
Setelah keluarga Qavi datang tempo hari, Mahendra kerap membicarakan Shan dengan Maira. Hubungan ayah dan anak itu kian erat meski hanya dalam komunikasi satu arah.
"Kak, istikharahnya Ayah lanjutkan tapi belum ada signal dari Allah. Sebagai ikhtiar bumi, gimana kalau ini di bicarakan dengan kakekmu, Ayah akan call Abah dan Kak Amir. Sebab lamaran Fayyadh di tolak, jangan sampai terselip sakit hati meski sebesar zarrah," ucap Mahen, menggenggam telapak tangan kiri Maira.
"Beri petunjuk, Sayang. Meski Shan adalah pria yang kau tulis dalam jurnal, namun bila Maira tidak menginginkan dia menjadi suamimu ya Ayah gak bakalan kasih izin. Ck, galau ini. Ditolak aja deh ya, biar Maira tetap jadi princess kami. Ok?" Mahen merasa konyol, tapi dia akan mencoba cara ini.
Tut. Tut. Tut. Tut. Bunyi alat deteksi jantung, terdengar lebih cepat dari biasanya.
"Maira, apa maksudnya? kalau mau protes itu ya bangun lalu kita bicara. Kan Ayah gak paham isyarat kamu kalau gitu tuh ... Dokter Nuha bentar lagi dateng, hmm apa kamu sama dia aja ya? biar kami tenang," goda Mahen lagi, ingin melihat reaksi Maira.
Tut. Tut. Tut. Tut.
"Gak ngerti aaah, nanti coba kami rundingkan dengan Bunda deh. Shan masih ada hubungan jauh sebab tantenya menikah dengan om kamu, Arjuna. Gak enak sama uwa Amir karena lamaran beliau Ayah tolak. Jika dokter Nuha kan, gak ada ikatan apapun. Ini opsi terbaik, Ok Sayang?"
Mahen berpura beranjak dari sisi ranjang Maira. Namun sejurus kemudian dia tertegun saat tubuh tegap itu baru saja bangkit. Maira menangis. Air matanya deras mengucur membasahi sisi pipi wajah ayu. Mahen pun menutup mulut dengan salah satu telapak tangan.
"Maira, apa maksudmu, Sayang? keberatan dengan Dokter Nuha? dia cakep loh, seumuran kamu juga kayaknya itu," Mahen masih saja mencoba dan coba lagi.
Tok. Tok.
"Ayah, ada Dokter Nuha di bawah, Ayaz suruh naik aja gimana?" suara putra bungsunya.
"Sini aja gitu, Yaz. Sekalian mau Ayah tanya, dia mau gak menikah dengan Maira," ujar Mahen lagi.
"Dih, jelas-jelas Kak Shan itu yang Kakak pilih. Ko Ayah tega sih. Ayaz bakalan jadi orang pertama menentang dan ngebatalin rencana Ayah. Liat aja nanti," sergah Mifyaz Ajmi tak suka cara sang Ayah menjodohkan paksa.
Mahendra tertawa. Tawa pertama sejak hampir satu bulan putrinya tertidur. "Ish, kandidat paling baik. Agar Ayah gak menanggung rasa bersalah pada Kusuma," jawabnya lagi.
"Bundaaaaaaaaaa," seru Ajmi jengkel dengan sang Ayah.
"Sekolah sana Yaz, jangan usilin urusan orang dewasa, masih abege kok rusuh," tegur Mahendra, kali ini menyasar putra bungsu untuk dijadikan pemanas bagi Maira.
"Minggu ini aku home schooling kata Bunda. Biar hafalanku nambah, juga mau latihan ikut lomba BTQ di Sekolah pekan depan. Jadi, Ayah jangan seenaknya ya, ada aku yang mengawasi," balas Mifyaz seraya berlalu dari kamar sang Kakak.
Setelah kepergian Mifyaz, Mahen kembali melihat Maira. Air mata itu kian deras keluar dari kelopak mata nan memejam rapat.
__ADS_1
Dalam bimbang, terdengar suara langkah mendekat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, masuk Dok. Aku takjub dengan Maira, dia daritadi nangis. Apakah ini tandanya kalau putriku sedang menyatakan ketidaksukaannya terhadap sesuatu hal?" tanya Mahen ingin memastikan dugaan.
Dokter Nuha meletakkan semua peralatannya di atas meja sofa single di sudut ruangan. Dia lalu menjelaskan kondisi umum mengenai pasien koma.
"Pasien koma tidak bisa membuka mata atau memberi respons pada apa yang terjadi di sekitar. Insiden traumatic brain injury membuatnya pasif terhadap stimulasi eksternal, Pak Mahen."
"Meski demikian, bukan berarti otak pasien koma tidak berfungsi. Hanya saja dia tak bisa bergerak atau merespon lingkungan. Analoginya seperti sedang tidur lelap, keadaan gak sadar apa yang terjadi di sekitar, mencerna situasi, ataupun berpikir."
"Maira itu trauma kepala atau gangguan sistem sirkulasi otak, sempat hipoksia juga terpapar racun zat dan tubuh tidak dapat mengeluarkan secara benar," lanjut Dokter Nuha masih menjelaskan.
"Terkadang, dalam fase ini ada juga bisa menggerakkan sedikit anggota tubuhnya sebagai respons refleks. Namun lagi-lagi, semua tergantung pada sikon setiap pasien. Ada banyak kisah survivor koma yang dapat menjalani kehidupan normal kembali."
Sang dokter muda, menjeda ucapannya seraya mengeluarkan catatan dari dalam tas. Lalu dia melanjutkan kembali penjelasan yang belum tuntas pada Mahen.
"Perlu di garis bawahi, Pak Mahen. Setiap kasus koma itu berbeda-beda. Gerakan refleks, respon verbal, hingga reaksi yang membuat pasien koma bisa menangis menjadi faktor penting dalam menentukan mereka bisa sembuh total. Fungsi otak biasanya berangsur pulih dari waktu ke waktu."
Mahen mengangguk, mencoba mencerna dan memahami kondisi putrinya. Melihat bagaimana Nuha sangat teliti memeriksa setiap alat yang Mahendra gunakan untuk Maira, dia terlihat sangat profesional.
"Dokter, masih single kan?" Mahen kembali memancing emosi Maira.
Nuha menoleh pada sang tuan rumah. "Single kok Pak. Belum mikirin pacaran lah ya, sibuk sama pasien karena kan masih dokter baru," senyumnya mengembang.
"Gak usah pacaran, cari istri aja langsung," pancing Mahen lagi, tak melepas pandang dari putrinya.
"Mana ada yang mau kalau gitu, lagipula wanita jaman sekarang itu suka yang mapan. Aku masih begini, gak pede Pak," lanjutnya masih memeriksa laju infus juga obat-obatan.
"Kalau ada yang mau gimana?" tanya Mahen.
"Ya gimana ya, aku sih gimana wanitanya aja Pak, mau menerima kondisiku atau sebaliknya," balas sang Dokter.
"Jika ada wanita sholihah yang mencari calon suami sholeh tapi dia seperti Maira, contohnya. Tanggapan Anda bagaimana?" lagi, Mahendra terus mencoba stimulasi.
__ADS_1
"Mirip ya bukan Maira nya langsung?" kekeh Nuha. "Pak Mahen mancing ini, aku jawab dua opsi. Jika Maira, aku iya namun jika bukan dia, akan ku pertimbangkan," jawabnya lugas.
"Why Maira gak butuh dipertimbangkan?" desak suami Naya.
"Ya karena calon istriku, Maira. Gak ada alasan lain lagi," sahut Nuha cepat.
Mahendra tertawa renyah. "Tapi Maira kondisinya demikian, Anda di keliling wanita cantik dan wangi di rumah sakit. Bukan tidak mungkin akan berpaling bukan?" cecar Mahen lagi.
"Yang terlihat hanya Maira di mataku, Pak. Papa ku bilang, cinta tidak akan menuntut kesempurnaan melainkan memahami, menerima dan rela untuk berkorban. Itu yang aku yakini," tegas Nuha.
Mahendra memegang erat jemari anak sulung. Begitu banyak pria sempurna mengelilingi, persis saat dia akan meminta Naya menjadi istrinya dulu. Pembeda kini, para pria high quality jomblo ini yang datang mengerubuti Maira, meski dalam kondisi demikian. Dia tak habis pikir.
Nuha merapikan semua catatannya. Bertanya singkat pada tuan rumah apakah ada perubahan terhadap kondisi pasien baik signal anggota tubuh terhadap respon sekitar maupun obat-obatan.
Setelah mendapatkan semua informasi yang dia inginkan, Nuha pun pamit. Menyalami Mahen dan tak lupa mendoakan pasien sekaligus gadis yang dia suka. Benih cinta mulai bersemi seiring kian intens dirinya menyambangi kediaman keluarga Guna.
Pintu kamar Princess Kusuma kembali tertutup.
"Kak, jadi bagaimana?" Mahen belum puas menggoda Maira, entah mengapa rasa hatinya mengatakan agar terus menstimulasi.
"Nuha itu sopan, pinter, semoga sholih. Ayah mencari tahu siapa dia sebenarnya loh dan ternyata putra kedua pemilik klinik kecantikan langganan Bunda. Keturunan keluarga terpandang dari Minang, Ayah Nuha juga pernah mendapat gelar kehormatan di sana. High quality jomblo beneran, tapi dia selalu merendah," bisik Mahen.
Kali ijin tiada respon yang Maira berikan. Masih terdengar bunyi alat medis seperti biasa.
"Kak, diam itu tandanya setuju loh. Ayah cari Bunda dulu ya, nanti kita bicara lagi." Mahendra bangkit dari duduknya, perlahan melangkah meninggalkan Maira.
Det. Det.
Mahendra tak melihat sebuah gerakan kecil dari jemari sang putri.
.
.
...______________________...
__ADS_1