
Orchid.
Malam kian larut, sebagian Kusuma berpisah tempat untuk beristirahat. Amir kembali ke Tazkiya bersama Yai dan Athirah sedangkan yang lainnya menginap di Orchid.
Saat mereka pamit, nampak Syaharan mencoba menghampiri Athirah yang selalu menempel ketat di sisi Abinya.
Keberuntungan memihak pada Syaharan. Karena lift penuh saat akan turun ke lantai dasar, Athirah terpaksa tertinggal dan bergabung dengan keluarga Qavi.
Amir menitipkan putri keduanya pada Dilara saat ia harus lebih dulu turun bersama sang mertua. "Nyonya Dila, titip Athirah ya," ujarnya sebelum pintu lift menutup.
Dilara mengangguk seraya tersenyum ramah, menggandeng putri cantik keturunan Tazkiya dan Kusuma. Sesekali bertanya pada gadis abege yang masih malu-malu.
"Athirah kelas berapa? hafal berapa juz, Sayang?" tanya Dila membuka percakapan seraya menunggu kotak besi lainnya terbuka.
"Kelas 11 sama seperti Mifyaz adik Kak Maira. Baru hafal lima belas juz, Tante," jawab Athirah sangat pelan.
"Boleh minta nomer kamu gak?" Syaharan menimpali dan langsung berdiri di sisi Athirah.
Gadis lugu itu terkejut, dia beringsut menempel pada Dilara. Memegang lengan Bunda Syaharan erat.
"Aran, jaga sikap. Athirah ketakutan. Jangan samakan dia dengan kawan-kawan wanitamu itu," tegur Ezra seiring bunyi lift terbuka.
Dila menenangkan putri cantik Aiswa. Kepalanya kian menunduk karena di tatap intens oleh Syaharan.
"Ampun! mata!" ujar Ezra meraup wajah putra keduanya. "Gak sopan Aran! jagalah marwah wanita siapapun orangnya," sambung sang ayah namun di indahkan Syaharan.
"Athirah, nikah yuk setelah kamu lulus. Aku udah kerja dan punya kantor sendiri kok," ucapnya langsung disaksikan kedua orang tuanya.
Uhuk. Uhuk.
Ezra terhenyak bukan kepalang. Putra kedua ini memang tak suka basa basi bagai dia kala muda. Dingin, cuek dan apa adanya. Jauh berbeda dengan Shan yang lebih kalem, terlihat sederhana, lembut meski memiliki sifat bicara seperlunya.
"Aran!" tegur Dila.
"Serius Yah, Bun. Aku mau dia. Athirah, namaku Syaharan sama seperti mu sedang berjuang menyusul Kakak, hafalanku baru dua puluh juz. Kita seumuran namun aku menjalani sekolah sambil kerja, ta'aruf yuk."
Ting. Suara lift terbuka.
Amir telah menunggu putrinya tak jauh dari lift. Sehingga saat pintu kotak besi itu terbuka, Athirah langsung menghambur ke belakang tubuh Abinya.
"Kenapa Zeda?" tanya Amir lembut, memanggil Athirah Zaida dengan nama belakang.
"Maaf Pak Amir, anakku menggoda Athirah tadi. Jangan di ambil hati ya Sayang. Syaharan memang begitu, ceplas-ceplos," ujar Dilara menjelaskan kondisi di dalam lift.
__ADS_1
"Eh aku gak becanda Bun. Serius mau ngajak ta'aruf dia," tunjuk Aran ke arah sang putri cantik.
"Aran, ish bandel." Ezra membungkam mulut putranya dan menjauh dari sana setelah isyarat pamit dia luncurkan.
Amir hanya tersenyum menanggapi kondisi demikian. "Athirah pemalu juga masih sangat belia. Lain kali di bicarakan. Kami duluan, Assalamu'alaikum." Pasangan ayah dan anak itu pun berlalu dari hadapan Qavi.
...***...
Orchid, lantai sepuluh.
Naya membantu Shan menata pakaian dari dalam koper ke lemari. Apa yang menantunya kenakan saat akad mengingatkan dirinya pada Amir kala menikahi Aiswa.
Outfit sederhana, jas hitam di padu koko putih serta sarung senada atasan. Yang membedakan hanyalah, pin silver dibagian kiri atas. Bagai inisial nama keduanya, SM.
"Shan, Bunda boleh tahu gak, kenapa mahar Maira hanya seratus ribu? ehm, bukan nominalnya sih karena Bunda yakin, Shan punya penjelasan," tanya Naya hati-hati.
"Sekalian Kak, aku tanya juga. Kenapa Kakak tadi berdoa tentang kelalaian. Jika Maira menyulitkan untuk beribadah maka biarkan seperti ini? aku gak paham," jelas Mifyaz yang masih terkagum akan sosok iparnya. Enggan beranjak dari kamar Maira.
"Bun afwan, ini biar aku bereskan." Shan menahan tangan Naya kala beliau hendak memindahkan tumpukan bajunya ke lemari.
"Bunda aja, kamu sambil cerita alasan tadi," balas ibu mertua.
Shan menarik nafas panjang. "Hmm bagi kita mungkin uang seratus ribu itu sepele tapi tidak untuk rakyat kecil, nominal itu sungguh berarti. Aku bagian dari banyaknya pria yang mendamba sesuatu bernilai untuk di miliki ... jadi aku memaknai dan menganggap Ai sangat berharga bagai selembar uang tadi. Meski hanya analogi ya Bun, bukan di sama ratakan dengan rupiah," ungkap Shan menjelaskan maksudnya.
"Dan akan di pertahankan, jangan sampai dia lepas atau sia-sia karena hanya milik satu-satunya. Aku ingin Ai merasa seperti itu saat denganku nanti, Bun," imbuh Shan.
"Wuah, keren Kak," sorak Mifyaz semakin terpesona kakak iparnya.
"Ayah tenang, Maira denganmu Shan." Mahen bergabung dengan mereka saat semua keluarga telah beristirahat.
"Satunya Kak, ayo." Mifyaz pindah posisi, ia kini bergabung dengan Naya dan Shan yang duduk di lantai, tepat di bawah telapak tangan Maira.
Sejenak, suami tampan Maira ini ragu akan menjelaskan. Takut dirinya keliru, maka ia meminta ketika saat mengutarakan maksud nanti agar di tegur oleh Naya bilamana terselip khilaf.
Semua pandangan kini tertuju pada Shan. "Aku gugup lah diliatin begitu," selorohnya, diiringi senyuman Naya dan Ajmi.
"Bismillah ... Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang (tenang, liyaskuna) kepadanya, Al-A'raf ayat 189."
"Wanita adalah syarat ketenangan. Nabi Adam penghuni surga, tempat segala macam kenikmatan. Tidak ada tempat ternyaman kecuali Surga. Namun mengapa Allah menciptakan Siti Hawa untuk melengkapi Nabi Adam Alaihissallam sebagai istrinya? bukankah karena agar tenang jiwa dan sempurna peran sebagai pria," ucap Shan perlahan.
"Senyaman dan semewah apapun rumah tiada pernah sempurna tanpa wanita di dalamnya. Sedemikian hebat seorang suami, tetap kurang tanpa adanya istri sholehah yang menyambut ketika pulang."
"Ai adalah jama'ah ku satu-satunya yang paling mungkin untuk di jadikan ladang amal. Jadi sebab pahala sabar, syukur, pengingat diri, dakwah, penutup aib, taat pada kebaikan, ibadah, sedekah ketika memberi nafkah dan masih banyak lagi mengalir deras," lagi, Shan masih pelan-pelan menjelaskan.
__ADS_1
"Bisa jadi Allah sengaja menguji dengan pasangan, sebab dialah satu-satunya sumber pahala terbesar. Shan bukan ulama, atau seorang guru yang memiliki banyak santri, maka dari mana lagi dapat pahala dakwah jika bukan lewat Ahya," kini Shan menunduk malu.
"Ai satu-satunya makmum ku, pendengar nasihatku. Setiap hari bisa dapat pahala tanpa harus keluar rumah. Karena salah satu jalannya amal itu bisa dijemput melalui wasilah orang lain," tutur Shan kian menunduk.
"Maka dari itu tadi aku menyebutkan doa apabila kondisi Ai yang seperti ini justru mendatangkan banyak kebaikan untukku maka tetapkanlah demikian. Namun jika dengan sehatnya dia justru melenakan aku dan melupakan semuanya, maka lebih baik begini ... akan tetapi, apabila istriku afiat dan membuat kami semakin taat pada Allah, membawa banyak maslahat untuk Ummat, maka sehatkan Ahya seperti sedia kala," pungkas Shan, lirih sebab suaranya tercekat di pangkal tenggorokan.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Bunda Dila punya amalan apa sampai membentuk Shan seperti ini? apa istimewa nya Maira sehingga Shan melihat putri Bunda, Nak?" Naya trenyuh, sungguh beruntung dirinya mempunyai menantu Shan.
Kedua pria hanya diam, tak sanggup berkata lagi mendengar penuturan runut pria muda di hadapan mereka.
"Ai dicintai dzuriyah, aku pria bodoh jika melepasnya. Semoga Allah muluskan jalan dakwah dengan cara kami nanti ya Bun, do'akan selalu. Aku punya rencana masa depan dengan istriku, doa Bunda in sya Allah mustajab, aamiin." Shan meraih telapak tangan Naya, menciumi bolak balik keduanya.
"Shan, Bunda bukan orang mulia Nak, jangan begini," wanita cantik itu menarik kedua tangannya.
"Bunda Mulia, karena surgaku ada pada Bunda dan Istriku," balas Shan lagi, kali ini dia tersenyum menawan.
"Ya Allah, jadi pengen muda lagi," Naya tersenyum simpul.
"Hmm, Kak Shan. Bunda punya Ayah loh, sanggup perang sama Ayah?" seloroh Ajmi.
"Enggak. Nyerah, Ai lebih menggoda, maaf Bun," gelak Shan kali ini mengundang tawa mereka.
Malam kian larut, saatnya suster melakukan pengecekan akhir sebelum ia beristirahat. Naya meminta Shan membantu Maira ganti baju sekaligus mengajarkan hal lainnya yang hanya dapat dilakukan oleh mahram.
Lelaki itu sigap memperhatikan tahapan, prosedur medis untuk sang istri. Termasuk menanyakan apakah selama koma, Maira tetap haid atau sebaliknya.
Satu jam berlalu begitu saja, menjelang midnight semua penghuni orchid telah masuk ke peraduan masing-masing. Tersisa Shan sendiri di kamar Maira.
"Sayang, selamat malam. Ketemu di mimpi ya, love you Ai," bisik Shan, mengecup semua bagian wajah ayu istrinya.
Dia memposisikan tubuhnya miring menghadap wanita pujaan. "Masih cantik aja ya, malah makin ayu. Ish gemesin, besok aku bantu terapi kaki ya. Juga lihat Jasper, kayaknya kucing kamu butuh perawatan di klinik aku, Sayang. Malam pertama nih Ai, ko diem sih," goda Shan, seraya telapak tangan terjulur membelai wajahnya.
"Ai, aku punya rencana untuk laskar dan kamu. Penasaran gak? kalau iya, bangun ya Sayang, cium aku esok pagi," suara Shan kian parau tanda ia sangat mengantuk.
Shan menautkan jemari, memeluk tubuh lunglai yang hanya terbujur diam.
"Kau, suamiku? benarkah? aku ingin bangun, tapi tidak bisa, tubuhku terkunci."
.
.
...________________________...
__ADS_1