
Ba'da Isya.
Saat menstimulasi dan melakukan pijatan ringan pada syaraf kaki Maira menjelang maghrib tadi, Shan menangkap gerakan kecil dan samar beberapa kali dari jemari sang Istri. Namun, ia berpura tak melihat. Bukan tanpa tujuan, Shan ingin menikmati perlahan semua perkembangan wanita pujaan.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Kini pria tampan itu telah berbaring miring menghadap istrinya. Menyelipkan tangan kirinya ke bawah tengkuk Maira sehingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
Jemari kanan Shan, menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi juga sebagian pipi Maira, menyelipkan ke belakang telinga lalu mengecupnya bergantian.
Diluar hujan. Hembusan angin membawa bulir tetes air dari pintu balkon yang sedikit terbuka di tambah dengan suhu pendingin ruangan, membuat Shan menarik selimut rapat hingga ke dada karena hawa dingin mulai menusuk kulit.
"Sayang, sesuai janji tadi sore aku mau share kisah indah. Tahu gak tentang apa?" tanya Shan pada Maira.
Dia memang tak mengharapkan jawaban, namun tetap saja melayangkan sebuah pertanyaan padanya.
"Apa? gak kedengeran kamu ngomong apa Ai. Bukan kisah cinta sesama mahluk. Ayo coba tebak lagi," ujarnya lagi menempelkan telinganya di depan bibir Maira.
Hening. Shan mengamati tubuh yang masih terbaring.
"Kisah tentang ikan sebelah. Belum tahu kan? dengerin ya."
"Banyak orang menyebutnya sebagai ikan Musa. Kisah ini disebutkan dalam al-quran surat Al Kahfi ayat 60-61 dan hadist riwayat Bukhari. Nabi Musa sedang melakukan perjalanan hingga mencapai pertemuan dua laut, Merah dan Putih ... tempat pertemuan itu ialah Danau at-Timsah dan Murrah, yang merupakan pertemuan antara Teluk Aqabah dan Suez di Laut Merah."
"Kabarnya ikan ini dijadikan bekal makanan saat akan mencari Nabi Khidr. Tetapi Nabi Musa hanya memakan sebelah badan ikan dan menyisakan sebagian."
"Ketika Nabi Musa sampai ke suatu tempat yang merupakan pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, yaitu bekal mereka dalam perjalanan. Namun tiba-tiba ikan dengan sisa badan sebagian itu hidup kemudian melompat dan menceburkan diri kembali ke laut. Berkembang biak hingga saat ini."
"Kisah ini menjadi persaksian dan ibroh buat aku Sayang, bahwa tiada hal mustahil bagi Allah untuk menghidupkan kembali makhluk-Nya apabila telah mati. Sekaligus mematahkan logika tentang teori dan ilmu yang tidak masuk akal bagi manusia. Karena sejatinya pengetahuan manusia adalah sedikit dari Karunia Allah."
"Bukankah Allah menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi nyata? itu lebih rumit dijelaskan daripada kisah tadi, menghidupkan mahluk tak bernyawa," bisik Shan.
"Jadi apalah sabarku ini yang belum mencapai seujung kuku. Perkara mudah bagi Allah untuk membuat istriku membuka mata kembali. Sama-sama bujuk Allah ya Sayang," Shan menghibur dirinya sebab kerinduan teramat sangat pada Maira meski baru beberapa hari keduanya bersama.
"Besok Tante Dewiq mau kesini ya? kalau Dokter Nuha itu siapa? sengaja aku gak kerja satu pekan ke depan. Kita terapi rutin ya Sayang, jangan pernah menyerah karena aku pun begitu. Have a nice dream Honey, ketemu di mimpi ya Ai. Aku rindu," imbuhnya memeluk tubuh Maira bagai guling. Dia tak peduli, wanita cantik itu miliknya kini. Meski tak merespon, paling tidak Maira tahu bahwa dia di cintai, di damba oleh seorang yang memuja.
...***...
Solo, saat yang sama.
Abah baru tiba di Joglo Ageng menjelang tengah malam. Sesuai perintah Danarhadi, tiada yang memberitahukan perihal kondisi Fayyadh dua hari lalu pada keluarga Kusuma. Termasuk Abah, dia belum mengetahui kabar cucu emas itu.
__ADS_1
Danarhadi mengingatkan pada cucunya tentang perjanjian kerjasama yang harus di laksanakan esok pagi dengan Floffy Craft.
"Iya Kek. Mas Fayyadh sudah tidur?" tanya Abah saat akan masuk ke kamar.
"Sudah. Kalau dia besok susah dibangunkan, jangan di paksa. Biarkan istirahat dulu," pesan sang Tumenggung.
Wisesa hanya menanggapi dengan anggukan lalu masuk ke kamarnya, tubuh berusia setengah abad lebih itu mulai merasa mudah letih.
Keesokan Pagi.
Ba'da subuh terdengar suara merdu dari kamar Fayyadh. Rupanya pemuda itu telah jauh lebih baik setelah satu hari istirahat total dengan infus menancap di lengan.
Tiba waktu sarapan, semua pria single Kusuma satu persatu mengisi meja makan di ruangan megah dekat dengan pantry.
"Mas, sudah enakan?" tanya Danarhadi saat melihat cicitnya telah lebih dulu berada disana.
"Alhamdulillah, syukron Yut dah rawat aku seharian kemarin. Hari ini mulai masok ke Floffy, aku ingat tanggung jawab ku. Semoga sudah kuat nanti," ujar putra sulung Amir.
"Jangan dipaksa ya." Danarhadi menarik kursi untuk duduk dan menyantap hidangan ringan yang sudah disiapkan sembari menunggu Wisesa.
Satu jam berikutnya. Kedua pria beda jaman telah meninggalkan Joglo Ageng menuju Kebon. Beberapa puluh tangkai bunga sudah siap kemas ketika mereka tiba.
Matahari mulai naik. Saatnya mengirim semua keranjang bunga warna-warni menuju venue rekan bisnis.
At Floffy Craft.
Entah promo apa yang Fio luncurkan saat grand opening, toko bunga itu sangat ramai meski etalase belum di buka. Ketika Fayyadh turun dan mulai membuka bagasi mobil box, teriakan para gadis mengejutkannya.
"Hai ganteeeeng!"
"Aaaahhh, Oppaaaa!"
"Hi Five!"
Sempat merasa khawatir para gadis akan menyerbu namun staff keamanan Floffy mencegah kehisterisan mereka dan meminta Fayyadh segera masuk ke dalam toko.
"Brasa artis niye," sindir Fio saat melihat Fayyadh di hadapannya.
"B aja. Silakan di cek lalu sign, aku menata produk di dalam sesuai ketahanan jenis bunga. Semoga semua ini terjual tak lebih dari dua hari," ucap Fayyadh seraya berlalu menuju ruangan khusus bunga.
__ADS_1
"What, dua hari. Jangan ngaco, aku baru akan meminta tambahan bunga jenis baby breath. Yang kau masukkan itu, sold untuk buket malam nanti dan keesokan pagi. Matamu gak lihat? di belakang sana karyawan ku sedang merangkai tatanan bunga untuk dekorasi wedding?" sergah Fiora, merasa Fayyadh mendeskreditkan dirinya.
Fayyadh sukses membola. "Gak gratis kan?" tanya sang pemuda tampan tak percaya, semudah ini gadis urakan itu menjual bunga.
"Enak aja, bisnis ya bayar donk. Nih daftar bunga yang ku minta, jika bisa harus malam ini tersedia ... lusa nanti, tolong siapkan seperti dalam catatan itu. Untuk acara engagement aku," Fiora menyodorkan dua kertas repeat order pada Fayyadh.
"Saranku peach rose, krisan atau daisy ... lily hmm untuk acara itu bukan sih biasanya? ya memang maknanya bagus dan cocok tapi jangan dipake buat acara lamaran atau nikah lah. Eh serah sih, itu kan asumsi," Fayyadh melihat banyak permintaan Lily orens dalam daftar, juga jenis bunga yang banyak digunakan di moment duka cita.
"Anggrek, Dark Crimson, Marigold dan Lily, untuk engagement. Aku gak percaya mitos atau apapaun itu, jadi sediakan saja," pinta Fio berlalu dari hadapan Fayyadh. Wanita itu bersiap membuka etalase toko dibantu lima orang karyawannya.
Setelah tugas memindahkan bunga selesai, Fayyadh kembali dengan driver ke Kebon dimana Abah masih menunggunya.
Dari garasi sebelah, terlihat antusias pelanggan saat toko dibuka Fio. Namun perhatian Fayyadh justru tertuju pada sosok pria yang berdiri bersandar pada mobil sport hitam Toyota FT 86, nampak menatap tak suka pada seseorang.
Saat Fayyadh menelusuri kemana arah pandangan itu berlabuh, ternyata Fiora. Gadis itu keluar menyongsong si pria tadi.
"Pacarnya kali tuh ya," gumam Fayyadh saat membuka handle pintu mobil boxnya.
Plak.
Terdengar suara bagai tamparan. Fayyadh menoleh. Fiora memegangi pipinya.
"Kamu jangan ngadi-ngadi. Nomer siapa ini? selingkuhan, hah?" serunya di depan toko, menyita perhatian para pengunjung.
Fayyadh hendak melerai, menyarankan agar menepi sebab toko sedang dalam kondisi ramai namun tarikan tangan driver mengurungkan niatnya.
"Jangan Mas. Sudah biasa mereka ribut begitu, waktu di Kebon juga pernah. Nanti semenit kemudian juga baikan. Kita balik segera," ajak driver buyutnya menarik lengan Fayyadh.
"Hubungan apa begitu? toxic banget!" kesalnya seraya naik ke mobil dan menutup pintunya. Netra sipit itu masih mengamati gadis di sana, terbersit iba dalam hati melihat Fiora diperlakukan demikian.
"Kamu garang, tapi sama cowok jahat gitu kenapa diam aja sih?" gumam Fayyadh, masih memandang sosok yang perlahan mengecil dari kaca spion seiring laju mobil menjauh.
.
.
...________________________...
...Sabar ya, kalau Maira lekas sadar, nanti langsung tamat 😂....
__ADS_1