
Solo, sebelum petang.
Siang tadi setelah kembali dari penandatanganan perjanjian bisnis, Fayyadh memutuskan masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Namun baru saja mata memejam, bunyi suara notif ponsel sangat mengganggu.
Dia lupa mematikan nada dering gawai bercasing biru laut itu. Saat jemari meraih benda pipih dari atas meja, mata nya menangkap sebaris kalimat di pop-up notif whatsapp tentang doa dari sang ayah idola, Mahendra.
Karena penasaran, akhirnya Fayyadh membuka grup chat Kusuma. Netra kantuk itu seketika membola membaca dua paragraf dari Mahendra disana. Abi dan Umma tak menanggapi pesan sang paman kesayangan, ia lega. Setidaknya keluarga inti masih menjaga perasaan yang tengah rapuh.
Rasa kantuk yang menggelayut di pelupuk mata seketika sirna, berganti dengan gelisah juga sesuatu tiba-tiba hadir menusuk nadi. Sesak, sesak dan sesak.
Fayyadh bergegas bangun, mengambil wudhu lalu melaksanakan dua rokaat sunnah agar kalbunya tenang.
Sepuluh menit berlalu, rasa aneh tak kunjung jua menepi hingga dirinya memutuskan keluar kamar menuju halaman belakang. Dia berpapasan dengan Danarhadi yang menatap khawatir pada Fayyadh.
"Uyut, aku baik saja. Gak apa, bukan jodohku," selaras nada bait lagu milik Anang, dia tirukan.
"Maafin Ayah Mahen ya. Gak ada niat melukaimu, ini murni karena hati kalian gak terpaut. Itu saja," pesan sang Uyut.
"Ayah gak salah, aku paham. Hanya saja, di-si-nnn-iiii kok sa-kk-iitt ya, Yut." Putra sulung Amir menunjuk dada kirinya seakan sudah tak lagi dapat membendung kesedihan. Danarhadi lalu menarik cicit emas dalam pelukan. Fayyadh akhirnya menangis di bahu ringkih sepuh yang hampir berusia satu abad.
"Mau kemana? Uyut temani yuk," belai Danarhadi pada punggung sang cicit.
Hening. Kosong. Isakan halusnya masih terdengar.
"Umma telpon Uyut, nanya kondisimu karena ponsel kamu gak aktif terus atau panggilan beliau di reject. Umma dan Abi khawatir, Mas. Jangan salahkan mereka juga ya," pesan uyut lagi.
Fayyadh hanya mengangguk pelan, masih bersandar di bahunya.
"Sana kalau mau jalan, tapi dianter Warso. Jangan aneh-aneh." Danarhadi meloloskan jika Fayyadh ingin menenangkan hati.
"Ke kebun aja palingan, aku mau makan banyak sambil liat bunga kesukaan Maira. Aku, aku--"
"Sudah, sana tenangkan diri. Lalu pulang dan sholat agar tenang lagi ya Mas," Danarhadi mengerti kepedihan cicitnya.
Fayyadh pun mengikuti saran sang buyut. Dia meminta sopir Joglo Ageng mengantar ke Kebon, meski hari menjelang Ashar.
Tiga puluh menit berlalu.
Fayyadh tiba disana. Suasana teduh dan lengang dia dapatkan, cocok untuk melepaskan perih. Nampak beberapa pekerja masih hilir mudik antar bagian kebun, dia memilih mengabaikan. Sang sulung kemudian menunaikan sholat ashar lebih dulu sebelum menuruni bukit menuju sektor lima dimana ladang bunga rose pink berada.
Angin semilir sore yang berhembus menambah kesan syahdu dan damai. Membuat Fayyadh ringan melangkah menuju tempat yang dia kehendaki. Setelah beberapa menit berjalan, tibalah dia di tujuan.
"Mungkin ini satu-satunya cara aku melihatmu jika rindu atau sekedar ingin mendengar suaramu, Maira. Bahkan foto kita saat Mbak Fatima menikah, tak lagi berani menghuni galeri ponselku. Bukan aku berlebihan, namun bila kau terus berada di sekitarku, bagaimana hati ini dapat berpaling," lirihnya sendu.
"Ku kira hatiku sudah jauh membaik, tapi ternyata diamnya aku justru membuat rasa ini semakin sakit. Jika Tuhan memberikan rasa yang begitu pedih, akankah nanti ku cecap manisnya kisah bagai milikmu, Mahya?"
"Aku tahu, Shan memang sudah Allah siapkan untukmu, begitu banyak kesamaan kalian. Maaf, aku kepo dan mencari tahu lewat Uncle Rey. Mai-ra, Mai-ra, aku terlalu dalam mencintaimu tanpa banyak orang tahu," Fayyadh terisak.
__ADS_1
"Aku bagai makhluk kecil yang berduka dan berdebu, menanggung kerinduan pahit hingga tercipta ruang kosong dalam diri. Perlahan dipengaruhi amarah seakan membisikkan bahwa luka ini hanya kau yang mengerti, Maira!" seru Fayyadh.
"Aku hampa! meski menyambut kesepian dalam diri hingga tak ada lagi ruang nyaman untuk menyendiri. Aku mencintaimu, Maira! sebanyak itulah aku merindukanmu kini! Mairaaaa!" teriak Fayyadh kali ini, melepas sesak di tepi jurang.
"Sejak awal aku sadar telah jatuh dalam badai, jika kini aku harus keluar, tentulah terluka. Aaaaarrggghhhhhh!"
Fayyadh berkali berteriak, suara berat nan pilu itu menggema. Membuat sepasang netra cantik menoleh dan mencari sumber suara.
Posisi sektor lima berada di bawah undakan sebelumnya membuat kebun itu indah terlihat dari sengkedan atas. Pemilik mata sipit, melihat sesosok kecil di tepi jurang. Ia khawatir akan keadaannya, pikiran buruk berkecamuk. Sejurus kilatan cahaya ia pun melesat menuju arah lelaki yang tengah patah hati.
"Lepas! lepaskan aku!"
"Kau gila! mau mati? jangan konyol!" teriak sang gadis.
Keduanya pun jatuh akibat pemberontakan Fayyadh yang tak suka disentuh selain mahramnya.
"PERGI!" usir sang pria tampan pada gadis muda, dia masih dalam posisi jatuh terduduk diatas tanaman bunga yang mereka rusak.
Merasa pengorbanannya di abaikan, gadis cantik itupun bangkit, meninggalkan pria patah hati disana.
Jika Fayyadh melepaskan semua kepahitan, lain hal dengan Aiswa. Meski menyatakan diri ikhlas namun tetap saja hatinya gundah memikirkan kondisi sang putra.
Amir mencoba menengahi keadaan, memberikan support pada Mahen lalu akan menyusul anak emas kesayangan setelah urusan ini selesai. Semua serba sulit, namun hubungan kekerabatan tetap harus teguh digenggam.
Petang menjelang.
Di atas pendopo sektor empat, dia masih bertahan. "Maira, selamat ya. Semoga kamu lekas pulih dan berbahagia, aku mendoakan dari jauh meski hatiku belum sepenuhnya lupa," gumam kakak Athirah.
Dia melirik jam tangan di lengan kiri. "Sudah selesai akad, alhamdulillah. Mabruk Sayang," lirihnya seiring air mata yang kembali turun.
Lelaki itu lalu bangkit, menghapus jejak lava bening dari wajah tampan dan melangkah gontai kembali pulang ke Joglo Ageng.
"Maira. Mai-ra. Mai-ra, selamat tinggal."
...***...
Orchid.
Suasana setelah akad masih kental dengan ungkapan rasa syukur. Ezra memeluk putra sulungnya, membisikkan berbagai wejangan agar Shan teguh menjalani keseharian bersama Maira, si putri tidur.
Shan lalu di bimbing Abyan, menyalami semua anggota keluarga Kusuma. Mengenalkan secara pribadi pada mereka.
"Sabar ya pasya-zade Shan, semoga Allah memberikan kekuatan juga kesehatan bagimu dalam membersamai cucuku Maira," Abah menerima sungkem Shan seraya memanggil gelar kehormatan keluarganya.
"Shan saja, aku bukan siapa-siapa."
"Tetap saja leluhurmu itu memiliki nasab ke atas, juga dari Bunda Dila, gak bisa dihilangkan asal usul darimana kita berasal bukan, Raden Mas Shareef Shan? meski Abah tahu, itu hanya sebatas gelar. Seandainya Shan pria biasa pun, kami tetap akan menyambutmu," balas Abah lagi.
__ADS_1
Pemuda keturunan Turki itu hanya mengangguk karena segan. Petugas terkait selanjutnya meminta dirinya menandatangani sejumlah berkas, kecuali Maira. Menggunakan surat kuasa perwalian sebab kondisi gadis itu tidak memungkinkan untuk sign.
"Clear? jika sudah, kita ke atas Shan. Menemui para Bunda juga istrimu," ujar Mahen mengingatkan menantunya.
Sementara Rey dan Adnan menyilakan semua tamu untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan di ruang keluarga.
Langkah tegap Shan menaiki tangga kedua kalinya menuju kamar Maira kini lebih tenang, meski dadanya bergemuruh hebat hendak menemui wanita pujaan.
"Assalamu'alaikum." Suara kedua pria karena Ajmi berada didalam sejak sebelum akad.
"Wa'alaikumsalam, Shan sini. Berikan doa kebaikan bagi Maira," ajak Naya ketika menantunya tiba di bibir pintu kamar.
Shan mendekat ke sisi ranjang, dia menatap wajah Damai istrinya kini. Menggenggam tangannya perlahan lalu menghadiahkan kecupan disana.
Suara berat itu terdengar, Shan menahan isak seraya melantunkan doa kebaikan bagi istrinya.
"Sayang, lelah itu biasa, kecewa itu wajar. Namun, percayalah bahwa kamu bisa melewati ini ... bukan tentang seberapa kali aku jatuh, melainkan berapa lama dan kuat kita bertahan. Semangat dan berjuang untuk kembali, padaku. Ok?"
"Bismillah." C-up. Shan membungkukkan badannya, mengecup lembut dahi juga bibir pink pucat milik Maira.
"Kita sudah sah sebagai suami istri, Sayang," bisik Shan di telinganya, seraya tersenyum.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alii sayyidina Muhammad wa 'ala ahli-baitihi ... jika kesembuhan Maira istriku sebagai jalan agar kian teguh mendekatkan diri kami ke hadiratMu, maka perkenankanlah dia kembali memijak dunia fana, namun apabila Maira akan melalaikan segala kewajiban sebagai Hamba, maka biarkanlah seperti ini. Ya Robb. Aamiin," Shan menutup doanya, pasrah bagaimana cara Allah mengatur hidupnya bersama Maira.
"Shan." Naya terisak, menghampiri menantunya yang masih menciumi telapak tangan Maira. Bibir itu tak henti berdoa bagi kesehatan putri sulung Guna.
"Shan, sungkem sama Bunda, Nak." Suara Dila menegur sang putra yang masih fokus dengan Maira.
"Eh iya. Afwan Bun, aku happy bisa sentuh dia," senyumnya terbit.
Seketika suasana haru sedikit mencair akibat seloroh Shan yang polos. Dilara membimbing putranya melakukan prosesi sungkeman pada kedua mertua. Sementara Mifyaz asik mengabadikan setiap moment dengan handycam miliknya.
"Sabar ya Kak. Terus berdoa dan bujuk Allah. Semoga semua hajat kalian tercapai, bahagia dan sehat selalu. Aamiin," ucap Dila memeluk putra sulung.
"Tegur dan tarik aku bila suatu saat melakukan kesalahan ya Yah, Bun. Aku putra kalian juga," pinta Shan, menatap kedua mertuanya bergantian.
"In sya Allah. Kita sama-sama jaga Maira."
Malam syahdu bagi Shan juga Maira. Tanpa ada yang menyadari, gerakan kecil jemari lentik itu mulai intens terlihat.
.
.
...______________________...
...Jangan boom like ya sayang ku, juga jangan lupa Rate. Mamaciih ❤...
__ADS_1