ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 69. OBROLAN DUA PRIA


__ADS_3

"Really? ... Fayyadh, aku minta maaf jika datang secepat ini membawa cinta untuk Maira, tentu sangat menyakitkan bagimu," ungkap Shan.


"Hmm, sakit karena ketidakberdayaan melawan hatiku. Nyatanya dia telah memilihmu, lalu aku bisa apa? nothing to do. Menanggung beban karena mencintai seseorang yang tak pernah bisa digapai hanya akan dihantui rasa penyesalan dan kesengsaraan nan konyol. Aku baru sadar ini, Shan. Terlebih kau datang," tutur Fayyadh.


"Niatku datang hanya untuk menghindari terjadinya pertengkaran. Mengaku salah meski ini garis nasib menurutku jauh lebih baik dibandingkan saling mengolok dan merasa benar sendiri," sambung Shan.


"Yang datang dari Allah semua baik kan Shan? dan seperti yang kamu bilang, bukan salahku, atau siapapun sebab mutlak hak Allah ... kemarin kamu lihat dia nangis kan? nah Maira bilang akan stay bahkan belajar mencintai. You're a lucky guys, Shan. Do'ain aku juga menemukan seorang gadis yang mau diajak ibadah sama-sama dalam segala hal," ujar Fayyadh.


"Biidnillah ... hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa 'alaihi tawakkaltu wa huwa robbul 'arsyil 'adziim," Shan mengucap doa.


"... tawakkaltu wa huwa robbul 'arsyil 'adziim," lirih Fayyadh menyambung, mengikuti doa Shan.


"Ahsana ilaik, Raden Mas Althafaris Fayyadh. Syukran innakum qaddaitu waqt ma'ana," balas Shan setelah obrolan panjang keduanya. (semoga Allah membalas banyak kebaikan untukmu dan terima kasih telah meluangkan waktumu hari ini untukku)


"Syukran innaka djiit an nahaar dah, Ana ata'allamu haajatin katsir awi bishababak," balas Fayyadh. (thanks sudah datang hari ini, aku banyak belajar darimu)


"About?" tanya Shan.


"Everything, you have shown tremendous strength, fortitude about this situation," ujar Fayyadh lagi. (kamu telah menunjukkan keteguhan, keyakinan dalam situasi ini).


Shan tersenyum. "You too, survive and go through it with persistence and positive thinking to be free of the problems," balasnya tak kalah memuji. (kamu pun, bertahan dan melewati ini dengan keteguhan dan berpikiran positif untuk keluar dari masalah).


"Sudah jelang siang, aku banyak sita waktumu. Maaf sekali lagi," ujar Shan berniat bangkit.


"Aku free, besok baru masuk. Shan, in sya Allah aku gak akan menjauh dari kalian. Kedatanganmu ke sini, membawa makna tersendiri dan membuka opini lain bagiku ... titip Maira, cuma kamu yang bisa mengimbangi sepupuku itu. Kaffah dan sekufu," kagum Fayyadh pada sosok saudaranya ini.


"Alhamdulillah. Ku kira bicara denganmu akan sulit karena ya itu tadi," balas Shan.


"Awalnya iya, aku enggan. Tapi kamu datang dengan maksud baik yang gak kepikir olehku sebelumnya. Mungkin jika suami Maira bukan Lu, gue ogah," tawa Fayyadh terdengar.


"Gue paham. Thanks sudah jagain bini gue sejak belia ya," balas Shan, tergelak seraya bangkit.


"Jiah, Bambaaamg Lu. Jangan lupa do'ain, doa hafiz pasti didengar," imbuh Fayyadh mengiringi saudaranya.


"Hafiz bilang hafiz, gak enak. Sama-sama doa. Aku langsung pamit ya, sekalian umroh dulu baru pulang," balas Shan. Merangkul saudaranya.


"Fii amanillah, Shan."


Keduanya berpisah. Shan menuju hotel kembali dan Fayyadh urung olah raga, dia memilih pulang ke flat karena mentari mulai terik.


"Shan, terima kasih telah menurunkan ego. Ku akui, kamu gentle. In sya Allah ikhlas, sebab Maira ada dalam naungan pria tepat. "

__ADS_1


"Fayyadh, thank's telah menerimaku dan berjanji tidak menjauh. Semoga gadis sholihah segera engkau dapatkan sesuai keilmuanmu."


...***...


Jakarta.


Maira merengek pada Magen agar diizinkan ke tempat latihan berkuda. Dia ingin menyusuri beberapa ingatan disana mumpung sang ayah tidak pergi ke mana pun.


"Izin Bunda dulu. Kamu baru baikan, Sayang. Lagian masa pergi tanpa izin suamimu," ujar Mahen.


Maira diam. "Sudah Bunda izinkan tapi gimana hubungi El?" tanya gadis ayu.


"Bentar, Ayah call Ezra."


Lama sambungan tak terjawab, hingga di nada terakhir, lelaki itu membuka suara.


"Assalamu'alaikum, Mas," suara Ezra diujung.


"Wa'alaikumsalam. Shan sudah di Dubai? Maira minta izin pergi, bisa tolong sambungkan?" pinta Mahen.


"Hmm, Shan ke Jeddah ternyata, anak itu menemui Fayyadh. Aku hubungi staff Oma nya yang mengawasi disana ya, Mas," ucap Ezra terus terang.


Ezra mengerti dan berjanji akan menyampaikan pesan sang besan.


"Maira, pergi besok saja. Suamimu lagi di antah berantah. Pergi kok gak bawa handphone, Shan Shan, ada-ada aja," gerutu Mahen atas sikap menantunya.


"Antah berantah gimana maksud Ayah. Dia ngilang? ninggalin aku?" Maira mulai senewen.


"Ini lagi, baperan. Shan umroh, Sayang. Dia lagi do'ain kamu, agar rumah tangga kalian adem selalu meski Ayah kurang suka caranya," keluh Mahen lagi.


"Mungkin awalnya hanya ingin menemui Fayyadh. Bunda yakin, mereka sudah saling berbagi rasa hingga keputusan umroh tiba-tiba muncul. Dia ikhtiar jemput ridho Allah langsung ke rumah-Nya. In sya Allah niat Shan baik," bela Naya untuk Shan.


"Bela teruuuuuss," celoteh Mahen.


"Loh harus. Kan Shan gak neko-neko. Keluarganya juga menyambungkan kita, memfasilitasi, menjaga dia meski dari jauh. Apa artinya jika bukan kepedulian dan tanggung jawab pada Maira? bisa saja kan El Qavi cuek," sambung Naya, dia baru tiba dari siaran pagi.


Maira hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya berdebat tentang Shan.


"Apa kamu senyam-senyum?" Mahen nampak masih kesal.


"Gak apa, cuma El yang bikin Ayah kagum sekaligus kesal," jujur Maira melihat respon sang Ayah.

__ADS_1


"Hem, dia serba bisa mengaduk perasaan. Maira main game panahan ditaman yuk, buat latih otot lengan kamu tuh yang kelamaan rebahan," ajak sang Ayah kemudian diangguki Maira antusias.


Naya hanya menggeleng atas kelakuan keduanya. Wajar jika banyak yang mengira sang suami itu mempunyai sugar baby, Mahen menyayangi Maira sedemikian rupa.


Satu jam berlatih.


"You can do it, Ai."


"Maira?" Mahen khawatir, putrinya memegang kepala.


"Dia calon istriku."


"Maira, Sayang." Mahen mendekat, menyentuh lengannya.


"Ai dalam bahasa Jepang artinya cinta, kasih sayang, lembut ... nama kamu lengkap, Mahya Humaira. Ahya atau Ai, sama indahnya ... choose the one only."


"Ok ... Sayang saja kalau begitu ... Shobahal Kheir Ai, aku duluan ya. Take care."


"Maira!" Mahendra mengguncang badan sang putri.


"Hah? apa?" Maira membola, dahinya keluar banyak peluh.


"Kenapa, sakit lagi?"


"Yah. Dia, aku--" bibirnya bergetar.


"Pelan-pelan, Maira," Mahen menyeka bulir bening sebesar biji jagung dari pangkal alisnya.


Wajah ayu princess Kusuma memucat. "Su-suara itu makin jelas. Suara El, Yah. Aku ingat suaranya, aku ingat," Maira memeluk sang Ayah. "Aku ingat dia memanggilku Ai, meminta memilih antara Ai dan Ahya, aku tahu arti panggilan darinya yang hanya untukku," putri Naya kian erat memeluk sang Ayah, isakan bahagia bahwa dia mampu mengingat nama khusus yang Shan sematkan padanya.


"Alhamdulillah ya Allah." Mahen mengusap kepala putrinya.


...***...


"Mekah Al Mukaromah. Satukan kami, bila banyak kebaikan didalamnya ya Allah, kembalikan dia utuh padaku bila Engkau ridho."


.


.


..._____________________...

__ADS_1


__ADS_2