
Aiswa menciumi pipi Fayyadh untuk terakhir kalinya, sebab besok dia sudah menjadi milik Arwa meskipun tetaplah anak laki-laki adalah milik ibunya.
"Biii, tolong bawakan map coklat dimeja kamar," seru Aiswa kala mendengar Amir memanggil namanya dari dalam.
Tak lama kemudian.
"Rohi," Amir bergabung dengan keduanya duduk di bale panjang.
"Monggo di baca, Mas." Aiswa menyerahkan map coklat dari tangan Amir pada Fayyadh.
Lelaki muda itu duduk di tengah kedua orang tua. Membuka pengait amplop dan menarik kertas dari sana. "Ini kan proposal punya aku ya Umma," tanya Fayyadh, wajahnya mulai terheran.
"Baca aja semua dulu," balas Amir kemudian.
Satu menit telah berlalu.
Wajah tampan itu menengadah, menoleh pada Aiswa. Ekspresi campur aduk Fayyadh perlihatkan pada Aiswa, dia berkali membaca ulang tulisan diatas kertas yang ia genggam lalu mengkonfirmasi pada sang Bunda.
"Iya Mas, itu Arwa, Fio-nya Mas," ucap Aiswa parau, menahan rasa haru.
Mendengar penuturan ibunya, kedua telapak tangan Fayyadh dia angkat hingga menutup muka, kertas dalam genggaman pun luruh jatuh menyentuh lantai.
Tubuhnya bergetar menahan agar isakan tak terlalu kentara. Bahu putra Amir, ditepuk lembut oleh sang ayah. "Qobul hajat, namanya. Mabruk ya Mas, dijaga, sayangi, muliakan Arwa dan ajaklah dia meraih jannah bersama sebab Surga-Nya telah berpindah pada Mas. Gunakan kaidah fiqh Ad dhararu yuzal, ngerti maksud Abi?" tanya Amir lembut.
Dalam tangis tertahan, Fayyadh mengangguk. Sementara Aiswa begitu trenyuh, hatinya terlampau bahagia.
"Masih belum yakin sekarang, Mas? mau dengar suaranya?" ujar Aiswa lagi.
Fayyadh membuka telapak tangan yang menutup wajahnya, menoleh pada sang Bunda. Sementara Amir mengambil tisu untuk menyeka jejak bulir air mata putra kesayangan.
"Bo-boleh k-kah, Umma?" tanyanya terbata.
"Boleh, tapi Mas jangan bersuara ya. Diem dulu. Kan cuma mau denger doang, gak ngobrol," goda Aiswa lagi.
"Sudah Rohi, gak kasian apa dia dibikin murung dua hari. Lekas call Arwa," ujar Amir menyudahi aksi jahil Aiswa.
Tuuut. Tuuut. Panggilan tersambung.
Dua detik kemudian.
"Assalamu'alaikum, Arwa." Suara lembut Aiswa berganti memanggil Fio menjadi Arwa.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Um-maaa ini tuh beneran? a-aku dan Mas?" suara riang itu kini bergetar kala mengucapkan kalimatnya.
"Iya Sayang. Ini Mas juga ada disamping Umma, lagi dengerin Arwa ngomong. Sudah mulai malam pacarnya?" tanya Aiswa lagi. Dia mengirimkan dua orang wanita ke kediaman Tusakti untuk menghias tangan kiri Fio dengan sedikit henna juga persiapan sunnah lain yang harus calon menantunya lakukan sebelum tidur dan mandi pagi nanti.
Terdengar isakan halus Fio diujung sana. "I-iya baru mau mulai. Tadi aku hajat dulu dan ngaji sebentar diminta beliau. Umma, a-aku," sahut Fiora, masih menahan isak.
"Banyak doa ya Arwa, istighfar, sholawat agar hati tenang. Maafkan kami yang buat kalian berdua seperti ini sejak kemarin."
"In sya Allah."
"Sudah dulu ya, Sayang. Umma mau ada pengajian disini bentar lagi, Assalamu'alaikum." Aiswa menutup panggilan.
Greep.
Fayyadh langsung memeluk bundanya, erat. Membisikkan banyak kata terimakasih juga doa bagi Aiswa.
"Aamiin. Sudah Mas, sana sambut Njid didepan, kita ngaji dulu malam ini." Aiswa menepuk bahu Fayyadh lembut agar mengurai pelukan. Sementara Amir mengusap punggung putra sulungnya penuh sayang.
"Mau mahar apa Mas? belum disiapkan bukan?" tanya Aiswa.
"Uang saja yang mudah. Fiora, 6.969.100. Aku gak punya cash segitu, musti tarik tunai dulu dong," balas Fayyadh untuk Aiswa.
"Abi ada, Mas tinggal transfer ke rekening Umma sebab mahar harus atas kemampuan sendiri," imbuh Amir.
"Bii." Giliran Amir kali ini dipeluk Fayyadh.
"Ya Allah, besok sudah jadi suami loh Mas, masih manja begini. Ayo temui saudaramu didepan," imbuh Amir mengusap kepala putranya.
Ketiganya lalu meninggalkan bale menuju pendopo depan yang sudah dihias sedemikian rupa. Nampak keluarga besar Tazkiya, juga Kusuma sudah duduk melingkar nan berjajar rapi disana. Abah bahkan telah memulai tawassul juga doa pembuka majlis.
"Ciyeee, manten. Kejutan," celetuk Gamaliel dan Abyan bersamaan.
"Baba, Buya. Kalian jahat ish." Fayyadh ditarik Amir agar duduk disebelah kakek dan buyutnya.
"Requestnya Umma nih Mas. Bahkan kita sebagian nginep di hotel tempat acara kamu besok," balas Almahyra.
"Dilanjutkan dulu pengajiannya, nanti kemalaman," pungkas Aiswa.
Kusuma, Tazkiya dan Wardhani, ketiga keluarga besar mereka berkumpul di Joglo Ageng untuk memberikan doa bagi Fayyadh agar pernikahan yang akan dilangsungkan esok pagi penuh dengan Rahmat Allah juga keberkahan.
Dua jam berlalu.
__ADS_1
Rombongan pun akan kembali ke hotel. Fayyadh terheran mengapa Shan dan Maira tidak muncul. Apakah mereka berhalangan hadir. Sementara justru laskar yang datang dan menginap di Joglo Ageng.
"Maira dan Shan kemana, Bun?" tanya Fayyadh ke Naya saat mereka akan pamit.
"Istirahat, sebab baru tiba. Maira lagi isi hampir mau tiga bulan jadi Shan masih menjaga banget biar dia gak kecapean. Mereka titip salam buat Mas, besok ketemu kok, minta maklumnya ya Mas," ujar Naya saat akan pamit.
"Eh beneran? alhamdulilah, yang ditunggu hadir juga setelah hampir dua tahun ya, Bun?" Fayyadh sumringah mendengar sepupunya telah mengandung.
"Jelang setahun setengah, alhamdulillah, do'ain Mas. Bunda pamit ya," pungkas Naya masuk kedalam mobil dan bergabung dengan iringan.
Setelah rombongan keluarga membubarkan diri, giliran Abdi dalem Joglo Ageng mempersiapkan venue untuk lusa open house syukuran dikediaman Danarhadi.
Sementara di rumah mewah Tusakti.
Glenn sejatinya akan merahasiakan kesibukan yang mulai kentara sejak menjelang petang. Namun permintaan Aiswa agar memberitahu Fiora mengubah rencana semula.
Sang putri sulung kini tengah mendapatkan serangkaian perawatan jelang akad esok pagi. Tangisan harus Fio membuat Glenn ikut meneteskan air mata saat putrinya memeluk erat tak henti mengucap syukur.
"Papa kan bilang, gak mau hadir di pernikahanmu. Tapi memberikan restu untuk Arwa Feiyaz Akshita. Nama barumu, jika dikemudian hari kamu ingin mengganti nama Fiora, Papa mengizinkan," ujar Glenn kala itu.
"Biarlah Arwa hanyalah nama dan identitas muslim ku. Tapi Aku tetap Fiora bagi Papa dan segala identitas resmi," balas Fio, membuat kelegaan di wajah Glenn tercipta.
"Berbahagialah dengan Mas ya Fio, baktilah padanya."
Malam yang berakhir dengan kelegaan di setiap insan nan terlibat dalam penyelenggaraan hari bahagia dan sakral esok pagi.
Mendekati tengah malam, keduanya sama melantunkan banyak bait doa dan pengharapan. Berterimakasih pada Tuhan atas segala peristiwa hingga berujung pada kebahagiaan yang akan mereka jelang.
Pukul satu dini hari, baik Fiora maupun Fayyadh, masih sama memandang kelamnya langit malam ini.
"Ternyata, itu kamu, Fio sayang."
"Mas. Tuntun aku agar dapat ikut denganmu, hattal jannah. Aamiin."
.
.
..._________________________...
...Ad dhararu yuzal : tidak dibolehkan melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri dan orang lain baik secara fisik, kehormatan dan harta. Tidak dibolehkan membalas keburukan dengan keburukan yang sama (tidak boleh membalas)...
__ADS_1