
"Ya?" gadis berhijab oren itu berbalik badan.
"Eh. Maaf."
"Cari Fio? temannya?" ujar gadis asing lagi, Shan tiba menyusul keduanya.
"I-iya, kamu tahu dimana Fio-ku?" tanya Fayyadh, diangguki olehnya.
"Dia disana, ikut aku."
Fayyadh menepuk lengan Shan, dia berjalan cepat mengikuti sang pemandu arah hingga tiba di salah satu stand.
"Viona Rose."
"Fio, ada yang nyari kamu nih," ujarnya pada kedua lelaki.
"Halo selamat malam, ingin custom kue atau hampers? silakan di pilih," sapa gadis cantik mungil, sekilas mirip Fiora.
"Kamu bukan Fio-ku. Fiora Akshaya," gumaman Fayyadh terdengar oleh Shan.
"Jelas bukan, Mas. Fio gak gitu aah," sahut Shan mendorong Fayyadh pergi seraya meminta maaf salah mengenali seseorang padanya.
Pemilik Arza preschool ini lantas menuju sebuah tenda kopi. Dia duduk disana, merenungi nasib. Baru saja Shan akan kongkow sejenak, ponsel Fayyadh berdering.
"Umma, bentar Shan." Fayyadh me-loudspeaker panggilan sebab dirinya malas menyentuh ponsel.
"Ya Umma, assalamu'alaikum. Aku pulang lusa. Haah apa?"
"Wa'alaikumsalam. Bukan itu, Mas. Athirah kabur gak ada di asrama gara-gara pas weekend kemarin dia pulang, salah paham dengan kedatangan Kaffa ke rumah dan becandain dia bahwa akan melamarnya besok, padahal Kaffa itu minta Abi buat bantu lamarkan Ryuki ... Abi kamu lagi ngamuk itu sama Baba Gamal, punya anak eror, godain melulu Zeda ... bagusnya adikmu bilang mau kabur kemana," kekeh Aiswa.
"Ya ampun, ada lagi aja tuh bocah. Dia gak pernah keluar kota sendiri loh Umma. Gimana nanti ... kabur kok bilang, dasar Zeda," ujar Fayyadh cemas.
"Kata Abi, tolong Mas jemput dia di stasiun jam dua pagi malam ini. Jangan di tanya macam-macam, Umma nyusul langsung ke sana pake kereta ba'da subuh," pesan Aiswa lagi.
Fayyadh mengangguki perintah bundanya. Sebelum menutup panggilan, samar terdengar ocehan Amir yang mengatakan, "Persis kamu, Rohi. Dulu emaknya yang Kabur, sekarang Zeda."
Kedua lelaki muda itu terkekeh, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika Fayyadh terkesan judes dan gak sabaran, lain hal dengan Athirah yang sangat irit bicara juga super pemalu. Ketiga anak Amir nyata dominan mewarisi watak Aiswa, kecuali Hanan, persis bagai fotokopian Amir.
...***...
Keesokan pagi.
Athirah sudah bergabung dengan keluarga Solo saat sarapan pagi. Hanya Maira yang dapat mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Zeda, bawa makanan apa dari Cirebon? aku pengen nasi lengko," ujar Maira.
"Enggak, Kak. Gak sempet beli," cicitnya pelan.
Abah memanggil maid, meminta membuatkan satu porsi keinginan Maira, takut bilamana cucunya tengah mengandung.
"Nduk, kamu lagi isi?" sahut Danarhadi.
Shan sudah cemas, dia khawatir mood Maira berubah sementara keduanya akan terbang ke Surabaya.
"Isi nasi, roti, jus dan lainnya. Enggak Yut, masa baru bikin semalam udah langsung jadi. Dipikir ngeprint dari gugel apa?" jawab Maira cuek.
Uhuk. Uhuk.
Abah dan Shan terkejut atas jawaban nyeleneh Maira.
"Kalau yang ini, persis plek ketiplek Naya. Ngasal kalau ngomong," ucap Danarhadi seraya melempar selada ke pinggan Maira.
"Uyut sih, nanya kok gitu. Aku gak suka ah, kapan hamil kapan hamil. Gak tahu, nyatanya rajin bikin saban malam belum nyantol juga," keluh Maira.
"Ai." Shan tak enak hati, memanggil istrinya agar diam.
"Diganti Nduk, saban pagi atau siang dan sore," sambung Abah terbahak.
"Shan, Shan, nasibmu derbe bojo macem Maira," ucap Danarhadi, menggelengkan kepala.
"Sa, cucumu itu gimana? dibalik kesempurnaan ada aja eror nya," kekeh sang sepuh.
"Ya namanya mahluk, Kek. Tiada sempurna bahkan Shan, kalau habis mandi, handuk basah dibiarkan di kasur gak pernah dibawa ke tempatnya. Ya Shan," sindir Abah.
Uhuk. Shan kembali tersedak, kali ini tepat sasaran. Maira dan Fayyadh hanya tertawa renyah menimpali.
"Bahkan sesempurna Shan saja begitu, kamu jangan cengengesan, Mas. Kalau narik baju dari lemari mbok jangan kek mau lempar granat. Semua berantakan lagi, mban dan Umma itu ngeluh saban hari bebenah. Habis makan di kamar, ya dibawa sekalian bekasnya ... dandan lama melebihi wanita eeh hasilnya itu itu juga, pake parfum melebihi tukang minyak wangi, sak botol. Pancen, jarang siram," Danarhadi terbahak melucuti kebiasaan cicitnya. (mandi)
Percakapan ringan membahas sisi lain para keturunan Kusuma mewarnai pagi, hingga penghuni Joglo Ageng melepaskan kepergian Shan dan Maira ke Surabaya.
"Mas, aku tetap mapping kemana Fio. Mifyaz berhasil memindai sebuah petunjuk lagi. Ku kabari setelah selesai di Surabaya ya," ujar Shan saat akan masuk ke mobil yang akan membawa mereka menuju Bandara.
...***...
Malam hari.
Aiswa tiba di Solo sejak Ashar tadi. Dirinya langsung bicara berdua dengan sang putri kedua. Menanyakan perihal alasan dibalik kaburnya ini.
__ADS_1
Athirah Zaida hanya diam, tak ingin bicara banyak meski sang Bunda membebaskan dia mengutarakan pendapat. Beberapa jam setelah berjibaku dengan sunyi, bibir tipis itu bicara.
"Aku gak mau jauh dari Abi kalau nanti menikah. Berhubung sekolah di kejuruan, aku ingin melanjutkan kuliah seperti Mas, tapi gak mau keluar kota. Kalau harus menikah, boleh kan menunda punya anak. Ya Umma," tanya Zeda pelan.
"Boleh. Jika tentang menikah, itu hak kamu Nak. Berkenaan dengan hamil dan lainnya bicarakan dengan calon suamimu nanti. Umma gak maksa anak-anak Abi untuk menikah muda jika memang gak mau dan siap," jelas Aiswa, menegaskan bahwa perkiraan putrinya salah.
Akhirnya kesalah pahaman berangsur-angsur membaik. Gadis itu mulai nyaman kembali dengan ibunya. Hingga saat tengah malam.
"Mas. Mas. Bangun, antar Zeda ke rumah sakit, dia demam tinggi banget," tutur Aiswa membangunkan sang putra dikamar sebelah.
Fayyadh terbangun sebab mendengar ibunya panik. Dia bergegas meraih jaket serta mengambil kunci mobil kakeknya. Tubuh lemas Athirah terpaksa dia angkat menuju mobil.
Pukul satu dini hari. Rumah sakit.
Dokter mendiagnosa putri kedua Amir mengalami kelelahan juga stres ringan sehingga minim asupan makanan. Aiswa pun lalu menegur sang kakak mengapa tidak memperhatikan adiknya dengan benar, Zeda punya riwayat maag.
Fayyadh lupa, dia pun merasa bersalah. Putra Aiswa Lalu menawarkan diri untuk mengurus kamar perawatan bagi sang adik. Saat melintasi lobby IGD, ruangan itu nampak riuh oleh beberapa pasien yang datang.
"Siapkan bilik untuk tiga santri," seru salah satu tenaga medis.
Fayyadh melihat sekilas, mengabaikan sikon disana lalu menuju bagian informasi untuk melengkapi berkas agar Athirah dapat segera pindah ke kamar perawatan.
Beberapa jam berlalu.
Brangkar putri kedua Aiswa didorong suster pindah menuju lantai tiga. Ruang VIP penuh malam itu sehingga terpaksa menggunakan fasilitas kelas satu non ekslusif.
"Umma, nanti berdua, satu kamar. Luas kok, gak apa ya, lagi full disini," ujar Fayyadh.
"Gak apa, besok paling Zeda udah balik," ujar Aiswa.
Sesampainya dikamar, belum ada penghuni lain yang menempati brangkar di ujung sana, Aiswa lega, setidaknya malam genting ini mereka sedikit mempunyai privasi.
"Temani Umma, besok kamu pergi kan?" ujar Aiswa menyandarkan kepala di bahu tegap putranya saat baru duduk di sofa.
"He em. Tapi kalau Zeda belum baikan, aku tunda," balas sang putra sulung. Melihat ke arah brangkar adiknya yang tengah disesuaikan oleh tenaga medis.
Keduanya menghabiskan malam dirumah sakit hingga ba'da subuh. Aiswa mendapat kawan pasien lain dalam satu kamar perawatan.
"Kenapa dia? dari mana?"
"Kelelahan, Ana dari As-shidqu," jawab seorang gadis yang bersama pasien diatas ranjang serba putih.
.
__ADS_1
.
..._________________________...