ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 114. BATTLE ROMANTIS


__ADS_3

Open house syukuran pernikahan Fayyadh digelar siang nanti. Pengajian sudah dimulai sejak ba'da duha oleh keluarga besar juga Sinuhun yang datang memberi ucapan selamat sekaligus mengenalkan Fayyadh.


"Den Mas Fayyadh yang bakal nerusin Kusuma? sekalian saya juga punya misi sebab beliau ini hafidz bukan?" ucap Sinuhun pada para Sepuh di pendopo.


Arya Tumenggung Danarhadi lalu memanggil Fayyadh agar bergabung dengan mereka. Dan obrolan serius pun terjadi.


Meski keputusannya belum bulat menetap di Solo sebab dia juga harus membicarakan ini dengan Fiora, Fayyadh tidak memberi harapan banyak dalam obrolan itu.


Joglo Ageng mulai ramai dikunjungi para tetangga, aparat desa, para pekerja dan kerabat lain yang silih berganti mengucapkan selamat serta doa bagi pernikahan FaFi. Suasana berangsur normal kala menjelang Ashar.


Sebagian Kusuma langsung kembali ke kota masing-masing, termasuk keluarga Naya, Tazkiya dan Amir.


Hanya tersisa dua pasangan cicit di Joglo Ageng kini. Maira enggan pulang sebab masih merasa lelah pun demikian pasangan FaFi. Jikalau mereka tinggal di Solo, Fayyadh ingin Fiora pindah mengikutinya dan menetap di Joglo Ageng sembari menemani para Sepuh.


Ba'da Isya.


Danarhadi keluar kamar sebab sudah waktunya jam makan malam. Namun, leluhur Kusuma itu terheran, situasi ruang makan terlihat lengang meski hidangan telah tersaji di meja.


"Saaaa, Shan, Maaass ... kemana semua ini," seru Danarhadi dari ruang makan.


Sementara Abah muncul dari halaman belakang setelah meminta pada Tara agar para Abdi dalem beristirahat setelah seharian sibuk hari ini.


"Lagi di tengah kayaknya, Kek. Bentar aku kesana," jawab Abah seraya berlalu ke ruang keluarga.


Saat kedua langkah gontai mendekati ruang megah kediaman Danarhadi, Abah melihat pasangan mantu dan cucunya sedang asik satu sama lain. "Wajar gak dengerin teriakan, wong lagi pada santai begitu," gumam Abah menghampiri mereka.


"Shan, Nduk ... Mas, Fio, Arwa, Abah bingung manggil pake nama apa ini? makan malam dulu," Abah menepuk bahu Shan yang duduk disofa.


"Fio saja, Bah." Fiora menjawab pertanyaan Kakek Fayyadh.


"Bentar Bah, Ai belum mau makan," jawab Shan, masih mengusap punggung Maira yang terasa pegal sementara putri Naya tengah mengunyah berbagai jenis potongan buah segar.


"Gimana mau makan, kamu ngemil segini banyak, Nduk. Kasihan kandungan kamu itu, beri asupan yang betul ... Shan, ini dibiarkan?" tegur Abah pada keduanya.


"Ahya tadi siang muntah banyak, gak mau makan minum, Bah. Ini baru mulai ngemil lagi itupun ku paksa sambil begini biar gak mual," terang Shan, masih setia mengusap pelan punggung Maira.


Benar saja, menantu Dilara meletakkan pinggan potongan buah lalu meminta berbaring dipelukan Shan. "Mual, Zie."


Bila Shan tengah berkutat dengan kesabaran menghadapi Maira yang moody mulai dari mengusap punggung, menciumi wajahnya, memijit kaki, meladeni segala keinginan tanpa berkomentar. Lain hal dengan Fayyadh dan Fio. Keduanya asik battle game, meski Fayyadh berbaring di pangkuan Fiora beralaskan karpet bulu berwarna coklat.


"Kalau melihat pasangan jaman sekarang," Danarhadi tiba-tiba menyanyi.


"Disuruh makan maunya sama Ayang," lagi, buyut Kusuma bahkan sampai bergoyang di tengah ruangan antara Fayyadh dan Shan yang duduk disofa, mirip lirik lagu kopi dangdut.

__ADS_1


"Serasa ngiri rasa hatiku pada kalian, seeerrr."


"Berasa ingin ... tapi gak mampu ... karena aku jomblo," Abah menimpali.


"Astaghfirullah, ini pada kenapa sih?" kekeh Fayyadh melihat tingkah Sepuh mereka.


"Mood banget, lagi Yuutt," seru Maira dari atas sofa.


"Kalau gak begini, kalian asik sendiri. Ayo makan," Danarhadi menarik lengan Fayyadh sementara Abah meminta Shan bangkit perlahan membantu Maira.


Pukul sembilan malam.


Maira tertidur di sofa ruang keluarga setelah menonton kartun smurf. Sementara Shan terus membisikkan barisan ayat dari al-insyirah dan al fatihah sebanyak tiga kali. Setiap selesai satu surat, dia mengelus perut Maira dengan penuh kelembutan.


Setelah itu putra Dilara melanjutkan dengan surat At-taubah dan Luqman.


"Shan, gak pindah?" tegur Abah melihat Maira pulas tertidur dalam pelukan suami mudanya itu.


"Baru tidur, biarin dulu deh Bah. Sejak siang tadi moody banget, biasanya enggak. Makanya aku tunda kepulangan," jelas Shan lagi agar sang kakek tak khawatir.


"Hati-hati ya Shan. Abah ngantuk, tidur duluan nggih," ujar Abah, dan diangguki oleh Shan.


Wisesa bagai melihat Amir dan Mahendra menjadi satu dalam raga Shan, cucu menantu satu ini memang memukau sehingga dia tak khawatir kala Maira ada dalam lindungannya.


Sementara didalam kamar Fayyadh.


"Mas, koreksi hafalan aku ya, juz lima, An-nisa," pinta Fiora seraya duduk diatas ranjang.


"Imbalannya apa?" tanya Fayyadh sambil berbaring, melihat ke arah Fiora.


"Gak ada lah, Allah yang ngasih pahala," jawab Fio.


"Kalau salah satu ayat, di hukum satu kecupan, bebas dimana aja tempatnya, deal?" pinta putra Aiswa.


"Kalau aku hafal hingga dua puluh ayat, tak ada salah baik tajwid maupun kalimatnya. Mas gak boleh deketin dan pegang aku, tidur disofa dua hari ... deal?"


Glekk.


"Ok, de-al," jawab Fayyadh meski dia ragu, gak mungkin Fio dapat menghafal begitu cepat, pikirnya.


Menantu Aiswa pun memulai membaca hafalan, awalnya dia ragu dan sedikit malu sebab Fayyadh menatap intens seraya tersenyum, mencoba mengaburkan konsentrasi. Namun seiring banyak ayat yang Fio baca, raut wajah sang pria pujaan perlahan terlihat khawatir hingga nampak bulir bening di dahinya.


"Kasian, ketar ketir ya Mas."

__ADS_1


Tiba di ayat ke delapan belas, Fiora merasa iba dengan sang suami. Sehingga tepat saat ayat ke dua puluh akan selesai, dia membuat dirinya terlihat bersalah sebab Fayyadh memejamkan mata.


"Wa itsmam mu'minaa ... shodaqallah...," suara Fiora lirih, seraya melirik dan membelai rambut sang suami yang memeluknya erat.


Fayyadh menengadahkan kepala. "Itsmam mubinaa, Sayang."


"Eh, salah ya?" ujar Fio berpura-pura.


Putra Aiswa girang. "Kamu kalah, Fei," kekehnya lagi.


Dia menarik Fio hingga wanita ayu terbaring. Fayyadh seketika mengungkung tubuh molek itu dibawahnya, satu tangan lelaki Kusuma membelai wajah sang istri, mengecup pipinya pelan, turun menyusuri tengkuk hingga berlabuh di bibir ranum Fiora.


"Boleh gak?"


"Gak boleh, kan lagi haid," cicit Fio, seraya terkekeh.


"Astaghfirullah, ada aja. Sejak kapan Sayang, tadi masih sholat sama aku," keluh Fayyadh kecewa.


"Baru aja, pas mau ganti baju tadi, perut bawah berasa gak enak banget dan gitu deh," bisiknya seraya membelai wajah yang hanya berjarak dua inci.


C-up. Putri Glenn, memberanikan diri mengecup bibir suaminya.


"Sabar ya Mas, aku haid gak lama, cuma empat hari," kekeh Fio tak dapat dibendung.


"Yassalam." Fayyadh menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Fio, menggigit kecil disana.


Tawa renyah cicit menantu Kusuma mendapati wajah kecewa suaminya menjadi hiburan tersendiri malam itu, di hari kedua setelah mereka halal.


...***...


Jakarta.


Rayyan dan Dwiana terkejut kala mendapatkan kabar bahwa Amir akan mendatangi kediaman mereka sebagai perantara untuk melamar Ryuki bagi Kaffa, putra sulung Gamaliel.


Keduanya tercengang, selama ini mereka kira bahwa Kaffa akan melabuhkan hati pada Athirah, namun justru Ryuki yang dipilih usahawan muda itu.


"Mas Kaffa sudah bilang sama Ryu kalau mau ajak serius, Pih," ujar sang putri kala mendengar percakapan orang tuanya via telepon.


"Kamu bersedia?"


"Hmm, aku, entah sih ... menurut Apih, gimana?" balas sang putri.


.

__ADS_1


.


...___________________...


__ADS_2