks ya Wiq. Semoga kekhawatiran aku gak terjadi," cemas Naya melepas saudara jauhnya pergi meninggalkan kediaman mereka.


...***...


PIK Tower.


Sejak semalam Dilara tak enak tidur, dia gelisah. Entah apa yang membuat hati ibu empat orang putra dilanda kecemasan. Pagi ini, hanya Shan sang putra sulung yang mengisi benak Dila sehingga Ezra menegur istri tercinta akibat melamun kala tengah menyimpulkan dasi di lehernya.


"Sayang, kamu kenapa sih? semalam juga gelisah, padahal sudah aku peluk," ujarnya menatap heran pada pemilik wajah oval di hadapannya.


"Entah, aku ingin call Shan tapi ponselnya off. Hmm, Abang, boleh ke Orchid gak sih? setelah ngajar dan nemenin meeting siang nanti?" pinta Dilara pada Ezra.


"Pergi sama aku. Syaharan yang handle meeting setelah pulang sekolah karena ini project dirinya dan Shan. Aku hanya membackup laporan saja by Rolex nanti," balas CEO EQ Arch itu.


"Punya anak empat tapi masih sangat ayu begini. Mas Mahen aja ngawal Bu Naya pake bodyguard. Kamu kan gak mau, jadi wajib pergi sama aku. Titik," kukuh Ezra tak ingin di bantah.


"After lunch, aku jemput kamu di DeHa ya Sayang. Sementara itu, call Bu Naya saja dulu dan beri kabar bahwa kita mau sowan siang nanti," saran Ezra lagi dianggurin Dila pada akhirnya.


Pria tampan keturunan Turki itu menarik istri moleknya dalam pelukan, memberikan banyak kecupan pagi diwajah oval nan ayu lalu mengajaknya bergabung dengan para jagoan untuk sarapan pagi.


"Shan, kamu sehat kan, Sayang? Bunda khawatir dan gak tenang meski sudah berkali wudhu dan memohon perlindungan pada Allah."


"Sabar ya Kak. Siang nanti, Ayah dan Bunda ke rumah Orchid, liat Shan."


...***...


Orchid, siang hari.


Team dokter telah tiba di kediaman Mahendra tanpa Dewiq. Pria pemilik gelar Raden Panji itu lalu membimbing rombongan keempat orang dengan setelan jas putih menaiki tangga menuju lantai dua.


Pintu kamar Maira masih terbuka. Shan pun setia di tempatnya, deru nafas teratur dan halus kini melingkupi tubuh tegap itu disana. Sementara princess Kusuma nampak enggan berinteraksi dengan sekitar. Dia masih asik dalam dunianya sendiri.


Naya menyapa rombongan para wanita team dokter yang Dewiq siapkan. Ibu dua anak itu lalu menceritakan detail kisah awal mula putrinya sadar dari koma.


Mahen menarik istrinya menyingkir dari sisi ranjang agar para dokter lebih leluasa melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu begitu saja, hingga Dewiq tiba dan mereka masih berdiskusi.


Ponsel pemilik event organizer itu terus berdering namun dia indahkan. Jika mengenai pekerjaan, tentulah telah di handle oleh Mega. Namun dering itu tak pernah surut. Mifyaz yang baru saja pulang sekolah berisinisatif meraih gawai Naya dari dalam kamar lalu membawa benda pipih di genggamannya pada sang pemilik.


"Bunda, ini ada call dari Bunda Dila sudah belasan kali gak di respon. Siapa tahu urgent, gimana sih Bun?" ujar putra bungsu seraya meraih tangan kanan ibunya untuk salim.


Naya menanggapi singkat ucapan Ajmi. Dia seakan gamang saat menerima uluran ponsel dari Ayaz. "Oh iya. Syukron Dek."


Jemari lentik berhias cincin berlian bermata tunggal itu menggeser tombol ke samping pada layar lalu melakukan panggilan balasan ke nomer besannya.


Naya meminta maaf mengabaikan ponselnya sejak pagi. Dia kemudian terpaksa menceritakan kondisi yang terjadi sejak subuh tadi di kediaman mereka.


Terdengar suara Dilara mengucapkan istighfar, meski pelafalan untuk kata itu tak terdengar jelas di telinga Naya, namun dia mengerti sebab besannya seorang tunarungu.


Mahen menepuk lengan istrinya, menyarankan agar Dila kerumah mereka melihat kondisi Shan saat ini. Tak lama, panggilan di antara kedua wanita itu, berakhir.


"Bu Dila mau kesini after lunch, satu jam lagi karena Pak Ezra masih ketemu klien," jelas Naya saat sang suami menunggu respon balasan sebab panggilan mereka tadi.


"Semoga membaik dah semuanya," harap Mahen menarik nafas panjang namin tak kunjung membuat lega.


"Bun," gumam Shan, suara lemahnya terdengar.


"Iya Nak. Bunda Naya disini, Shan mau minum?" tanya Naya mendekati sang menantu. Sementara Mahendra masih memperhatikan gaya bahasa para team dokter di depan sana.


"Ai kenapa?" tanya Shan, masih memejam.


"Gak kenapa-kenapa. Shan sehat dulu atau paling tidak rasa sakit dan lemasnya sudah berkurang, baru nanti lihat Maira, Ok?" bujuk Naya seraya mengusap peluh dari dahi menantunya.


"Maaf merepotkan Bunda dan semuanya," lirih Shan tak enak hati.


"Kamu putra Ayah, Shan. Jangan bilang begitu, lekas sehat ya biar bisa jagain Maira. Bunda Dila mau kesini satu jam lagi. Istirahat dulu Buddy, just rilex for a moment please," ujar Ayah mertua menepuk kaki Shan yang menjulur di sofa panjang.


Hanya anggukan samar yang dapat El Shan berikan sebagai respon. Ingin membuka mata dan memasang pendengaran seksama terhadap suara bisik-bisik yang mengganggu namun apa daya, sisa pening juga kantuk masih menggelayut di pelupuk mata.


.


.


..._______________________...


...Bantu RATE yaa untuk silent reader. Biar faedah jempolnya ketika mampir sini 🤭. Sing ikhlas tapi ya... Syukron. ...


...(Rate, pojok kiri yang ada bintang nya) ...


__ADS_1


__ADS_2