ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 53. DUA KANDIDAT


__ADS_3

"Yakin gak ada cluenya? coba nanti tanya Abi," ujar Aiswa mulai menata hijab, gamis juga lainnya dibantu asisten yang Danarhadi berikan.


"Bawa nama Abi, ada apa nih?" Suara Amir menghampiri dan bergabung dengan anak istrinya di tenda event.


"Anak Abi, kayaknya suka tapi gak peka. Bii, dapat info apa dari Abah?" sindir Aiswa untuk Fayyadh seraya menyambut sang suami dengan salim, pelukan juga kecupan sebelum Amir duduk.


"Gak kasihan sama anaknya yang jomblo, pamer mulu. Aku main dulu lah kalau gini," keluh Fayyadh hendak keluar tenda.


Pasangan mesra itu hanya terkekeh geli atas protes yang dilayangkan Fayyadh.


"Ke Fio, Mas? bantuin gih sekalian uji nyali," seloroh Aiswa membuat Fayyadh keki.


"Uji nyali?" tanya Amir, menarik Aiswa duduk di pangkuannya.


"Fiora. Si gadis cantik, tapi pakai rok mini dan mulus, Bii," goda Aiswa lagi.


"Fio rekan bisnis Abah yang baru? dua kali kamu selamatkan kehormatannya itu, Mas?" tebak Amir pada sang putra yang menekuk wajah karena kesal menjadi bahan olok-olok Aiswa.


"Ummaaa," cebik Fayyadh.


"Oh pantas dia bilang thanks dua kali, ternyata dibalik kisahnya begitu ya? Mas, apa itu bukan clue?" pancing Aiswa lagi.


"Au aah. Aku jalan deh," Fayyadh berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Obrolan pasangan suami istri pun berlanjut. Amir menceritakan semua kejadian, perilaku juga kebiasaan putranya pada Aiswa selama di Solo. "Abah dan uyut cerita semua, Rohi. Termasuk kita harus menjaga Fayyadh dari keluarga ... Arundati," bisik Amir di telinga Aiswa saat menyebut sebuah marga.


"Why?"


"Entah."


"Siapa nama anaknya?" tanya Aiswa lagi.


"Afra Arundati," balas Amir mengecup pipi istrinya.


"Ish ada Mbak ... Afra? pakai niqab? tadi ngobrol sama aku, dia gadis baik kok, sopan juga, kenapa sih Bii?"


"Bukan adab dan akhlaknya, kata Abah, jaga Fayyadh. Tapi jikalau takdir Allah, ya mau gimana lagi. Usaha dulu deh," tegas Amir lagi.


Satu jam kemudian, persiapan telah selesai. Stand Queeny telah cantik. Pasangan itu lalu menitipkan tenda sementara pada dua asisten yang mereka bawa, sementara keduanya berjalan mengitari lokasi event seraya melihat para pengusaha partisipan.


Aiswa menoleh ke arah kirinya, tidak nampak Fayyadh di stand Fio sore itu. Dia menarik lengan Amir untuk mengunjungi stand gadis ayu karena penasaran.


"Bikin sendiri Fio?" tanya Aiswa saat melihat tas tangan crochet berwarna ungu tua.


"Eh Umma, duh maaf masih berantakan disini. Duduk Umma," Fiora menarik satu kursi didekatnya menyilakan Aiswa duduk.


Sekilas Amir melihat looks gadis itu. Tidak nampak rok mini yang Aiswa sebutkan tadi, dia kini mengenakan celana panjang longgar juga kaos oversize.


"Ini cantik, telaten ya buatnya," sambung Aiswa.


"Halo Om, silakan duduk ... hobi untuk melepas penat sekaligus menghasilkan karya yang membuka kran cuan, Umma," jawabnya jujur, membungkukkan badan pelan sebagai tanda hormat untuk Amir.

__ADS_1


"Betul banget. Waktu kamu efektif berarti Fio, cantik-cantik sekali tasnya ya," puji Aiswa saat melihat banyaknya model tas tangan yang indah, lucu dan elegan.


"Thanks, Umma."


"Ambil dua atau sesukamu, Sayang. Kan belum punya model begini, lalu pajang dengan outfit yang Queeny dan Qiswa miliki, bisa dongkrak penjualan Fio juga nanti," ucap Amir.


"Idaman ya Umma. Gak cuma satu, langsung dua atau sesukamu," seloroh Fiora menimpali ucapan Amir.


Aiswa tersenyum ramah. "Kan nanti Umma juga yang bayar," kekeh Aiswa.


"Sebab semuanya kamu yang pegang, Sayang. Aku kan budakmu," tawa Amir lepas.


"Budak cinta ya Om," imbuh Fio masih menata tas di ambalan.


"Bener, Fio. Ini nanti Queeny ambil sample satu untuk masing-masing jenis ya. Mudah-mudahan bisa colabs sebab karya kamu unik, rapi, chic dan cantik," ujar Amir. Sementara Aiswa mulai memilih beberapa produk milik Fiora.


"Puji Tuhan, serius Om? aku punya delapan item teknik. Berarti semuanya?" pekik Fio, menutup kedua mulutnya.


"Iya. Tolong pilihkan ya Fio, sekalian juga cerita sedikit kisah di setiap tas yang kamu rajut, pasti ada kan?" pinta Aiswa.


"Sure, Um-ma. Ada, mau aku send spek by e-mail atau gimana? termasuk jenis benang, tehnik dan cara perawatan?" Fiora menawarkan paket lengkap detail produknya.


Aiswa tersenyum manis melihat ke arah sang suami, kala mendengar penjelasan Fiora. Bibirnya mengucap sebaris kata tanpa suara. "CaMan."


Amir hanya menanggapi dengan mengedikkan bahunya ke atas. Masih panjang proses yang harus dilalui sebab Fayyadh dan Fio masih sama-sama mempunyai luka masa lalu.


"Tolong totalkan dulu ya Fio, Umma pelupa, biar sekalian dibayar ke-delapan tasnya," pinta Aiswa namun di tolak Fiora.


"Nanti saja jika sudah siap di packing ya Umma. Aku pilihkan sesuai warna yang Quenny punya agar selaras, meski semua item tas bisa custom," imbuh putri sulung Tusakti lagi.


Sementara di stand lainnya.


Fayyadh berhenti di tenda Grafology sebab banner Afra menahan langkahnya. Merasa asing dengan ilmu tentang ini, dia pun duduk disana, membaca beberapa artikel. Sementara gadis itu dan seorang rekan, tengah berkonsultasi dengan tamunya.


"Ada yang ingin ditanyakan?" suara Afra menghentikan konsentrasi Fayyadh.


"Enggak ada yang spesifik sih, aku hanya penasaran. Semua ini balik lagi ke hakikat penciptaan manusia sih ya. Sifat yang melatari terjadinya mal sikap di karenakan banyak faktor bukan?" ucap Fayyadh.


"Betul. Grafology sejatinya ilmu ilmiah tentang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memahami kepribadian seseorang yang diungkap melalui tulisan tangan. Kamu tahu gak, aspek emosi yang dapat di deteksi oleh grafology?"


"Belum tahu, apa saja contohnya?" tanya Fayyadh.


"Tulisan tangan kamu itu dapat mengungkap ratusan unsur kepribadian dan karakter ... terdiri dari pikiran bawah sadar, reaksi emosional, intelektual, motivasi, daya khayal, integritas, bakat, bahkan dorongan seksual dan keyakinan," terang Afra.


"Sedetail itu?" Fayyadh mulai tertarik lebih jauh.


Afra mengangguk. Matanya menyipit tanda senyum mengembang dibalik niqab. "Iya. Namun grafologi tidak berkaitan dengan bagus atau tidak si tulisan, lebih fokus kepada menganalisa, mengamati ciri-ciri tertentu," imbuh putri Arundati.


"Wah berarti yang tulisan bagus atau jelek pun pasti terdeteksi semua dong ya?" tebak Fayyadh.


"Tidak ada jelek atau bagus, yang ada hanya tulisan tangan yang memiliki ciri merugikan atau menguntungkan bagi si penulisnya ... tapi semua itu bisa dilakukan perbaikan agar kelemahan tadi gak negatif untuk pribadi. Kita dapat menata diri dengan mengubah bentuk huruf atau cara menulis sesuai arahan grafolog. Nama pengobatan ini disebut grafoterapi. Mau coba?" tantang Afra pada Fayyadh.

__ADS_1


"Bagaimana caranya? apakah itu akurat?"


"Banyak tehnik garis yang kami pelajari, semua memiliki arti khusus. Akurat atau tidak tergantung pengalaman jam terbang si grafolognya. Tapi yang membuka jasa seperti ini tentunya mempunyai sertifikat lisensi," jelas Afra lagi.


"Kalau merubah gaya menulis berarti masuk manipulatif dong?" cecar Fayyadh.


"Tidak lah. Kan ciri baru itu bertujuan untuk memperbaiki karakter dan wajib didampingi ahli. Jika tulisan menampilkan informasi asli penulisnya, tanda tangan bagai menyampaikan pencitraan diri, mau coba yang mana?" ajak Afra lagi.


"Hmm, tidak untuk keduanya. Next time mungkin. Thanks ya, nanti aku tanya kembali jika membutuhkan sesuatu. Kamu cuma buka jasa konsul?" tanya Fayyadh bangkit dari duduknya.


Lama berbincang dengan Afra nyata membuat rasa keingintahuan naik berkali lipat. Dia khawatir akan tergoda nafsu, maka lebih baik memutuskan pergi.


"Aku kerja di Falcon Industries, membantu mereka membaca karakter calon karyawan perusahaan asing yang bergerak di bidang chemical," tandasnya melepas Fayyadh pergi.


Perbincangan sesaat yang berkesan, baik bagi Fayyadh maupun Afra. Tak dia kira, gadis itu memiliki wawasan luas dan strata sosial diri yang mumpuni berkat keilmuannya.


Pemuda tampan akhirnya memutari venue hingga tiba di ujung lorong tenda Kusuma. Netra sipit itu menangkap seseorang yang tengah kesulitan membawa banyak tumpukan karton.


Gubrak.


"Fio, hati-hati!" teriak Fayyadh saat melihat gadis itu menjatuhkan semua barangnya.


"Eh, Mas. Gak apa, ini packing kosong rencana buat Umma," jawabnya pelan seraya memungut kardus yang berserakan.


"Umma beli semua ini?" tanya Fayyadh saat membantunya.


"Iya, untuk di display dengan brand kalian," imbuhnya lagi.


Adzan Ashar berkumandang. Fayyadh hendak pamit setelah semua kardus itu dia letakkan dalam tenda Floffy Craft.


"Ashar dulu ya," ujar lelaki tampan.


"Harus setepat waktu ini kah, jika mendengar adzan? apa Tuhanmu betul-betul mendengar semua doa juga? mengabulkan dengan cepat seperti kamu yang merespon seruannya? toh dia tidak selalu hadir dalam setiap peristiwa bukan?" Fiora menatap miris pada Fayyadh.


"Kamu mau tahu jawaban aku?" Fayyadh menyahuti kalimat pengingkaran yang keluar dari mulut Fiora.


Gadis cantik yang kini berpakaian lebih sopan itu mengangguk ragu. "I-ya."


"Sholat dulu ya, nanti aku jelasin sebisaku," ujar Fayyadh melempar senyum menawan.


Degh.


Degh.


Degh.


"Jantungku."


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...Jadi inget pertengahan tahun ini, komunitas kelas online mommy ngundang seorang Grafolog, by zoom dan room chat private. Deg-degan pas dibaca tanda tangan, tapi iya loh, 80% betul 🤭. ...


__ADS_2