ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 49. RASA BERSALAH


__ADS_3

Saat yang sama, Pagi hari di Solo.


Fayyadh masih dikamar, mengejar ketinggalan hafalan sebab besok Abinya akan menyusul ke Solo.


Meski dirinya lebih takut pada Aiswa namun tetap saja sang ayah kerap kali mendesak agar Fayyadh lebih giat menghafal.


Tok. Tok.


"Mas." Suara Abah memanggil.


"Beik," Fayyadh turun dari ranjangnya, meletakkan mushaf diatas tempat tidur lalu melangkah membuka pintu.


"Ya Bah, ada apa?" Lelaki paruh baya itu masuk ke kamar cucunya lalu duduk di sofa panjang depan ranjang.


"Coba baca ini, Abah gak menangkap apa maksud dan tujuannya. Di zoom malah pusing karena harus geser-geser layar, kacamata Abah sedang di cari Tara, lupa semalam naruh dimana," Wisesa menyerahkan ponsel ke Fayyadh agar sang cucu melihat pengga-lan artikel berita yang menyudutkan Kusuma.


Cicit Danarhadi, pagi ini hanya mengenakan kaus oblong hitam senada dengan warna sarung, menerima uluran gawai milik Abah. Jarinya dia ketukkan pada layar agar artikel yang dimaksud oleh Wisata dapat dia baca.


Setelah lima menit berlalu.


"Ya Allah kok begini? ditanggapi oleh Tuan Glenn tidak, Bah?" Fayyadh ikut terkejut.


"Itu dari Tuan Glenn. Beliau nanti mau call Abah. Semua rencana mereka batal, Mas. Fio putus asa, pagi ini gadis itu mengamuk di rumah," ungkap Abah.


Fayyadh terheran, apakah tindakannya melebihi batas koridor normal sosial dengan menyelamatkan Fiora kemarin? ataukah sikap bagai superhero justru melukai dia? dan dampak semua itu adalah ini, pembatalan pertunangan sepihak oleh keluarga Nixon sekaligus memfitnah dirinya telah merebut serta mempengaruhi gadis itu agar lepas dari Richard.


"Fiora cinta mati dengan Richard? Bah, gadis itu pernah di permalukan di depan umum, ditampar, kerap dihadiahi perkataan kasar dan umpatan lainnya. Jika dia lelaki baik, gak akan melakukan tindakan bodoh, toh mereka akan menikah juga kan?" bantah Fayyadh merasa disudutkan.


"Mas, kadang apa yang menurut kita baik, belum tentu di terima dengan reaksi yang sama oleh orang lain," Abah menenangkan Fayyadh.


"Ya memang bagi mereka itu adalah privasi, berbeda hal dengan ajaran kita bukan? apalagi kamu mergokin obrolan sebelumnya juga Fiora dalam keadaan setengah sadar. Tenangkan diri, hasil visum juga menunjukkan ada zat kimia dalam tubuh Fio yang membuat dia hilang kesadaran," jelas Wisesa.


"Herannya kenapa malah seakan tak bersyukur gitu jika sudah diselamatkan kehormatan dirinya. Juga tahu lelaki itu breng-sek namun masih saja tidak mau membuka mata. Apa cuma Richard yang ganteng, kaya dan pantas buat dia?" kesal Fayyadh, Fiora bebal bagai kerbau di cocok hidung bila sudah menempel dengan Tuan Muda Nixon.


Abah menggelengkan kepala melihat kekesalan sang cucu yang nampaknya gusar karena dituduh mengacaukan rencana rekan bisnis keluarga.


"Apa Tuan Glenn menyalahkan aku? atau memutus hubungan kerja sama dengan Kusuma, Bah?" cemas Fayyadh.


"Uyut tahu masalah ini juga?" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Tidak, jawaban untuk ketiga pertanyaan kamu ... Mas, apa tidak ada seorang gadis yang indah dalam pandanganmu selain Maira? punya nilai sempurna menurutmu?" Abah membalikkan pertanyaan Fayyadh.


Glekk.


"Entah. Aku belum tahu karena tidak ingin mencari tahu."


"Jawabanya salah. Ada, Mas. Cuma hati dan matamu masih ketutup nafsu. Sama seperti Fiora, wajar jika menyesali kejadian ini namun tiba suatu saat nanti juga ia akan mengerti bahwa peristiwa yang menimpa dia itu baik. Mungkin Fio menemukan dan nyaman dengan Richard, dia tidak yakin bakal menemukan sifat seperti itu pada pria lain hingga membuat putus asa jika lepas dari cintanya," tutur Abah panjang.


Fayyadh seakan tengah di hadapkan pada cermin besar dihadapannya.


"Benar." Fayyadh tertampar.


"Sekarang, Tuan Glenn meminta kita ikut dalam konfrensi pers yang akan dilakukan sore nanti. Kamu ikut," tegas Abah.


"Harus ya?"


"Wajib Mas, menolong sesama. Bisnis mereka berhubungan dengan dunia pendidikan. Nama baik sebagai tenaga pendidik juga tersemat pada diri Fiora. Sampaikan saja apa yang sebenarnya terjadi, juga records CCTV-nya siapkan. Jangan sampai dia melacak IP IMEI handphone kamu lalu meretas sistem dan menghilangkan bukti. Kita patut waspada sebab berhadapan dengan siapa," ucap Abah. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu lalu bangkit keluar dari kamar Fayyadh.


"Hmm, udah macam Uncle Rey aja ini penjabaran kasusnya," seloroh Fayyadh mendengar runutan kekhawatiran sang Kakek.


Ketika Abah mencapai ambang pintu, beliau berhenti.


Setelah kepergian kakeknya, Fayyadh merenung kembali. Apa yang telah dia lakukan, bagaimana bila Fiora terguncang mental mengingat tindakan seseorang yang dikuasai nafsu kerap di luar nalar.


Namun yang lebih mengusik batin pemuda tampan keturunan Tazkiya itu, apa yang di temukan dalam diri Richard sehingga Fio sulit berpaling sedangkan menurut mata mahluk lain, pria itu minus adab. Sosok dan sifat seperti apakah, nan diidamkan oleh gadis itu?


"Cinta ya memang gak masuk akal," gumam Fayyadh. Dia mencoba meneruskan hafalannya meski kerap kehilangan konsentrasi.


Menjelang Ashar.


Putra sulung Amirzain telah rapi, masih setia duduk di sofa dalam kamar. Notifikasi grup chat Tazkiya muncul di pop-up ponsel Fayyadh. Jemarinya menggeser pelan tombol disana untuk membuka aplikasi pesan. Dia membaca pelan tulisan sang uwa Dewiq yang menjelaskan kondisi terkini Maira.


"Maira mengalami penurunan daya ingat hingga menyebabkan hilangnya sebagian memori. Telebih pada sosok Shan," lirih Fayyadh membaca pesan yang di tulis disana.


"Innalillahi. Jadi Shan, bagaimana nasibnya? Maira mau di sentuh gak ya kalau hilang ingatan gitu? eh, astaghfirullah," kekeh Fayyadh menepuk mulutnya sendiri.


Tok. Tok.


"Mas, ayo."

__ADS_1


"Beik," sahut Fayyadh seraya bangkit, mematikan layar ponsel dan membuka pintu kamar. Mengikuti langkah sang kakek.


Perjalanan sore hari mereka tempuh selama tiga puluh menit hingga tiba di gerbang kediaman mewah sang Tusakti.


Saat Alphard hitam yang di gunakan Kusuma memasuki halaman rumah, nampak kesibukan di bagian fasad depan. Beberapa pewarta berita pun hadir disana.


Sang Tuan rumah menyambut kedatangan mereka dan mengajak Kusuma melewati sisi samping kediaman guna menghindari kejaran wartawan.


Baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah, Fiora hendak menyerang Fayyadh kala melihat kehadirannya.


"Gara-gara kamu! kembalikan Richard!" serang Fiora seraya berteriak.


Bodyguard wanita yang disiapkan Glenn sigap mencegah tindakan bar-bar sang Nona muda terhadap tamunya.


"Jangan hiraukan Fio. Aku sangat berterimakasih pada Mas Fayyadh karena sudah menyelamatkan kehormatan putriku satu-satunya. Putraku masih belia, dia juga sama menjadi pemurung sejak ditinggal ibu mereka. Mari silakan duduk," ungkap Glenn, merasa tak enak hati sebab tamunya tidak diperlakukan baik oleh Fio.


Fayyadh tercengang. Sebegitu besar dampak yang dia timbulkan. Hatinya diliputi perasaan cemas sekaligus sesal.


"Jangan pernah menyesali perbuatan yang menurut kita baik, Mas. Akan tetap ada fitnah, makian dan lainnya terhadap apapun sikap kita, itu sudah hukum alam," bisik Abah menepuk bahu Fayyadh. Wisesa merasa cucunya seakan diliputi rasa bersalah.


Akhirnya sesi klarifikasi, konfrensi pers berlangsung.


Sebagai bintang utama, Fayyadh mengutarakan permohonan maaf pada Tuan Glenn dan Fiora atas dampak yang ditimbulkan akibat sikap jagoannya kemarin. Juga menjelaskan duduk perkara sebenarnya bahwa semua ini murni karena rasa peduli, meski publik menilai dia salah.


Kisruh internal akan diselesaikan secara kekeluargaan dan Tusakti juga telah mengganti kerugian immateril yang Nixon minta.


Satu jam yang menegangkan berlalu dengan lancar. Tiba saatnya Kusuma pamit undur diri. Namun Fayyadh meminta selembar kertas catatan pada asisten Tuan Glenn, dia ingin menulis sesuatu untuk Fiora.


"Fiora, maafkan aku."


"Terkadang, hati membutuhkan lebih banyak waktu untuk menerima apa yang sudah kamu sadari. Kau tahu, aku pun sedang di fase sepertimu."


"Bagian tersulit untuk dapat move on dari seseorang adalah saat di mana kamu menyadari bahwa gak peduli seberapa lambat kamu mencoba pergi, mereka tidak akan pernah mengejarmu, betul kan?"


"Berhenti mencari kebahagiaan di tempat yang sama ketika kamu kehilangan rasa itu. Karena untuk menyembuhkan luka, terkadang kita harus berhenti menyentuhnya."


.


.

__ADS_1


..._________________________...


__ADS_2