ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 91. HEBOH


__ADS_3

"Zaynah Nur. Apa saja yang dia lakukan, juga satu lagi, Fiora Akshaya. Gue bayar berapa?" tanya Fayyadh.


"Gak usah Mas. Nanti lagi, aku dan Ai kerjain ini dulu. Secret gak nih?"


"Iya. Jangan bilang Ayah Mahen atau Umma. Aku balik dua bulan lagi, Shan. Lihat Zaynah dengan benar, tapi yang bikin galau harus share jawaban dulu," keluh Fayyadh lagi.


"Jawabanku tetap kek tadi, tanya hati, Mas. Aku yakin kamu sudah berusaha hanya saja masih ragu, kan?" terka Shan.


"Ragu, Shan. But thanks udah dengerin aku ya. Kalian kapan walimah? Maira udah hmm," tanya Fayyadh sungkan.


"Nunggu Mas balik kayaknya ... udah apa? iya, gue udah berhasil menerobos," gelak Shan.


"Het dah bule, maksud Ana, udah isi belum?" tanya Fayyadh kepo.


"Belum. Aku santai masalah itu, cuma Ahya uring-uringan. Biarin deh, aktivitas dia lagi padat ngurusin laskar yang sudah sertijab dari Ayah. Ditambah getol broadcast gantiin Bunda sebab beliau fokus pada Queennaya. Kebayang kalau hamil, mau jadi apa anakku? terguncang beban kehidupan sebelum berkembang," tawa Shan mengudara diiringi Fayyadh.


"In sya Allah dapat amanah di waktu yang tepat asal tahu caranya. Yang nikah masih bocil soalnya," gelak Fayyadh kali ini menohok Shan.


Tak lama keduanya mengakhiri percakapan singkat. Shan pun menyampaikan keinginan Fayyadh menyelidiki dua orang gadis yang membuat dia sulit memilih.


Hari berganti pekan kemudian perlahan berangsur-angsur menuju bulan baru. Tiada perubahan signifikan. Shan tidak dapat melacak keberadaan Fiora. Gadis itu bagai hilang ditelan bumi. Upaya pencarian manual pun nihil. Sementara aktivitas harian Zaynah telah terlaporkan sejak beberapa hari lalu.


Mungkin hati Fayyadh kini telah teguh setelah mendapatkan sekilas info tentang sosok putri Yai Zainal.


...***...


Ba'da Isya.


Orchid.


Keturunan Qavi tengah didepan laptop mengerjakan sesuatu sementara Maira berbaring didekatnya. Kepala wanita ayu bertumpu pada salah satu paha Shan yang terjulur dilantai beralas karpet bulu berwarna Jingga.


Ting. Notifikasi grup masuk.


Maira meraih ponsel Shan yang diabaikan pemiliknya sejak tadi.


"Zie, bunyi mulu ini. Ada grup baru keknya belum disetting silent notif," Maira menyerahkan gawai canggih milik suaminya.


"Buka aja Sayang, aku lagi nanggung ngetik laporan bahan presentasi tambahan besok. Kan klien baru pet shop saat nego di Switzerland itu mau tanda tangan kontrak. Kamu ikut aku ya," ujar Shan meminta Maira membuka ponselnya.


"Habis siaran ya, Zie ... Grup Kusuma ini, mau bales gak? udah rame tuh," sodor Maira lagi kehadapan wajah Shan.


Lelaki muda itu akhirnya meletakkan laptopnya dan menerima uluran handphone dari tangan Maira. "Sini, nyandar yang benar sama aku," Shan menarik satu bantal lalu meletakkan diatas karpet, dan meminta Maira agar mendekat, berbaring dengannya.


Grup Chat Kusuma.


Kedua pasang netra membaca baris pesan disana.


"Assalamu'alaikum. Ahlan wa sahlan, Shan. Afwan baru Abi add ke grup Kusuma ya. Lupa terus, disini ada--" tulis Amir menyapa Shan di grup.


"Eh, jangan ambil job gue donk, Mir." Gamal menjeda kalimat Amir.


"Wa'alaikumsalam." Abyan, Sesepuh, Gamal, para wanita Kusuma, Mahen dan muda mudi penghuni grup, menjawab salam Amir.


"Wa'alaikumsalam, ahlan biik. Salam kenal semuanya," balas Maira, atas permintaan Shan. Sementara dirinya sibuk menciumi pipi sang istri.


"Monggo di absen, Pak Haji Gamaliel. Disini ada siapa saja," Amir membalas Gamal.


"Ehem, disini ada duo jomblo sesepuh yang gak usah disebut namanya." Gamal men-tag Abah dan Uyut.


"Hati-hati sama sepuh. Bisa ditendang dari sini nanti." Jawab Amir.


"Gak bakalan bisa, kan bukan admin 😂."


Keusilan Gamaliel pun berlanjut setelah dia memperkenalkan keluarga intinya.


"Ada Ustad yang Ummatnya belum sejuta, follower cuma sepuluh orang, yaitu keluarganya sendiri ... Buya Abyan dengan Umma Qonita. Juga Fatima dan Fathan, kabarnya pengantin pria sudah mulai lancar turun ya?" Gamal men-tag keluarga Abyan.


Penghuni grup, geger dengan kalimat terakhir, berlomba mengirim emot tertawa.


"Fathan aman gak?" Mahen bertanya pada menantu Abyan.


"Aman, Yah 😂." Suami Fatima menyahuti Mahendra.


"Lanjut dulu ... ada Fathia, gadis ayu yang setia menjomblo, katanya bakal menunggu buaya darat hijrah untuk menikah," ujar Gamal lagi.


"Sekalian umroh gak tuh, Ba, buayanya?" balas sang gadis.

__ADS_1


"Ya ampun, rame bener. Taunya Baba lagi tausiah." Fayyadh baru nimbrung dalam grup.


Pasangan Guna, masih diam menyimak obrolan.


"Sabar Le, kamu datang-datang cari perhatian. Baba Lanjut ya ... kalau sama Bapak pengemban predikat Keluarga Berencana gak usah kenalan kan Shan?"


"Siapa, Baba?" Maira masih membalas.


"Nih orangnya. Bapak Keluarga Berencana, dengan slogan, cukup dua periode ... sebab kampanye dia sukses saat pencalonan kedua," Gamal men-tag Amir seraya mengirimkan stiker tertawa.


"Cukup dua anak itu sih 😭, Baba." Athirah menjawab.


Penghuni grup riuh. Bahkan Uyut ikut sending stiker Bebek terbahak-bahak.


"Serah Lu, Mal. Capek gue," balas Amir, cuek.


"Hasil pencoblosan saat kampanye periode dua, menelurkan tiga bocil, Fayyadh, Athirah, Hanan," lanjut Gamal.


"Athirah, cu-p." Kali ini Kaffa menyambung sang Ayah.


"Menelurkan 😭. Gue kek anak kodok," Fayyadh berkomentar.


"Nah tuh, si sulung yang tereliminasi nongol lagi."


"Baba jangan mulai dah," balas Fayyadh lagi.


Gamal mengabaikan komentar Fayyadh. Dia lalu melanjutkan aksinya.


"Disini ada pasangan sok tebar pesona, Mertuamu Shan. Hati-hati sama ni orang. Semua bisa dijual oleh mereka 😭."


Naya dan Mahen membalas. "😂 mulai eror dah."


"Maira idola Kusuma yang berhasil kamu gasak dari kita. Juga misterius guest, Mifyaz."


"Gasak gak tuh 🤭." Shan kali ini yang membalas.


"Aku bukan mahluk ghoib 😏, Babaaaaa." Ajmi tak suka disebut misterius meski dia enggan membaur dengan keluarga besarnya.


Gamal hanya tertawa, ditimpali banyak penghuni grup.


Kali ini Maira menjawab. "Kalau secara postur ya kokoh Unta dong Ba, kakinya panjang punya tiga tekukan. Kalau berlari jelas kentara, lebih cepat dan guncangan nya lebih terasa," jawab Maira polos.


"Maira, awas jebakan batman." Mahen memperingatkan.


"Modus, Nduk. Hati-hati." Giliran Amir tak kalah berpesan.


"Kalian su'udzon dih, kan gue nanya." Kilah Gamaliel.


"Pertanyaan Lu, suka abnormal." Abyan menimpali.


"Bodo aah, abaikan iklan ... Maira, jadi kamu lebih pilih mana? dalam hal kekuatan juga kecepatannya?"


"Ya Unta lah, apalagi jika di ekosistemnya dia akan lebih tangguh."


"Alhamdulillah akhirnya jelas sudah." Ujar Gamal lagi.


"Jelas apanya?" sambung Naya.


"Fayyadh, pantas kamu tereliminasi. Maira memang lebih suka Onta Arab dibanding kuda lokal ... Maira suka yang cepat dan guncangan hebat," Gamal terbahak. Dia mengirimkan emoticon tertawa.


"Asseeemm emang 😏." Keluh Fayyadh.


Grup Kusuma seketika riuh, bahkan Abah dan uyut tak kalah heboh.


"Diiiiihhh, Baba nakal 😂😂😂." Maira membalas Gamaliel.


"Shan aman Shan 😂?" Abyan kali ini mentag Shan.


"Aman, Buya 😂."


"Het dah, ada anak dibawah umur." Amir mengingatkan.


"Mana? Mifyaz dan Athirah pura-pura gak baca aja ya. Si coklat payung juga gak disini," kilah Gamal lagi.


"Siapa coklat payung?" tanya Naya dan Amir bersama.


"Hanan. Kan dia suka nge-mut coklat payung 😂."

__ADS_1


"Astaghfirullah, bengek 🤣." Shan tak kuasa ikut tertawa.


"Mal, Uyut sampe pi-pis loh itu," kata Abah.


"Gue baru tahu, Hanan suka nge-mut coklat payung 😭." Fayyadh merasa konyol.


"Yolo, untung bukan cipung haji Oka 😂." Fathia muncul kembali.


"Lu enak amat ngatain anak gue bocah coklat payung, ketauan Aish kempes lu, buntelan nangka," balas Amir.


Hingga beberapa menit, grup besar Kusuma riuh menyambut Shan masuk kedalam keluarga besar.


"Shan utarakan kabar walimah," ujar Mahendra.


"Bismillah ... Kami keluarga besar Guna in sya Allah akan menyelenggarakan syukuran walimah dua bulan lagi, kala Mas Fayyadh pulang ke tanah air. Untuk akomodasi, sudah disiapkan dari sini ... nanti akan dikirimkan by e-mail faktur pemesanan tiket untuk di cetak saat akan boarding. Dan mengenai seragam keluarga, juga telah disiapkan oleh Bunda. Semoga semua dapat hadir silaturahim di Jakarta nanti ... aamiin." Shan membagikan tautan undangan digital ke grup.


"Mal, tolong share ke keluarga besar Wardhani ya," pinta Mahen pada Gamal yang di notice jempol oleh pria itu.


Setelah kehebohan tadi, kini semua memberikan doa bagi pasangan muda Qavi dan grup chat pun kembali normal.


...***...


Dua bulan kemudian.


Bandara Soetta.


Fayyadh kembali ke tanah air sebab janjinya pada keluarga Zaynah. Kali ini dia tak pulang sendiri. Kawan satu flat yang akhir-akhir ini kian akrab dengannya memilih safar bersama.


Mereka berpisah di Bandara sebab Allen akan kembali terbang menuju Solo.


"Ana duluan ya Fay, jangan lupa hadir saat pernikahan nanti di As-shidqu dua pekan lagi," ujarnya mantap menepuk lengan sang sahabat.


"Antum belum bagi info dengan siapa akan menikah? dan juga, As-shidqu itu bukannya pondok milik Yai Shodiq ya?" tebak Fayyadh.


"Kok tahu?"


"Ya Ana kan ada Buyut di Solo. Njid juga dulu mondok di situ. Tapi Antum gak pernah kisah tinggal disana, kenapa?" jelas Fayyadh.


"Rahasia, gak enak."


"Hmm, calon penerus." Tebak Fayyadh lagi.


"Kalau Antum tahu As-shidqu harusnya kenal dengan seseorang yang akan Ana khitbah. Gara-gara Fayyadh, Ana tertarik dengannya, jazakallah ya Akhi, penyambung jodoh kebaikan. Duluan ya, nanti sambung lagi by whatsapp," ujar Allen Kemal berlalu pergi.


Lelaki Kusuma melambaikan tangan sejenak diudara melepas sahabat melanjutkan perjalanan. Baru saja dia berbalik arah.


Gubrak.


Netra sipitnya menangkap seorang wanita terjatuh akibat ditabrak penumpang lain yang tergesa.


Ingin menolong namun gadis itu telah dibantu oleh akhwat disampingnya. Fayyadh abai, namun hatinya mengatakan untuk tetap memperhatikan.


Merasa menjadi pusat perhatian, sang gadis mulai bangkit, membenarkan tas juga takut niqabnya terbuka.


Tanpa sengaja kedua netra cantik itu bersitatap dengan pandangan tajam Fayyadh.


Degh.


Merasa bukan hak melihat selain mahram. Gadis yang mengenakan niqab dan gamis coklat tua pun berpaling wajah lalu bergegas menuju gate keberangkatan domestik.


Fayyadh mematung ditempatnya. "Allah."


"Nona, tunggu. Eh, Ukhti," Althafaris Fayyadh mengejar kepergian gadis itu.


"Kemana tadi ya? banyak banget lagi yang pake gamis coklat," keluh nya menyisir waiting room. Lelaki tampan hilir mudik mencari satu persatu gadis yang dia maksud di antara lautan manusia. Sebab kondisi Bandara tengah ramai.


"Matanya. Mata itu, ya Allah. Disaat akhir, mengapa petunjukMu nampak," ucap Fayyadh mengusap dada nan bergemuruh.


.


.


..._______________________...


...si Onta Arab, Shan Qavi...


__ADS_1


__ADS_2