ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 93. SIAPA?


__ADS_3

Bandara Solo, jelang landing.


Arwa nampak bersiap mengemasi kembali barang miliknya sebelum flight attendant meminta penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman kembali.


Wanita yang mengenakan gamis coklat kopi melirik ke sang sahabat yang duduk disamping. Dia mencemaskan gadis itu, sedikit dari dahinya terlihat berkeringat padahal kabin ber-AC. Menjadi khidmah memang berat. Harus tulus, gercep juga selalu bugar.


"Arwa, hal Anti bi khoyr?" tanya Shofie. (Apakah kau baik saja?)


Gadis bergamis coklat tua menoleh ke arah sang kawan safar. "As'uru bissuda'in nasfi, akhta juda wa'an lilalam," jawab Arwa seraya memegangi kepalanya. (Aku migrain, butuh obat penahan rasa sakit)


"Aartah qolylaan washrab sawa'il katsiratan, wasa'ahdur 'iilayk ba'ida al'adwiat fi tariq 'audati," sahut Shofie lagi, sembari menggenggam erat jemari kanan Arwa. (Istirahatlah, minum banyak air dan aku akan membeli beberapa obat dalam perjalanan pulang)


Mata indah itu terlihat menyipit, tanda senyum terlukis pada wajah dibalik niqab. "Syukron."


Keduanya lalu sama terdiam kembali hingga tiga puluh menit berikutnya flight attendant berjalan menyusuri lorong disetiap kabin guna memeriksa apakah para passenger telah aman.


Tak lama pesawat itupun landing dengan sempurna.


Gadis berniqab yang diutus Nyai mereka untuk memberikan bingkisan pada seorang Hubabah Aminah Al-kahf. Juga melakukan koordinasi dengan laskar akhwat yang disewa, bertujuan agar saat sang Dzuriyah menghadiri pernikahan putra pondok pesantren As-shidqu, kenyamanan juga keselamatannya terjamin, kini tengah menunggu di ruang bagasi.


Namun saat santri ikhwan menjemput mereka, travel bag milik Shofie hilang di Bandara.


"Shofie, Arwa...." sapa sang santri ikhwan.


Kedua gadis melambaikan tangan. Ketiganya berbincang sejenak menjelaskan situasi.


"Amti'atun wakhakoibu mafqudah," ucap Shofie. (Bagasi ku hilang)


"Kam adda dulhaqoibi ladaaik?" (Anti bawa berapa tas?)


"Tsalatsa," (tiga)


"Arjieuu ya rifaq fasawf abhath akthur," jawab sang ikhwan, sehingga mereka pergi meninggalkan pria itu. (Sebaiknya kalian pulang, biar aku yang mencari.)


Dalam kabin taksi Bandara yang akan membawa ke pondok.


"Bagaimana ini, didalam sana isinya penting semua. Bukhur juga denah. Kita susah payah ketemu kapten Eye-shadow, malah site plan lenyap, juga pengenal yang diminta siapkan oleh mereka untuk para ikhwan," keluh Shofie.


"Ana sekilas scan QR pada denah master plan miliknya tadi. Juga memfoto name tag contoh pengenal kita," sahut Arwa, memejamkan mata.


"Serius? kenapa gak bilang, Arwa?" seru Shofie, kegirangan.


"Serius. Ana pusing banget dan gak tahu isi koper Anti. Makanya sedari tadi diam," cicitnya pelan.


Shofie kegirangan, dua benda penting terselamatkan. Gamis bisa dia dapatkan dari mana saja, Nyai orang yang loyal pada para khidmat kesayangannya. Bukan hal sulit mendapatkan koleksi syar'i.


"Setelah Ana pulih, nanti kita cetak ke sekretariat agar bisa di briefingkan segera dengan para ikhwan yang membantu. Nona Mahya sangat ramah, jikalaupun meminta dikirim ulang denah tentulah beliau bersedia," saran Arwa.


Keduanya lega. Gambaran kapten laskar akhwat judes nan menyeramkan seketika pudar kala melihat Mahya Humaira, selain sangat ayu, wanita muda itu hangat dan ramah terlebih saat menjelaskan koordinasi juga pembagian tugas, bahasanya mudah dimengerti oleh mereka yang awam.


Satu jam kemudian.


Kedua gadis tiba di pondok, melaporkan langsung kejadian juga kronologi selama di Jakarta pada Nyai lalu pamit undur diri.


Arwa masuk ke kamarnya, melepas hijab juga niqab. Dia lalu berbaring di ranjang, melepas penat sebab denyutan kian hebat di kepala.


"Lelahnya."


Gadis ayu itupun langsung terlelap. Namun baru beberapa menit kemudian, dia tersentak.


"Kamu siapa? mengapa sulit dikenali?"


"Siapa? siapa apanya?" nafas Arwa memburu, dadanya berdebar.

__ADS_1


...***...


Jakarta.


Acara walimah pasangan muda Qavi akan digelar sepekan lagi. Sejak kemarin Maira masih sempat menemui beberapa klien, lalu menyambangi banyak majlis guru mulia untuk meminta doa, serta berterima kasih sudah membersamai dirinya melewati masa sulit. Termasuk mengkonfirmasi pada Syarifah Aminah Al-kahf untuk acara dua pekan ke depan.


Kini dirinya telah ada di latihan pacuan kuda, masih berusaha menyempurnakan kepingan ingatan yang hilang.


Langkah Angelisbeth berhenti kala ponselnya berdering.


"Ya Zie, aku baru sampai. Oh, mau nyusulin?" jawabnya kala Shan meminta dia tetap stay disana meski telah selesai latihan.


"Setelah ngajar langsung ke sana. Tunggu ya, Ai. Jangan kemana-mana tanpa aku," pesan Shan. Maira sangat sibuk akhir-akhir ini, sama seperti dirinya sehingga waktu kebersamaan mereka banyak berkurang.


"Oke."


Kapten laskar Eye-shadow pun meneruskan langkah menuju salah satu istal. Tak dia duga, dirinya bertemu kembali dengan Sumayyah.


"Eh, kamu disini? sama El juga?" tanya wanita cantik itu, tengah siap menuntun kudanya menuju landasan pacu.


"Enggak. Suamiku kerja," jawab Maira singkat, dia menuju kandang Elizabeth. Kuda betina itu segera menyambut riang dengan ringkikan, sebab kedatangannya.


Sumayyah terheran, Elizabeth adalah kuda yang sulit diajak kerjasama namun mengapa dengan Maira begitu mudah.


"Bisa naik kuda? apa belajar beginian cuma buat narik perhatian El dulu?" cibir Sumayyah lagi.


Maira bergeming, dia menyiapkan Elizabeth dibantu Coach yang berjaga disana. Lalu bersiap menuntun sang primadona keluar istal. "Mau battle?" tantang Maira cepat.


Glekk.


"Nantangin nih? jangan nyesel ya kamu, awas kalau ngadu sama El," cibirnya lagi.


"Ngadu? Ck, Sorry ya. Kamu siapkan diri aja, takut nanti nangis," jawab Maira seraya bersiap menaiki Elizabeth.


Maira mulai pemanasan, dia terus berbisik pada kudanya, tertawa renyah seakan mengerti bahasa yang Elizabeth sampaikan.


"Jangan meremehkan Nona Guna, Non," pesan Coach kala menyilakan Sumayyah masuk bergabung dengan Maira.


"Ck, biasa saja."


Putri keturunan pejabat tinggi negara memulai aksi hingga tiba saat keduanya mensejajarkan diri di arena, dibantu oleh beberapa Coach. El tiba, namun hanya diam mengamati dari kejauhan tanpa sepengetahuan sang istri.


"Ai jangan terlalu kentara, dia gak sepadan," lirih Shan.


Beberapa menit kemudian, Sumayyah nampak lelah padahal baru separuh jalan dari taruhan yang dia minta. Sementara Maira belum terlihat satu tetes keringat membasahi wajah ayunya.


"Sudah puas? aku unggul dua putaran denganmu," bisik Maira menghampiri Sumayyah masih diatas kuda mereka.


Gadis ayu itu hanya diam, menatap tajam pada mata Maira. Niat jahatnya timbul, dia menendang perut Elizabeth hingga kuda itu terkejut dan kesakitan, meringkik melesat berlari kencang. Maira pun terbawa arus tarikan sang kuda betina yang panik.


"Nona Mahya!" Coach segera melakukan penyelamatan.


"Sayang!" Shan berlari menerjang palang arena.


"Coach, Rollies!" Shan berteriak pada pelatihnya.


"Hah, Eliza. Tenang, tenang baby!" pekik Maira berusaha tak melonggarkan tali kokang.


Di saat yang sama ia mendengar suara Shan, Maira menoleh ke semua penjuru.


"Jangan, Zieeee, stop. Aku bisa, aku bisa, tunggu sebentar," Putri cantik Mahendra berteriak mencegah Shan menyusulnya dengan Rollies.


Putra Dila tak menghiraukan, dengan sigap menaiki Rollies dan menyusul istrinya sebab Elizabeth masih membabi buta.

__ADS_1


Pemandangan mendebarkan disaksikan Sumayyah dari tepi. Awalnya dia merasa menang menguji ketahanan Maira, namun sejurus kemudian dia cemburu disertai ketakutan.


Gadis ayu itu hendak kabur, namun salah satu Coach menahan pintu arena sehingga dia tidak dapat keluar.


Beberapa menit kemudian.


Shan berhasil menenangkan Elizabeth. Terlihat kelelahan di mata istrinya, peluh membasahi dahi Maira. Wanita ayu itu pun, memeluk leher Elizabeth dan berbisik disana.


"Maaf ya, aku gak lihat dia jahatin kamu. Masih sakitkah? aku cek nanti ya setelah kamu kembali ke kandang," bisiknya lembut hingga Elizabeth kembali tenang.


Shan yang melihat kebiasaan istrinya hanya menggelengkan kepala. "Kamu juga terancam bahaya, Sayang. Bukan cuma Eliza," Shan mengusap kepala Maira, masih diatas kudanya.


Keduanya lalu berjalan beriringan menuju tepi arena, namun mengabaikan Sumayyah disana.


"El."


"El, aku bisa jelaskan! El," rengek Sumayyah.


Shan tak menanggapi, dia marah padanya. Namun tidak dengan Maira. Putri sulung Naya itu berhenti tepat disamping Sumayyah.


"Jika kamu berpikir aku membencimu, itu salah, justru kasihan karena kamu terlalu cepat memutuskan untuk menyerahkan diri pada pria yang jelas-jelas sudah tidak perjaka," kekeh Maira.


"Selalu ada dua sisi dalam setiap cerita. Mirip seperti wajahmu. Kebodohonmu terlihat sebab galau karena hasrat merebut perhatian suami orang, jadi buat apa menawan jika ... murahan!"


Sumayyah geram, wajahnya merah padam terlebih melihat Shan menengadahkan kedua lengan saat menyambut Maira turun dari atas kuda.


Mengabaikan amukan wanita ulet teh pucuk, pasangan muda itu menyusuri bangku diluar arena. Mereka duduk disana. Maira sejenak diam, memejamkan mata, seperti saat konseling.


"Kau ingat sesuatu di sini?" suara Shan lembut terdengar.


"Calon istriku."


"Nanti dikira suamimu." Kilatan ingatan saat Charity hadir.


"Ziee, disini, kamu ngasih ponsel ke aku yang ada wallpaper baju hijau, bener gak?" tanya Maira kala membuka mata.


Shan meraih ponselnya dari saku celana, menunjukkan foto yang dia maksud. "Ini, Sayang?"


Gadis ayu itu mengangguk riang. "Iya."


"Alhamdulillah, mulai intens mengingat ya?" balas Shan ikut bahagia.


Pasangan Qavi tetap ada disana, hingga satu jam kedepan.


"Ke Solo, aku ikut nemenin kamu ya, Ai. Gak ada bantahan. Ayah nitip laskar ke aku, bukan kamu dan itu artinya aku harus ikut terjun langsung," ucap Shan serius.


"Oke Zie, jadwal kamu gimana?"


"Disesuaikan, janji kita besarkan semua impian kamu sama-sama ya Ai. Pelan-pelan in sya Allah terwujud," ujar Shan lagi.


"Kapan aku hamil, Zie?" Maira kembali murung.


"Sampai Allah bilang, kamu siap, Sayang."


"Tapi nanti kamu?" cemas Maira lagi.


"Apa? mendua?"


.


.


...__________________...

__ADS_1


__ADS_2