ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 20. KECEWA


__ADS_3

"Kak, Mas ... tenang dulu," Mahen mencoba tetap fokus tak terpancing situasi.


Fayyadh terkejut sang ayah menegur keras padanya, nyali pun menciut. Pemuda sholeh itu urung mengemukakan kekecewaan.


Huft.


Mahendra menarik nafas berat, bibirnya bergetar halus, takut apabila lisan yang menguar keliru dimaknai hingga memperkeruh keadaan.


"Bismillah ... dari banyak wanita di sekeliling, Mas Fayyadh lebih pantas memilih yang lain ... Kalian sejak belia selalu bersama, bercanda tawa. Cinta yang tulus dan murni tak memandang apa-apa dan akan lebih indah jika rasa sayang itu utuh kita jaga," tutur Mahen lembut.


"Ayah mengerti apa yang Mas Fayyadh rasakan, namun kami lebih menginginkan kebersamaan ini diutamakan. Itu akan lebih baik dari segalanya ... selama ini kamu sudah kuanggap sebagai putraku dan sampai kapan pun akan seperti itu."


"Tapi aku takut akan menyakiti hatimu bahkan keluarga besar Tazkiya, karena putriku tidak mampu membuat keturunan emasnya bahagia ... meski Ayah tahu, Mas Fayyadh pasti mengupayakan agar Maira juga pernikahan kalian mawaddah, warohmah lagi sakinah" imbuh Mahendra.


"Terima kasih Mas Fayyadh sudah mengungkapkan sebuah perasaan tulus dan memilih Maira untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupmu ... namun Ayah tahu keinginan kalian berbeda dan paham arah cita-cita Mas Fayyadh," nada suara suami Naya mulai goyah.


"Ayah hanya tak ingin Maira menjadi penghalang sesuatu hal ataupun mimpi yang lebih besar sebab tanggung jawab Mas Fayyadh luas ... namun karena kondisi Maira, kemaslahatan itu menjadi tertunda," tegas sang paman.


"Kak Amir ... maaf, ini jawaban final aku," Mahen menatap pria yang masih sangat tampan juga alim dihadapannya.


Amir mengerti, ia paham situasi dan kondisi. Lagipula Maira telah menaruh suka dengan selain putranya.


"Jadi khitbahku di tolak, Yah?" Fayyadh menatap nanar sang paman.


"Maaf Mas."


"Alasannya gak logis, Yah. Yang menjalani kehidupan rumah tangga itu kan aku ... bukan mereka, jikalau ada tuntutan keturunan dilain waktu sebisa mungkin aku abaikan ... mimpiku cuma ingin dengan Mahya, Yah!" Fayyadh mulai mendesak.


"Fayyadh!" lagi, Amir menegur keras putranya. Akan tetapi dia sadar bahwa sifat si sulung bagai Aiswa dulu.


Althafaris Fayyadh, menatap lekat sorot mata sang Abi, kali ini beliau pun lepas kendali.


Huft. Amir berusaha menenangkan diri kembali.


"Mas ... maksud Ayah Mahen, bukan hanya persoalan hati, keturunan, mimpi kamu yang belum tercapai saja ... tapi ini satu kesatuan. Abi tahu, kamu mampu menjaga hati. Abi juga gak bisa memaksa kehendak Ilahi di kemudian hari ... tapi pikirkan mana jauh lebih baik, maslahat atau mudhorotnya?" terang Amir mengajak pikiran putranya terbuka.


"Kekerabatan itu jauh lebih utama, bayangkan jika kalian bersitegang ... antara Abi dan Ayah, gak akan bisa seratus persen objektif, meski kami tidak ikut campur urusan rumah tanggamu tapi sisipan nafsu dan fitnah itu rentan ad---" ucapan Amir terjeda.


"Enggak lah Bi, aku yakin Ayah juga paham etika dan adab!" Fayyadh bersikukuh, nada bicaranya kian tegas.


Mahen berinisiatif mencoba menyentuh sisi emosional sang keponakan.


"Maaf sebelumnya ... Mas Fayyadh yakin perasaan Maira sama bersambut? apa ada isyarat akhir yang putriku katakan atau tunjukkan bahwa Mas adalah calon imamnya," Ayah Ajmi, mencoba menyadarkan dari sisi perasaan anaknya.

__ADS_1


Degh.


Fayyadh diam, dia menggeleng samar. Mulai tak yakin akan isi hati Maira sebab gadis itu menutupi perasaannya.


"Maira itu gak pernah mengutarakan apapun padaku ... jujurly aku belum menyatakan perasaan padanya karena terikat janji pada Umma. Tapi ku pikir, Mahya paham apa isi hatiku ... terakhir saat kita bicara di pendopo paviliun Al Multazam, dia menyerahkan semua keputusan mengenai ini pada Ayah." Pria tampan sedikit kehilangan kesabaran juga kesantunan yang ia miliki.


" ... ku harap, apa yang tadi disampaikan bukan hanya menimbang pada kondisi kekerabatan namun juga hati kami!" ungkap Fayyadh masih di liputi rasa kecewa.


Mahen menoleh pada Rey, mungkin ini saatnya memperlihatkan jurnal akhir Maira pada Fayyadh.


"Tentu Mas ... Ayah pernah bilang bahwa akan merundingkan masalah ini dengan keluarga besar dan tidak mengabaikan perasaan kalian," tegas Mahen lagi.


Sang mantan aspri tu bangkit, menuju meja kerja untuk mengambil sebuah buku bersampul hitam, lalu ia menyerahkan pada sohibul hajat berikut sebuah kaca pembesar.


Mahendra menerima uluran buku dari tangan Rey, membuka bagian paling akhir lembaran kertas bertulisan tangan putrinya.


"Kak, Mas ... monggo di telaah," pintanya seraya menyodorkan buku yang dia maksud.


Amir menerima jurnal yang terbuka, kemudian membacanya pelan.


"Pake ini, Kak. Bagian bawah macam garis itu," Mahendra mengulurkan lup pada iparnya.


"Knight of Rollies." Fayyadh mengeja pelan.


Seketika Fayyadh lunglai, ia menyandarkan punggungnya luruh ke sofa.


"Bukan aku, yang di cintai Maira," gumam Fayyadh.


Mahendra hanya diam. Ia tak perlu menjelaskan apapun mengenai hal ini, takut akan melukai lebih dalam perasaan sang keponakan.


"Jelas kan Mas? apa masih bersikukuh?" tanya sang Abi.


Fayyadh diam. Kedua telapak tangannya dia raupkan ke wajah, menyugar rambut lalu bangkit dan keluar dari sana tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi.


"Fayyadh!" Amir gusar, putranya mengabaikan adab kesantunan.


"Mas Panji, maaf ya. Maaf, dia duh." Amir bangkit, membungkukkan badannya lalu mengejar sang putra.


Brakk.


Suara pintu di buka paksa, memicu beberapa pasang mata menoleh ke sumber suara.


"Fayyadh, Mas!" Aiswa melihat putranya keluar dari ruang kerja.

__ADS_1


Wanita ayu itu berusaha mencegah namun jarak dari ruang keluarga menuju pintu utama lumayan jauh. Terlihat sang suami mengejar Fayyadh, Aiswa sedikit lega.


Suasana kediaman keluarga Guna mulai menegang kembali, namun seketika terurai sebab Umma Maryam mengajak sisa anggota yang hadir untuk melihat kondisi Maira. Mereka pun satu persatu naik ke lantai dua.


Naya berterimakasih karena Umma Maryam peka akan situasi. Kini hanya ada dua wanita di ruang keluarga, kesempatan baginya untuk bicara dari hati ke hati dengan Aiswa.


Ia menarik lengan Aiswa pelan, duduk kembali di sofa.


"Maaf ya Mbak Aish, kami menolak khitbah Fayyadh karena pria yang di cintai oleh Maira, bukanlah Ananda...." ucap Naya sedikit sungkan juga rasa tak enak hati menyelimuti.


"Begitukah? Kak Naya tahu, siapa?" tanya Aiswa sedikit terkejut akan kenyataan yang baru ia terima.


"Gak tahu orang mana, Abang sudah mengantongi identitasnya meski belum tentu juga gayung cinta akan bersambut dan pria itu teguh dengan Maira setelah melihat kondisi putriku ... aku harap semua yang sudah berjalan akan tetap berlangsung seperti sebelum moment malam ini," ia cemas Aiswa akan memutus kontrak kerjasama bisnis mereka.


Wanita cantik nan sholehah keturunan Tazkiya, termenung sesaat. Lalu ia meraih kedua telapak tangan Naya dan menggenggamnya.


"In sya Allah Kak Naya ... Fayyadh akan belajar bagaimana cara mengendalikan diri, mungkin sesaat ia kecewa dan emosi ... masa depan dia masih panjang ... do'ain ya Kak, putraku mendapatkan gadis sesolihah Maira, nurut dan santun, kalau cantik itu bonus ... maafkan sikap anakku. Kami do'akan semua hajat terbaik untuk Maira siapapun lelaki sholeh yang datang meminangnya ... hingga bahagia menyertai mereka selalu, aamiin."


Naya lega disertai sorot mata amber nan berkaca-kaca. Mula-mula dia pikir Aiswa akan gusar putra kebanggaan tersakiti. Namun nyatanya tidak.


"Addu'a biddu'a wa bijahi thohal, aamiin," balas Naya dengan nada haru.


Aiswa memeluk wanita yang masih sangat ayu, ia pun sama sedang berjuang menata hati sebab peristiwa ini.


Lantai dasar.


"Fayyadh!" seru Amirzain masih mengejar sang putra. Namun ia kalah cepat.


Saat mendekati basement. Sekuat tenaga Amir menyetarakan langkah lalu menarik paksa lengan anak lelaki sulungnya itu. "Mas!"


Sregh.


Fayyadh menoleh pada Abinya. Wajah tampan itu pudar, berganti gurat merah padam akibat rasa malu dan amarah, seakan melebur menjadi satu.


"Mas. Gak gini caranya," ucap sang ayah, menarik putranya masuk dalam pelukan.


Hiks.


.


.


...________________________...

__ADS_1


...😭😭😭...


__ADS_2