
Seharian Fiora tak menampakkan diri, namun saat menjelang isya, dirinya telah berada di kamar sang Ayah. Anak gadis Georgia sengaja melakukan hal ini, dia ingin berbakti dalam diam disaat sang ayah telah masuk ke alam mimpi.
Fio bertekad mensupport sang Papa tanpa banyak kata dan anggapan dari manusia untuk di labeli sebagai anak berbakti.
"Ini caraku agar sentiasa dekat dengan Papa di masa ini."
Semua pemberian Fayyadh selalu menemani kemanapun ia pergi, jaket, tasbih, gelang bahkan stiker lampu konyol itu melekat di ponselnya.
"Mas. Aku merasa ditemani olehmu karena semua benda ini," ucap Fiora tersenyum simpul.
Dua pekan berlalu, kondisi Glenn tanpa Fiora menampakkan diri dihadapannya berangsur membaik meski kehidupan gadis itu bagai hewan nocturnal kini.
Malam hari terjaga hingga menjelang siang, sebab dia harus mengajar dikampus juga mengurus Floffy. Setelahnya, Fiora hanya ada didalam kamar, beristirahat serta mengandalkan informasi dari Sindy tentang kondisi sang ayah.
Bagai hari ini. Saat yang tepat, baginya untuk pergi.
"Sin, aku pamit ya. Mohon bantuan mengurus Floffy secara fisik selama aku pergi, jangan beritahu siapapun. Urusan lainnya aku masih dapat menyelesaikan satu persatu. Hanya Floffy milikku utuh," pinta Fio, saat berkemas membawa satu travel bag berisi benda penting miliknya.
"Nona akan kembali kan?" isakan Sindy menghentikan aktivitas sementara sang majikan.
"Tentu, tapi entah kapan. Ini aku titip semua dokumen untuk Papa. Penyerahan simbolis tentang pelepasan tanggung jawab sebagai dosen di kampus milik beliau juga kunci mobil dan brangkas aku. Semua pemberian Papa aku serahkan kembali, juga sebuah surat. Itu saja, doakan aku," senyum miris Fiora terlukis nyeri di wajah ayu nya.
"Nona." Sindy memeluk erat, menangis tersedu di bahu sang majikan beberapa saat.
Perlahan Fio melepaskan pelukan, dia menepuk lengan Sindy. "Kuatkan aku. Bantu dari jauh ya," pesannya lagi, berat mengatakan namun harus.
Putri sulung Georgia, melangkah mantap menuju kamar sang ayah, menyeret koper biru miliknya.
Tok. Tok.
"Assalamu'alaikum, Papa," sapa Fio riang.
Glenn terperangah. Netra tuanya membola melihat penampilan putri semata wayang.
"KAU!"
"Jangan marah-marah, Papa baru sehat kan? sepertinya memang kehadiran Fio menjadi penyebab Papa sakit. Untuk itu, hari ini aku izin pergi sejenak sampai Papa menerimaku. Doakan ya Pa. Fiora Akshaya akan tetap berbakti dengan caranya," ucap Fio mendekat pada sang ayah yang tengah memakan kudapan ditemani suster.
"Enyah!"
"I-zinkan Fio salim, un-tuk perpi-sahan se-mentara ini, Pp-aaa," tangisnya pecah. Dia belum setegar yang dikira.
"Tinggalkan semua apa yang pernah kamu raih dan ku berikan," tukas Glenn sinis, berharap putrinya akan memilih tinggal dan kembali. Dia mengira Fiora tak akan mampu hidup tanpa kemewahan.
"Sudah aku titipkan pada Sindy. Te-rima kas-sssihhh atas seg-alaanya P-paa, maaf Fio belum jadi putr-rii Papa y-aang ta'at," ucap Fio, tak urung langkah berusaha meraih tangan sang Ayah.
__ADS_1
Glenn membuang muka, menepis kasar uluran tangan Fio, dia pun beringsut membelakangi sang putri. Kondisi kesehatan dirinya nyata tak membuat surut niat seorang Akshaya, persis arti nama yang dia beri.
Putri Georgia menghela nafas. Menyeka air mata.
"Fiora Akshaya berterima kasih pada klan Tusakti, telah di lahirkan ke dunia. Seperti harapan Papa saat menyematkan nama indah bahwa aku akan tumbuh bagai bunga abadi, teguh pendirian, meski menurut Papa semua sikapku adalah salah ... semua ini aku kembalikan. Pa-mit ya Pa, sa-mpai ju-mpa lagi," Fio menarik nafas dalam, lalu memutar langkah, meninggalkan sang ayah.
"Mas, aku kini bagai Abdul 'Ash bin Rabi'i, suami putri Rosulullah yang bernama Zainab. Yang kisahnya membuatku trenyuh, menangis sepanjang hari hingga aku tegar dan kokoh berada di jalur ini."
Para maid yang melihat penampilan sang nona muda kini diliputi rasa kagum, takjub namun sekaligus miris. Kecantikan Fiora, ketaatannya juga bakti diam-diam yang dilakukan selama beliau sakit ternyata tak jua membuat tuan besar mereka luluh.
"Maafin Papa ya, juga Fio jika banyak salah sama kalian selama ini. Titip Papa juga Febian selama aku pergi menimba ilmu. Aku pamit," ucapnya pada para maid yang berkumpul saat dia mengeluarkan sepeda motor Mio matic berwarna biru, miliknya.
"Non, diantar aja ya, mau kemana?" ucap sang driver menitikkan air mata. Tiada majikan selembut Fiora meski berbeda keyakinan dengan mereka dulu.
"Gak usah. Fio bisa, ada Allah dan orang-orang baik yang akan menjaga diluar sana. Doakan saja ya," balas Fio tersenyum manis, kian mengukuhkan kecantikan meski wajah ayu tanpa terpoles make-up.
Tiada yang dapat mencegah kegigihan hati sang nona muda. Mereka melepas Fiora dengan tangisan kentara.
Glenn melihat kepergian putri sulung dari atas balkon, tanpa terasa air matanya menetes. "Georgia, titip dia."
Tujuan sang nona muda, pada sebuah alamat pemberian Wisesa tempo hari. Hatinya perlahan menguat seiring panjang langkah membentang meninggalkan kediaman Tusakti meski wajah tak surut di derai air mata.
...***...
Beberapa hari ini Fayyadh gelisah. Dia berkali membuka grup chat supplier Floffy yang telah ditinggalkan sebab pengakhiran kerja sama antara kedua belah pihak. Para admin telah dia keluarkan, tersisa mereka bertiga, Abah, dia dan Fio.
Jemarinya lalu mencoba mencari sesuatu yang mungkin dapat meredam kegelisahan. Dia membuka medsos, mencari sesuatu di postingan terbaru milik Floffy.
"Eh, tumben ada unggahan pribadi," ucap Fayyadh saat men-scroll isi beranda toko online milik Fiora.
"Ada waktunya pergi, meski tidak ada tempat pasti untuk singgah."
Fayyadh membaca caption unggahan terakhir disana, untuk sebuah foto yang membuatnya tersenyum. Terpampang jelas, tangan kiri wanita menggenggam bunga dandelion yang tertiup angin. "Jaketku masih disimpan ternyata dan kedua benda itu melingkar di pergelangan tanganmu kini. Apa maksud semua ini, Fio?"
Angan pria tampan membumbung tinggi, berusaha menjelajah angkasa.
"Siapa wanita itu? bentuk matanya? Abi mendesak ku agar segera memberikan jawaban atas pengajuan ta'aruf Zaynah, namun aku khawatir bahwa mimpiku adalah sebuah signal," lirih Fayyadh.
Lelaki Kusuma lalu melakukan panggilan pada seorang yang dia anggap layak di minta pendapatnya.
"Assalamu'alaikum, dokter dosen Shan, sibuk gak?" kekeh Fayyadh saat menyapa saudara sepupunya.
"Wa'alaikumsalam, Ustad Althafaris Fayyadh, enggak. Aku baru pulang, tumben call. Antum lagi galau ya?" balas sang sepupu.
"Ish, rupanya selain ilmu tehnik sipil, kamu juga menguasai ilmu gaib titisan Ki joko pinter, tau aja lagi galau, kecium ya? ... aku mau tanya sesuatu nih," candanya lagi.
__ADS_1
"Aku alumni terakhir Perguruan khayalan indah. Tercium jelas baunya bagai bus perjalanan jauh rute Rembang - Semarang," balas Shan lagi.
"Hah... apa tuh? gimana baunya?" tanya Fayyadh tak mengerti.
"Anu Mas, rada sesek plus asem gitu ... Rembang - semarang, remahan hati yang bimbang karena sendirian menanggung rasa sayang," gelak Shan.
"Jiaaaaannnn, buleeeeee oyeg!" maki Fayyadh atas sindiran Shan.
Shan masih tertawa. "Gimana gimana, Mas?" tanya sang sepupu ipar.
"Asem tenan ... gini loh Shan, apa yang Antum lakukan saat ada di persimpangan dua pilihan?"
"Lempar dadu Mas, atau hitung kancing," tawa Shan renyah.
"Dih Bule jajal stand-up, serius Shan," desak Fayyadh lagi setelah keduanya terbahak.
"Mas lebih paham dari aku lah, masa sih dosen tanya dosen? bunuh diri gak tuh ... tapi aku bakal tanya Mama loreng dulu sih," kekeh Shan masih ingin menggoda.
"Gue tutup juga nih," ancam Fayyadh.
"Oke oke Ustad, senewen amat yang lagi jatuh cinta. Intinya gini, jadilah bagai waqaf mu'anaqah ... harus berhenti di salah satunya," ujar Shan.
"Sulit ... apa aku harus abai pada petunjuk?"
"Tanya Allah sudah? ikhtiar langit pol? kalau sudah, pakai saran Umma, guru dan kalbu ... condong ke yang mana? perhatikan tanda sekitar," ujar Shan lagi.
"Gitu ya, komplit amat macam parcel lebaran," keluh Fayyadh masih enggan berpikir jauh.
"Ya harus, kalau mau dapat tehaer mulus. Aku bisa bantu apa? dokumentasi malam pertama?" gelak Shan konyol.
"Dosen me-sum. Bantu cari info, bisa gak Shan?"
"Ciyeeee, mau sewa laskar? Ana diskon deh," goda Shan lagi, puas rasanya.
"Mau job gak nih?"
"Boleh lah buat tambahan beli batu bata nih, siapa Mas?"
"Dia...."
.
.
...______________________...
__ADS_1