
Hari pagelaran event.
Fayyadh seharian menghindari kedua orang tuanya. Dia mengurung diri di kamar, beralasan tengah mengerjakan sesuatu dan tak ingin di ganggu. Hanya Athirah yang berani mengusik kegiatan rahasia kakak sulungnya.
"Mas, aku boleh masuk gak?" suara lembut hampir tak terdengar, mengetuk dan memanggil sang Kakak dari balik pintu.
"Fadhol, Nduk. Masuk saja, gak Mas kunci kok pintunya," sahut Fayyadh dari dalam.
Jika berhadapan dengan gadis itu, Fayyadh harus siap menajamkan telinga menatap wajah dan manik mata ayunya sebab suara adik perempuan satu ini amat pelan dan dia sangat pemalu. Bicara hanya seperlunya, itupun apabila ditanya.
Athirah membuka handle pintu kamar Fayyadh pelan. Lalu menghampiri sang Kakak yang tengah duduk di karpet.
"Makin ayu aja kamu, Nduk. Kenapa murung gitu? udah ada yang minta kamu ya, ke Abi?" tebak Fayyad.
Putri Aiswa mengangguk. "Tapi Umma cuma diem aja, gak bela atau cegah. Kalau Abi asal main terima, habislah aku, Mas."
"Orang mana? kamu masih sekolah, punya waktu panjang jikalau ta'aruf kan?"
"Iya tapi aku gak suka," keluhnya mulai menunduk.
Fayyadh mendekat, mengusap kepala adiknya sayang. "Sudah ada yang kau suka, Nduk? Jangan-jangan Zeda-ku sudah mulai jatuh cinta, sama siapa?" desak Fayyadh.
Athirah kembali menunduk. "Suka karena dia terus terang, baru segitu. Tapi gak respect saat dia liatin aku terus. Harusnya lelaki itu menjaga pandangan, bukan menatap tajam. Tapi dia tegas seperti Abah. Inginku yang lembut bagai Abi," tutur Athirah menyampaikan keinginan tentang jodohnya.
"Bilang sama Abi kalau kriteria kamu yang seperti tadi, jadi jika beliau dihadapkan pada pilihan, sudah paham keinginan putrinya," saran Fayyadh kemudian.
Adik perempuan Fayyadh mendongakkan kepala. "Mas Fayyadh juga begitu? ... oh ya, Kak Maira ingatannya belum kembali, aku tak sengaja mendengar percakapan antara Umma dan uwa Dewiq, bahwa dia mencari Mas. Ssssttt, jangan bilang-bilang dari aku ya," suara gadis itu kian pelan, hampir tak terdengar.
Degh.
"Maira, d-ia mencariku?"
"Iya. Kata beliau, jika ingatan tentang suaminya hilang maka tidak demikian dengan Mas Fayyadh. Bahkan Kak Maira itu hanya ingat saat terakhir di Bandara, pas Mas baru pulang itu lho," bisik adik perempuan Fayyadh itu.
"Jauh banget ya, gak ada lagi selain itu?"
"Gak ada. Katanya, Kak Maira ingin tahu kabar dan ngobrol sebelum Mas Fayyadh balik ke Arab sono," imbuh sang adik.
Tok. Tok.
"Fayyadh, Mas. Bantu Umma menata stand di venue sekarang," suara Amir memanggil dari balik pintu.
"Beik, bentar Bii," jawab sang sulung.
"Nanti lanjut lagi. Aku mau bantu Umma dulu. Zeda, info kamu valid kan?"
"He em. Selamat berjuang, Mas!" tegasnya seraya mengikuti Fayyadh yang bangkit dan bersiap keluar kamar.
Mereka menduga bahwa Amir telah berlalu pergi, namun nyatanya salah. Lelaki paruh baya itu masih berdiri di depan kamar putra sulung.
"Berjuang apa? Zeda, Nduk?" tanya Amir saat keduanya muncul dari dalam.
Kedua kakak beradik saling pandang.
"Zeda, Abi gak suka ya kamu sembunyikan sesuatu ... Mas, jangan dengarkan adikmu. Kamu tahu yang Abi maksud. Biarkan semua tetap pada tempatnya," tegur Amir keras pada kedua anaknya.
__ADS_1
Athirah Zaida, hanya menunduk takut di tatap intens oleh Abinya. "Enggak Bii, Zeda gak bilang apa-apa," cicitnya sangat pelan.
"Zeda, jadilah gadis yang pandai menjaga amanah. Tahu mana baik dan buruk, harus disimpan sendiri atau di utarakan. Jangan sampai, prasangka diri elok namun berakhir fatal apabila salah ditanggapi oleh lawan bicara kita. Paham, Nduk?" tegas Amir lagi, terkhusus pada putrinya.
"Mas, sana gih. Umma udah nungguin, Abi mau ke Kebon dulu baru nyusul kalian. Zeda, stay dirumah dengan Abah dan Uyut, temani Hanan karena adikmu demam," pinta Amir pada keduanya. Tanpa banyak kata, mereka membubarkan diri.
Fayyadh pergi bersama Aiswa menuju venue event. Tanpa ada percakapan didalam kabin mobil yang membawa ibu dan anak hingga tiba di lokasi. Aiswa merasa ini bukan waktu tepat untuk bicara pada anak itu sebab dia bagai dirinya.
"Umma."
"Ya Mas? kenapa? sudah mau bicara?" tanya Aiswa, menoleh pada putra sulungnya seraya tersenyum ketika akan masuk ke tenda milik mereka.
"Ummaaaaa, maaf ya aku menghindari kalian," Fayyadh memeluk Aiswa dari samping, menelusupkan kepalanya ke belakang bahu ibunda.
"Nanti kita bicara, gak baik menahan semua sendiri, jangan ulangi kesalahan Umma dulu," ucap Aiswa pelan seraya mengusap kepala putranya.
"Aku banyak salah sama Umma. Maaf," balasnya lagi.
Aiswa terkekeh pelan, menepuk lengan yang melingkari dada dan lehernya. "Iya, Sayang. Nanti kita bicara, bantu Umma dulu yuk," ajak Aiswa mengurai kuncian pelukan Fayyadh.
Ibu dan anak larut dalam kesibukan menata stand, ambalan juga perlengkapan lain. Konsentrasi mereka buyar kala suara seorang wanita menghampiri keduanya.
"Assalamu'alaikum.
"Wa'alaikumsalam. Kami belum buka, malam nanti baru akan di resmikan," ujar Aiswa pada seorang gadis bercadar.
"Oh aku bukan ingin membeli saat ini, hanya ingin menyampaikan bahwa mobil yang ku tabrak kemarin sudah selesai juga telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi pada Raden Mas Wisesa, tak ku kira beliau Kakek Anda, Pak," ucap Afra pada Fayyadh yang sekilas acuh saat melihatnya datang.
"Hm, mobil?" Aiswa bingung.
Aiswa tak enak hati, akhirnya dia berbincang sejenak dengan gadis yang diacuhkan sang putra.
Percakapan antara kedua wanita tak luput dari pandangan seseorang di kejauhan. Ingin menghampiri namun ia segan. Busana yang dikenakan kedua insan itu amatlah sopan, sangat kontras dengan dirinya kini.
Baru saja kaki dengan betis mulus sebab rok mini yang dia kenakan akan melangkah, sebuah suara menahannya.
"Nona Tusakti? tenda Anda di ujung sana, lewat sini lebih dekat," ujar panitia menyilakan Fiora agar melewati stand Qiswa dan Quenny. Jalur yang ingin dia hindari.
"Hm, aku memutar saja," tolak Fio tak enak hati bila harus mengikuti arahan panitia.
"Nona Fio," seru asisten Fiora memanggil dari kejauhan.
Fio terkejut, desakan panitia yang memaksanya memotong jalan membuat beberapa pasang mata dari tenda serupa ikut menoleh ke arah mereka. Gadis itupun terpaksa berjalan di lorong semula.
Fayyadh mendengar nama seseorang yang mirip dengan gadis rekan bisnis kakeknya menoleh, lalu bangkit mencari sosok dimaksud.
"Fio!" panggil Fayyadh, menghampiri Fiora yang melintas di depan tenda mereka, membuat Aiswa mengernyit heran.
"Eh, kamu di-sin-i juga?" tanya gadis itu terbata, menarik perhatian kedua wanita berhijab.
"Iya, Umma aku diundang ikut pameran ... kamu sudah baikan? hmm, maaf untuk yang terakhir. Aku gak sentuh dan antar hingga ke depan rumah," tunduh Fayyadh sedikit canggung, dia menundukkan pandangan sebab Fiora masih saja berpakaian mini meski kali ini hanya skirt pendek yang mengekspos kakinya.
"Thanks, dua kali. Maaf waktu itu aku bar-bar," ucap Fio, pun dia malu akan sikapnya.
"Siapa, Mas?" tanya Aiswa di sela obrolan dengan Afra.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin Umma, dia Fiora partner bisnis Abah. Fio, ini Ummaku yang paling ayu," sebut Fayyadh mengenalkan keduanya.
Fiora menjulurkan tangan ke hadapan Aiswa.
"Aiswa, Umma Fayyadh. Nak Fio buka stand juga?" tanya ibu tiga orang anak ini, seraya membalas uluran tangan Fiora.
"Dia sih ngisi acara inti dan buka stand cuma buat formalitas aja Umma, Fio seorang pengajar juga entrepreneur. Maa sya Allah pokoknya," ucap Fayyadh menyebut berbagai kelebihan Fiora didepan Aiswa dan Afra.
Putri sulung Tusakti meraih punggung tangan wanita sholihah ini lalu menciumnya takzim. Dia terkejut sekaligus tak enak hati. "Saya Fiora Akshaya ... hmm, berlebihan, Bu, eh Nyonya, hmm Um-ma," jawab Fio kikuk.
Aiswa hanya tersenyum mendengar Fayyadh bicara panjang terhadap seorang gadis, seakan mengenal dekat sosok cantik dihadapannya ini. "Umma saja," balas Aiswa meredam kecanggungan.
"Nona Fiora, mari," suara panitia menjeda obrolan mereka.
"Saya permisi dulu ya Umma, Mas, mau menata stand di ujung sana," tunjuk Fiora sekaligus pamit.
"Nanti mampir sini ya, Nak Fio," Aiswa melepas sang gadis ayu pergi. Fiora mengangguk disertai senyuman manis menimpali ajakan Aiswa.
"Maasss."
Degh.
Degh.
Degh.
Afra yang merasa diabaikan mencoba menarik perhatian Fayyadh. "Stand ku gak jauh dari sini, lorong kedua, jika Umma Aiswa atau Pak Fayyadh ingin kita sharing dan bincang lebih jauh, bisa temui aku disana," ujar Afra lagi.
"Yang muda harusnya datang, bukan sebaliknya," celetuk Fayyadh.
"Mas!" tegur sang Bunda, sementara Fayyadh acuh membuang muka dan membelakangi Afra.
"Iya in sya allah. Umma mampir jika stand ada yang pegang," balas Aiswa seraya kembali bebenah kala Afra izin pamit.
Tak lama situasi kembali lengang. Hanya percakapan singkat antara ibu dan anak. "Mas, Fio ngerti jaga aurat, gak?"
"Dia bukan kayak kita, Umma."
"Hmm, begitu ya."
"Kenapa?" tanya Fayyadh, menoleh pada sang Bunda.
"Cantik, sopan dan girly. Cocok sama kamu," lirih Aiswa mencoba memancing reaksi Fayyadh.
"Hmmm ... entah, tapi dia gak percaya Tuhan, Umma. Dan aku belum tahu apa alasannya. Terserah sih, jika itu keyakinan dia," kilahnya lagi.
"Make it happen, tugasmu itu berarti mengembalikan keyakinannya, Mas," ucap Aiswa antusias.
"Masa? gak ada cluenya kok Umma," elak Fayyadh lagi, dihadiahi tatapan menelisik oleh Aiswa.
"Yakin?"
.
.
__ADS_1
..._______________________...