ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 64. PRASANGKA SHAN


__ADS_3

Di lobby bawah, Fayyadh beradu argumen dengan Amir. Dia merasa bahwa kali ini sang Abi tidak rasional. Bisa saja harapan kisah cinta dengan Maira terwujud dan kehidupan mereka harmonis hingga hubungan keluarga besar kian erat. Atau mungkin kepingan memori sepupu ayu itu kembali berkat desakannya.


Sementara Amir bersikukuh bahwa Maira hanya sedang sangat berusaha mempertahankan Shan disisinya, oleh sebab itu dia menempuh jalan demikian. Memastikan perasaan juga bisa saja menegaskan jawaban yang tak pernah Fayyadh dapat dulu.


Mahen menengahi keduanya, alasan dia dan Naya meloloskan permintaan Maira memang sebagai upaya napak tilas ingatan. Pria bersahaja itu memohon maaf pada Fayyadh, kerana membuka lagi luka hati.


Terlanjur dipengaruhi emosi, pria muda nan tampan tak menerima saran keduanya, dia memilih duduk di sudut cafe yang temaram di lantai dasar gedung bertingkat itu.


Sementara didalam Apartemen.


Shan dan Maira sama-sama khusyu memanjatkan doa. Hanya helaan nafas yang terdengar dalam ruangan. Mereka tetap duduk disana hingga melewatkan banyak waktu sholat.


Naya memanggil keduanya menjelang makan malam namun tak ada jawaban dari dalam kamar.


Mendengar kekhawatiran Naya, Shan pun berkirim pesan pada mertua wanitanya itu bahwa Maira tertidur masih memakai mukena tepat setelah mereka isya berjamaah tadi. Dirinya juga enggan keluar sebab merasa lelah hati tak ingin bertemu siapapun.


Lampu kamar pun dipadamkan Shan, gelap seketika menyelimuti. Sama bagai situasi hatinya kini.


...***...


Keesokan pagi.


Amir akan bersiap mengantar Fayyadh ke Bandara sebab hari ini dia harus kembali ke Jeddah.


Semalam, mereka masuk ke apartemen hingga melewati waktu tengah malam. Bertujuan menghindari Shan dan Maira. Tiada obrolan berarti pagi ini, hanya selingan ringan saat sarapan.


Fayyadh kecewa, tak melihat Maira pagi ini, padahal ia berniat mengatakan sesuatu padanya bahwa apapun yang nanti terjadi, keluarga besar pasti akan tetap utuh.


Didalam kamar, lantai dua.


Shan sibuk menyeka keringat dari dahi, mengompres Maira karena demam. Sejak subuh tadi wanitanya menolak berbagai jenis cemilan atau makanan yang diantarkan oleh Mifyaz ke kamar mereka.


"Ai. Kau ingin bertemu Fayyadh? dia akan berangkat kembali melanjutkan studi. Mumpung masih ada disini, bicaralah dengannya bila ingin," bisik Shan lembut kala kedua mata bulat itu membuka.


Maira hanya diam, kembali menutup kelopak mata seiring bulir bening yang jatuh.


"Mau aku papah kebawah?" tanya Shan lagi.


Princess Kusuma masih setia mengunci rapat mulutnya. Antara ingin dan enggan, tapi dia berniat mengutarakan satu hal penting pada Fayyadh.


Rasa berdenyut hebat kembali menjalar kepala. Maira meringis menahan sakit, nyeri bertambah dua kali lipat menyergap raga kini.


"Semalam, aku mendengar suara yang sangat mirip denganmu. Sangat merdu disuatu tempat seperti mushola. Sosok pria itu berdiri membelakangi, memanggilku Ai. Dan aku tersipu, kaukah itu?"


"Sayang, kenapa. Ai?" Shan bingung, apakah tawarannya salah. Dia terus menyeka bulir keringat bercampur air mata dari wajah Maira.

__ADS_1


"Aku sedang berusaha mengingatmu. Bibir dan lidahku kelu. Rasanya sangat sakit. Tolong."


Kelopak mata itu kian rapat. Maira tengah berusaha rileks dan siap menerima kilatan ingatan yang kian intens muncul satu persatu.


"Kamu harus memperhatikan arah angin. Posisi badan juga harus menyesuaikan dengan perubahan itu. Eh, afwan, tanya Coach saja. Aku duluan."


"Sa'ad bin Abi Waqqas."


"Foto prewed nya sudah, tinggal mahar saja yang belum nih."


"Suara, suara?" lirih Maira.


"Suara siapa, Sayang?" jawab Shan, menduga Maira mengigau. Panas tubuhnya mulai mereda namun nafas masih terengah. Shan setia menemani hingga deraan halus terlihat dari wanita cantik ini, tanda ia masuk ke alam mimpi.


Jam sepuluh pagi.


Menantu Dilara kembali membuka netra. Dia beringsut bangkit dan bersandar di kepala ranjang. Pemilik mata bulat, mencari sosok yang selama ini sabar menghadapinya, namun nihil.


"Kemana dia? jangan pergi."


Kaki jenjangnya di paksa turun menyentuh lantai. Namun baru saja berdiri, dia terjatuh karena posisi badan yang belum stabil memijak.


Brugh.


"Ai. Innalillahi, Sayang!" Shan muncul dari bathroom, baru selesai berganti pakaian sebab akan ke kampus siang nanti.


"Mau mandi? aku siapkan air hangat. Fayyadh sedang bersiap pergi ke Bandara. Kalau ingin turun, bergegaslah," ujar Shan lagi.


"Pergi? aku ingin mengatakan sesuatu padanya."


"Ganti baju dulu, aku bantu ya," Shan memapah Maira menuju bathroom dan menyiapkan busana yang akan dia kenakan. Karena tertatih, ia tidak dapat terburu-buru menyelesaikan ritual mandinya itu.


Tiga puluh menit kemudian.


Naya mengetuk bilik Maira, mengatakan pada Shan saat menantunya itu membuka pintu bercat Jingga lebar, bahwa Amir telah pamit pergi ke Bandara hampir satu jam yang lalu.


Maira yang masih bersiap, terkejut mendengar penuturan bundanya itu. "Kemana Bun?"


"Bandara," jawab Naya.


Tanpa Shan duga, Maira berlari menerobos keduanya yang masih berdiri diambang pintu. Naya terhuyung akibat terkena benturan fisik dengan sang putri.


Shan menopang badan mertuanya agar tak jatuh. "Ai, Sayang," panggilnya.


"Kejar Shan, bawa putri Bunda kembali. Jangan pisah ya Nak. Jangan," pesan Naya pada Shan.

__ADS_1


Dosen fakultas tehnik itupun bergegas meraih ponsel, dompet serta kunci mobilnya dari atas meja sofa. Setengah berlari, terburu menuruni tangga hampir menabrak ayah mertua.


"Shan, Maira ke Bandara. Ayah sudah minta Ratih mengikutinya tadi, kamu jangan buru-buru," pesan Mahen pada Shan.


"Ok, Yah. Assalamu'alaikum," balas Shan seraya berlari keluar apartemen.


Meski selisih hanya beberapa menit, namun mobil yang di kendarai Maira telah jauh dari pandangan Shan. Dia kehilangan jejak mengikutinya.


...***...


Bandara.


Amir melepas Fayyadh pergi di gate keberangkatan. Setelah memastikan sang putra aman, dia bersiap pamit meninggalkannya seorang diri disana, sebab Buya Hariri meminta ia segera ke Tazkiya.


"Abi pulang ya, Mas. Jaga diri, jangan aneh-aneh. Sudah dibilang hasil akhir akan tetap sama, kamu ngeyel," tegurnya lagi.


"Iya. Aku salah, do'ain ya Bii. Maaf lagi-lagi bikin malu keluarga," sahut sang putra emas, melambaikan tangan saat hendak bergabung dalam kerumunan penumpang lainnya.


Ayah dan anak itu kemudian berpisah, tepat ketika suara announcement bergema. Amir pun pergi mengambil lajur kanan. Disaat yang sama, Maira mendengar pengumuman bagi para passenger agar bersiap boarding, dia pun berjalan cepat dari lajur sebaliknya.


"Kak, Fayyadh," seru Maira, mengenali gestur, juga topi yang pria itu kenakan.


"Kak," panggil Maira, lagi.


"Nona, jangan lari," suara Ratih, pengawal Maira.


Mendengar suara yang dia inginkan, Fayyadh menoleh. "Maira." Dia pun urung masuk tunnel dan keluar dari sana, menghampiri sang sepupu cantik.


"Kau ingin mengatakan sesuatu? aku siap mendengar," ujar Fayyadh yakin bahwa Maira mengejarnya sebab dia berlaku jujur mengikuti kata hati. Dia tersenyum cerah untuk sang sepupu pujaan.


Beberapa jarak dibelakang.


Shan berlari dari lift menuju gate keberangkatan yang jaraknya lumayan terbentang, hingga terengah menyusul Maira. Berjarak tiga puluh meter, dia melihat kedua insan bertemu. Putra Dila bersandar pada pilar tak jauh dari tempat ia berdiri, mengatur nafas sekaligus memperhatikan dari kejauhan.


Maira berdiri membelakangi, sementara Fayyadh terlihat tersenyum memperhatikan wanitanya bicara.


Suara pengumuman terakhir memanggil passenger, Fayyadh dipanggil oleh petugas agar lekas masuk. Nampak gurat kesedihan diwajah pria itu. Mengapa? bukankah istrinya datang sesuai yang mereka inginkan?.


Shan melihat Maira menangis melepas pria itu pergi. Wanitanya tersedu hingga tubuh itu luruh berjongkok disana. Ratih berinisiatif membantu sang Nona, menenangkan. Nampak luka terlalu parah tercipta.


Ingin menghampiri, namun urung langkah berlanjut. Shan memutar arah, kembali menuju mobilnya.


"Lupakan Shan. Siapkan hatimu, jawaban itu sudah jelas," lirihnya menahan sesak.


.

__ADS_1


.


..._____________________...


__ADS_2