ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 86. TIGA WANITA


__ADS_3

Kenapa Umma sangat bijak ya. Apa hanya perasaanku saja?.


"Tiada warna darah yang berbeda, Fio. Semua sama, merah. Kita setara, mahluk ciptaan Tuhan pemilik semesta. Hanya kadar iman dan takwa yang membedakan kedudukan di sisi-Nya."


Fiora merenungi percakapan pagi tadi dengan Aiswa, bibir tipis terpoles liptint cherry itu pun mengulas senyum. Sang ayah kini perlahan sadar di layani Aldo, meski dia menghindar berinteraksi dengan Fio, namun anak gadis Tusakti tetap berlaku sabar.


Sindy menata makan siang untuk sang Nona di meja sofa ruangan mereka, saat Fiora masih mengerjakan sesuatu di depan laptop sembari menunggu kunjungan dokter.


...*...


Di lantai dasar.


Zainal kemudian mengajak Abah dan Fayyadh menjenguk saudaranya lebih dulu ke kamar kelas satu rumah sakit itu.


"Assalamu'alaikum, Abi bawa kerabat lama yang baru ketemu lagi setelah belasan tahun," ujar Zainal menyapa saudara, istri dan anak-anaknya.


"Wa'alaikumsalam."


Para wanita yang tengah duduk di sofa bangkit berdiri menyambut sang tamu. Sementara gadis ayu, masih membacakan kalam Allah disisi ranjang pasien yang nampak belum tersadar.


"Wisesa atau Ahmad Zaid, dan cucu Ana, Fayyadh," suara Abah memperkenalkan diri.


"Maa sya Allah, ini Fayyadh. Lebih tampan daripada di foto ya," ucap sang istri Zainal.


Abah semakin bingung. "Maksudnya foto, bagaimana?"


Dugaan Fayyadh terbukti, beliau adalah orang tua dari Zaynah, gadis yang ingin dia lihat. Sepertinya sang Ayah belum bercerita pada Abah meski Amir telah datang tak lama setelah dirinya tiba di Solo. Lelaki Kusuma hanya diam, menunduk mendapat pujian.


Zainal menyilakan tamunya duduk. "Jadi gini, Ana meminta pada Hariri untuk mencarikan jodoh bagi putri kedua ku, lalu beliau memberikan foto cucunya yang bernama Althafaris Fayyadh. Kami lalu mengajukan CV Zaynah berharap mereka dapat ta'aruf. Kemarin, Hariri bilang bahwa Fayyadh akan mengunjungi buyutnya di Solo dan akan sowan ... Ana juga penasaran, kok Solo, kebetulan sekali. Eh, ketemu disini, takdir mungkin ya," terang Zainal sumringah.


"Maa sya Allah, jadi Zainal yang dimaksud cucu Ana, itu Antum? memang dia bilang mau minta ditemani ketemu seseorang ... Mas, kok Abi gak cerita sama Abah?" tebak Abah sekaligus menegur Fayyadh.


"Entah, mungkin Abi lupa," lirih Fayyadh.


"Silakan di sambi, seadanya. Mohon doa untuk suamiku," ujar saudara Zainal menyuguhkan kudapan diatas meja.


"Matursuwun, Mbak," balas Abah.


"Zaynah. Beri salam sama Yai Ahmad," ujar sang Ayah meminta anak gadis yang khusyu mengaji.


Gadis ayu berhijab hitam panjang senada gamisnya, menoleh ke arah sang ayah. Dia bangkit dan berjalan perlahan, membungkukkan badan serta menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. "Ana Zaynah Nur, Yai." Suara lembutnya terdengar.


Fayyadh terpana, sekilas dia tertegun. Cantiknya. Lalu buru-buru menurunkan pandangan. Dia diam-diam mengulum senyum.


"Abah saja, Ana bukan Yai seperti Abimu, Nak. Malah jauh bila disebut Yai," sahut Wisesa.


Zaynah tersenyum manis, membuat lelaki disamping Abah, sedikit grogi.


Percakapan kedua sahabat lama yang tak saling kira bahwa kedua muda mudi mereka adalah calon pasangan yang sedang diajukan masing-masing keluarga, nyata membuat Abah lupa tujuan utama.


"Bah, Afra," bisik Fayyadh mulai bosan. Meski dia sesekali mencuri pandang terhadap Zaynah.


"Astaghfirullah, lupa. Kami pamit ya Yai, mau jenguk anak kawan juga disini," Abah bangkit pamit setelah mendapat bisikan Fayyadh.


Zainal pun berdiri, menyilakan tamunya undur diri. "Fayyadh, sudah lihat sekilas kan sosok Zaynah. Ana tunggu jawaban kamu ya, in sya Allah dia siap menunggu," ujar Zainal.


"Nggih Yai. Tapi nanti mohon izin bicara dahulu sebelum memberikan jawaban sebab ada hal yang ingin Ana ketahui," ujar Fayyadh mengajukan permohonan.


"Fadhol, nanti diatur ya sama Hariri kapan waktunya sekalian nadzor yang benar," balasnya lagi.


Setelah saling menyalami, ketiganya berpisah.


Kini Kusuma melanjutkan langkah menuju lantai tiga, ke kamar Afra.


Tok. Tok.


Asisten Bima membuka pintu. "Selamat Siang, Pak Wisesa, silakan masuk," ujar pria berstelan serba hitam.


"Assalamu'alaikum, Mas Bima. Maaf ya lama sampai, sekalian menunggu Anda tiba," ujar Abah saat telah masuk dan menyalami Bima Arundati.

__ADS_1


"Ana Fayyadh." Putra sulung Amir menjulurkan tangan untuk membalas jabat tangan Bima. "Pantesan tampan begini looksnya, dan modern."


"Wa'alaikumsalam. Afra lagi makan, dibalik tirai ... Afra, ada Fayyadh," seru sang Ayah agar putrinya bersiap memakai niqab.


"Aku boleh kesana?" tanya Fayyadh tak ingin membuang waktu berlama.


"Silakan Fayyadh," Bima menyilakan tamunya.


Putra Aiswa melangkah menuju balik tirai. "Assalamu'alaikum, Afra. Feel better?" tanyanya langsung.


"Wa'alaikumsalam. Kamu ke sini sengaja jenguk aku?"


"Sowan, nengok Uyut dan ada satu keperluan penting yang mendadak. Kebetulan di ajak Abah juga jenguk kamu," ujarnya lugas. Jawaban itu menoreh kecewa yang tersirat dalam sorot mata Afra.


"Hmm Afra, maaf ya atas sesuatu yang gak bisa aku paksakan dan langgar. Ku harap semua ucapan kemarin tak membuatmu sakit hati ataupun patah semangat dalam menjalani hidup. Yakinlah bahwa ini bagian dari proses untuk mendapatkan pendamping yang cocok dan kaffah," ucap Fayyadh perlahan, berdiri diujung ranjang.


Afra Arundati diam. Dia menatap tajam sosok di hadapannya.


"Aku memang kecewa, tak ada celah kah untukku? biarkan aku yang menyebrang, Fayyadh. Izinkan berjuang sebelum genderang kemenangan ditabuh wanita lain," ujarnya perih.


"Terlalu lebar jurang pemisah Afra, aku takut kau menyerah ditengah jalan sebab lelah karena aku hanya akan berdiam diri," tegas Fayyadh tak ingin memberikan celah harapan.


Afra terisak. "Sesulit itukah?"


"Karena umma segalanya, maaf. Aku tiada sanggup menanggung duka bila ibuku terluka meski beliau akan tetap kokoh berdiri membela sang anak dihadapan," lirih Fayyadh, menunduk.


Putri Bima Arundati kian intens menangis. Dia lalu menyeka air mata yang terus turun. Berusaha tegar di hadapan lelaki nan ia cintai.


"Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi. Tidak ada yang berkata kau tidak boleh menangis, terluka, dan kecewa, Afra," imbuh pria tampan ini.


"Tahukah kau, Fayyadh? ... sangat menyedihkan ketika kamu menyadari bahwa diri ini tidak penting seperti perkiraanku sebelumnya. Memang sakit, hanya kecewa kudapat, tetapi akulah yang memilih untuk mencintaimu," sinis Afra seraya menyeka wajah yang bersimbah air mata.


"Setahuku kekecewaan itu salah satu cara Allah untuk mengatakan bahwa ~Aku punya sesuatu nan lebih baik, sabar, jalani hidup, tetap miliki iman~. Kecewa sebab berharap pada manusia, luka, air mata yang akan membuatmu lebih kuat. Maafkan aku, teruslah semangat sehat dan balas aku dengan semua talent terbaikmu, Afra," tutur Fayyadh, lembut.


Afra Arundati sibuk dengan luka yang masih basah didalam hatinya, hingga kala Abah mendoakan gadis itu pun. Dia hanya diam.


Ponsel pangeran Kusuma berdering, menjadi alasan tepat bagi Fayyadh untuk keluar ruangan segera, meninggalkan isak tangis Afra yang masih terdengar. Abah mewakili mereka pamit undur diri dan menyusul sang cucu.


"Mas."


"Bah, Uyut minta dibelikan suplemen untuk lututnya. Kata Uncle Rayyan, ganti merk. Coba kita cari di apotek sini semoga ada," ujar Fayyadh menunjukkan gambar botol suplemen bagi Danarhadi.


"Yowes, ke bawah."


Kedua Kusuma melanjutkan langkah menuju lift dan turun ke lantai dasar sebelum pulang.


Abah tersenyum melihat sosok ayu tak jauh didepannya. Namun tidak memberitahu Fayyadh yang asik berjalan seraya memainkan gawai di tangan.


"Baik, aku tunggu ya suster. Kata Dokter itu dibuat setengah dosis dahulu. Terima kasih," ujar suara lembut seorang gadis.


"Mas. Sana," tegur Abah saat telah sampai di apotek. Lelaki tua ini duduk disalah satu bangku panjang.


Fayyadh pun melangkah ke sisi loket bagian penyerahan obat. Dia menanyakan pada suster jaga. Tak menyadari ada wanita ayu di sisi satunya.


Sementara dibangku tunggu, Abah melihat gadis cantik yang baru saja akan duduk. "Eh, Zaynah. Beli apa?"


Putri Zainal menoleh, santun memberi salam. "Abah, ini nemenin Bibi nebus obat racikan," ujarnya menunjuk sosok sepuh di hadapan.


Tak jauh dari posisi Abah duduk. Rupanya Fayyadh mulai mengenali suara lembut sosok yang dia ingin temui.


"F-fio?"


Gadis yang merasa namanya dipanggil menoleh. "Mas!" serunya girang, tersenyum manis kala melihat lelaki tampan.


"Alhamdulillah ketemu juga, kok di sini, Fio sakit?" tanya Fayyadh menyelidik, menyapu penampilan dari atas sampai bawah gadis yang kian ayu dalam balutan gamis meski tanpa hijab.


"Papa sakit, sudah dua hari disini. Mas sama siapa?" balasnya menoleh ke kanan kiri. Tatapannya terkunci. "Abah?" Fio melangkah menyapa sang sepuh berkharisma.


"Nak Fio. Siapa yang sakit?" tanya Abah menjeda obrolan dengan Zaynah kala Fio menyapanya.

__ADS_1


"Papanya Fio sakit, Bah. Jenguk yuk sekalian," ujar Fayyadh menghampiri dan berdiri disamping Fiora, mengabaikan kehadiran Zaynah.


"Boleh, habis ini. Suplemen Uyut ada, Mas?" tanya Abah kemudian.


"Uyut sakit, Mas?" gantian Fiora cemas atas kondisi sepuh lucu itu.


"Enggak, ganti suplemen pelumas sendi aja ... kata suster tadi ada, lagi disiapkan," jawab Fayyadh pada keduanya, masih mengabaikan Zaynah.


"Tuan Glenn Tusakti," suara petugas apotek memanggil Fiora.


"Eh, iya. Aku."


Fayyadh menyusul gadis itu, lalu membayar tagihan.


"Jangan Mas. Gak usah," ujar Fio menolak pemberian Fayyadh.


"Kenapa lagi itu?" tegur Wisesa melihat kedua muda mudi kisruh. Sementara Zaynah bangkit menyambangi bibinya.


"Aku belikan suplemen, vitamin C, E buat dia tapi di tolak."


"Gak usah, Mas. Beneran," ujar Fiora.


"Diterima donk, Sa--" Fayyadh menjeda, menyadari kesalahannya.


"Sa?" Gadis ayu mengerjapkan kelopak monolid eyes-nya beberapa kali, pada lelaki disamping.


Abah hanya menggelengkan kepala keki melihat sang cucu yang salah tingkah sebab di tatap Fiora.


"Diterima, Nak Fio. Bos Arza lagi buang uang," kekeh Wisesa, membuat putri Tusakti menerima.


"Nah, gitu donk." Tanpa sadar, telapak tangan kanannya terjulur hendak mengusap kepala Fio.


"Mas!" tegur Abah keras, menarik perhatian Zaynah yang sedari tadi melihat interaksi mereka.


Cicit Danarhadi terhenyak. "Eh, astaghfirullah salah. Maaf Fiora, maaf." Lagi, sebab terkejut, dia malah menjulur-tarikkan tangan seperti ingin menyentuh kepala Fio, namun gadis itu menghindar.


"Mas! malah diulangi!" kali ini Wisesa menepuk lengan Fayyadh.


Fiora hanya tertawa ringan melihat Fayyadh salah tingkah saat lelaki itu memegangi dadanya.


"Duh, kamu sih Fio. Bikin khilaf," keluh Fayyadh mengusap dada yang berdegup.


"Kok aku," kekeh Fio ingin beranjak pergi.


"Permisi, Ana duluan ya Abah, Kak," ucap Zaynah lembut seraya tersenyum.


"Eh, Zaynah. Sejak ka-pan?" Fayyadh bingung, dia tak merasa melihatnya tadi.


"Lumayan lama. Assalamu'alaikum, Ana tunggu jawaban Kakak," ujarnya sambil lalu seraya melirik tajam pada Fiora.


"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya.


Pemilik Floffy Craft merasa bahwa gadis tadi sedang melakukan penegasan terhadapnya.


"Dia sia-pa, Mas?"


"Putri kawan Njid yang tengah diajukan untukku," lirih Fayyadh.


Degh.


"M-mas? benarkah? hmm a-aku?"


.


.


..._______________________...


...Afra, done....

__ADS_1


__ADS_2