ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 77. TOO MUCH


__ADS_3

Shan menghempaskan badan di atas ranjang, memejamkan mata sejenak guna menghalau pening yang merangsek di kepalanya.


Sudah tiga puluh menit Maira mandi, menjelang adzan maghrib dia baru selesai dengan ritual itu. Masih mengenakan bathrobe, istri Shan duduk di meja rias mengeringkan rambutnya yang basah nan panjang sudah melewati bahu.


Nampak dari pantulan cermin, Shan tertidur masih lengkap dengan busana terakhir yang dia pakai. "Pantesan nyaman dekat dia, wong kalau tidur adem gitu keliatannya," gumam Maira mengagumi diam-diam sosok terlelap disana.


Dari jendela yang belum tertutup rapat tirai, semburat merah mulai meredup berganti gelap. Sayup suara adzan dari ponselnya berbunyi. Maira menghampiri ranjang, membangunkan pelan sang suami.


"Kak, maghrib. Mandi, sholat lalu prepare untuk acara malam. Kak," Maira mengguncang pelan tubuh Shan.


"Hem, bentar. Kepalaku pusing. Sini," Shan menarik lengan Maira yang berada di bahunya.


"Aaah."


"Lepasin, mau sholat dulu."


Tak memperdulikan protes, Shan malah menggulingkan tubuh Maira ke sisinya lalu mendekap erat, saling berhadapan.


"Pening, Sayang. Bentar," keluhnya lagi, memejamkan mata kembali.


Maira terdiam, dia menatap wajah dihadapannya. Lalu perlahan jemari lentik nan halus itu menyentuh pelipis Shan, memijat lembut disana.


"Pusing dibagian mana, Kak?"


Shan bergeming, dia menikmati pijatan lembut istrinya. "Enak banget," lirihnya.


"Lepasin dulu, biar aku leluasa."


Lelaki tampan nan wangi itu melonggarkan pelukan. Maira beringsut menjauh, dia lalu duduk melipat kakinya dan meraih bantal kecil disana. "Sini." Maira meminta Shan pindah, menepuk bantal diatas tumpuan kedua paha.


Shan terpaksa membuka matanya yang berat, beringsut mengikuti keinginan Maira. Pijatan lembut dari pujaan hati nyata meringankan pening yang menyergap kepala sejak siang tadi.


"Belajar dimana, Sayang?" Shan merasakan pijatan lembut namun langsung menuju sumber sakit, sangat nyaman.


"Diajarin Bunda dan Mbak Warni, Abdi dalem Uyut. Feel better?" tanya Maira.


"Hmm, banget. The pain will be gone in a few minute, Baby."


"It will stop the pain. Kak, nanti aku gak mau lama disana ya."


"Why? itu acara kamu, Ai. Setelah ini kan gak ada lagi, mau lanjut S2 dimana? biar aku sekalian urus semua dokumen kamu," tanya Shan lirih, dia sangat rileks atas pijatan Maira dikepalanya.


"Aku gak nyaman ada di keramaian. S2? nanti dipikirkan. Kalau hamil atau sambil ngurusin baby dan kuliah, aku gak sanggup. Mending fokus sama kalian dulu," ujar Maira.


Shan membuka mata, memegang tangan kanan Maira. "Kamu bilang apa? baby?"


Maira mengangguk. "Iya, baby. Ke-napa gitu?"


Putra Dilara mengulas senyum. Dia menatap manik mata amber diatasnya. "Serius? gak mau nunda?"


Merasa heran atas pertanyaan Shan, Maira mendorong bantal yang ditiduri oleh sang suami hingga pria itu pun bangkit duduk berhadapan dengannya. "Maksud Kakak apa?" tanya Maira, khawatir Shan tak ingin memiliki buah hati dalam waktu dekat.


"Jangan salah paham dulu, karena ku pikir kamu mau lanjut sekolah atau melakukan apa gitu," terang Shan.


"Enggak, palingan ngurusin laskar dan broadcast Bunda aja karena itu passion aku. Kalau di titipkan amanah lebih cepat masa mau di tolak. Hm, dan aku gak mau pakai KB, boleh?" jelas Maira, menunduk malu atas pertanyaan terakhirnya.


Shan hanya mengulas senyum. "Bundaku juga enggak. Kamu ngerti cara ngitungnya, Sayang?"


Maira mengangguk. "Tahu dan paham, juga in sya Allah bisa. Tapi, kakak ... hmm itu?"


Shan kian sumringah. "Aku paham bagianku, mau punya berapa?" dia kini menggenggam jemari Maira.

__ADS_1


Maira menengadahkan wajah. "Benar? mau pake--" tunduk nya lagi karena malu.


"Iya Sayang, aku paham maksud kamu. Jadi mau punya baby berapa?" tanya Shan lagi.


"Tiga atau empat sebelum usia tiga puluh, macam Bunda. Meski pada akhirnya kami hanya berdua, kedua adikku berpulang saat masih dalam kandungan," kenang Maira mengingat kala dirinya menangis kehilangan adik bayi hingga dua kali sebelum Mifyaz lahir.


Shan mengusap wajah Maira lembut. "Ikhlasin, itu terbaik menurut Allah. Kamu pernah istihadhah gak, Ai?"


"Enggak. Tapi aku tahu cara bersucinya," jelas Maira.


"Aku tahu. Bunda kamu istimewa, betul-betul menjadi madrasah pertama bagi putra putrinya."


"Kok tahu semua diajarkan Bunda?"


"Keluarga Bunda itu gambaran jelas. Melihat cara Bunda mendidik kalian dalam ke-moderen-an menegaskan bahwa beliau tidak hanya paham tapi betul-betul menjalankan sesuai ajaran yang diterimanya," tutur Shan.


"Maghrib dulu, nanti habis waktunya. Kita bicarakan lagi setelah ini." Shan beringsut turun dari ranjang. Menarik kedua lengan Maira agar lekas berwudhu.


"Sudah gak pusing, Kak?" tanya Maira seraya masuk dalam bathroom.


"Masih nyisa sedikit, nanti juga hilang," ujar Shan hendak melepas kancing kemejanya.


Maira keluar kamar mandi, menyiapkan setelan formal untuk suaminya diatas tempat tidur sementara Shan masih di kamar mandi, dia mengganti baju dengan gaun malam sebelum memakai mukena.


Lima belas menit berlalu.


Shan keluar dari sana, hanya dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuh. Dada bidangnya terekspos jelas dipenuhi bulir tetes air. Pemandangan seksi bagi mata Maira yang kali pertama melihat tampilan sang suami setelah mandi.


Hot, roti sobek. Pandangannya tak kuasa lagi tegak, wanita ayu tersipu merona.


Menantu Mahendra tak memperdulikan sikap rikuh Maira, dia berganti baju begitu saja di depannya. Berpura tidak mengetahui kegugupan wanita yang kian menundukkan kepala diatas sajadah.


Setelah sempurna salam. Pasangan muda Qavi bersiap. Shan mulai merapikan vest saat akan memakai jas. Dia sekilas melihat Maira yang berdiri di depan meja rias. Pandangan manik mata elang pun terkunci, memperhatikan langkah demi langkah saat istrinya memakai make-up.


Wanita ayu melihat ke arah cermin, bersitatap dengan Shan. "Iya. Bunda serba bisa, bahkan bikin dessert yang kayak di bakery mahal pun jago," puji Maira terhadap sosok ibunya.


Maira lalu menutup rambutnya yang hitam legam dengan pashmina berwarna abu tua, senada vest milik Shan juga gaun A-line yang dia kenakan.


"Done. Come on, just one hour. Lalu pergi dari sana ya, Kak."


Shan terpana, dia sangat cantik.


"Kak." Maira melambaikan tangan didepan wajahnya.


"Ehem, yuk. Nyonya Shan, cantik banget sih." Tangan pria tampan terjulur, menunggu jemari Maira menyambutnya.


Sang dewi pujaan tersenyum bahagia, dirinya diperlakukan bagai ratu oleh pria disamping. Shan mengecup punggung tangan, mesra lalu menggamitkan ke lengan kirinya. "Jangan tebar pesona, Sayang."


"Kakak kali, bukan aku."


Menjelang pukul sembilan malam. Pasangan muda Qavi memutuskan keluar dari ballroom tempat acara Maira sekaligus kamar inap hari itu. Shan lalu menyewa mobil hotel dan membawa Maira menikmati suasana malam kota.


"Mau kemana, Kak?"


"Somewhere. Yang cuma ada aku dan kamu."


Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya saling diam meski genggaman jemari erat terpaut. Perlahan Audi silver itu mulai memasuki pelataran sebuah resto terkenal disana.


"Beachcomber Cafe Crystal Cove," bisik Maira, menoleh ke arah samping kirinya.


"Seriusly, Kak?"

__ADS_1


"Hmm, surprise." Shan membalas tatapan Maira, tepat saat mobil itu berhenti di muka lobby.


Karena pria tampan ini adalah tamu istimewa, dua pria bule telah menunggu dirinya dan langsung mengarahkan pasangan muda ini ke sisi gedung, setelah Shan membantu sang Nyonya turun dari mobil.


"Thank you." Shan meminta mereka meninggalkan dia dan Maira kemudian menyusuri jalan setapak disana.


"Kak."


Putra Mahkota Qavi tak mengindahkan bisik panggilan Maira yang terkejut akan perlakuan manis sejak siang tadi. Lelaki tampan itu terus menarik tautan jemari mereka menuju satu titik yang jauh dari keramaian resto.


"Kakak."


Shan berhenti di sebuah meja yang sudah dihias cantik, simple namun classy.


"Congratulations my beloved Ai, welcome to a new world and hopefully bring you closer to your ideals that you first." (Selamat Ai ku tersayang, selamat datang di dunia yang baru dan semoga mengantarkanmu lebih dekat lagi kepada cita-cita yang kamu rangkai dulu.)


Maira tercenung, netra bulatnya menyapu sekitar. Romantis sekali. "I-ini?"


Putra kebanggaan Dilara, meraih satu kotak hitam kecil dari saku celana. Tangan kekarnya meraih telapak tangan Maira, lalu memakaikan cincin berlian bermata biru di jemari kiri wanita ayu. "Hadiah, buat istriku ... Sayang, maaf aku gak pandai berlaku romantis. Terima kasih, kamu tetap memilihku meski hati masih meragu. Syukron Honey, sudah berjuang mengingatku dengan segala kesakitan kala mengenali kepingan ingatan, jangan tinggalkan aku ya, Ahya. Apapun kendala di hadapan, janji bertahan dan berjuang sama-sama, mau kan?"


Maira menatap lekat manik mata sekelam malam di hadapannya. Sorot mata bulat itu kian mengembun.


"Gak pandai bersikap romans, tapi begini. Kakak, jangan merendah. Gak pantas. I will, apapun itu, akan terus disisi suamiku." Satu tetes bulir beningnya turun. Maira terharu.


Shan membawa kedua tangan cantik itu mendekati bibirnya, mengecup lembut disana lalu mendekap erat wanita yang tengah bahagia atas perlakuan istimewa hari ini.


"Aku happy, terima kasih banyak, Kak."


Malam romantis dihabiskan keduanya hingga jelang midnight. Pasangan muda itu pun kembali ke hotel, langsung check-out dan pindah menuju penginapan Shan yang baru.


Tepat pukul dua belas malam, mereka tiba di Sheraton Palo Alto Hotel.


"Kak. Jangan bercanda."


"Apanya?"


"This Hotel."


"Hanya satu malam. Besok kita flights ke Switzerland."


"What?" Maira terkejut. Dia tidak membawa banyak baju dan persiapan.


"Hadiah honeymoon dari Oma," ucap Shan kala mobil jemputan Hotel berhenti di lobby.


Pasangan muda itu lalu di pandu room boy menuju kamar mereka.


"Welcome home, just for one night, Honey." Shan menarik jemari Maira masuk kekamar saat pintu telah terbuka.


Maira tak hentinya takjub. Kamar mereka dihias sedemikian rupa oleh Shan.


"Aaaahhh, thank you." Wanita ayu berbalik menabrakkan tubuhnya ke badan tegap sang suami. Memeluk paksa meski petugas hotel masih ada dikamar mereka.


"Lepas dulu, Sayang. Aku belum ngasih tips," bisik Shan.


Maira tak menghiraukan ucapan Shan, dia tetap memeluknya erat.


"Nikmat Allah tiada henti, untukku.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


...Jejelin manis dulu, biar dikasih pait mental 😂...


__ADS_2