ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 74. GRADAG-GRUDUG


__ADS_3

"Putriku, sesungguhnya sakit. Andaikan pun proposal ditolak, paling tidak kami berharap agar cucu Anda dapat membantu membujuk Afra untuk melakukan pengobatan di China," tunduk Bima.


"Jadi maksud untuk terjun ke dunia politik itu agar apa?" tanya Abah lagi.


"Agar aku bisa memiliki penerus, sayang koneksi dan relasi yang sudah di pupuk sejak lama, semua urusan mudah jika memiliki kekuasaan. Anda tahu, putraku yang satu malah jadi seniman, hanya Afra harapanku satu-satunya," jelas Bima.


Abah mengerti. Posisi Fayyadh seakan menjadi obat bagi segala kemelut keluarganya. Pantas sang Kakek sangat menentang, ternyata begini.


"Semua keputusan ada di Mas Fayyadh, kami tidak bisa mengintervensi terhadap apapun itu. Entah menolak atau hanya sekedar membantu ya nanti disampaikan ... namun, apakah Afra dapat menjaga hatinya?"


"Semoga dengan kedekatan mereka, cinta dapat tumbuh. Sehingga semua terselesaikan baik," harap Bima.


"Maaf sebelumnya. Kami menghindari kedekatan yang tiada berujung hubungan serius. Tolong di pahami, Mas Bima. Andaikan cucuku berniat membantu, tentu hanya moril atau ucapan saja, tidak hadir secara fisik dan lainnya. Tapi sekali lagi, ini mutlak keputusan Mas Fayyadh," tegas Abah. Kali ini dia juga ingin menjaga keluarga dari hal menyimpang.


Bima Arundati nampak kecewa. Harapan kian tipis sebab dirinya tidak diperkenankan melakukan kontak dengan Fayyadh.


"Masih ada kami, wali sah. Jika cucuku setuju, dia akan melakukan tahapan selanjutnya dan menghubungi Nyai sebab beliau perantara dalam hal ini," terang Abah, menutup percakapan hari itu.


...***...


Jakarta.


Jika di Solo sedang kisruh masalah proposal ta'aruf Fayyadh, lain hal dengan Maira.


Setelah melakukan fitting kebaya untuk wisudanya, Maira bersiap menuju Bandara ditemani Ratih, sang asisten pemegang sabuk hitam taekwondo.


"Bun, punya Kakak gimana? kok gak dibuatkan, nanti aku gak jadi couplean donk sama dia?" Maira merajuk.


"Gak keburu, kan jadwal dimajukan juga mendadak, Maira. Shan pake apa yang ada aja," ujar Naya mengacuhkan putrinya. Maira diam, dia ingin marah namun bundanya malah berpura sibuk.


Gadis ayu itu pun tak lama pamit masih menekuk wajah kecewa, meninggalkan gedung Queeny.


Setelah kepergian sang putri, Naya mengeluarkan satu kemeja lengan panjang senada kain batik yang Maira kenakan.


"Jingga dipadu hitam, silver gini, mewah banget ya ternyata. Gak sia-sia lembur bikin corak. Mbak, tolong kemas dan masukkan dalam travel bag punyaku, nanti malam berangkat. Jangan ada yang tertinggal, termasuk selop dan pashmina Maira," titah Nyonya Mahendra.


Di gedung lainnya.


Ezra sibuk meminta pada sepupunya, Sabrina, agar menjaga sang menantu saat ia tiba di Dubai. Juga meminta pada Asyraf Hamid untuk menghubungi Shan bahwa Maira menyusul dan menunggu di Bandara Dubai Internasional Airports delapan jam lagi.


Kabar tak mengenakkan datang satu jam kemudian. Orang mereka kehilangan sang putra mahkota Qavi, putra sulung Ezra belum kembali ke Hotel padahal jadwal check-out dua jam lagi.


Jika tidak ada aral, seharusnya Shan dapat lebih dulu tiba di Dubai sebelum Maira.


Dila cemas, dia berkali-kali meminta pada Ezra agar menjaga anak dan menantunya disana. Ingin menyusul sekaligus menjenguk Asyraf Hamid namun si kembar baru-baru ini tengah sakit membuat niatan Nyonya Qavi berkumpul dengan keluarga di negara penghasil minyak itu tertunda.


Hari yang ternyata sangat sibuk bagi Adnan. Dia mengatur laskar milik sang Nona agar melaporkan hingga majikannya take-off. Mengontrol kebun siap panen serta menyiapkan segala kebutuhan bagi keluarga Mahen kala di USA nanti.


Beberapa jam selanjutnya.


Maira sudah lepas landas. Tak banyak yang dilakukan gadis ayu itu diatas burung besi yang membawanya. Dia fokus mengingat sosok pria muda dibawah usianya dan berstatus sebagai suami kini.


Bibirnya mengulas senyum kala melihat gumpalan awan diluar jendela.


"Aku gak tahu, nanti kalau ketemu mau bilang apa," lirihnya melempar sebaris kata manis.


Masih enam jam perjalanan, Maira memilih tidur dalam kabin bussiness classnya. Dia mengenakan jaket milik Shan untuk menghalau dingin, berharap ketika landing nanti, ia tidak terlihat lelah.


Pasangan Guna pun tengah bersiap melakukan penerbangan panjang dengan rute berbeda dari Maira, tak lupa menitipkan Mifyaz pada Mega juga Rey selama mereka pergi beberapa hari.


...***...

__ADS_1


Jeddah.


Shan kembali ke hotel tepat saat limit waktu untuk check-out akan habis. Kala baru saja memasuki lobby, dirinya di hampiri dua orang pria yang menunjukkan identitas sebagai pengawal Asyraf Hamid.


"Tuan Muda, Anda diminta segera bersiap terbang saat ini juga dengan menggunakan pesawat pribadi Nyonya besar menuju Dubai, sebab Nyonya muda Mahya menunggu Anda disana," ujar salah satu pria.


"Ai menyusulku?"


"Benar, beliau akan menghadiri Wisuda lusa nanti," imbuh pria satunya lagi.


"Kok ayah gak bilang, sebentar aku mengurus ini dulu ya," pria muda keturunan Qavi bergegas.


"Kami mencari Anda sejak satu jam lalu, Tuan Muda," ujar mereka. Shan tak memedulikan lagi penjelasan kedua pria itu. Dia terburu menuju kamar lalu berkemas dan meninggalkan hotel.


"Waktunya mepet banget ini, Ai maaf ya, Sayang," keluh Shan saat dia melakukan payment tambahan di FO.


"Masih terburu, Tuan. Nyonya Mahya hanya memiliki waktu satu jam transit disana sebelum menuju California."


"Allah, maafkan aku membuat istriku kesusahan," sesal Shan.


Putra Ezra kini telah masuk dalam kabin mobil mewah, tak lama kendaraan roda empat itu melaju kencang. Dia mengaktifkan tab yang di bawanya, berusaha terkoneksi dengan Maira.


"Susah, Maira off. Eh, nomerku yang ini kan dia gak save ya, karena khusus untuk pekerjaan tidak sebagai komunikasi harian. Bodoh Shan, bodoh!" gerutunya memaki diri sendiri.


Rombongan pria bersetelan jas hitam berjajar rapi menyita perhatian. Shan berusaha membaur namun apa daya pengawalan sang Oma amat mencolok. Dia menjadi center view di Bandara.


"Lain kali jangan seperti ini, mengacaukan kepentingan publik. Sudah aku katakan, kedudukan manusia itu sama. Jika masih begini, aku gak akan ikut dengan kalian, sampaikan pada Oma!" Shan menegur keras para bodyguard neneknya itu saat akan memasuki kabin pesawat.


Tersisa waktu tiga jam menuju Dubai. "Please, salahku karena terlambat check-out. Bisakah sampai tepat waktu?" tanya Shan pada co-pilot saat dia telah didalam pesawat mewah milik sang Oma.


"In sya Allah, semoga saat approach lancar sehingga dapat landing di tujuan," sahutnya.


Shan hanya bisa pasrah, berdoa semoga Allah berkenan memudahkan urusan hari ini. Bibirnya tak kering mengucap sholawat, mengingat wajah ayu sang istri yang lebih dari satu pekan dia tinggalkan.


Tiga jam kemudian.


Pesawat Maira baru saja landing, namun passenger dilarang langsung meninggalkan pesawat karena salah satu penumpang mendapat serangan jantung disana. Sehingga proses evekuasi pun dilakukan.


"Kak, alhamdulillah Dubai."


Lima belas menit kemudian, satu persatu penumpang telah diperbolehkan meninggalkan kabin mereka.


Setelah melewati beberapa petugas pemeriksaan, kini kedua wanita muda menunggu di boarding lounge. Nyonya Shan Qavi mengaktifkan ponselnya dan mengabarkan pada Adnan.


Sebuah notice pesan masuk. "Nona, mohon Anda menunggu sebentar, tiket terusan telah disiapkan. Akan ada Nyonya Sabrina yang menemani selama Anda di sana." Maira membaca pesan seksama.


Tak lama setelah Maira membaca pesan dari Adnan, suara lembut wanita menyapa di sampingnya.


"Halo, Maira. Aku Sabrina, Shan sebentar lagi landing kok, pesawatnya sedang meminta izin agar dapat mendarat disini." Sabrina menghampiri kedua wanita muda disana, lalu berkenalan dan saling membagi cerita ringan.


Beberapa menit kemudian. Ponsel Sabrina kembali berdering.


"Appa! Sharjah? are you crazy, dari sana ke sini butuh waktu empat puluh menit. Kau tidak bilang bahwa itu pesawat Asyraf Hamid? Ok, segera!" Sabrina gusar.


"Kenapa Onty?"


"Shan tidak dapat landing disini sebab air traffic padat. Dia diarahkan ke Bandara Sharjah, tiga puluh lima menit dari sini," terang Sabrina.


"Waktuku mepet sekali," cemas Maira.


Sabrina menepuk tangan Maira yang berada dipangkuan.

__ADS_1


"Amankan jalur, beri keluasan tapi jangan membuat onar dan terlalu kentara. Shan gak suka berlebihan. Aku nanti kena imbas amukan anak itu," titahnya pada para anak buah.


Diatas pesawat.


"Ya Allah, ada aja halangannya. Sayang, tunggu ya, semoga keburu meski cuma meluk kamu semenit doang," gusar Shan ketika mengetahui ia gagal landing.


Asyraf Hamid murka, namun Andre menahannya jika tak ingin mendapatkan amukan Shan. "Sabar, cucumu gak suka tersorot. Dia saja ngomel ke dua orang bodyguard kamu, saat penjemputan di hotel dan pengawalan di Bandara. Kita temani dia, namanya juga perjuangan," ujar Andre menenangkan sang istri kala mengetahui cucunya dipersulit mendarat disana.


"Kasihan Maira. Cucu mantuku," keluh Asyraf Hamid.


Begitu tiba di Sharjah, lelaki keturunan bangsawan itu langsung menaiki Kia Carnival yang akan membawanya menuju Bandara Dubai.


"Kenapa ada iringan? bubarkan atau aku nyetir sendiri!" tegur Shan lagi.


"Ini agar Anda lekas tiba. Waktu Nyonya sisa empat puluh menit lagi Tuan Muda, mohon kiranya Anda duduk tenang kali ini," pinta driver, pria itu menekan gas dalam, hingga mobil yang Shan tumpangi melesat.


Cucu angkat Asyraf Hamid tak berkutik, dia juga butuh ini namun nurani tak ingin mengganggu ketertiban umum. "Maafkan aku ya Allah, demi kepentingan pribadi merusak keteraturan," lirihnya.


Bandara Dubai.


Ratih sudah bangkit, bersiap mendorong koper Maia untuk check-in di gate keberangkatan lain menuju USA. "Nona, ayo," ajaknya pada Maira yang masih duduk ditahan oleh Sabrina.


"Tunggu beberapa menit lagi, Shan sedang kesini," ujar Sabrina mendekatkan walkie-talkie miliknya yang terkoneksi dengan para ranger.


Panggilan Announcement bergema.


Ratih terpaksa menarik Maira bangkit dan menuju lokasi gate mereka.


"Maaf ya Onty, sampaikan pada Kakak bahwa aku berusaha menemui dan menunggunya disini," ujar Maira mulai berkaca-kaca.


Sabrina tak kuasa menahan lebih lama, hingga akhirnya dia memeluk gadis ayu itu dan melepas istri Shan pergi.


Beberapa kali, pandangan Maira masih menoleh ke belakang, namun asa itu nihil. Air mata pun mulai menetes tanpa sengaja membasahi lantai marmer Bandara, usahanya terasa sia-sia.


Mereka adalah passenger akhir pesawat yang akan membawa ke USA.


Diluar Bandara.


Shan turun dari mobil saat kuda besi itu belum sempurna berhenti dan terparkir. Dia berlari sekencang yang ia bisa. Harapannya tumbuh kala melihat Sabrina di waiting room.


"Onty!"


"Shan, Maira baru saja pergi, kejar!" Sabrina langsung mengarahkan sang keponakan kemana dia harus meneruskan langkah.


"Ai. Sayang, Aaiii," seru Shan mengundang perhatian, kala melihat jaket miliknya yang dipakai Maira.


Wanita itu menoleh, ingin berbalik namun langkahnya dihadang petugas dan ditahan oleh Ratih.


"Kak!" seru Maira, melempar senyum manis seiring tetes bulir bening.


Shan tertahan di pintu kaca. Nafasnya terengah.


"Maaf, Sayang, maaf. Aku akan menyusul segera," Shan meminta Maira tak mendekatinya. Dia mengisyaratkan dengan gerakan bibir lalu melambaikan tangan disertai senyuman melepas istrinya pergi.


"Kaaakk."


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Tolong, ritme bab ini cepat amat yaa 🙄...


__ADS_2