
"Ingat namaku, Ai?" tanya Shan kala melihat sang istri hanya diam memandangi foto di galery tab.
Wanita cantik itu membuka aplikasi noted. Menulis kalimat panjang disana, lalu menyerahkan pada Shan. Wajahnya mulai pias, menyiratkan rasa khawatir teramat.
Putra sulung Dilara menerima uluran gawai lebar itu dari tangan Maira. Membaca pelan barisan kalimat disana.
"Aku tidak tahu semua ini, apa yang terjadi denganku? rasanya saat landing tadi semua baik saja. Hari apa ini, tanggal berapa dan kapan itu dilakukan? apakah aku sedang berada di masa lalu?"
Shan menarik nafas panjang. Dia menyimpulkan bahwa Maira bagai kehilangan separuh memorinya. Keterangan saat Rey mengatakan wanita pujaannya cedera parah, mungkin ini salah satu efeknya.
Degh.
"Landing."
"Kapan kau ingat itu, Sayang?"
Maira hanya mengendikkan bahunya ke atas. Dia tak ingin terlalu memaksa ingatannya berpikir keras.
"Aku boleh tetap satu kamar denganmu kan? Ai adalah panggilan khusus untukmu, kamu suka?" tanya Shan mengalihkan topik.
Putri sulung Mahendra mengangguk samar, mengiyakan apa yang Shan minta karena sejujurnya dia pun tidak tahu bagaimana harus mengambil sikap.
"Mau minum? atau boleh aku oleskan ini di leher kamu, Sayang? biar lega dan sedikit demi sedikit melatih bicara," tawar Shan mengambil tube obat dari atas meja yang Dewiq berikan sebelum pergi tadi.
"A-ku bisa," lirih Maira. Suaranya mulai terdengar namun sangat kecil dan serak.
"Jangan dipaksa bicara dulu Ai. Kan lagi sakit, iritasi nya sedang masa pemulihan. Aku nanti tidur di sofa kalau kamu keberatan kita satu ranjang," ujar Shan lagi diangguki Maira.
Tidak banyak hal yang dapat Shan lakukan saat ini selain menunggu esok pagi. Harapannya masih melambung tinggi bahwa meskipun Maira kehilangan ingatan, justru kesempatan bagi dirinya mengisi kekosongan memori di masa ini.
Ba'da Maghrib.
Naya membawakan makanan lembut untuk putrinya. Interaksi ibu dan anak itu perlahan mencair, membuat iri Shan yang duduk di sofa.
"Fayyadh udah balik, Bun?" suara Maira kian intens terdengar meski masih sangat serak.
"Ada di Solo. Dia lagi nemenin Abah dan Uyut di sana," balas Naya cepat. Dia terkejut mengapa Maira menanyakan Fayyadh sementara ada Shan di sana.
"Kangen ngobrol sama Fayyadh. Kapan dia main ke sini, katanya mau nginep sini sebelum pergi ke walimah Mbak Fatima," ucap Maira.
Degh.
"Maira. Fatima sudah menikah tiga bulan yang lalu. Kamu--"
"Bunda bercanda," kekeh Maira.
Naya menoleh pada Shan yang ternyata tengah menatapnya. "Shan?"
"Iya Bun. Kesimpulan aku, ingatan Maira mundur di tiga bulan lalu karena dia bilang : saat baru landing semua biasa saja. Sebelum kejadian pengawalan itu. Harusnya sih dia ingat aku tapi mungkin pelan-pelan memory itu akan kembali," terang Shan lagi, dia berusaha tetap tenang meski dalam hatinya cemas karena Maira mengingat sosok Fayyadh.
"Allahu akbar. Dan kamu santai aja gitu Shan," Naya terheran sikap kalem dan tenang menantunya.
"Apa yang harus aku khawatirkan? mau bagaimanapun, Ai tetap istriku bukan? Allah pasti punya maksud buat aku dan Ahya," balas Shan lagi, mulai optimis.
"Iya sih. Bener, mau macam manapun, Maira tetap istrimu." Naya mengulas senyum lega untuk sang menantu.
__ADS_1
Istri Mahendra lalu beralih pandang pada putrinya.
"Kak, Shan suamimu. Layani sebaiknya, ingat atau tidaknya kamu sama dia, kewajibanmu sebagai istri mulai ditunaikan," pesan Naya pada anak gadisnya.
Maira sekilas melihat Shan. "Aku jatuh cinta sama dia Bun?" bisik Maira.
Rasa hati ingin tertawa, putrinya berubah menjadi sangat polos. Terkadang banyak hikmah tanpa disadari dari satu peristiwa dan Naya baru saja membuktikan anggapan itu benar adanya.
"Kamu gak suka emang? tampan bukan? Shan Dokter hewan, Jasper yang kau adopsi itu dari klinik miliknya. Juga Dosen, kalian itu ketemu karena satu hobi," ungkap Naya lirih membalas bisikan Maira.
"Ya cakep sih. Grogi Bun, iya gitu suami aku? kapan aku bilang ingin nikah muda?" selidik Maira lagi, dia lupa sepenggal kisah.
Naya mengambil jurnal dengan sampul hitam gradasi jingga dari laci meja samping tempat tidur. Menyerahkan buku itu ke tangan Maira.
"Baca tulisan tanganmu sendiri. Cobalah ingat dia ya, Kak. Suami tampan mu. Knight of Rollies," bisik Naya lagi sebelum dia beranjak bangkit dan membawa sisa makanan Maira keluar kamar.
"Shan, sabar ya." Naya menepuk bahu menantu saat lewat disamping Shan.
"Tentu Bun. Akan sabar dan menikmati, in sya Allah," jawab Shan sumringah.
Dia lalu memejam, masih dengan lisan yang terus mengucap sholawat. Angannya membawa pada hal yang akan mereka lakukan berdua. Memulai kisah cinta dari nol, kayak slogan pom bensin.
Menghabiskan waktu, membentuk banyak kenangan indah meskipun mungkin nanti wanitanya akan menolak, namun dia bertekad terus berjuang.
Detik berikutnya.
Shan membuka mata kembali, menoleh ke arah ranjang dimana Maira duduk. Dia memperhatikan seksama bahasa tubuh istrinya itu yang nampak serius membaca jurnal pribadi.
"Ai." Shan memanggil.
"Ai. Ahya. My Ai, Ahya-ku," seru Shan lagi berharap mendapatkan perhatian wanita ayu di sana.
"Eh, aku? i-ya?" suara serak Maira lirih mengudara.
Shan tersenyum padanya, membuat wanita dengan rambut panjang melewati bahu itu tersipu.
"Lihat perjuanganku ya. Love you Sayang," ujarnya dari kejauhan menatap intens manik mata amber Mahya humaira.
Blush.
"Aku harus jawab?" balasnya seraya menunduk.
"Ya Allah, gemesin. Gak apa deh dia lupa sama aku kalau begini tampilannya ... jawab dong Sayang, yang mesra ya," pinta Shan, menggoda.
"Aku belum cinta kamu, maaf," cicit Maira.
Bukannya kecewa, Shan justru tertawa atas pengakuan jujur Maira.
"Makanya aku bakal buat kamu cinta sama aku," balas Shan.
"Fayyadh gimana nanti? dia pasti kecewa. Aku gak mau lukai siapapun," sergah Maira atas ucapan Shan, meski masih serak namun dia gigih melatih agar suaranya kembali.
"Ini nih, aku jealous kalau kamu bicara tentang Fayyadh. Tapi gak apa, aku menantang diriku sendiri agar bisa menggeser Fayyadh dari ingatanmu. Kasih aku semangat dong, Ai," mohon pria bergelar pasya-sade itu.
"Fighting! maaf aku--"
__ADS_1
"Gak apa, Sayang. Its Ok, aku baik saja. Lekas kembali padaku seutuhnya ya Ahya," Shan memberikan kecupan jauh untuk Maira.
Gadis itu nampak malu-malu lalu melanjutkan bacaannya.
"Ini aku kah yang menulis? benarkah dia yang aku cinta? namun mengapa Tuhan menghapus ingatan itu untuk kami, apa maksudnya? aku harus bagaimana, dalam hatiku belum ada cinta. Shan ya? semoga kamu kuat menghadapi aku yang manja dan kekanak-kanakan."
Maira melihat jurnalnya lalu mengalihkan pandangan pada sesosok pria asing di ujung sofa.
"Aku tahu, suamimu ini tampan. Jangan suka mencuri pandang Ai. Aku seutuhnya milikmu," sindir Shan saat mengetahui dari ekor mata bahwa Maira tengah memperhatikan dirinya.
"Ish."
"Ya memang tampan, sampai aku gak percaya jika kamu suamiku."
"Jasper itu siapa?" lirih Maira.
"Kucing jenis ras Munchkin, Sayang. Tapi Jasper sedang ku rawat di klinik. Besok kalau gak pusing setelah check-up dari rumkit, kita tengok dia di sana ya," usul Shan. Pendengarannya masih tajam meski keberadaan mereka berjarak dan suara Maira kian lirih.
Adzan isya berkumandang.
Shan bangkit, meraih sajadah di bahu sofa juga mukena yang akan Maira kenakan.
"Mau tayamum atau wudhu? kalau wudhu, aku gendong karena kamu belum boleh banyak melakukan aktivitas berat pada tungkai kaki. Besok baru mulai fisioterapi," ujar Shan menawarkan bantuan.
"Wudhu tapi gak gendong, susah ya?" tanya Maira, berpikir bagaimana caranya memiminmalisir sentuhan fisik.
"Mau coba jalan pelan gak, Sayang? tapi kudu stretching dulu sebelum turun dari ranjang," titah Shan lagi.
"Boleh minta tolong panggilin Bunda gak?" akhirnya gadis itu punya jalan Ninja, meminta Shan memanggil ibunya.
"Hmm, pinter. Bentar ya," sahut Shan. Dia melangkah ke luar kamar untuk menyusul Naya.
Sesi wudhu usai, kini keduanya memulai sholat berjamaah. Aktivitas pertama yang mereka lakukan bersama.
Baik Maira maupun Shan, khusyu berdoa kala salam akhir sempurna ditunaikan. "Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad." Shan bangkit, melipat sajadahnya lalu meraih kepala Maira, mencium lembut disana meski terhalau kain mukena.
Gadis itu tak dapat mengelak, entah mengapa tak menampik perlakuan Shan seperti awal tadi siang. Dia justru merasa tenang juga damai dengan apa yang pria itu lakukan.
"Kita bisa melewati ini," bisik Shan disela dekapan.
"Rasa apa ini? kok damai banget ya, dia punya magis apa sih?"
Ba'da isya hanya dilalui Shan dengan memuroja'ah hafalan. Dia duduk di ujung ranjang Maira kala wanita pujaan memiringkan tubuh membelakangi dirinya.
Suara Shan mengalun merdu nan lembut saat membaca surat al anbiya. Kisah para Nabi juga ketaatan beribadah. Lambat laun, nada yang terdengar mulai serak dan parau kala tiba di ayat yang menceritakan kisah Nabi Ibrahim. Putra sulung Dila, menjeda. Dia menghapus bulir bening di ujung netra.
"Kuasa Allah. Kuasa Allah, begitupun dengan kisahku nanti," lirih Shan. Perlahan melanjutkan bacaannya.
"Suara ini, dimana aku pernah mendengarnya? dimana?"
.
.
..._______________________...
__ADS_1