
Di dalam kabin mobil Tusakti.
Fiora masih terngiang-ngiang ucapan Fayyadh yang samar didengarnya.
"Fio, dalam sebuah hadis Bukhari dan Muslim disebutkan ... sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku."
Saat keluarga Kusuma melintas dan menyapa dirinya di parking lot area venue, sekilas dia mencuri pandang pada sosok lelaki tampan yang berjalan di belakang kedua orang tua nan bersahaja. "Kamu tuh Mas, cuek tapi bisa hangat dan lembut di waktu lainnya."
Tanpa Fiora sadari, sudut bibirnya melengkung keatas membentuk sebuah senyuman manis. Kilasan tentang obrolan bermakna dalam namun diwarnai sikap konyol itu pun kembali terlintas.
Fiora menutup wajah dengan satu telapak tangan, terkekeh pelan menyadari kebodohan yang dia tunjukkan pada pria tampan itu, sementara Fayyadh begitu tenang kala menghadapinya.
Lamunan manis perbincangan tadi, sayangnya harus terhenti oleh suara Sindy.
"Non, besok kan ngisi materi after lunch ya. Nah kita tetap buka stand dari pagi atau gimana?" tanya Sindy, asistennya.
"Buka toko dan lokasi event dari pagi. Bagi tugas siapa jaga Floffy utama dan tenda karena aku fokus untuk sharing pelatihan. Kan harus spill cara juga ... oh ya, jangan lupa sediakan paket set peralatan untuk berbagai model tas, supaya ketika selesai workshop apabila ada perserta yang ingin mendalami lebih lanjut bisa membeli semua kebutuhan mereka di stand. Finishing touchnya dua, penjualan Floffy juga si orang-orang tadi semoga repeat order bahan baku dari kita," ucap Fiora sumringah.
"Sekali tepuk ya Nona, dapat new customer yang entah sebagai pengguna saja atau memilih putar haluan jadi pengrajin juga," sahut Sindy menimpali.
"Nah tuh paham."
"Non, maaf. Itu gak dilepas? kalau Tuan tanya nanti gimana?" Sindy menunjuk scarf, masih fiora gunakan sebagai hijab yang menutupi rambut coklatnya.
"Eh ini?" Jemarinya hendak melepas pin dibawah dagu untuk melepas hijab dari scarf yang ia kenakan namun urung berlanjut.
Sindy terheran akan sikap Nona mudanya. "Gak jadi dilepas?"
Fiora menggeleng pelan, entah siapa yang memintanya. Tubuh molek itu hanya mengikuti naluri. "Aku nyaman, bener kata Wati, gak gerah," ucapnya seraya menunduk, membenarkan kembali helaian scarf yang tersibak.
"Tapi bagaimana dengan Tuan, kalau beliau tanya?" cemas Sindy khawatir, teringat kejadian hari itu. Tusakti murka hingga seisi rumah bagai terdampak gempa dahsyat.
Putri sulung Glenn merenungi perkataan Sindy. Masih terngiang jelas teriakan, kecaman juga makian sang Ayah hari itu. Bulu kuduknya meremang, tak kuasa menahan ngeri membayangkan bila kejadian serupa berulang. Meski ibunya terlihat baik-baik saja namun peristiwa itu tentulah membuat satu luka tertoreh dan menganga, tak menutup hingga sang Mama berpulang.
"Non." Sindy menepuk lengan majikannya kala mobil akan memasuki halaman rumah.
"Eh ... nanti aku bicara pada Papa, tenang saja, Sindy." Fio tersenyum getir pada sang Asisten.
__ADS_1
Dia lalu menoleh ke arah kursi belakang, memanggil karyawatinya. "Wati."
Hening.
"Wati," panggil Fio lagi.
Si pegawai yang tengah asik menonton film Bollywood digawai, lengkap dengan headset pun terkejut kala Sindy menepuk pahanya. "I-i-ya Non. Maaf gak kedengeran," ucap gadis belia itu tergagap.
"Makasih ya. Bener kata kamu, gak gerah."
Wati yang tak mengerti dan lupa akan percakapan mereka siang tadi, hanya mengangguk samar. Wajahnya menyiratkan kebingungan.
Alphard silver yang membawa keturunan klan Tusakti menepi di halaman depan. Fiora bergegas turun dan masuk kedalam. Sekilas tak dia jumpai sosok sang ayah diruangan megah itu, namun sedetik kemudian suara berat menahan langkah Fio kala dirinya akan menaiki anak tangga pertama.
"FIORA!" suara berat lelaki, menggelegar.
Nona muda Tusakti menoleh perlahan, dia tahu sang Papa marah melihat penampilannya saat ini. "Ya, Pa?"
Glenn seakan di tutupi amarah, dia berjalan cepat ke arah Fiora, menarik lengan putrinya kasar hingga jatuh terjerembab menyentuh lantai.
"Awh. Sakit, Pa. Dengerin penjelasan aku dulu," ujar Fiora seraya menahan sakit di lutut dan sikut akibat beradu dengan kerasnya lantai granit.
Fiora bangkit perlahan, mencoba berdiri meski nyeri menjalari kaki jenjang itu.
"Bukan Pa. Ini tuh hadiah, aku milih scarf karena motifnya cantik jika dipadu dengan setelan blazer yang warna putih. Kan ngisi acara esok hari di event itu, belum punya aksesoris model begini," ungkap Fiora menjelaskan alasannya.
"Hadiah dengan maksud terselubung. KAMU JANGAN BODOH FIO!"
"Ck Papa, picik amat. Tahu gak Pa, semua crochet aku hari ini ludes tanpa sisa, hampir dua ratus tas sold out dalam waktu tiga jam," girang Fiora, mencoba melunakkan hati sang ayah.
"Buulllshiiit."
"Sindyyyyyyy," teriak Fio memanggil asistennya.
Terdengar lengkingan suara Fiora ke seisi rumah. Gadis yang baru saja berganti pakaian itu datang tergopoh menghampiri majikannya di ruang keluarga.
"Ya Non."
__ADS_1
"Penjualan hari ini berapa buah tas dan dompet?" tanya Fiora.
"Seratus delapan puluh sembilan. Satu buah clutch untuk hadiah Nyonya Zaidi, tersisa sepuluh di stand event. Beberapa customer adalah pejabat daerah, mereka membeli banyak item untuk dijadikan sebagai hampers kolega, sisanya customer limpahan dari Queeny yang tak putus," terang Sindy menguatkan alibi Fio.
"What?" Glenn membola.
"Queeny itu brand kenamaan Papa, sudah merambah asia target market mereka itu, wajar bila sat set ludes apalagi harga produk relevan, masuk akal. Aku diajak colabs oleh Ummanya Fayyadh," Fio perlahan menyentuh sisi logika bisnis sang ayah.
"Hebat. Lalu apa hubungannya dengan penampilan kamu ini. Fio, Papa gak suka!" kecam Glenn.
"Kata Sindy kan tadi aku ngasih satu clutch ke Nyonya Zaidi sebagai ucapan terima kasih. Nah beliau memberiku satu design custom outfit apa saja. Namun aku memilih scarf, cinta biru sebab warna favorit. Maknanya dalam Pa, sebab itu ku ambil. Jika style begini, ya aku gak bawa syal. Ini untuk menghalau dingin tapi kan sulit stay di leher, jadilah ku sematkan pin sekaligus menutup kepala. Hangat deh," jelas Fio, melebarkan senyuman.
Glenn menatap tajam pada sang putri. Berharap kekhawatiran hati tak menjadi nyata kembali.
"Udah ah. Aku lelah, bye Pa," ujar Fio berlalu seraya mengecup pipi Glenn.
Sindy pun izin undur diri ketika sang Nona berlalu.
Tuan Glenn Tusakti menatap nanar kepergian putri sulungnya itu. Hatinya tercubit oleh rasa sakit yang sama. Lelaki paruh baya nan berbadan tegap lalu memalingkan wajah, dia berjalan ke arah halaman belakang, tempat favorit istrinya.
"Hingga akhir hayat kamu pun demikian. Diam bergeming, mengapa Georgia? padahal keinginanku hanyalah agar engkau mengutarakan maksud hati yang tak pernah kau urai. Apa aku akan kehilanganmu juga, Fio?" gumam Glenn, netra senja lelaki itu menyusuri deretan pot, menyentuh kelopak bunga yang Georgia tanam disana.
...***...
Sementara di kabin mobil lainnya. Beberapa saat yang sama.
"Fio. Jika hatimu teguh, akan banyak ujian yang menghadang. Siapkah kamu? akankah keyakinanmu kokoh dan tak goyah?"
"Mas. Jangan ngelamun. Minggu depan kamu udah balik terbang lagi. Kita mampir liat rumah kamu di Bekasi dan jenguk Maira dulu. Gak usah rencanain yang aneh-aneh. Athirah itu masih belum paham makna kalimat yang dia dengar," tegur Amir saat melihat putranya hanya diam sepanjang perjalanan pulang.
"Bii, Mas lagi mikirin Fio." Aiswa membelai lembut wajah tampan Fayyadh yang menyandar di bahunya.
"Eh, apa sih Umma?"
.
.
__ADS_1
..._______________________...