
Jakarta.
Pagi ini seperti biasa Shan mengawali dengan muroja'ah kalam Allah dilanjutkan dengan sholawat memohon kemudahan segala hajat. Mifyaz menyimpulkan bahwa iparnya adalah seorang hafiz pun terjawab ketika abege itu membawa baki sarapan bagi Shan ke kamar Maira.
"Kenapa Kak Shan gak pernah cerita kalau seorang hafiz?" tanya Ajmi saat meletakkannya nampan yang ia bawa di meja sofa.
"Untuk apa?" balas Shan.
"Ya gak buat apa-apa sih. Biar tahu aja," sambar Ajmi cepat, asal menjawab.
"Jika tujuannya hanya riya' maka semua itu sia-sia. Bukan junjungan manusia yang kita harapkan melainkan ridho Allah. Tetapi jika ada ditempat tepat dan dibutuhkan, barulah unjuk kemampuan. Itupun masih harus di perhitungan apakah maslahat atau sebaliknya," ujar Shan masih sembari melakukan pijatan lembut di telapak kaki Maira.
"Gitu ya?"
"Iya, agar memperoleh kemuliaan Allah. Sekarang aku tanya, Ajmi ikut menghafal kalam Allah untuk apa?" Shan balik bertanya pada adik iparnya.
"Untuk ... hmm, Bunda. Salah ya?"
"Bukan salah. Niatkan juga untuk kebaikan orang banyak selain mengharap syafaat, sentiasa dawamkan agar melaksanakan setiap tafsir ayat dalam kehidupan sehari-hari ... alangkah baiknya jika semua yang kita lakukan itu lillah, Aj. Biar lega, gak ngarep sama manusia sehingga rasa kecewa itu minim timbul. Ya memang butuh latihan buat dapat perasaan bebas begitu," ujar Shan lagi.
"Iya ya, nothing to lose gitu ya Kak. Selama ini aku suka bingung kalau di tanya, menghafal untuk apa," seloroh Ajmi, menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Shan hanya tersenyum samar, fokusnya masih pada Maira pagi ini. Semalam dia merasakan gerakan halus yang lambat laun terasa lebih kuat. Tangannya digenggam erat oleh Maira.
"Sudah banyak perubahan ya Sayang. Nanti aku konsulkan ke Tante Dewiq, semoga beliau punya solusi untuk kita. Sekaligus meminta agar selang oksigenmu di lepas, jangan takut Ai. Aku menemanimu," ucap Shan, disaksikan Ajmi.
"Kak, ada perkembangan gak?"
"Banyak. Ai semakin merespon apapun yang aku share padanya. Aku kangen dia Aj, dari mata, senyum juga sikap malu-malu Ahya," ucap Shan, semburat merona nampak terbias di wajah maskulin dominan timur tengah itu.
"Ciye, pacaran halal lebih enak ya Kak. Tapi semua mimpiku belum selesai macam Kak Shan, kayaknya masih lama deh nyusul," keluh Ajmi.
"Banget, mau ngapain juga boleh ... kerjakan dari sekarang apa yang jadi passion kamu, Ajmi. Mumpung Ayah Mahen masih bisa dimintai pendapat jadi ketika saatnya kamu melepaskan diri, sudah punya pondasi kuat," saran Shan.
"Bismillah, doakan ya Kak. Aku sekolah dulu. Tante Dewiq sedang otewe ke sini. Juga Dokter Nuha. Jangan lupa sarapan kata Bunda," imbuh Ajmi, meninggalkan Shan seorang diri.
Shan mengecup telapak tangan kanan Maira, mendoakan dirinya lalu bangkit menuju sofa untuk sarapan.
Setelah breakfast, suami Maira melakukan rutinitas pagi hingga suara ketukan di pintu membuat Shan menggulung sajadah lalu beranjak bangkit membuka panelnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Shan ya? aku Dewiq, hmm iparnya Amir. Kami boleh masuk?" suara lembut wanita cantik yang mengenakan setelah formal berdiri dengan beberapa wanita di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam, iya Tante. Silakan," Shan membuka pintu kamar lebar. Satu persatu team dokter masuk ke kamar mereka.
Sementara ke empat wanita berjas putih itu diskusi, Shan memerhatikan seksama. Tak lama ibu mertua pun bergabung dengan mereka.
Dua puluh menit, proses pemeriksaan terhadap Maira belum juga usai. Shan harap cemas, meski dirinya seorang dokter namun tetaplah tidak akan pernah sama pemeriksaan antara struktur anatomi tubuh manusia dengan binatang sesuai profesinya.
Akhirnya team dokter yang datang bersama Dewiq pamit undur diri, menyisakan kedua wanita dan dirinya.
"Shan, kondisi Maira banyak mengalami kemajuan akhir-akhir ini. Permintaanmu pada suster agar melepas selang oksigen akan aku kabulkan. Jika Maira diserang sesak, segera pasangkan kembali, deal?" tanya Dewiq kemudian.
Shan mengangguk, senyum terlukis di wajah tampan. "Deal, tante. Itu hmm, fisioterapi sudah boleh kah dilakukan? juga stimulasi apa yang harus intens aku lakukan?"
"Oh ya, nanti aku minta Dokter ke sini rutin tiga kali seminggu mulai pekan depan. Terus interaktif ya Shan, terutama pada peristiwa yang dapat merang-sang emosi atau kenangan indah. Aku penasaran, apa saja yang kami lakukan untuk Maira?" selidik Dewiq karena perkembangan keponakannya begitu signifikan.
Shan menunduk. Rasanya segan mengutarakan di hadapan kedua wanita bagai ibunya ini. "Hmm, itu gimana ya bilangnya. Bun," ujar Shan kikuk, menoleh pada Naya meminta bantuan.
Awalnya Naya kurang memahami namun sejurus kemudian, otaknya mencair hingga menemukan apa yang Shan maksud. "Oh ini loh Wiq, kamu tahu lah. Bonding pasutri ya Nak?" ucap Naya, seraya tersenyum manis.
Putra sulung Dilara tersipu. "Semacam itu, iya. " tutur Shan masih menekuk wajahnya.
"Oalah, kok gak kepikiran ya Shan. Udah HB juga donk?" desak Dewiq.
"Kamu tuh, ketularan Dwi, blak-blakan amat. Menantuku sampai malu begitu," tegur Naya untuk Dewiq.
"Eh, kan sudah sah. Gak usah malu, Shan." Dewiq ikut keki atas keabsurdan dirinya.
"Aku belum tega. Juga kasihan Ai, gak bisa menikmati apapun," seloroh Shan mengundang tawa kedua wanita.
"Siapa bilang Shan. Buktinya dia respon semua yang kau perbuat," Dewiq kembali membuat dokter muda itu merona.
"Beda Tante. Aku banyak menstimulasi titik syaraf pada kaki juga bagian tubuh lainnya. Kebetulan kan Eyang juga pernah pengobatan akupunktur dan totok syaraf saat terapi. Itu bisa merelaksasi tubuh. Aku mempelajari dari kawan yang ahli dibidang itu," ujar Shan menjelaskan apa yang dia lakukan.
"Ok noted. Aku akan ganti booster obat untuk Maira ya Shan. Semoga bisa membantu mempercepat pemulihan. Terus semangat ya, maafkan tante gak hadir saat kalian menikah. Aku sedang ada tindakan dan Mas Ahmad keluar kota," ucap Dewiq kemudian seraya bangkit hendak pamit undur diri.
Beberapa menit setelah kepergian Dewiq. Dokter lain muncul kemudian, Nuha datang meminta izin mendekat pada pasien observasi nya. Shan kira dia adalah wanita maka tatkala melihat sosok itu, rasa cemburunya hadir.
"Dia istriku, mohon Anda jangan menyentuhnya." Shan menghalangi langkah dokter itu kala hendak meraih jarum infus Maira yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Nuha terkejut. "Is-tri?" tanya pria muda berjas putih, terheran.
"Betul. Maaf ya Dokter, gak sempat berkabar karena mendadak waktu itu Shan ingin langsung diadakan akad nikah," terang Naya menjawab keterkejutan sang dokter syaraf.
"Biar aku yang membenarkan posisi jarum infusnya," ujar Shan.
"Tapi Anda tidak paham, izinkan aku," kukuh Nuha.
"Aku juga seorang Dokter. Jika hanya mengganti jarum infus, tentu bukan perkara sulit bukan?" Shan meminta ruang agar Nuha menjauh.
Glekk.
"Dokter?"
"Hm, Dokter Nuha silakan tunggu disini bersamaku," pinta Naya mengajak Nuha duduk di sofa bersamanya.
Shan tak memedulikan pertanyaan Nuha. Dia membuka laci meja nakas, mengambil peralatan baru dari sana dan dengan cekatan mengganti jarum yang bengkok juga membenarkan letak posisi infus Maira.
Setelah Shan selesai dia bergabung dengan keduanya disofa dan mengutarakan keberatan atas kehadiran pria itu.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat juga rasa terima kasihku pada Anda. Seperti sama-sama kita ketahui bahwa kondisi istriku banyak mengalami kemajuan atas berbagai macam stimulasi. Team dokter yang disiapkan oleh kerabat kami juga telah melakukan segala prosedur dengan baik--," ucapan Shan terjeda.
"Aku hanya observasi terhadap pasienku, tidak ikut campur dalam hal tehnik pengobatan apapun yang team Dokter lakukan," kilah Nuha, menangkap maksud Shan yang ingin menghentikan dirinya berkunjung ke Orchid.
"Tapi istriku bukan lagi pasien Anda, Dokter. Kiranya banyak kondisi vegetatif lainnya di rumah sakit tempat Anda bernaung bukan? why fokus pada Ahya-ku?" tegas Shan.
"Ahya? hanya karena simpati saja. Aku baru menemukan kondisi pasien yang reaktif terhadap banyaknya rang-sangan," elak Nuha bersikukuh tak ingin di singkirkan.
"Tugas Anda telah selesai jauh hari bahkan sebelum aku ada di sisi Ahya, Dokter Nuha. Kiranya permintaanku tidak berlebihan. Terima kasih atas perhatian Anda, semoga apa yang didapat dari sini bisa mendatangkan maslahat. Selamat siang," Shan berdiri. Menjulurkan tangan kanan pada Nuha.
Naya hanya diam. Betapa Shan tegas melindungi apa yang menjadi miliknya meskipun permintaan Nuha juga tidak berlebihan. Namun dia mengerti, sang menantu dilanda cemburu.
"Terima kasih banyak ya Dokter sudah meluangkan waktu selama ini untuk jenguk kemari dan observasi kondisi Maira. Semoga apa yang Dokter simpulkan dapat membawa manfaat bagi pasien lain," imbuh Naya ikut bangkit.
Merasa terpojok dan tidak punya pilihan lain, Nuha akhirnya mengalah meski rasa hati berat meninggalkan wanita yang dia suka. Bibit cinta itu sudah bersemi meski tak disadari salah satunya.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Kejap, bentar lagi.. . ...