ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 34. RAHASIA SHAN


__ADS_3

Menjelang Sore, Solo.


Danarhadi masih setia menemani sang cicit yang terkulai lemas. Saat Fayyadh membuka mata, dia hanya meminta agar buyut terbaiknya ini merahasiakan kondisi terkini pada keluarga inti.


Setelah melakukan tayamum untuk menunaikan sholat dzuhur tadi, pemuda yang tengah berjuang bangkit itu kembali memejam.


Raden Arya Tumenggung seakan kilas balik. Kisah cinta Wisesa, Naya, Amir bagai mendulang perih cerita masa silam. Bila Wisesa tak mendapatkan cinta Jameela, namun memiliki raganya. Akankah Fayyadh mengalami hal lebih tragis nanti, dia khawatir.


"Mas, Uyut paham rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, semoga kisahmu lebih baik dari semua keturunan Kusuma," lirih Danarhadi memandang wajah kuyu sang pangeran Kusuma.


Dirinya enggan meninggalkan kamar Fayyadh. Meski mendengar suara Kamila, Danarhadi bergeming.


Tok. Tok.


"Uyut, ini ada teh rempah juga kopi jahe racikan Baba, Mas Kaffa baru balik dari Malay. Di simpan kemana dan dimana? Kata Pak Kusno aku kudu tanya dulu," suara khas Kamila yang sedikit cempreng memanggil dari balik pintu.(nyaring)


Danarhadi memang ketagihan racikan kopi jahe buatan Gamaliel. Juga teh rempah hasil mixing Kaffa. Kolaborasi ayah dan anak dengan memanfaatkan bisnis palawija keluarga mereka nampaknya merambah ke sektor beverage.


Kaffa, putra sulung Gamaliel kini berhasil mengembangkan sayap perusahaan turun temurun milik sang ayah hingga menjadi trend setter di Negeri Jiran, Negara asal kakeknya.


Ceklak. Suara pintu terbuka.


"Tolong buatkan Uyut kopi jahe ya Mila. Juga minta singkong kukus sama Mban, bawa sini tapi gak pake teriak kayak tadi," pinta Danarhadi saat melihat gadis di hadapannya.


"Mas Fayyadh sakit ya? Mila boleh masuk gak?" Kamila melongok melalui celah tubuh buyut beda jalur dengannya.


"Gak boleh. Bukan mahram, lagian apa ndak malu sama ini nih? masih aja sembrono, nanti Ibu Alma marah loh," tegur Danarhadi, menarik sedikit niqob yang menutup wajahnya.


Kamila menepuk jidat. "Ya ampun, lupa. Aku sekarang pakai ini, syukron Yut. Nanti habis bikin kopi, Mila langsung balik ya. Salam buat Mas Fayyadh," ucapnya menunduk seraya menghambur ke arah dapur.


"Nggih, terima kasih Nduk."


Di masa tua, sungguh dirinya sangat bersyukur dikelilingi oleh para cicit, dilimpahi banyak kasih sayang. Berkat Naya, dia menemukan kembali cucu yang hilang, mempunyai kesempatan memperbaiki kesalahan di masa lalu hingga mendulang bahagia kini.


...***...


Jakarta, saat yang sama.


Shan masih bersama sang Ayah dan adiknya di kantor EQ Building, mereka berdua hari ini akan menyerahkan draft rancangan bangunan sebuah Masjid.


"Yah, ini mau dibuka pondasi kapan?" tanya Shan.


"Kalau nadzar itu harus segera kan? ya pekan depan bisa mulai. Aran sudah selesai belum dengan RAB nya?" sambung Ezra, menilik hasil rancang bangun putra sulung. (Rencana Anggaran Belanja)


"Done Yah," jawab Syaharan seraya menyerahkan sebuah file dalam map berwarna kuning.

__ADS_1


"Nah kamu lihat dulu, cermati. Jangan sampai adikmu itu korupsi," gelak Ezra menggoda Aran yang terlihat banyak membuang waktu dengan melamun hari ini.


"Yeeeeeeeee, gak bakalan ya Aran korupsi karena uang itu kan buat lamar Athirah, nikah sama dia, bangun rumah dan punya anak. Masa ngasih uang anu sih? Kusuma gitu loh, bibit unggul tidak pantas di beri nafkah abu-abu," elak Aran lagi.


"Dari kemarin, Athirah mulu. Tuh Jeslyn, Rebecca kamu kemanakan?" tegur Ezra mengingatkan putra keduanya agar tidak mempermainkan perasaan gadis.


"Bukan aku yang gatel. Mereka gak punya garukan, makanya minta di garukin dan ngejar aku mulu," tawa Syaharan pecah. "Lagian, gak kenal mereka kok Yah. Kurang minat pacaran juga, tapi pengen kayak Kakak. Nikah muda dan merasakan cinta pada pandangan pertama," angan adik kedua Shan melambung. Wajahnya berbinar.


"Kamu kayak siapa sih, Ran? perasaan dulu Ayah gak begitu," kilah Ezra seakan tak mengakui sifat yang dimiliki Syaharan.


"Kayak tetangga yang lewat ... Ayah menolak ingat sebab buaya sudah mulai hijrah," Syaharan dan Shan, terbahak atas kalimat sarkas untuk ayahnya.


"Gak sopan nih bocah berdua, ngatain Ayahnya," sungut Ezra meski dia pun akhirnya ikut tertawa.


Shan menerima uluran file dari tangan Aran, masih dengan sisa tawanya.


"Lagian kamu masih sekolah, Ran. Selesaikan dulu mimpimu itu sehingga saat bertemu wanita sholihah, kamu sudah tidak sibuk dengan dunia sendiri melainkan fokus membahagiakan dirinya," jelas Shan sembari menghitung kalkulasi biaya yang Syaharan sodorkan padanya.


"Tuh, dengerin apa yang Shan bilang." Ezra menepuk bahu Aran.


"Aku kan sambil sekolah meski Homeschooling. Punya kantor design sendiri walaupun masih sewa di lantai dua gedung Ayah," tawa Aran renyah seakan tanpa beban hidup.


"Tetap saja, belum kelar ... over budget untuk pembelian kubah, bisa tolong revisi gak, Ran. Jangan pakai produk import, gunakan hasil pengrajin lokal lalu nanti minta di finishing touch dengan lapisan yang kita mau. Itu jauh lebih ekonomis dan sama bagusnya," Shan menelaah salah satu biaya yang bisa dia tekan.


"Oh Ok. Kenapa Kakak selalu teliti dan briliant? Fokus bantu Ayah aja napa sih Kak, apa enaknya coba jadi dokter Hewan," sindir Aran pada Shan. Sulung Qavi lebih memilih menjalani profesi lain sebagai mata pencaharian utama ketimbang mengikuti jejak sang ayah.


Sembari menunggu adiknya merevisi RAB. Shan melakukan panggilan dengan Mifyaz untuk menanyakan kondisi Maira.


Sebuah obrolan seru terdengar di telinga Syaharan. Meski hanya sepuluh menit, apa yang Mifyaz sampaikan nampaknya memicu senyum mahal Shan terbit.


"Sejak jatuh cinta dengan Princess Kusuma tuh begitu, sampai mencari tahu semua kegiatan gadis itu. Mencoba membuat suatu pertemuan selayaknya peristiwa alami, padahal dia merencanakan," sindir Aran.


Shan tertawa. "Kamu bongkar rahasia, yang penting kan usahaku berhasil. Kalau Ai gak dikejar, dia akan lepas apalagi Uncle Rey bilang sainganku adalah Fayyadh, sepupunya," jujur Shan.


"Jadi semua itu bukan kebetulan Shan?" tanya Ezra.


Shan menggelengkan kepala. "Yang kebetulan hanya ketika pertemuan di Mushola. Sekaligus menjawab isyarat istikharah aku. Alasan aku mengapa memilihnya karena suara Ai, persis di mimpiku," jawab Shan menerawang, dia masih ingat kala perjumpaan saat di Mushola. Maira mengikuti dirinya mengaji pagi itu.


"Tuh kan Yah. Curang, Kakak juga dibantu Uncle Rey," Aran membongkar rahasia Shan.


"Tapi aku tetap ikhtiar lah Ran, gak membabi buta hingga yakin pada Ai. Meski Fathia juga mumpuni tapi saat detik akhir, hatiku condong pada Ahya," Shan kembali tersenyum.


"Pantes gelisah ya takut ditolak karena sudah matang persiapan sejak awal," ujar Ezra mengerti mengapa putra sulungnya gamang kala itu.


Shan hanya tersenyum simpul. "Pilihanku gak akan salah, Yah. Keyakinanku, Ai akan sehat kembali," ujarnya yakin.

__ADS_1


"Aamiin."


"Kak, bantuin buka jalan ke Athirah. Kan bisa minta nomer dia sama adiknya Kakak ipar," bujuk Syaharan.


"Nanti. Selesaikan dulu kerjaan kamu. Aku mau pulang, kangen istriku," sahut Shan seraya bangkit dan meminta tangan ayahnya untuk salim.


"Hati-hati Shan. Jaga kesehatan ya biar gaspol kalau Maira siuman," goda Ezra, saat putranya akan keluar dari ruangan.


"Jiaaahh, belum unboxing. Ya wajar sih, mana enak ya Kak main sendiri. Anyep kalau kata Eyang," Aran terbahak, dia sempat menghindar kala Shan melemparnya dengan buku notes dari atas meja kerja Ezra.


"Yah, kawinin aja. Parah dia sih," balas Shan perlahan menghilang di balik pintu.


Basemen.


Mobil CR-V hitam milik Shan, meninggalkan EQ building menuju kediaman mertuanya di Orchid.


"Kangen kamu Sayang," lirihnya memutar stir perlahan, menekan pedal gas agar lekas tiba dan dapat memeluk Maira.


Satu jam terjebak kemacetan membuat dokter muda itu kesal. Namun sejurus kemudian, mobil yang ia kendarai mulai memasuki apartemen Orchid.


"Gak sabar ya Allah. Kangen banget," keluhnya saat menaiki lift.


Keinginan Shan pudar ketika dia membuka pintu apartemen milik mertuanya. Seorang gadis tengah duduk ditemani Naya, menunggu dia di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum."


"El, tega sama aku!" serunya menghambur hendak memeluk El Shan, namun menantu Guna berhasil menghindar.


"Eh, Sumayyah." Shan menepi, ke belakang tubuh Naya.


"Selesaikan ya Nak, Bunda masuk dulu," ujar Naya lembut. Namun saat wanita itu hendak bangkit, Shan menghalangi langkah mertua perempuannya.


"Stay Bun, please. Aku dan dia hanya teman diskusi sesama Dosen di kampus, gak lebih." Shan meminta agar Naya menjadi saksi.


"Aku cinta sama kamu, El." Sumayyah mulai menangis.


"Tapi aku enggak. Kita cuma teman Maya, sejak awal ku katakan, bahwa we're just friend. Aku gak harus bertanggungjawab atas rasa yang hadir di hati kamu, maaf ... aku mencintai Ai istriku," ujar Shan menegaskan statusnya kini.


"Jadikan aku istri kedua mu. Dia koma bukan? aku yang akan memenuhi segala keperluan mu. Izinkan aku tetap disisi mu, El." Gadis dengan wajah cantik terpoles make-up itu menangis tersedu di hadapan Naya dan Shan.


Terselip ragu di hati Bunda Maira, apakah wanita ini akan menjadi duri bagi rumah tangga putrinya dan Shan?.


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2