ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 81. GEJOLAK


__ADS_3

Ba'da Isya.


Aiswa sudah berada diatas pembaringan saat dia menghubungi Fiora. Beberapa kali nada dering tersambung namun tak jua di respon.


Sementara itu.


Grup Chat Supplier Floffy Craft.


"Assalamu'alaikum, Abah. Abah. Abah."


Hening.


Kosong.


Sepi.


"Wa'alaikumsalam. Fio, ada apa?" Fayyadh yang menjawab.


"Mas 😭."


"Kamu kenapa? Fio, Fiora, kenapa?" lelaki Kusuma mulai cemas.


"😭😭😭" Fio hanya mengirimkan banyak emoticon menangis.


Jeda.


Sepi, pemilik Floffy Craft tak merespon. Hingga Fayyadh melakukan panggilan grup pun tiada balasan dari Fiora.


Fayyadh gelisah, tak biasanya gadis itu demikian. Dia akan stay apabila membutuhkan jawaban atau sesuatu, tanpa sadar batin lelaki Kusuma khawatir akan kondisi Fiora. Persis rasa hati yang tak lama baru ia rasa.


Beberapa menit selanjutnya.


"Abah mana, Abah." Tulis gadis yang tengah dirundung malang.


"Bentar aku call ya."


Tak lama kemudian. Abah masuk ke dalam grup chat.


"Wa'alaikumsalam. Ya Nak Fio?"


Fiora send Voice Note. Dia bertanya apakah Abah punya seseorang sahabat wanita sholihah yang dapat dikunjungi malam ini sebab hatinya sakit dan sesak, Fio berbicara seraya menahan isak tangis di antara sayup deru bising jalanan.


"Fio, dimana? Fiora!" Fayyadh cemas, berkali melakukan panggilan grup. Ketidakberanian untuk menghubungi secara pribadi by call pada gadis itu membuatnya gusar.


"Mas, sabar." Abah menenangkan Fayyadh.


"Tempat sekedar menampung untuk istirahat dan belajar sesuatu? hmmm ... bisa ke kawan Abah di kost-an Kenanga. Disana dekat dengan beberapa majlis ilmu, Nak Fio dapat mencari tahu mana yang sekiranya dibutuhkan ... Kalau Nak Fio sendiri, Abah kirimkan Warni ya buat antar kesana. Jangan pergi dengan selain mahram apalagi sudah malam. Share lock ya, Abah tunggu."


"Iya, Bah. Fio share lock. Terima kasih banyak bantuan Abah." Tulis putri sulung Glenn.


"Fio, dengerin apa kata Abah ya. Jangan buat aku khawatir, kabari kemanapun kamu pergi, Ok?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Maaf ya sudah buat masalah disini yang bukan seharusnya," ujar Fiora.


"Tunggu kabar dari Abah, jangan ngilang dari Chat. Fio!" Titah Fayyadh lagi.


"Iya. Aku nunggu."


"Kamu sudah makan? bawa jaket gak? uang?" tanya Fayyadh beruntun.


"Bawa, tapi jaket enggak. Aku gak kedinginan, sedang minum teh manis hangat di warkop kok. Makasih, Mas."


"Abah mana sih, lama amat, Abaaahh udah belum? bentar ya Fio, aku call Abah lagi." Tulis Fayyadh sebelum menghilang dari grup chat.


Tak lama berselang.


"Mas kamu rese, gak sabaran amat. Kan Abah manggil Warni dulu tadi."


"... Nak Fio, Warni sudah berangkat baru saja, sekaligus membawa titipan surat agar disampaikan pada kawan Abah. Kalau sudah disana, kabari ya," balas Wisesa.


Fiora send Voice Note. "Terima kasih banyak atas kebaikan kalian padaku, Fio pamit ya."


"Nak Fio, kalau sangat mendesak, panggil by grup ya. Biar Abah segera membuka ponsel. Yang tenang, jangan memutuskan sesuatu karena emosi." Pesan Wisesa mengalir untuk wanita ayu disana.


"In sya Allah. Assalamu'alaikum, syukron jiddan." Tulis Fiora lagi.


Seperti kemarin, kedua pria kembali tertegun atas ucapan Fiora.


Fayyadh langsung menghubungi kakeknya itu via panggilan terpisah setelah dia meninggalkan grup chat.


"Apa Mas?"


"Bah, itu Fiora kenapa? dia kok?"


"Biarin dulu, hatinya sedang ragu. Doakan saja semoga menemukan jalan terbaik menurut versi dia. Abah duga, Tuan Glenn sudah tahu tentang minat Fio mempelajari ajaran kita makanya anak itu sedih dan gelisah. Pengacara beliau juga tadi melakukan panggilan terhadap Abah. Besok mau sowan ke sini membicarakan bisnis, sepertinya akan ada pembatalan kontrak kerjasama," tutur Wisesa panjang lebar.


"Lah, wan prestasi donk. Uyut gimana?"


"Uyut santai, justru malah ngajak Fio tinggal di paviliun belakang biar gak bisa ditemukan tuan Glenn tadi saat Abah nyari Warni itu," ujar Abah lagi.


"Saaaa, Fio jadi ke sini atau kemana?" suara Danarhadi bergema hingga terdengar dalam pembicaraan mereka.


"Sampun sareng Warni, Yut. Pergi ke Kenanga kost-an Ndoro Aditya niku loh," sahut Abah menimpali Danarhadi.


"Lah benar Uyut, kenapa gak di JA aja sih? kan kamar banyak itu dibelakang," dukung Fayyadh akan ide buyutnya, melanjutkan percakapan mereka.


"Makin besar fitnah nanti, Mas. Kami ini lelaki, Fio bukan saudara kita, juga tengah bersitegang dengan keluarganya. Biarkan urusan internal mereka selesai dulu. Abah juga membatasi membantu anak itu," jelas Wisesa.


"Tapi tadi Abah bantuin dia, hayo?"


"Beda sikon, Mas. Ini sudah malam, rawan bagi wanita sendirian di jalanan. Meski tak menutup kemungkinan Tuan Glenn akan menyalahkan Abah tapi kita bisa mengatakan bahwa pertolongan malam ini murni karena sosial, membantu sesama, tiada kaitan dengan ajaran kita. Disekitar situ ada banyak tempat ibadah, bukan hanya Masjid," ungkap sang Kakek.


"Wuih, Abah pinter."

__ADS_1


"Sampun, sana belajar. Abah ngantuk, Umma kamu juga ini telpon daritadi diabaikan sama Abah. Nanti Abimu marah, Ratu nya dicuekin," pungkas sepuh Kusuma mengakhiri panggilan.


Tak lama. Telepon pipih itu berdering kembali.


"Ya Nduk, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Abah tumben lama jawab call Ais? sibuk sama siapa?"


"Mas Fayyadhmu, khawatirkan Fio."


"Lah kok sama, aku justru mau tanya ke Abah. Apa Abah tahu kabar dia, kan punya kontrak kerjasama dengan Floffy juga," sambung Aiswa.


"Ibu dan anak sama saja. Nanti Abah cerita versi full kalau sudah ada kabar terbaru ya. Istirahat gih, sudah malam," pinta sang mertua. Aiswa pun meredam kekecewaan malam itu, memilih manut menutup panggilan.


Sementara di hunian lainnya.


Seorang gadis tengah menangis diatas pembaringan didalam kamar mewah, suaranya tertahan oleh bekapan bantal yang menutup wajah ayu tanpa niqab itu.


"Kamu yang terbaik buat aku, kenapa tidak mencoba membuka hati dulu sih."


"Tak bisakah kita hanya sekedar menjalin hubungan pertemanan, bila memang kamu enggan?"


"Fayyadh! jahat!"


Tangisnya tersedu, ketukan beruntun di pintu kamar tak ia hiraukan. Hatinya terlampau pedih setelah membaca alasan mengapa pengajuan ta'arufnya di tolak.


"Dasar lelaki sombong! apa aku tiada pantas untukmu?"


"Aku bisa menunggumu, mengapa tiada kau pinta," serunya melepaskan sesak.


Afra putus asa setelah berulang kali membaca jawaban Fayyadh. Timbul kebencian dalam hatinya namun separuh lagi mengatakan bahwa dia mengerti alasan dibalik itu semua.


"Afra, buka pintunya, Ayah ingin bicara." Suara Bima membujuk anak gadis satu-satunya.


"Gak usah Yah, sudah. Biar, aku gak apa-apa."


Bima merasa bodoh, uang yang dia miliki tak sanggup membeli keinginan untuk sang buah hati.


"Salahmu jatuh cinta pada Kusuma, Nduk. Salahku, mengapa punya riwayat kelam. Mereka sulit digapai dengan harta sebab sudah berkelimpahan, mustahil di suap dengan segala cara karena naluri nan peka apalagi masih ada Wisesa dan lelaki itu adalah cucunya langsung. Afra," sesal Bima tak dapat melakukan banyak hal.


"Afra. Ayah punya kandidat lain Kusuma, coba dengar dulu," mohon Bima lagi, masih setia didepan pintu.


"Gak mau. Cuma ingin dia," ujar Afra disela tangisan.


"Kaffa Arbian dan Abrisam Azri Fawwaz, keduanya sama tampan dengan latar belakang tak jauh berbeda dengan Fayyadh. Bahkan Abrisam ini mirip bule karena ibunya keturunan Turki, Kita coba ya," bujuk Bima Arundati.


"Abrisam?"


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2