
Dua bulan kemudian.
Keseharian Mahendra kini ialah setia menemani Maira sepanjang hari di dalam kamar. Lelaki paruh baya itu melakukan semua pekerjaannya di sisi ranjang sang putri. Bagai kisah sleeping beauty, dia menganggap Maira dalam fase ini.
"Kak, gimana menurut kamu? Job bulan depan, mengenai Eye-shadow yang di daulat menjadi pendamping team keamanan saat event Maulid Akbar di Istora, ambil atau enggak?"
"Kata Ayah, ambil sih biar Anis dan lainnya kian lincah dan expert. Ok gak?" ujar Mahen mengajak berinteraksi.
Hening, tak ada sahutan. Hanya bunyi alat deteksi pacu jantung juga suara buih oksigen yang terpasang di ujung tabung.
"Kata Onty Dewiq, semua organ vital kamu berangsur membaik. Jangan terlalu lama beristirahat ya Sayang, Ayah kangen Maira. Sangat," tegas Mahen lagi, seraya meraih jemari lentik lalu mengecupnya.
Rasa kehilangan juga kesedihan Kepala Keluarga Guna kental terasa. Maira adalah maha karya sempurna pemberian Yang Kuasa padanya. Sejak kecil, gadis ayu ini menjadi pelipur lara bagi setiap anggota keluarga Kusuma kala itu yang tak henti di gempur ujian.
Tak banyak yang dapat di lakukan oleh Naya, melihat kondisi psikis kedua belahan jiwa. Satu terbaring koma, dan satu lagi limbung bagai kehilangan separuh nyawa. Berkali-kali dia membujuk Mahendra agar tak menyalahkan diri sendiri namun tetap saja hasilnya nihil.
Tok. Tok. Pintu kamar Maira diketuk seseorang. Mahendra yang duduk di kursi sisi ranjang pun menoleh ke sumber suara.
"Maaf Pak, ada tamu di depan. Katanya sudah buat janji dengan Bu Naya, hanya saja beliau belum pulang," ujar Suster meneruskan informasi dari maid.
"Siapa, Mbak? darimana?" tanya tuan rumah.
"Oh lupa, beliau datang bersama Tuan Rey. Dari PIK katanya Pak, jadi gimana?" jelas Suster kemudian.
"Rey? minta dia menemuiku dulu," balas Mahendra, dia pun merapikan semua berkas yang berserak di atas ranjang Maira.
"Baik." Suster berbalik badan, akan menyampaikan permintaan sang majikan pada Rey.
Saat Suster hendak meninggalkan ruangan, terdengar langkah kaki seseorang mendekat.
"Bang," panggil suara seorang pria.
"Siapa Rey? perlu denganku atau Naya?" tanyanya, masih merapikan sisa berkas.
"Perlu dengan kalian berdua. Abang masih inget kan sama Arjuna," Rey mencoba memicu ingatan Mahen.
Arjuna salah satu keturunan dari trah Wardhani, memang tak seakrab lajur Danarhadi, meski sesama Kusuma. Karena Klan Wardhani tidak mempunyai agenda rutin pertemuan keluarga besar, terkadang menyulitkan mereka untuk terkoneksi secara cepat satu sama lain sehingga hubungan kekerabatannya kurang terjalin erat.
__ADS_1
"Ingat donk Rey, meski sudah lama gak bertemu semenjak covid. Dia masih di Surabaya kan? kenapa memang dengan Arjuna?" pikir Mahen, tak menemukan keterkaitan dengan tamunya.
"Ya itu, tamu Abang di bawah adalah kakak ipar Arjuna. Ezra El Qavi," ungkap Rey.
"Ezra? lupa, kekurangan keluarga uyut Wardhani gini nih. Giliran ada kerabat jauh sowan kan jadi gak begitu kenal," keluh Mahen, sembari merapikan pashmina putrinya.
Sebelum berlalu, dia berkata pada Maira. "Ayah ke bawah dulu ya Kak, ada tamu."
Rey membuka handle pintu keluar dari sana mengikuti kakaknya turun ke lantai dasar. Tepat saat akan menginjak anak tangga terakhir, Mahen berpesan pada Suster. "Mbak tolong temani Maira ya." Petugas medis itu pun mengangguk.
"Aku duga, Abang gak buka profile anak itu ya?" desak Rey lagi, saat mereka hampir mencapai ruang tamu.
"Belum sempat, Rey."
Tak ada lagi obrolan karena mereka telah tiba di ruang tamu. Mahendra langsung menyambut hangat pasangan yang menunggunya.
"Assalamu'alaikum, Mas Mahen," Ezra memberi salam pada tuan rumah.
Kedua pria saling mengulurkan tangan untuk berjabat, sejenak memeluk dan menepuk lembut lengan masing-masing.
"Wa'alaikumussalaam warohmatullah, Mas Ezra. Allah, puluhan tahun ya baru ketemu lagi kita ini. Terakhir saat walimah Arjuna jika tak salah," sambung Mahen mencoba mengingat perjumpaan antara dirinya dan Ezra.
"Begitu ya, belum takdir berarti. Silakan duduk ... apa kabar Nyonya dan El?" Mahen terheran, ada hubungan apa ini sebenarnya.
"Alhamdulillah, kheir," jawab sang Nyonya Qavi.
Saat maid menata hidangan di atas meja tamu, pintu apartemen terbuka.
Biip. "Assalamu'alaikum." Naya tiba dengan asistennya.
"Wa'alaikumussalaam." Suara penghuni di ruang tamu.
Wanita keturunan ningrat itu tersenyum ke arah tamunya, menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada pada Ezra dan menyambut uluran jemari Dilara. Keduanya pun cipika cipiki lalu saling memeluk.
"Sudah lama Bu Dila? maaf ya aku terlambat," ucapnya melepas pelukan dengan Dila lalu berbalik badan menuju tempat dimana Mahendra duduk. Dia meraih tangan suaminya untuk di kecup.
"Enggak, baru saja." Dilara pun duduk kembali.
__ADS_1
"Silakan sambil di sambi ya. Masih sibuk di DeHa ya Bu Dila? keren maa sya Allah, dengan semua programnya. Kawanku bilang sangat puas dengan tehnik pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sana sehingga rasa percaya diri putranya tumbuh berkali lipat," ucap Naya antusias.
"Alhamdulillah, aku ikut happy jika program DeHa banyak membawa perubahan positif," sahut Nyonya Qavi, tersenyum lembut.
Obrolan ringan di antara mereka berlanjut hingga beberapa menit ke depan. Tibalah saat dimana Ezra mulai berbicara serius setelah menyesap separuh teh hangat yang di suguhkan.
"Bismillah, maksud kami sowan ke kediaman Mas Mahen ini membawa dua tujuan. Pertama silaturahim karena ternyata kita menjadi saudara jauh akibat hubungan pernikahan adikku dengan trah Kusuma. Yang kedua, kami berniat meminta putri sulung keluarga Guna untuk menjadi menantuku, istri bagi Shan," tutur Ezra menjelaskan niatan mereka.
"Shan? bukan El?" Mahen bingung, Rey juga tidak menjelaskan identitas lain pemuda ini.
"Sudah kenal ya dengan Shan, Pak Ezra?" sambut Dila merasa terkejut jika keluarga Guna mengenali putranya.
"Shareef Shan Qavi, nama lengkapnya. El itu panggilan dia saat masih bayi. Keluarga besar memanggilnya Shan namun gak tahu lah ni anak, ingin punya nickname gaul sekaligus nostalgia jadi kerap mengenalkan dirinya sebagai El," jelas Ezra, mengerti kebingungan Mahen.
"Oh I see, privacy ya El eh Shan," Mahen menimpali seraya melihat sekilas ke arah Shan.
"Iya Om, begitu kira-kira," Shan akhirnya angkat bicara.
"Tapi aku gak pernah lihat Bu Dila ajak Shan kalau kami ketemuan. Ku kira malah Syaharan itu si sulung," imbuh Naya karena belum pernah melihat putra pertama keluarga El Qavi selama keduanya menjalin kerjasama bisnis.
"Kamu hafal banget, Sayang." Mahen menepuk telapak tangan istrinya di atas pangkuan, bahagia karena menutupi kekurangannya.
"Ya kan sering ketemu kalau sama Bu Dila." Naya sumringah menimpali Mahen.
"Shan tinggal di Dubai nemenin Oma sejak lulus SMP. Pindah lagi ke sini karena di tarik Rektornya dua tahun lalu. Jadi memang keberadaan dia jarang diketahui kolega kami," ujar Ezra menjelaskan penyebab Shan asing bagi banyak partner bisnis El Qavi.
"Pantas saja. Tapi untuk niatan kedua, mohon maaf bilamana kami langsung menolak keinginan Ananda sebab kondisi putriku tidak memungkinkan untuk menyandang gelar sebagai seorang istri, terlebih bagi Shan yang cemerlang," pungkas Mahendra, diangguki oleh Naya.
"Bang...." Rey menatap lekat sang Kakak.
"Mas Mahendra, bolehkah kami mengutarakan sesuatu?" tanya Ezra kemudian. El Shan sudah gugup, jemarinya memegang ujung hijab sang Bunda berharap apa yang akan di ucapkan ayahnya nanti bisa merubah keputusan Mahendra.
.
.
...__________________________...
__ADS_1
...Terima atau tolak? ...