
Shan terpaksa mengizinkan Maira bertemu sepupunya itu sebab dia tak sengaja mencuri dengar percakapan multi call Naya dengan Dewiq dan Amir dimana sang mertua memaparkan tentang ingatan Maira saat kedatangan bersama mereka di Jakarta sebelum pernikahan Fatima. Juga, obrolan keduanya kala di pendopo belakang kediaman Abyan.
Sang mertua penasaran apa isi obrolan itu, Maira pun bersikukuh ingin bertemu Fayyadh guna memastikan perasaan setelah membaca jurnal yang dia tulis, sebab sebagian besar isi buku itu menceritakan sosoknya. Hanya dua halaman akhir, figur Shan terindikasi disana.
Inilah yang mendasari putra sulung Ezra. Meski keputusan isi hati Maira belum ditentukan, namun harapannya tinggal separuh. Mungkin princess Kusuma akan tetap menjadi istri Shan, namun hati wanita ayu itu tak dia miliki.
Maka Shan, memilih akan melepaskan apabila setelah pertemuan ini, dia mengetahui isi hati keduanya.
Dilantai dasar kediaman keluarga Guna.
Maira muncul bersamaan dengan para sesepuh yang akan meninggalkan mereka berdua disana.
"Kami pindah ke sebelah, pintu ruang kerja Ayah terbuka jadi kami tetap bisa melihat kalian dari kejauhan. Bunda menunggu di dalam," terang Mahen pada keduanya.
"Mas, jaga sikap. Hormati Shan meski dia tidak hadir disini," pesan Amir sebelum ikut dengan Mahen.
Setelah para Sepuh meninggalkan keduanya. Maira membuka suara.
"Hai Kak, apa kabar? maaf yaa ganggu jadwal liburan," sapa Maira seraya duduk di sofa single, berhadapan dengan Fayyadh hanya terpisah meja panjang di antara sofa.
"Alhamdulillah Kheir, apa masih ada yang terasa sakit?"
"Enggak begitu, hanya sesekali saja jika aku mengingat sesuatu, kepala ini rasanya mau pecah. Hm, aku ingin menanyakan sesuatu, boleh?" balas Maira.
"Fadhol, tentang apa?"
"Kak Fayyadh mencintaiku kah? apa yang terjadi setelah kita pulang bersama?"
"Iya, tapi tidak pernah aku utarakan padamu karena aku yakin kamu mengerti juga sebab janjiku pada Umma," jawabnya singkat. Fayyadh lalu menceritakan tentang ajakan untuk mengisi rumah yang sedang dia bangun dan diniatkan untuk mereka tinggali namun Maira menolak.
"Apakah kau juga melamarku?" selidik Maira. Dia lalu mencocokkan dengan apa yang tertulis di jurnal. "Tapi disini tidak ada," heran putri sulung Naya.
"Iya, setelah terjadi insiden saat kau mengawal Hubabah. Maira, apa kau ingat percakapan kita di pendopo multazam?" giliran Fayyadh kali ini mengajukan pertanyaan.
"Ehm, samar-samar. Apa yang Kakak utarakan saat itu, apakah aku menyiratkan satu harapan atau bahkan pernyataan cinta padamu?" tanya Maira lagi.
"Kamu hanya bilang menyerahkan semua ini pada keputusan Ayah dan keluarga besar ... Maira, aku penasaran tentang hal ini, apa kau mempunyai rasa yang sama padaku?"
Degh.
"Fayyadh!" seru Amir menegur keras putranya, dia mendengar samar pertanyaan itu.
"Abi, aku harus tahu perasaanya juga," bantah putra Aiswa, berseru agar didengar sang ayah.
__ADS_1
"Dia milik saudaramu. Maira lupa sesaat dan ingin mencocokkan ingatannya sebagai ikhtiar agar mengingat Shan. Tiada yang akan berubah, kamu sudah Abi peringatkan, Mas!" tegas Amir lagi.
"Kak, biarkan dulu. Mungkin ini juga salahku yang keliru menafsirkan arti isyarat Maira saat itu," Mahen mencegah Amir saat dia akan keluar ruangan.
"Lanjutkan, Sayang. Ayah mendengarkan," ujar Mahen pada Maira.
Gadis ayu itu mulai resah. Ada sebagian hatinya mendorong untuk mengatakan bahwa dia pun memiliki rasa yang sama. Namun logika menahan diri untuk menyampaikan hal tersebut.
"Hm aku ... jika aku cinta Kakak, mengapa menulis tentang El disini? menyebut kekagumanku padanya juga tentang jawaban istikharah yang ku dapat? aku bingung," suara Maira mulai tercekat.
"Jujur pada hatimu, Maira," ucap Fayyadh lagi.
"Raden Mas Althafaris Fayyadh!" kali ini Amir sudah tak sabar.
"Apa Bii? kan aku gak minta dia balas cintaku, cuma mau tahu saja meski ujungnya sakit."
"Lalu untuk apa? bukankah jauh lebih sakit apabila kamu tahu itu, Mas?" Amir mulai rak sabar. Putranya ikutan bebal macam Aiswa.
Maira diam. Salahnya kian fatal. Kini keluarga berseteru, sang ayah pun pasti akan merasa bersalah jika dia mengungkapkan secercah rasa suka pada sepupu di hadapan.
"Nduk, jangan khilaf dan terpancing godaan syaitan. Cinta, suka dan kekaguman itu berbeda. Bukankah Allah sendiri yang mengarahkanmu pada Shan? cobalah terus berusaha mengingat itu ya," Amir menghampiri Maira, mengusap kepala pelan lalu duduk di kursi samping sang putra, bergabung dengan mereka disana.
"Kok Abi disini?" keluh Fayyadh.
Maira kini bertanya pada Fayyadh. "Apa yang Kakak lakukan apabila mengetahui rasa hatiku?"
"Tidak ada. Mungkin hanya menyesal tak membujuk Ayah Mahen dengan sungguh-sungguh waktu itu. Karena Shan tak mungkin melepaskanmu, Maira," tutur Fayyadh lagi.
"Jika Ai memang menyukaimu dan kalian saling mencintai, aku akan mundur," ujar Shan berdiri diambang pintu dari dalam. Lengannya masih dipegang oleh Naya.
"Shan! gak gitu ... ini salah Bunda Nak, maafin Bunda yaa," Naya merasa ini akibat ulah yang mengungkap keinginan Maira pada Dewiq dan Amir.
"Enggak Bun. Memang harus begini, mungkin aku juga yang terlalu pede, merebut cinta Ahya."
"Ai, aku bukan tidak berjuang. Tapi jika kalian satu jiwa, tanda tiada kesempatan bagiku meski terus merangsek masuk. Dan ini kesalahan, kita akan sama terluka, bukankah tujuan berumah tangga untuk mendapatkan kemuliaan juga kebahagiaan? agar Rahmat Allah turun deras? bagaimana bila aku merusak semua dengan mempertahankan ego?" pungkas Shan pada para penghuni.
"Jawab saja, Sayang. Aku tak apa," balas Shan untuk Maira.
"Enggak. Maira jangan," mohon sang Bunda seraya terisak.
Mahen menepuk bahu Shan. Dia pun akan berlaku sama jika di posisinya. Untuk apa berjuang bila hasil akhir telah terlihat. Lelaki paruh baya itu juga merasa bersalah telah membawa sang putri mengalami pertarungan batin.
Maira gamang, dia menatap satu persatu wajah dengan berbagai ekspresi yang mengelilingi.
__ADS_1
"Sejujurnya jika membaca jurnal yang ku tulis, mungkin aku menaruh rasa suka pada Kak Fayyadh, tapi entahlah. Aku bingung," Maira menundukkan kepala, dia bimbang juga anehnya tak merasakan getaran rasa kala didekat Fayyadh. Padahal beberapa pekan lalu hatinya menggebu ingin bertemu.
Fayyadh menghela nafas, dia mengusap wajah pelan. Inginnya terus mendesak Maira.
"Kau i-ngin ber-samanya, A-ai?" suara Shan tercekat.
Maira menunduk tak mampu menjawab bahkan mendongakkan kepala menatap wajah teduh sang suami.
"Maira," lirih Fayyadh.
"Mas, diam." Amir menepuk lengan putranya.
"Jangan, Sayang. Bunda gak sanggup," Naya terisak di pelukan Mahendra.
"Apa Bunda keberatan mempunyai menantu sepertiku? aku pun akan sama berusaha keras membahagiakan Maira, Bun," Fayyadh merasa di rendahkan oleh kalimat Naya.
"Bu-bukan begitu, maksudnya." Naya menatap Mahendra memohon bantuan.
"MAS!" Amir gusar, putranya keterlaluan. Dia bangkit, menarik paksa lengan Fayyadh keluar apartemen.
"Bii, lepas." Fayyadh menepis tarikan sang ayah.
"Kak, Mas. Stay. Selesaikan disini," Mahen menahan mereka.
"Gak bisa Mas Panji, anakku lupa adab. Nanti kami kembali," tegas Amir memaksa pergi sejenak untuk meredam gejolak hati sang putra.
Mahen mengejar mereka, meninggalkan Naya. Sementara Shan menghampiri Maira, berjongkok di hadapannya.
"Jangan pikirkan aku, yang penting kamu bahagia, Sayang. Apa aku harus pergi sementara agar hatimu tenang untuk menemukan jawabannya?" tawar Shan, lembut membelai wajah ayu, menyeka air mata Maira.
Putri sulung Mahendra menggeleng samar. "Jangan pergi," lirih Maira. Dia ingin memeluk Shan namun meragu.
Pria tampan keturunan bangsawan Turki ini trenyuh, dia menarik Maira dalam pelukan, mendengar lirih isak wanitanya. "Sholat yuk. Biar tenang," ajak Shan, mengusap punggung nan bergetar halus, meski netra dan hatinya juga kian panas menahan getir.
"Maafkan Bunda, Shan."
.
.
..._______________________...
...ðŸ˜...
__ADS_1