ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 102. TERBONGKAR


__ADS_3

Ketika sampai di kediaman Danarhadi, sepuh dan suaminya telah menunggu. Abah tak bisa menjemput mereka sebab mengurusi klien bisnis di Kebon.


Alphard hitam pun terparkir cantik di depan pendopo. Amir membuka pintu tengah setelah driver menurunkan kursi roda untuk sang putri.


"Nduk, kamu kok sampai begini. Jangan di ulangi," tegas Amir kala menggendong Athirah dan mendudukkan di kursi roda.


"Sudah Mas, kamu jangan tausiah dulu. Sian cicitku," bela Danarhadi yang langsung mencium pipi abege labil.


"Eh, Dokter Nuha ikut?" sapa Aiswa kala menaiki tangga pendopo.


"Iya Bu Aiswa. Aku kebetulan mau jalan-jalan menghabiskan cuti sebelum kerja tapi belum ada tujuan. Eh ketemu Pak Amir di stasiun dan mengajak ke sini jenguk Athirah hingga akhirnya aku memilih ikut beliau," jujur Nuha menjawab Aiswa.


"Statiun? kerja? maksud Dokter pindah tugas?" tanya Aiswa.


"Iya, mungkin akan menetap di Cirebon sebab surat tugasku di kota ini," balas Nuha menjelaskan.


"Kalau Uyut main ke Cirebon, konsulnya dekat. Kebetulan juga Dokter ikut, Uyut kok mulai ada keluhan lagi. Duduk dulu, nanti kalau mau jalan ditemani Tara," balas Danarhadi.


Aiswa menyilakan sang dokter bercengkrama dengan Danarhadi sementara dia langsung masuk ke dalam ruang keluarga, ibu cantik itu menarik lengan Amir, lupa bahwa putrinya masih didepan sana.


"Bii, aku mau cerita tentang kejadian di rumah sakit."


Beberapa menit berlalu.


"Ummaaaa," seru sang putri, dia masih lemas tak dapat mendorong kursi rodanya sendiri.


Nuha mendengar teriakan Athirah pertama kalinya. Gadis itu terlihat susah payah berusaha menggerakkan kursi rodanya.


"Nduk, Gusti, Nduuukk Aish. Anakmu jangan ditinggal," teriak Danarhadi namun Aiswa tak kunjung keluar.


"Dokter, tolong," pinta Danarhadi. Entah kemana semua para mban wanita.


Akhirnya Nuha pamit, menghampiri Athirah, ingin membantu mendorongnya ke dalam.


"Aku izin bantu ya," ujarnya lembut saat menarik tuas rem roda.


Wangi banget ni cewek, mana dzikir mulu lagi.


Nuha melihat tasbih melingkar di telunjuk kanan Athirah.


"Umma saja, afwan, Umma saja," cicitnya sangat pelan.


Nuha tak punya pilihan, dia lalu mengetuk pintu besar berukiran kayu jati namun tak jua ada balasan hingga membuatnya masuk menuju batas gebyog didalam.


Tok. Tok.


"Permisi, Bu Aiswa, hmm A-athirah, minta masuk," ujar Nuha tak enak hati menjeda obrolan serius pasangan suami istri itu.


Keduanya menoleh ke sumber suara.


"Astaghfirullah, Rohi. Gimana sih," kekeh Amir melihat kelakuan istrinya yang meninggalkan putri kesayangan disana.


"Innalillahi, Zedaaaa, maaf Sayang." Aiswa bergegas keluar melewati Nuha begitu saja.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Kini keluarga Zaidi telah berkumpul di ruang keluarga. Aiswa mengulangi kisah kecurigaannya terhadap sosok yang di temui semalam.


"Benar kata Umma, Bii. Aku lihat tasbih milik kak Fayyadh dipakai dia," ujar Athirah tak sengaja melihat kala suster mengganti jarum infus gadis yang sekamar dengannya.


"Mungkin milik orang lain, kalian jangan menyimpulkan. Sudah mencari tahu?" tegur Amir agar tak berprasangka.


"Aku sudah call pada Shan dan Maira sebab informasi dari suster mengatakan bahwa gadis itu santri kesayangan Nyai As-shidqu dan diagnosa sementara dia kelelahan ... kan beberapa waktu lalu Maira ngawal nikahan Afra kan? eh, Mereka malah cengengesan, katanya Umma lebih peka daripada Mas, tetapi meminta aku merahasiakan ini," balas Aiswa.


"Biiiiiiii, aku membuat gelang tasbih itu khusus untuk Mas. Gak ada duanya yang sama plek ketiplek, batuan ungu itu loh, ciri khas aku, ckck Qolbi gimana sih. Apa arti dari clue titisan mata-mata Mas Panji itu hayo," sungut Aiswa kesal.


"Bahasamu, titisan mata-mata ... Shan dan Maira. Jangan menduga sesuatu yang gak pasti," kekeh Amir, tetap bersikukuh.


Kriing. Ponselnya berdering.


"Mas." Amir menunjukkan id caller di layar ponsel.


"Halo Mas, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Bii, kenapa Umma gak buka chat aku, penting iihh," ujarnya gusar.


"Umma baru tiba, tuh lagi buka pesan kamu. Kenapa, Mas?"


"Aku beri jawaban, menolak melanjutkan proses ta'aruf dengan gadis manapun. Mau fokus dengan skripsi dan wisuda," tegas Fayyadh pada sang ayah.


Amir pun mengiyakan keputusannya dan akan tetap memfilter pengajuan Proposal yang datang nanti.


"Mas, Umma mau tanya. Tasbih dari Umma, kamu berikan pada siapa?" tanya Aiswa menyambung obrolan.


"Jawab aja ngapa, pake tanya segala," Aiswa mulai tak sabar.


"Hmmm, anak emak sama aja. Gak sabaran, suka seenaknya pula," sindir Amir melihat keduanya.


"Aku pinjamkan pada Fio terakhir kali ketemu, kapan ya, udah lama sekitar empat bulan lalu, waktu ketemu Zaynah itu," ucapnya mengingat kejadian lampau.


Degh.


"Tepat setelah Fio menyelesaikan pesanan Floffy terakhir kali," lirih Aiswa kemudian.


"Umma, gadis yang di sebelah Zeda itu bernama Arwa bukan?"


"Entah. Gak nanya, emang kenapa? Arwa, Arwa siapa dia?" gantian Aiswa menanyakan alasan Fayyadh.


Fayyadh menjelaskan rinci mengenai mimpinya juga sosok gadis yang dia temukan, bahkan dia mengirim file ke email Aiswa tentang sketsa mata dan hasil penyelidikan Shan.


"Umma. Aku merasakan bahwa Arwa adalah Fio-ku. Um-maaa, bagaimana ini?" lirih Fayyadh seakan menahan sesak.


Kegundahan, kesedihan serta rasa rindu yang Fayyadh rasakan menular pada Aiswa. Wanita itu pun merasakan hal sama dengan putranya.


"Umma, bisa pastikan nadzor dia untukku? aku baru saja mengajukan diri untuknya namun Arwa sedang dalam proses ajuan dua orang pria," ujar Fayyadh lagi.


"Mas, jangan berharap pada manusia," Amir memberikan petunjuk.

__ADS_1


"Aku tahu Bii. Tapi...."


"Jaga cinta kamu, jangan sampai setan tahu. Perbanyak melakukan sesuatu hingga Allah betul-betul memberi jalan," tegas sang Ayah.


"Jika keinginanmu menggebu, hati-hati nafsu, Mas. Siapkan hati untuk ruang kecewa. Sudah dulu ya ... pokoknya Mas masih mempercayakan semua pilihan istrimu ke Umma kan?" tegas Aiswa lagi.


"I-iya. In sya Allah. Assalamu'alaikum."


Setelah panggilan berakhir, Aiswa berdiam diri nampak berkutat dengan pikirannya. Semua hal yang dikatakan Shan, suster juga fakta baru dari keterangan Fayyadh.


Beberapa saat kemudian.


"Aaaaaaahhh!" sorak Aiswa.


Amir yang masih duduk disebelahnya tekejut bukan kepalang, bahkan sang putri yang mulai tertidur di kursi roda pun terkesiap mendengar teriakan Aiswa.


"Umma!"


"Rohi, innalillahi!"


"Shan, makasih banyak. Kamu benar, jika Mas diberitahu semuanya dia bakalan nekad balik lagi, skripsi tertunda juga nafsu," kekeh Aiswa.


"Persis emaknya!" sindir Amir lagi.


"Biarin, tapi peka. Gak kayak anaknya," ujar Aiswa riang, dia lalu melakukan panggilan dengan Shan.


Dari obrolan singkat mereka, Amir hanya mendengar sekilas. "Ok Shan, siap. Umma silent."


...***...


Rumah sakit, Kencana Biru.


Nyai mengunjungi semua bangsal santri khidmah. Sebab kondisi rumah sakit yang penuh membuat ketiganya terpisah ruangan. Saat beliau tiba di kamar Arwa, dia mendapati gadis itu tengah sholat sunnah namun isakan pilu terdengar hingga dari balik tirai.


Beberapa menit selanjutnya.


Santri jaga, membuka tabir sebab mengetahui pimpinan pondok mereka hadir disana. Nyai Shihab lalu menghampiri Arwa, duduk di tepi ranjang.


"Masih kuat?"


Arwa mengangguk pelan.


"Kalau kuat, gak begini. Kembalilah, Sayang. Perlahan saja. Arwa Feiyaz, seperti namamu."


"Sosok perempuan yang memiliki banyak ide dan profesional melantunkan syair. Ia merupakan bibi Rasululloh nan termasuk perempuan terpandang pada masa jahiliah. Arwa memiliki arti memberi minum sampai puas, diharapkan menjadi perempuan yang suka membantu sesama. Itu terbukti," tutur Nyai membelai kepalanya.


"Kamu adalah amanah untukku, Arwa. Ku kira beliau menitipkan siapa, nyatanya batu mulia. Memang kamu ini bagai di persiapkan untuk mereka," Nyai Shihab mengingat pesan di surat itu.


"Kapan kamu siap, Sayang?"


.


.

__ADS_1


...______________________...


...Harusnya udah nemu kunci jawaban 🥰....


__ADS_2