
Jakarta, petang.
Kondisi emosional Maira telah jauh lebih baik setelah diagnosa siang tadi. Kesimpulan para petugas medis yang memeriksa princess Kusuma menunjukkan perkembangan signifikan.
Maira meraih surat diatas meja, bersiap membukanya.
"Makan dulu," ujar Naya saat melihat putrinya memegang kertas berwarna Jingga.
"Nanti, Bun. Baca dulu."
Naya mengalah, dia mengikuti keinginan Maira. Gadis itu perlahan membuka pesan sang suami disana.
"Assalamu'alaikum Sayang. My Ai, My Ahya."
Maira tersenyum membaca sapaan kalimat pertama, pipinya terasa hangat, merona. Dia meraba dada, memejamkan mata seraya melipat kertas di sana.
Degh.
Degh.
Degh.
"Ciyyee, nervous ya. Shan nulis apa sih?" selidik Naya ingin tahu penyebab Maira baper.
Gadis ayu itu tak menjawab, hanya senyum mengembang diwajahnya.
"Sayang, maaf bila aku tidak ada disisimu saat ini. Aku menemui Oma, entah mengapa tapi nasihatnya ku butuhkan saat ini. Juga do'akan agar upayaku bicara dengannya dapat merajut kembali kecanggungan yang sempat terjadi."
"Aku gak tahu isi pembicaraan kalian kala di Bandara. Tapi aku selalu percaya kepada Allah, bahwa kita dipertemukan atau bila nanti dijauhkan tentu just for a reason, right? Sebelum waktu itu tiba, aku ingin kita selalu bersama dalam pelukan cinta hingga ada alasan yang tepat mengapa harus berpisah."
"Tatapanku mungkin terhalang jarak dan waktu saat ini, namun hatiku selalu merindu. Ai, jaga kesehatan ya. Tunggu aku kembali menemuimu, entah kau suka atau tidak. Dan bila saat itu tiba, ku harap masing-masing kita telah menemukan jawabannya."
"Love you Sayang."
Maira tersenyum diiringi satu bulir bening yang jatuh. "Janji ya, kamu kembali," lirihnya.
"Maira, Bunda boleh ikut baca?"
Putrinya mengangguk, menyerahkan kertas bertulisan tangan rapi. Netra Amber Ainnaya memindai barisan kata disana. "Maa sya Allah, Shan menemui Oma nya hanya untuk mendengar nasihat langsung? dan apa mungkin akan bertemu Fayyadh, bicara dari hati ke hati sesama pria? duh, gentlenya menantuku," puji Naya.
"Dia akan balik sini, kan Bun?" lirih Maira.
"Kalau Shan gak balik sini, kamu kejar dia. Pertahankan apa yang menurutmu pantas untuk diperjuangkan, Sayang ... hatimu masih ragu?" selidik sang Bunda.
"Suara dia dan yang bergema di telinga, sama. Aku belum dapat melihat wajahnya. Tapi aku merasa tenang bila ada El, entah."
"In sya Allah semua akan menjadi terang. Maira, ayo makan yang banyak. Lekas sehat. Dua pekan lagi kamu ikut wisuda lebih awal dari jadwal. Jangan sampai saat Shan pulang, kamu justru kuyu," bujuk sang Bunda.
Menantu El Qavi mengangguk, mengikuti arahan Naya agar tetap menjaga kesehatannya.
"Besok boleh gak, ke Istal Bun? sama Ayah?"
"Boleh. Kalau esok pagi lebih segar," pungkas Naya.
"Aku menunggumu disini, El."
...***...
Timur Tengah.
Asyraf Hamid meminta Andre, untuk menjaga Shan dari kejauhan. Feelingnya mengatakan bahwa sang cucu tak lantas menemui.
Kiranya benar prediksi sang saudagar kaya raya. Shan tiba di Dubai menjelang maghrib, dia langsung menuju Mushola dan berniat melanjutkan perjalanan menuju suatu tempat.
__ADS_1
Andre telah menunggu cucu tampan disana, berada dua shaf dibelakang Shan.
Setelah semua jamaah keluar dari tempat ibadah, Andre duduk disebelah Shan.
"Shan, ahlan. Apa kabar?"
"Eh Opa, ahlan biik. Assalamu'alaikum, Oma gak ikut?" tanya Shan sembari salim.
"Wa'alaikumsalam. Oma gak enak badan. Mau kemana? Opa antar atau di temani Rois," tawar Andre, mengusap kepala cucunya.
"Jeddah. Menemui Fayyadh. Apa langkahku salah?" tanya Shan ragu.
"Kita ngobrol di luar yuk, biar lega."
Andre menikahi Asyraf Hamid setelah Dilara memilih kembali pada Ezra. Wanita ayu itu sakit dalam kurun waktu yang lama hingga dia menawarkan diri untuk menikahinya agar dapat merawat Asyraf Hamid.
Setelah memasuki salah satu cafe and lounge di Bandara. Andre mulai mendengar kisah Shan.
"Jadi menurut Opa, aku salah gak?"
"Enggak. Temuilah dia agar hatimu juga lega. Bicara dari hati ke hati antar sesama pria bisa meneguhkan kembali hubungan kalian. Dia pria baik, Shan. In sya Allah akan menerimamu. Namun apabila Fayyadh menolak, kamu tak harus memaksa. Hargai keputusannya toh sudah berusaha kan?" pesan sang Kakek angkat.
"Jaga Maira, sayangi dan perlakukan dengan baik meski hatinya belum utuh terhadapmu. Nanti kita pulang ke Indo saat kamu resepsi. Hati-hati ya, Nak," pesan pria berkharisma itu.
Shan mengangguk. "Ya kheir. Aku langsung ya Opa, ambil rute sini cuma agar Bunda tenang aja sih. Tujuan utamaku Jeddah," ujar Shan pamit.
Suami Asyraf Hamid, tersenyum. "Opa paham, nanti kita bantu jelaskan ke Ayah Ezra. Jangan lupa mampir sini sebelum pulang. Temui Oma dulu," pintanya lagi, diangguki Shan
Andre ikut mengantar cucunya hingga ke depan gate keberangkatan rute lain, melepas pria muda itu kembali terbang ke Jeddah.
...***...
Jeddah.
"Maaf, aku menyelidikimu. Kita impas bukan? karena kau pasti melakukan hal yang sama," senyum samarnya menghias wajah tampan.
Tak butuh waktu lama, sebelum tengah malam, Shan tiba di hotel dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Menyiapkan segala sesuatu untuk esok pagi, berusaha menjalin komunikasi saat Fayyadh sedang santai.
"Ai, Sayang. Sedang apa ya?" lelaki Qavi membuka balkon kamar, menyesuaikan suhu tubuh dengan udara sekitar sebelum mandi dan beristirahat.
"Kangen kamu, Sayang. Padahal belum sehari, apa jadinya bila kita pisah ya," gumamnya memandang bulan separo.
"Kalau liat warna Jingga itu, langsung keinget sama kamu."
Shan menghela nafas. Menyiapkan mental untuk bertemu rival cinta esok hari. Tak lama, lelaki itu masuk ke dalam kamar, mengunci balkon dan bersiap tidur.
Keesokan Pagi.
Ba'da subuh, putra Dilara sudah berjalan-jalan pagi keluar Hotel. Dia sengaja mengulur waktu hingga tiba saat pria Kusuma menampakkan diri.
Satu jam kemudian.
Terlihat Fayyadh keluar flatnya. Dia memakai jaket hoodie dan celana jogging, persis dirinya kini. Shan pun mulai mengikutinya, perlahan mensejajarkan langkah.
"Shobahul kheir."
"Sho--" Fayyadh berhenti. "Shan?" dia terkejut, celingukan ke sekeliling.
"Aku sendiri, sengaja pengen ngobrol sama kamu Fayyadh," balas Shan mengerti lelaki sabaya ini shock melihatnya.
"Allahu akbar, kenapa gak disana aja? Astagfirullah, jauh banget nyusulin aku," Fayyadh menepuk lengan Shan.
"Gak ada spare waktu buat kita. Bisa bicara?" ujar Shan kemudian.
__ADS_1
"Tentang apa? jika Maira, closed. Pergilah," elak Fayyadh, dia melanjutkan berlari.
"Fay, Fayyadh. Dengar aku dulu. Sepuluh menit, Ok? gak lama. Jika kamu enggan setelah aku bicara, pergilah. Aku ngerti," cegah Shan menahan lengannya.
"Enteng banget ya, Lu nempuh jarak belasan jam, ribuan mil cuma untuk sepuluh menit?" sergah lelaki Kusuma.
Shan mengedikkan bahu ke atas. "Apa boleh buat jika Lo nolak bicara. Ini demi Ayah Mahen, bukan buat gue."
Degh.
"Ayah?"
"He em. Demi Kusuma, bukan Qavi. Kalau hanya ngurusi perasaan Lo sih gampang. Gue gak ambil peduli, but ini Ayah, Bunda juga Abi Amir. Kita bicara dimana? gue yang traktir, jangan kuatir," ujar Shan lagi.
"Sombong amat!"
"Wajib. Rival gue Pangeran Kusuma," gelaknya lagi diikuti senyum samar Fayyadh.
"Iya, Lu hebat, melebihi gue segalanya, Shan."
Kedua pria tampan, yang sangat memancing perhatian kaum hawa, memasuki cafe tak jauh dari lokasi mereka tadi.
Setelah memesan dua porsi kudapan. Keturunan Ningrat itu mulai bicara.
"Buru, mo ngemeng apaan?" ketus Fayyadh.
"Sabar, sruput kopi dulu ngapa. Lo gak lagi pe-em-es kan?" Shan cuek, lelaki yang terlihat selalu rapi, menjaga tata krama, kini menarik kedua kakinya duduk bersila diatas kursi.
"Laki Maira ketauan bobroknya," cibir Fayyadh lagi, melihat sikap cuek Shan di cafe.
"Tetep ganteng, masih aman kok." Shan tertawa, ternyata Fayyadh bisa diajak santai.
Setelah sebagian makanan telah berpindah ke lambung masing-masing, Shan membuka percakapan serius.
"Bismillah. Aku gak tahu apa yang kalian bicarakan di Bandara. Namun apapun itu, ku harap tidak menjadikan hubungan antara aku, kamu dan Kusuma menjadi renggang. Bukan salah Ayah atau Abi, bahkan hati kamu atas segala keputusan, rasa cinta serta lainnya. Ini murni karena perjalanan nasib, betul kan begitu?"
"Hem. Bener."
"Surga paling nyata didunia bisa kita rasakan salah satunya berkat rumah yang dipenuhi kehangatan, seperti cabang pohon, tumbuh ke arah berbeda, namun akar kita tetap bersatu. Jangan menjauh sebab gak akan bisa," ucap Shan.
"Ayah ada diposisi sulit sejak awal. Bukan salah cintamu karena segalanya milik Allah, benar kan?"
"Absolutely. Aku tahu itu, Shan. Tapi tetap sakit. Salah gue sih, maksa," keluh Fayyadh.
"Beberapa orang berpikir bertahan membuat kita strong, tetapi kadang-kadang justru kekuatan ada karena melepaskannya. Jangan pernah bilang bahwa tiada lagi wanita sebaik Maira, jika kamu masih ngarep, meski tahu bahwa dia wanita yang salah untuk di cintai," tegas Shan.
"Dih, jleb banget sih."
"Itu buat gue juga, kan butuh teman menghibur diri," seloroh Shan diselingi tawa.
"Mantu Ayah, eror." Fayyadh tergelak.
"Eh, Shan. Dia milih kamu ... hmm, ninggalin Maira adalah keputusan yang terbaik daripada mendapatkan cinta palsu. Aku mengalah karena percaya, kalau kamu memang untuk Maira. Sejauh apapun Lu pergi, bahkan andai ingatan itu tiada kembali. Dia sudah jatuh cinta dengan antum, Shan," ungkap Fayyadh.
Lelaki Kusuma menceritakan ulang semua kejadian kemarin.
"Really?"
.
.
..._________________________...
__ADS_1