
Tazkiya, siang hari.
Dewiq mengabarkan info terkini terhadap kondisi Maira di grup khusus keluarga Tazkiya. Dokter internist itu menulis bahwa keponakannya telah sadar namun masih harus dilakukan pemeriksaan esok pagi.
Respon bahagia tertuang disana termasuk dari si kembar, Farhana dan Farhan.
"Bang Fayyadh, pekan depan sebelum balik ke Mekkah mampir dulu yuk ke Orchid, jenguk Maira," sebut Farhan pada sepupunya.
"In sya Allah. Mungkin aku langsung ambil tiket terusan gak mampir kemana-mana dulu," balas Fayyadh.
"Kita jenguk sama-sama nanti," Amir menengahi, lalu menulis pesan panjang disana yang mengatakan bahwa mau bagaimanapun Orchid adalah bagian dari keluarga Tazkiya sebab ikatan kekerabatan karena pernikahan Amir dan Aiswa dulu, jadi sepatutnya saling memberi support.
...***...
Solo, saat yang sama.
Fayyadh sedang duduk seorang diri di pendopo inggil Joglo Ageng, tengah membaca Risalah Al mu'awanah karangan As-Syeikh Abdullah bin Alawi Al-haddad, jelang dua bab akhir yang berjudul Rela dengan ketentuan Allah.
Di sebutkan disana bahwa kerelaan adalah hasil mahabbah dan makrifat yang paling mulia. Bagi orang beriman seharusnya dapat meyakini sungguh-sungguh bahwa hanya Allah yang memberi petunjuk dan kesesatan, kesusahan juga kebahagiaan, mendekatkan sekaligus menjauhkan, memberi serta menahan, hingga pada hal mudharat atau manfaat.
Jika seorang hamba telah memahami, dan beriman pada-Nya maka sepatutnya tidak menentang Allah secara lahir dan batin atau mengeluh terhadap sesuatu yang bahkan jarang menimpa diri seperti bencana atau penyakit.
"Nah iya sering begini nih ... termasuk aku kemarin merasa seperti itu. Mengapa terjadi padaku? untuk apa semua ini? apa dosaku?" gumam putra sulung Amir, makin terbuka hatinya.
Tanpa Fayyadh sadari, Abah menghampiri cucu emas Kusuma.
"Karena yang terbaik bagi kita adalah bersikap ridha dan tawakkal. Jika engkau tidak mampu melakukannya, maka bersabarlah dan puas dengan pemberian Allah. Sesuai sabda Rosulullah. Doa adalah kunci ibadah, senjata kaum mukmin, cahaya langit dan bumi...," imbuh sang Kakek menanggapi kalimat Fayyadh.
"Bah, tahu kitab ini? ceritain versi Abah boleh?" pinta sang cucu.
"Tahu dong, bacanya kudu bareng sama fiqh juga kalau tasawuf itu, Mas. Gak bisa dipeng-gal ... Wa man yatawakkal 'alallah fahum hasbuh, apa tuh artinya?" Abah melanjutkan pembahasan dengannya.
"Barang siapa yang bertawakal pada Allah maka akan di cukupkan segala keperluannya, at-thalaq ayat 3. Mengapa Allah memerintahkan pada kita untuk itu dan mencari perlindungan? kan Allah Maha Tahu, manusia itu lemah baik hati ataupun iman," tuntut Fayyadh.
"Karena Allah akan mencintai orang mukmin yang demikian, Mas. Wa'alallahi fal yatawakkalil mukminun, hanya pada Allah orang mukmin harus--" Abah menghentikan kalimat agar sang cucu menyambung kata.
"Bertawakal," sambung Fayyadh.
"Mas tahu kan apa arti tawakkal itu sendiri?" ucap Abah lagi. Fayyadh mengangguk.
"Berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari satu keadaan ... ya lillah, manut cara Allah mawon, ngoten Mas. Terlepas mau lemah hati atau iman, upami sampun waktosenipun pasrah yo milet pripun Allah maringi solusi ingkang sae, senadyan ati roso ngelu," tegas sang kakek.
Sulit menerima, masih disadari betul oleh Wisesa. Apalagi mendengar berita tentang Maira telah tersadar mungkin memercikkan lagi rasa penyesalan atau bahkan kekecewaan mengapa kedua sosok orang tua yang dia kagumi tak meloloskan keinginan kala itu.
"Tapi tetep ya Bah. Bagaimana pengingkaran itu diabaikan, masih tetap membekas. Rasanya kok aku berkutat dengan itu saja, inginnya maju tapi sulit buat pergi karena lagi-lagi Abi menarikku," keluh Fayyadh.
"Nggih, leres. Makanya tadi di sebutkan hanya di minta memohon perlindungan pada Allah sebab lemahnya hati ... kudu diingat itu begini aja Mas biar lega. Allah akan mencukupkan kebutuhanmu. Sana gih, jalan-jalan. Sekaligus nunggu kiriman bunga siap, kamu cek ke Kebon sebelum kirim. Acara pertunangan nona Fio itu besok malam kan?"
__ADS_1
"Iya. Aku harus kontrol kesana lagi gitu? kan harusnya enggak," elak Fayyadh mencoba menghindar.
"Iya gak usah ke Floffy Craft, cuma ke Kebon aja. Lagian Abah cuma nanya tadi, Mas. Kamu makin ke sini malah kian ke sana," jawab sang Kakek.
"Dih, Njid gaul." Fayyadh tertawa mendengar ucapan Abahnya yang mengikuti trending jargon kalimat beken.
Abah ikut tertawa lalu menyerahkan kunci mobil Honda Freed ke tangan cucunya. "Sana, jangan pulang malem-malem, meski jelang weekend," pesan Wisesa.
Fayyadh sejujurnya malas keluar rumah, namun bayangan Maira yang tersenyum manis menggelayut di pelupuk mata. Dia sekuat tenaga ingin melepaskan itu namun lagi-lagi berat karena masih satu circle utama.
"Ini cobaan, ujian terbesarku. Bukan tentang rasa sakit saja namun kata Abah keberpasrahan itu ternyata sangat menyiksa karena aku masih lalai," gumam Fayyadh seraya menekan tombol remote mobil.
Tak lama kendaraan roda empat itu keluar dari Joglo Ageng menuju sebuah cafe yang hits di pusat kota Solo.
"Antara ingin menghindar sekaligus mendekat, susahnya aku yang gak bisa melepaskan kemarahan serta rasa sakit dalam hati, begini nih. Kebayang waktu Umma dulu itu macam mana." Fayyadh bermonolog saat dia tiba di perempatan jalan, lampu merah.
Jarinya dia ketukkan beberapa kali di stir, netra sipit itu fokus ke bagian depan mobilnya. "Eh, kok begitu. Wah parah," Fayyadh mengomentari pasangan yang seperti sedang bertengkar di dalam sana. Suara klakson sahut menyahut dari arah belakang, namun kendaraan di depannya tak jua bergerak maju.
Lelaki Kusuma akhirnya mengambil inisiatif banting stir ke kiri dan mulai keluar barisan agar mobil dibelakang bisa melaju normal kembali.
Beberapa menit berikutnya.
Honda Freed putih milik Wisesa yang Fayyadh kendarai memilih belok ke kanan beberapa blok hingga tiba di tujuan.
"GalauBre Cafe and Lounge. Bahkan perjalanan membawaku ke sini, tau bener ni nasib. Tuan raga nya lagi galau," decak Fayyadh saat mulai memasuki pelataran cafetaria.
Dia mendorong pintu cafe dan menuju line taking order. Langkah kaki Fayyadh memilih table di sudut ruangan agar dia dapat menikmati waktu santainya maksimal. Namun, baru saja dia duduk, indera pendengarannya menangkap suara yang dia kenal.
"Malam ini, come on. Kan kita mau sah," suara seorang pria.
"Enggak, nanti lah tanggung."
"Apa beda sekarang dan nanti, kan sama-sama buat aku juga," keluhnya mulai kesal.
"Kalau nanti, kamu udah sah jadi suamiku. Sekarang kan belum, bukan gak percaya tapi aku pengen kasih special aja," ujar sang wanita.
"Ish, ngeri." Batin Fayyadh mendengar obrolan pasangan yang familiar. Dia menduga si pria menginginkan sebuah pembuktian cinta dengan kontak fisik layaknya suami istri.
Daripada waktu me-time nya ternoda, Fayyadh memasang headset di telinga. Memilih mendengarkan radio seraya menutup wajah dengan topi yang dia kenakan. Kepalanya disandarkan pada sofa head, cozy like a home.
Bahkan saat pesanannya tiba, Kakak Athirah itu hanya mengabaikan snack dan juice diatas meja, asik mendengarkan suara relay Bunda Naya dari stasiun RatiSlo.
Karena merasa hawa dingin dari suhu cafe begitu menusuk permukaan kulit. Pangeran Kusuma bangkit menuju toilet, memutar arah tak melewati meja di belakangnya. Saat akan mendorong pintu rest room itu, ekor mata Fayyadh menangkap sosok pria yang dia kenal.
"Eh, lagi ngapain itu?" Fayyadh berlalu, dia curiga namun memilih tak ingin ikut campur. Ketika keluar dari toilet, sudah tak ia dapati seseorang tadi.
Fayyadh pun kembali ke tempat duduknya, meraih gelas minuman yang terabaikan. Saat tengah meneguk, dia hampir tersedak mendengar kalimat menjijikkan dari arah belakang. Tak ingin sasarannya curiga, Fayyadh menahan perih saat cairan itu sedikit masuk ke rongga hidung.
__ADS_1
"Wah, gak bisa didiemin ini. Kurang ajar, main kotor Lu ya." Batin Fayyadh.
Lelaki asing dengan niat buruk pun beranjak, memapah sang wanita dalam dekapan keluar dari cafe.
Saat pandangan mereka teralihkan, Fayyadh pun bangkit mengikuti kemana arah kedua muda mudi pergi. Ia pun masuk kedalam mobilnya bersiap mengikuti rute tujuan pasangan tadi.
Cucu Wisesa mengirimkan pesan pada Abah apabila tak dapat mengontrol kondisi bunga di Kebon sebab tengah mengerjakan sesuatu urusan. "Bukan urusan gue, tapi gimana ya. Aku kenal dia, dan kasihan aja sih. Bismillah," ucapnya saat banting stir dan tancap gas menyusul laju mobil didepan.
Hampir dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mobil sport yang Fayyadh ikuti masuk ke basemen sebuah hotel. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu.
Otaknya berpikir cepat mencari cara bagaimana agar dia bisa menyelinap masuk. Akhirnya sebuah ide di dapat. Fayyadh menghampiri meja receptionist saat pasangan tadi telah pergi. Dia check-in meminta kamar disebelah mereka.
"Suite Pak," ujar petugas.
"Its Ok. Asal dengan satu syarat, aku ingin di temani ke kamar dengan dua orang staff wanita. Bukan untuk melakukan sesuatu hal negatif hanya ingin ditunjukkan secara spesifik sebab ini pengalaman pertamaku menggunakan fasilitas mewah," pinta Fayyadh kemudian.
Pihak hotel hanya dapat memberikan satu staff wanita dan pria untuk menemani dirinya ke lantai empat gedung mewah itu. Fayyadh merasa waktu sangat lambat akhirnya dia pun berlari tak menunggu pihak hotel, meninggalkan kunci kamar di sana.
"Tuan Althafaris," seru frontline. Mereka pun mau tak mau ikut berlari menyusul sang tamu.
"Hang On. Allah, jaga dia meski--" Fayyadh kembali tergesa saat keluar lift. Dia menabrak seorang pria yang berpapasan dengannya.
Umpatan lelaki asing itu, tak Fayyadh hiraukan. Otaknya hanya ingin menyelamatkan seorang gadis.
Dug. Dug. Dug.
Fayyadh menggedor pintu tetangga kamar yang dia duga tengah berniat jahat.
Dug. Dug. Dug.
"Tuan Althafaris, kami mohon jaga ketertiban umum," tegur petugas yang terengah menyusulnya.
"Dia didalam tengah terancam, tolong buka!" hardik Fayyadh pada petugas hotel.
"Gak bisa begitu, privasi Tuan. Mohon maaf," ujarnya seraya menarik lengan Fayyadh menjauh dari pintu.
Brakk. Brakk. Fayyadh menendang pintu paksa.
"What the--" penghuni kamar membuka pintu.
Bugh.
Putra sulung Amir melayangkan bogem mentah pada Richard. Pria itu terhuyung, lalu Fayyadh merangsek memaksa masuk kedalam kamar.
"Innalillahi. FIORA!"
.
__ADS_1
.
..._______________________...