ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 72. KEKEPOAN FIORA


__ADS_3

Ting. Notif e-mail masuk ke ponsel Fayyadh.


Lelaki yang sedang santai menikmati segelas es kopi didalam flat itu membuka aplikasi pada gawai yang masih dia genggam.


Fayyadh membuka satu persatu slide berkas disana. Membaca pelan proposal cinta milik Afra.


Bibirnya mengulas senyum. "Kamu pinter banget ya ternyata. Eh buku dari dia mana ya?" Fayyadh meletakkan ponsel diatas ranjang, dia lalu menuju meja belajarnya dan menarik satu buku dengan cover biru berjudul Kenalan dengan Grafology..


Saat akan membuka sampulnya. Sesuatu jatuh disana dari dalam buku. "Apa ini?" Jemari pria tampan itu meraih kertas yang jatuh tepat di telapak kakinya.


"Assalamu'alaikum, Fayyadh."


"Buku adalah sahabat orang berilmu. Saat mereka berkomunikasi dengan semua kalimat didalam setiap halamannya, terselip harapan pada semesta, semoga untaian kata dapat membawa si pembaca ingin mengenal lebih jauh dengan sosok penulisnya."


"Setelah beberapa kali pertemuan kita, ternyata aku mulai mengagumimu dari jauh, menikmati setiap jengkal ciptaan Tuhan yang sempurna terpahat dalam benakku."


"Juga berterima kasih pada-Nya karena bisa mengenalmu walaupun tak tersentuh olehku. Aku bahkan tidak tahu cara mendekatimu, kecuali mendekat kepada Rabbi."


"Memberanikan diri menulis ini karena aku percaya bahwa doa adalah penyampai amanah terbaik. Semoga engkau selalu sehat dimanapun berada, dimudahkan segala hajat dalam perjuangan menimba ilmu hingga hasil maqsud dan maslahat bagi Ummat. Aamiin."


"Afra Arundati."


Fayyadh menimbang, dia membaca lagi tulisan di proposal itu. Syaratnya adalah, bersedia untuk disiapkan menjadi penerus sang ayah dalam organisasi, termasuk pengurusan parpol juga hal lain berkenan dengan itu.


"Menikah itu bukan cuma aku dan kamu, tapi keluarga. Jika Maira saja lebih mementingkan perasaan seluruh keluarga besar hingga menekan rasa padaku, maka aku pun akan berlaku demikian."


"Afra, sejujurnya kamu gadis yang menarik. Tapi ujung semua ini pasti bergelung dengan pertarungan batin antara aku dan Umma. Rasa hati gak sanggup, sebab posisi sebagai anak lelaki tetaplah milik ibunya. Sementara aku, ingin memuliakan istriku juga."


Fayyadh bermonolog kala membaca ulang banyak prestasi wanita muda itu disana. Visi misi membangun keluarga yang tak berbeda jauh dengannya.


Pria tampan kebanggaan Kusuma lalu menulis sebuah pesan balasan dalam noted ponsel.


"Hai Afra. Maaf baru baca pesan kamu ya. Terima kasih sudah menjadi pengagum rahasia aku selama ini."


"Kamu cerdas, mandiri juga menawan, insya Allah sholihah. Sekalipun belum pernah melihat wajah ayu dibalik niqab tapi aku yakin bahwa Allah selalu menciptakan mahlukNya, terutama wanita dengan segala keindahan."


"Janjiku pada Umma gak bisa aku langgar, maaf. Dan aku tidak ingin mengikat mu agar menunggu untuk satu hal yang tiada bisa ku pegang teguh, sebab kalbu adalah milik-Nya."


"Semoga kamu berjodoh dengan lelaki sholeh nan kaffah atau jika mungkin kamu memang jodohku, tentu Allah akan mempertemukan kita kembali pada masanya. Aamiin."


Fayyadh menghela nafas panjang.


"Alhamdulillah. Sambil istikharah minta gadis sholihah hadir disaat tepat. Bukan untuk hatiku, tapi Umma. Aku akan berusaha menerima dia jika ibuku sendiri yang memilih," lirih Fayyadh.


Putra sulung Amir melangkah menuju mini balkon flat nya, membawa segelas kopi yang mulai tersisa gumpalan kecil es batu.


"Fio, sedang apa?"


Terbersit ingatan tentang gadis cantik berambut coklat di sana. Bibirnya mengulas senyum.


"Saat pakai kaftan, kamu bagai setengah muslimah. Umma pasti happy ya bisa sering komunikasi sama kamu, serasa ada teman," gumam Fayyadh, menyeruput minuman hingga tandas ditemani hawa panas angin gurun.


Ting. Notif ponsel Fayyadh kembali berbunyi.

__ADS_1


Fayyadh masuk, menutup pintu balkon dan gordennya.


Dia lalu merebahkan badan diatas ranjang, meraih benda pipih yang tergeletak disana. Jemarinya lincah membuka grup pesan.


Supplier Floffy Craft.


"Selamat malam. Maaf mengganggu waktunya Den Mas Wisesa dan Mas Fayyadh. Mau tanya sesuatu boleh? tapi diluar bisnis," Fio mengetik pesan.


"Malam Non Fio. Silakan," Abah menjawab.


"Oh ya. Panggil Abah saja, lebih enak begitu. Non Fio sudah Abah anggap cucu," imbuh Abah lagi.


"Ciye, cucu dari mana, Bah?"


"Nemu, Mas. Dikasih sama Allah," jawab Wisesa asal.


"Malam, Fio. Tanya aja yang banyak, gak bayar kok," Fayyadh men-tag Fiora.


Fiora mengirimkan emot tersenyum. Dia bahagia bagai mendapatkan es dawet satu gerobak.


"Aku tag admin ku dulu. Kalian keep silent ya. Thankyou." Fio mengultimatum.


"Baik Non."


"Saya gak baca, Non." Jawab kedua admin Fiora.


"Abah, panggil Fio saja jika begitu. Hmm, aku mau tanya tentang kisah Asiyah istri fir'aun. Mengapa beliau begitu pasrah pada Tuhan atas nasibnya?"


"Mas, jawab." Titah Abah pada Fayyadh.


"Mengapa demikian? karena hal itu menciptakan derajat tinggi di hadapan Allah hingga Asiyah meraih kemuliaan."


"Jadi harus pasrah kah jika ingin mendapatkan kemuliaan?" desak Fiora.


"Abah atau aku yang jawab?" tanya Fayyadh.


"Mas, lanjutkan."


"Bismillah. Fio, maaf ya, sekali lagi ini adalah sudut pandang ku dan Abah. Bukan sa-ra atau diskriminasi."


"Iya Mas, aku paham."


"Kita dianjurkan Tuhan agar selalu berpasangka baik bahwa dibalik peristiwa buruk ada kebaikan menyertai. Memasrahkan diri pada Tuhan sebab Dia memiliki kekuatan tak terbatas. Pasrah juga modal ketenangan hidup setelah usaha tentunya," Fayyadh menjelaskan.


"Hamba yang pasrah biasanya memiliki energi positif hingga terhindar dari rasa kesiaan, putus asa dan lainnya. Dengan berpasrah diri kepada Tuhan, kita akan menjalani kehidupan tanpa keraguan, kegelisahan atau kekhawatiran berlebih. Serta menyadari bahwa sebaik-baiknya rencana manusia, jauh lebih baik rencana dari Allah untuk kita."


"Intinya begini Nak Fio. Pasrah setelah usaha, tetap berbuat baik meski lawan kita kurang baik agar selain mendapat ketenangan hidup, peningkatan iman, maka kemuliaan itu akan hadir dengan sendirinya atau bahkan Rahmat Tuhan turun asbab itu," Abah menyimpulkan.


"Oh begitu, alhamdulilah. Ngerti, berarti beliau ini mulia sekali ya, teguh memegang akidahnya. Aku sampe nangis," tulis Fiora.


"Maaf, Fio sedang belajar tentang apa?" tanya Fayyadh.


"Kisah inspiratif wanita muslimah juga shahabiyah. Gak boleh ya?" tanya Fiora ragu.

__ADS_1


"Boleh. Banyak hal positif yang dapat di ambil pelajaran dari kisah para pendahulu," balas Abah.


"Iya. Selamat malam semua. Fio pamit ya, Mas terima kasih penjelasannya. Aku lebih mudah mengerti," tulis Fiora lagi, dia men-tag Fayyadh.


"Mas doang, Abah enggak?"


"Eh iya. Abah juga. Syukron," imbuh Fiora.


"Afwan. Fio. Selamat malam."


"Afwan Fiora. Take care. Jangan lupa kalau mau melatih sabar bisa dengan puasa," sambung Fayyadh.


"Puasa apa?"


"Kami menyebutnya puasa Ayyamul Bidh." Lanjut Fayyadh lagi.


"Apa itu? aku boleh ikutan?"


"Bila tujuanmu untuk belajar menahan nafsu, selain lapar dan haus, melatih syukur dan sabar. Boleh saja," tuntun Fayyadh.


"Maaaas," tegur Abah.


"Hehe, gak apa Abah. Fio ingin tahu. Mas, silakan lanjutkan. Jangan sungkan, Aku baca kok."


"Ayyamul Bidh berasal dari kata Ayyam, artinya hari, ‘Bidh’ adalah putih. Lantaran di hari itu bulan terang benderang menyinari bumi nan hitam. Dan seolah menjadi putih karena cahaya tadi. Ini lalu dikaitkan dengan manusia yang penuh khilaf, dosa, sebab hitam dimaknai dengan maksiat."


"Wow, amaze. Lanjut, Mas."


"Puasa sunnah yang dilakukan di pertengahan bulan Hijriah, kalender islam, kecuali hari tasyrik." Tulis Fayyadh kian semangat.


"Kapan itu? berapa lama?" Fiora semakin tertarik.


"Tiga hari. Bulan ini jatuh pada esok hari, tanggal enam hingga delapan."


"Ok. Fio coba. Hm, kalau aku mencoba, harus pakai niat gak sih? kan kayak ramadhan itu ada niatnya, ini sama gak?"


"Sama Nak Fio, pakai niat. Boleh bahasa apapun. Contohnya, nawaitu shouma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta’ala," sambung Abah, kagum cara mencari tahu ala Fiora.


"Kalau lagi itu ... hmm anu," ragu Fiora.


Fayyadh paham. "Sedekah subuh Fio, mengucapkan doa saat menjelang subuh, kalau muslimah biasanya perbanyak sholawat dan dzikir," tulis Fayyadh menegaskan maksud Fiora jika wanita sedang dalam masa haid.


"Mas. Udah paham aja, ciye," sindir Abah melihat kepekaan Fayyadh.


"Papa pulang, aku pamit duluan ya. Terima kasih banyak. Nanti Fio tanya lagi."


"Bye Mas. Assalamu'alaikum."


Fayyadh dan Abah hanya diam memandang gawai masing-masing di tempat berbeda, melihat tulisan Fiora disana, mengucapkan salam.


.


.

__ADS_1


...______________________...


...Selamat berpuasa sunnah guys....


__ADS_2