
Pasangan Qavi menghabiskan malam dengan saling membuka diri, mencoba mengenali karakter satu sama lain. Tiada yang tahu peristiwa esok hari, keduanya sepakat akan memaksimalkan waktu sebelum ujian lain menerpa.
Shan banyak belajar memaknai arti kasih sayang semenjak menikahi Maira. Pun sang putri Kusuma, meski wanita cantik itu kehilangan ingatan sosok asing yang menjadi suaminya. Jika ia semula menolak, kini perlahan mulai merasakan nyaman kala di dekatnya.
"Lah kok tidur disini? Ai, Sayang." Shan menepuk pipi istrinya beberapa kali namun wanita cantik itu tak bergeming, justru kepalanya kian menyandar di bahu Shan.
"Bismillah, pindah ya Ai. Suka ataupun enggak, aku masih suamimu dan wajib menjaga kamu," bisik Shan, mulai bersiap membopong Maira menuju kamar.
Setelah merebahkan tubuh sang istri diranjang sebab ia tertidur pulas akibat obat yang masih dikonsumsi Maira. Shan menuju balkon kamarnya, merenung kembali.
"Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Mu. Jika langkah awal ku salah dengan menikahinya, maka aku ridho mengikuti ketetapan-Mu yang lain. In sya Allah perlahan, semua akan terkikis meski ingatan dan cinta untuk Ahyaku tak mungkin pudar. Dia selalu mendapatkan tempat istimewa dalam ingatan juga kalbu."
"Maafkan ketidaktahuan hamba ya Robb. Tidak dapat berjuang melawan nafsu saat itu. Aku akan mengembalikan amanah yang Kau titipkan pada lelaki terpilih setelahku."
Pria muda nan tampan, menarik nafas dalam lalu masuk dan merebahkan dirinya disofa kamar. Mencoba memejam meski rasa hati dilanda gelisah.
Keesokan pagi.
Keluarga Guna tiba kembali di Orchid ba'da subuh. Pasangan muda itu masih asik didalam ruangan privasi mereka kala Naya mengetuk pintu kamar Maira.
"Ya Bun. Bentar, lagi siap-siap dulu." Shan berseru tanpa membuka pintu.
"Cantik banget hari ini, Sayang. Tumben bantu aku," senyum Shan sumringah melihat Maira menyiapkan segala keperluan dirinya sejak sebelum subuh tadi.
"Kan aku istrimu, katanya."
Shan terkekeh. "Iya makasih, Sayang. Soalnya kemarin kan enggak," bantah menantu Guna.
"Kan belum nyadar, masih enggan. Juga janji sejak kemarin kalau mau habiskan waktu sama kamu. Aku ikut ke kampus, wajib dandan karena disana banyak cewek cakep pula," celoteh Maira saat memakaikan dasi di leher Shan.
"Jealous ya? semoga nanti Allah memberikan petunjuk yang tepat untuk hatimu ya, Sayang. Mahya Humaira, aku gak mau kehilangan kamu...." Shan membelai lembut pipi merona di hadapannya.
"Selesai." Maira merapikan ulang simpul dasi yang dia sematkan di pangkal kemeja Shan.
"Sudah rapi," bisik Shan.
Keduanya saling menatap lekat, tersenyum manis satu sama lain lalu saling memeluk.
"Alhamdulillah, sholihah in sya Allah," bisik Shan mengecup pipi Maira.
"Semoga hatiku teguh. Maaf untuk semua kesalahan, sikap dan lainnya bila tanpa sengaja menoreh pedih di hati ya," bisik Maira, dia merasa nyaman berada dalam pelukan Shan akhir-akhir ini. Menghidu wangi maskulin suaminya menjadi sebuah kebiasaan baru.
"Kita sarapan, nanti terlambat." Shan mengurai pelukan dan menautkan jemari menarik Maira agar mengikuti langkahnya keluar kamar.
Ini adalah kali pertama Maira sarapan bersama keluarga besar di lantai dasar kediaman Guna. Mahen sengaja memberikan waktu berdua bagi keduanya untuk saling mengenal sejak test kesehatan Maira terakhir kali.
Bonding yang perlahan tercipta membuat indah pemandangan pagi ini. Keduanya turun bersama, bergabung dengan keluarga masih saling menggenggam.
"Maa sya Allah. Gitu donk, saling membuka diri dan Maira, kamu wajib menerima," tegas Naya seraya tersenyum untuk keduanya.
"Ya gak bisa dipaksa Bun. Tapi yakin, semua akan kembali indah pada saatnya nanti," ujar Mifyaz menimpali.
__ADS_1
"Kayak ngerti aja," balas Maira.
"Dikit. Cinta memang rumit." Mifyaz menggeleng heran melihat kakak dan iparnya.
Shan tak berkomentar, dia menarik kursi untuk sang istri di sisi Naya, sementara dirinya duduk disamping Mifyaz, berhadapan dengan Maira nan ayu pagi ini.
Naya yang sudah hafal menu sarapan keduanya langsung membuatkan double sandwich.
"Banyak amat Bun. Kan aku cuma satu, lagipula harusnya gandum semua. Kenapa ada yang non sih?" protes Maira.
"Ini buat Shan. Kesukaan dia sama denganmu, Kak. Bedanya kamu pakai roti gandum, Shan enggak."
Maira membola. "Apa?"
Shan hanya tersenyum, sayangnya sangat menawan hingga mengundang reaksi Mahen. "Shan, jangan tebar pesona. Nanti Bunda nyandu sama senyum kamu itu. Ayah gak laku," protes Mahen melihat menantunya sangat rupawan pagi ini. Teringat kasus yang tengah viral, menantu versus mertua. Dia pun ikut begidik ngeri.
Mifyaz dan Shan tertawa ringan menanggapi keluhan Mahen pagi ini.
Netra Shan mengalihkan pandang kearah Maira, keduanya saling menatap. "Roti tanpa sisi kulit dengan olesan selai coklat dan kacang, di tambah susu kental manis sedikit," ucapnya bersama-sama.
"Nah tuh, hafal ... senyum Abang selalu dihati, Shan lewat dah," ujar Naya menimpali Mahen juga anak dan menantunya.
Sesi sarapan penuh kehangatan dilewati mereka. Kini Shan dan Maira telah berada di mobil bersiap menuju kampus.
Satu jam kemudian, Indonesia University.
Maira tak mengira jika sang suami mengajar di kampus ternama dan terbaik di negeri ini. Dan kali pertama dirinya mengikuti keseharian sang suami.
"Iya. Kita parkir dekat gedung kiri aja ya, kubikelku disana," ujar Shan saat telah memasuki pelataran.
CR-V silver terparkir cantik disebelah mobil sang rektor sekaligus guru Shan. Dia membuka pintu perlahan lalu memutar guna membantu istrinya turun.
"El! eh kita parkir sebelahan," suara seorang wanita.
"Loh, bukannya mobil Rektor ya?" jawab Shan menoleh ke arah suara disebelahnya.
"Tadi aku diminta beliau ngambil berkas. Eh itu siapa?" tanyanya lagi menunjuk wanita ayu disamping Shan.
"Kenalin, Sayang. Dia temanku Sumayyah. Dan ini istriku," ujar Shan mengenalkan keduanya.
Sumayyah terkejut. Monolid eyes itu membuka sempurna, kakinya mundur selangkah. Tak mengira bahwa istri Shan semenawan ini.
"Salam kenal Mbak Sumayyah, panggil saja Maira," ucap princes Kusuma menampilkan senyum ramah.
Sumayyah tergagap. "E-eh i-iya. Aku Sumayyah, boleh panggil Maya. Duluan ya, El. Jangan sampai terlambat pagi ini," ujarnya terburu-buru.
"Kenapa dia? lihat aku bagai hantu," gumam Maira. Sementara Shan mengunci mobilnya lalu menarik tangan Maira agar menginggalkan parkiran.
"Dia shock karena kamu cantik banget. Aku pernah cerita tentang dia saat kamu masih koma, Sayang."
"Apa?"
__ADS_1
"Nanti ya, setelah selesai ngajar aku ceritakan." Shan terus menggamit jemari sang istri, mengenalkannya pada para sahabat sesama profesi yang dia temui.
"Dia populer dan disegani."
Maira memutuskan berjalan menyusuri taman kampus, perpustakaan dan ruangan lain setelah Shan menunjukkan letak kubikelnya.
Sudah satu jam berlalu, dia mulai bosan lalu memilih akan menunggu di kubikel Shan hingga pria itu selesai.
Ruangan dosen nampak lengang. Maira menunjukkan kartu Visitor pada petugas di depan pintu saat akan menuju meja kerja Shan di bagian kanan, nomer tiga dari pintu masuk.
Princess Kusuma menarik kursi lalu duduk, dia mengamati meja kerja sang suami.
"Rapi banget ya. Kayak kebiasaan orang bule disiplinnya dia itu. Eh, ada fotoku. Loh, ini dimana? kok kayak prewed? dia bilang kan kita langsung nikah gak ada beginian," heran Maira saat melihat satu foto dalam pigura diatas meja Shan.
Dia dan Shan memakai busana dengan warna senada, berdiri dibawah naungan bunga standing greeting dekorasi wedding. (Foto yang Dila ambil saat di pernikahan Fatima, bab berapa tuh?)
Tiba-tiba. "Sakit, duh sakit kepalaku." Maira memejam sambil memegangi kepala yang tiba-tiba berdenyut hebat. Pigura di tangan pun, jatuh. Kacanya retak.
Dalam gelap pandangan. Kilatan ingatan tentang foto ini muncul. Kesibukannya meng-handle para laskar, busana berwarna serupa. Juga suara yang memanggilnya lalu dia bersorak girang. "Eh Kak El."
Hosh. Hosh. Nafas Maira tersenggal. Netra bulatnya membuka. "El lagi!"
Masih menata nafas dan degup jantung, seraya menahan kepala dengan tangan. Sebuah suara wanita mengejutkan Maira.
"Hai, sedang apa? El gak suka kalau mejanya berantakan loh. Baiknya dibereskan kembali, masa kamu gak paham kebiasaan suami sendiri?" tegur Sumayyah saat melihat Maira menarik pigura dan membuatnya terjatuh.
"Aku tahu. Ini gak sengaja terjatuh kok. Aku akan bilang padanya," sahut Maira lembut, dia masih menopang kepala diatas meja.
"Dan ini, bukan disini, lalu ini juga. Kamu gimana sih kok berantakin meja sesukanya?" kali ini Sumayyah menegur keras Maira.
Gadis ayu keturunan ningrat merasa tersindir sekaligus terganggu oleh wanita ini. "Mbak, aku juga tahu batasan. Yang ku pegang hanya pigura saja tidak lainnya. Lagipula ini meja suamiku, bukan urusan Anda," tegas Maira.
"Kenapa Ai? Sumayyah?" suara Shan terdengar setelah dua jam Maira menunggu.
"Gak apa," lirih Maira.
"Dia berantakin meja kamu, aku cuma ngasih tau aja," tuduh Sumayyah.
Shan melihat istrinya nampak pucat, ia mengindahkan Sumayyah. "Sakit Sayang? pulang yuk, aku sudah selesai." Dia menempelkan punggung tangan di dahi Maira, menyeka bulir keringat dingin disana.
"Maaf belum kuambil, tadi gak sengaja menjatuhkan itu sebab tiba-tiba kepalaku sakit saat--" Maira menjeda ucapan, dia ingat ada wanita rese tengah memperhatikan. Telunjuknya menunjuk benda dibawah kursi.
Putra Dilara memungut pigura dilantai lalu meletakkan asal di meja. "Lupakan, ayo pulang." Shan memapahnya perlahan.
"Oh ya. Memang posisi diatas meja itu, aku yang merubahnya. Dan istriku tahu bagaimana kebiasaan suaminya, Sumayyah. Aku duluan," tegas Shan saat melewati kawannya itu.
.
.
..._____________________...
__ADS_1