
"Jadikan aku istri kedua. Dia koma bukan? aku yang akan memenuhi segala keperluan harian meski tidak bisa menetap di hati setidaknya diri ini tetap disisimu, El." Gadis cantik yang wajahnya terpoles make-up itu menangis tersedu di hadapan Naya dan Shan.
Naya hanya diam meski hatinya gelisah. Emosinya meremang, perlahan merambat namun masih dapat ia redam. Mata amber itu lalu melihat pada Shan, ingin mendengar apa balasan menantunya.
"Sumayyah, duduklah dulu. Tenanglah jika kau ingin bicara denganku," ujar Shan, mohon izin pada Naya dengan isyarat matanya.
Beruntung, sang mertua adalah wanita cerdas. Naya mengangguk samar seraya tersenyum tipis, mengajak menantunya duduk di sofa panjang.
Setelah semua tenang kembali, Shan membuka obrolan.
"Bisakah kau pandang aku tanpa perasaan suka, Sumayyah? meski sulit kau hilangkan, yakinlah pasti bisa karena kamu gadis tegar ... Putri Saputra bagai bunga, terlampau indah hingga banyak mengundang kumbang jantan mendekat. Namun, hanya yang sesuai dengan nektar kembangnya lah sanggup mendulang serbuk sari menjadi madu sehingga dapat membawa banyak manfaat lain bagi kehidupan. Sayangnya, itu bukan aku," ujar Shan memakai analogi, agar dia tidak merasa tersakiti.
"Aku tidak menyalahkan bilamana perasaan lain tumbuh karena kedekatan kita, serta tak dapat menerima apa yang akan hatimu beri. Biarkanlah rasa cintamu itu berkembang dan mencari nan semestinya, sebab selama ini aku hanya bisa menerima engkau sebagai teman baik," tutur Shan perlahan agar gadis itu mengerti.
Sumayyah menggelengkan kepala, dia menolak apa yang Shan ucapkan. "Enggak. Kamu terlalu tinggi menilaiku, El. Nyonya please, izinkan El menikah dengan ku," isak putri bungsu Saputra, bersimpuh pada Naya.
Istri Mahendra Guna kikuk, namun Naya tak menarik tubuh gadis yang tengah menangis itu agar bangkit. Dia justru ikut duduk di lantai, mensejajarkan diri dengan sahabat Shan .
"Engkau terlalu berharga jika hanya buat menantuku seorang. Andai dia memang untuk Anda, El tak akan dijauhkan dari takdir seorang Sumayyah. Bila pun kamu memiliki perasaan yang begitu besar dan berat melepaskannya, ingatlah bahwa ada sosok di luar sana, jauh lebih pantas untuk dirimu. Jangan pernah mengemis cinta," tegas Naya.
Isakan Sumayyah masih kentara, wajahnya kini menunduk seiring deras air mata yang menetes, hampir membuat make-up nya luntur.
"Nona Saputra, merengkuh bahagia bukan berarti harus mengambil hak milik orang lain. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintai dan menghargai dirimu lebih dari menantuku," sambung Bunda Maira.
Naya meraih dagu Sumayyah yang menunduk, agar menatap wajahnya.
"Pikirkanlah ini. Hanya akan ada penghinaan jika kau melabuhkan cinta untuk orang yang salah. Pasangan hasil merebut paksa pun tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita terhormat ... perempuan bodoh adalah condong menyasar suami orang ketika dia sebenarnya tahu bisa mendapatkan pria bebas serta lebih memberi ketenangan." Naya terpaksa harus memberikan peringatan keras untuk gadis manja sepertinya.
Sumayyah diam, bukan merenungi perkataan Naya justru kini meledakkan amarahnya. "Aku lebih dulu kenal El, Tante. Hanya dia yang terbaik untukku," serunya lantang.
"Sumayyah! hormati Bundaku," tegur El Shan pada kawannya itu.
"Kamu sungguh bisa untuk menjalin cinta indah tanpa membuat hati orang lain tersakiti. Akan ada banyak kesempatan bahkan kisah cinta manis menantimu jika engkau bersedia membuka diri. Biarlah tetap seperti ini, Sumayyah. Pulanglah," ujar Shan. Dia bangkit, membuka pintu apartemen lebar agar gadis itu bersedia pulang tanpa berlama merendahkan dirinya.
__ADS_1
Merasa tidak punya pilihan, putri bungsu Saputra pun bangkit seiring asisten pribadinya masuk ke dalam apartemen.
"Jaga Nona muda kalian. Katakan yang sesungguhnya pada Tuan Saputra, jangan di tambah atau dikurangi," kecam El Shan pada kedua asisten nona muda.
Sejurus kemudian. Beberapa orang ajudan Sumayyah pun memapahnya meninggalkan kediaman keluarga Guna.
Shan menutup pintu, menguncinya lalu menghembus nafas lega.
"Shan," tegur Naya kala menantunya hanya diam bersandar pada daun pintu seraya memejamkan mata.
"Ya, Bun?"
"Bunda ngerti, jangan merepotkan diri menjelaskan duduk perkara pada kami hingga kamu canggung dan merasa bersalah. Karena aku yakin, Shan bukan pria yang gemar mempermainkan hati wanita kan?" ujar Naya lembut.
Mungkin jika tidak dalam kondisi demikian, barisan kalimat Naya hanyalah jajaran kata bermakna biasa. Namun karena di ucapkan setelah peristiwa tadi, Shan merasa bahwa sang mertua sedang menegaskan diri. Menyindir halus tentang dirinya agar lebih peka dalam menyelesaikan masalah dengan para wanita sejenis bagai Sumayyah. Istri Mahendra Guna adalah seorang wanita cerdas dan sangat peka, rentetan diksi tadi terdengar bagai satire di telinga Shan.
"In sya Allah ... Bun, gelar resepsi kapan? atau syukuran open house bagi kolega Ayah dan sahabatku agar kejadian serupa tak terulang. Aku jarang berinteraksi dengan wanita, Sumayyah hanyalah teman biasa, kami dekat saat akan mengajukan judul tesis," ungkap Shan kemudian sedikit menjelaskan awal mereka berkenalan.
"Kelamaan Bun. Aku ingin menegaskan posisi Ai di sisiku," pintanya lagi.
Naya tersenyum. "Nanti di bicarakan dengan Ayah ya. Jangan lupa urun saran dengan Bunda Dila ... gih, sana istirahat. Baru semalam jadi manten malah udah kerja aja sih," sindir Naya seraya beranjak ke dalam hunian.
Shan tertawa. "Garap nadzar aku, Bun. In sya Allah besok cuti satu pekan. Mau terapi syaraf kaki Ai," ujarnya mengikuti mertua dari belakang dan melanjutkan langkah menaiki susunan anak tangga menuju lantai dua.
Tok. Tok
Shan tak lantas membuka pintu kamar, sebab di dalam sana masih ada suster jaga karena Ajmi sedang jadwal belajar by streaming di kamarnya.
Suster menjelaskan kondisi Maira seharian ini. Beberapa kali detak jantungnya mengalami degup frekuensi tinggi juga samar terdeteksi gerakan kecil dari telapak tangan kirinya.
"Kemajuan baik Tuan Muda, semoga kondisi Nona kian maju menuju kesembuhan," ujar Suster menyerahkan catatan laporan medis pada Shan.
"Terima kasih banyak Suster, selamat istirahat. Nanti shift selanjutnya, seperti biasa. Akan aku panggil jika memerlukan sesuatu," balas Shan sebelum tenaga medis itu keluar kamarnya.
__ADS_1
Huft.
Shan menghampiri sang istri tercinta. "Sayaaang," suara manja Shan muncul. Dia memeluk Maira tak peduli bahwa tubuh itu tak membalas pelukan.
"Kangen kamu, Sayang. Tadi ada Sumayyah, teman wanitaku. Dia menangis karena aku telah menikah, mengutarakan cinta dan meminta agar menjadikannya istri kedua," ucap Shan, memantik emosi Maira. Dia merasa genggaman tangan pagi tadi, isyarat bahwa istrinya perlahan berjuang untuk sadar.
Tuut. Tuut. Tuut. Shan tersenyum.
"Kamu gak cemburu gitu, diem melulu suaminya di goda, Ai?"
Suara mesin pendeteksi jantung kian intens terdengar lebih cepat. Shan tak tega, buru-buru ia meluruskan isi hatinya.
"Enggak, cintaku cuma untuk Ai seorang. Having you is the most beautiful gift in my life." (memiliki mu adalah hal terindah dalam hidupku)
"Ai dengar ini ... sampai kapanpun, dalam kondisi apapun. Kamu akan selalu membawaku kembali ke tempat yang sama yaitu hati kita. I choose you. And I'll choose you over and over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat, I'll keep choosing you. Karena alasan aku jatuh cinta, itu semua karena My Ai," pungkas Shan.
(Aku memilihmu. Dan aku akan memilihmu lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam sekejap, aku akan terus memilihmu).
Dia lalu mencium lembut bibir istrinya, mema-gut perlahan, mencecap setiap inci benda kenyal yang terasa manis, mulanya mengering namun seketika menjadi basah kembali.
"Terima kasih Sayang, sudah terus semangat meski aku tak disisimu hari ini. Setelah mandi nanti, kita lenturkan syaraf kaki ya Ai. Ba'da isya, janji harus Qtime, ada satu cerita bagus sebelum tidur," tutur Shan, mengecupi kedua pipi Maira gemas.
Pria keturunan Turki itu masih setia memeluk, menyelipkan kedua tangan di balik punggung Maira dan meletakkan kepalanya di atas dada sang istri. Mendengar langsung degup jantung belahan jiwa.
Meski malas menghampiri Shan sebab rasa hangat yang saling menjalari tubuh. Perlahan pemilik raga tegap itu bangkit, melepaskan pelukan lalu melangkah menuju bathroom. Seiring kepergian Shan, deru nafas halus lepas dari pemilik bibir pink merona.
Hosh.
.
.
...____________________...
__ADS_1