ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 73. KISAH MASA LALU


__ADS_3

Kedatangan Glenn membuat Fiora bergegas membereskan semua buku bernuansa Islami dari atas ranjang. Dia belum siap menerima kemarahan sang ayah saat ini.


"Mas. Nanti Fio tanya lagi yaa, ada dua kisah yang bikin mata ini menangis entah mengapa, padahal baru baca judul," lirih Fiora bermonolog seraya menyembunyikan bukunya.


"Fio?"


"Y-ya Pa? masuk saja, aku sedang bebenah."


Glenn masuk ke kamar sang putri, duduk disamping ranjangnya.


"Sudah lebih baik? move on?" tanya pemilik universitas Tusakti ini.


"Done. In sya Allah, lupa," Fio kelepasan.


"In sya Allah?"


"Eh. Puji Tuhan, sudah lebih baik. Menuju lupa akan sosok Richard," ralatnya dengan dada bergemuruh.


"Jangan macam-macam ya Kak. Kamu tahu konsekuensinya," ancam Glenn penuh ketegasan.


Putri sulung Gioergia hanya mengangguk samar seraya tersenyum kecut. Ingin menunjukkan usaha mengikuti keyakinan sang Mama namun belum ada sosok tameng bahkan yang dapat dijadikan tongkat ketika diri rapuh.


"Ada berita apa, Pa? tumben bahas move on?" kilah Fio tak ingin sang ayah menelisik bahasa tubuhnya lebih jauh.


"Bisnis dengan Kusuma, bagaimana? kata Sindy, kalian deal jalin kerjasama dengan Queeny juga," Glenn memastikan info yang dia peroleh dari tangan kanannya.


"Bisnis dengan Arya Tumenggung, lancar kok. Meski Fio jarang kontek beliau. Sejauh ini pasokan tetap kualitas nomer satu ... kalau dengan Queeny, iya masih. Ini Fio lagi mau buat crochet lagi. Tuh benang nya banyak, design juga sudah fix disetujui oleh Umma," tutur Fiora lancar nan sumringah.


"Umma? Fio, bahasa kamu sudah mirip mereka," Glenn mulai curiga.


"Umma itu panggilan like moms, Mama, Ibu, Bunda. Itu sebutan umum. Aku menghormati beliau karena sekitar memanggilnya demikian, Pa," jelas Fio selogis mungkin.


"Oh gitu. Kusuma itu memang santun, berilmu tinggi, keluarga harmonis nan hangat, sayang gak sejalan," kagum Glenn.


"Hmm, kalau sejalan. Berarti Papa suka?" cecar Fiora menggunakan kesempatan.


"Entah. Sampai saat ini kagum pada mereka, universal gak bedakan s-a-r-a, profesional, rata-rata pengusaha muslim yang paham ilmu begitu ya, menyenangkan," ujar Glenn.


"Kagum hanya sebagai partner bisnis ya Pa? bukan kekerabatan," seloroh Fiora enteng.


"Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Loh, kekerabatan kan bisa saja. Saudara tak mengenal religion atau lainnya. Emang Papa pikir apa?" pemilik Floffy craft memancung reaksi.


"Papa kira menjadi keluarga inti. Suami kamu," cemasnya.


"Boleh?" Fio menatap lekat sang Ayah, jurus puppy eyes nya dia luncurkan.


Glenn menoleh ke arah Fiora yang kini duduk di atas karpet membereskan gulungan benang rajut.


"Jangan macam-macam! Papa gak akan merestui sampai kiamat datang. Sudah, jangan ngaco, lelaki tampan dan baik itu masih banyak. Bukan cuma Kusuma. Dan ini, invitation dari Richard," Glenn menyerahkan undangan berwarna hitam keemasan pada putrinya.


Fio menerima uluran undangan dari tangan sang ayah. Membaca pelan tulisan disana. "Fu-ckkk! Alana Lenski?"


"Why? Lenski advertising, temanmu kan?" tukas Glenn.


"Dia menusukku dari belakang! Alana! pantas saja, pantas saja. Ok fine, sampah ketemu tempatnya," geram Fiora.


Glenn bangkit. "Kau sudah tahu bobroknya Richard, maka jika sanggup hadirlah menggantikan Papa," pinta sang ayah lagi.


"Aku memilih tidak. Bukan berarti belum move on, tapi memilih menjauh dengan lingkungan kotor sebab takut diriku tercemar bau busuknya," tegas Fiora, melempar pandangan pada sang ayah. Bengis, sekaligus merobek undangan dan membuangnya ke tong sampah.


...***...


Keesokan Pagi.


Abah tengah melakukannya panggilan video call dengan Amir, melanjutkan bahasan persoalan proposal ta'aruf milik Afra.


"Mas Fayyadh gimana?"


"Belum kasih jawaban tapi dia sih santai. Katanya udah siapin draft, lagi siapin kerjaan dulu," sahut Amir.


"Sebenarnya ada cerita apa sih?"


Belum keluar suara Wisesa menjelaskan, namun Danarhadi sudah menyambar obrolan.


"Mas, Arundati itu saudara jauh Kusuma. Buyut mereka Raden Ngabehi Dirgantara Arundati itu jabatannya setara dengan Uyut. Cuma turunan dia mendapatkan gelar itu gak sepenuhnya asli. Dia menggunakan berbagai macam cara agar posisinya teguh didalam pemerintahan, gak elok di ceritakan," tegas Danarhadi.


"Cerita aja Kek, biar jelas."


"Jadi, Dirgantara ini anu. Menceraikan istrinya lalu merayu salah satu putri pengeran yang akan naik tahta jika Sulthan lengser kala itu. Demi harta dan kekuasaan dia juga gak segan menyingkirkan siapapun. Niku Putri Agamsari masih polos, cinta mati karena memang uyut akui keluarga dia itu rupawan semua. Unggah ungguh meyakinkan, pandai bicara juga cerdas tapi kepintaran nyatane digunakan untuk jalan culas," tutur Danarhadi.


"Ya gak mungkin bakalan lungsur semua watak jelek ke anaknya Kek, siapa tahu sudah berubah," bantah Abah.

__ADS_1


"Nggak mungkin, Sa. Pasti netes, buktinya Bima. Rumor kemarin saat pemilihan itu, kamu jangan tutup mata dan telinga ... Dirgantara juga menyingkirkan adik kandung lalu menjadikan mantan ipar sebagai istri kedua, sebab kabarnya si wanita itu adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga ... mereka dinikahkan paksa sebab diduga telah berzina. Kanjeng Putri Agamsari sampai depresi. Otakmu dimana ngadepin turunan sing mekoten, Sa?" tegas Danarhadi berapi-api.


"Innalillahi," sahut Wisesa.


"Astaghfirullah. Uyut, sabar, minum dulu," suara Amir dari seberang.


"Gimana sabar Mas Amir, kalau anakmu nekad sama Afra. Mpun lah, mpuuuun uyut pindah ikut sama Galuh ke California aja, biarin gak bisa ngomong enggres gak apa. Ting sresed atiku," ancam Danarhadi seraya mengusap dadanya.


"Nggih, sampun. Kita udah paham duduk masalahnya. Nanti di bicarakan dengan Fayyadh," Abah menenangkan kakeknya.


Saat pembicaraan nan mengundang emosi Danarhadi tak kunjung surut. Sebuah suara mengaburkan obrolan mereka, menghentikan ocehan sang pemilik Joglo Ageng itu.


"Jangan timpakan kesalahan orang tua terdahulu dengan apa yang keluargaku capai saat ini! Afra tidak bersalah," tegas seorang pria.


"Weh, njenengan mboten santun! keluar!" teriak Danarhadi.


"Mir, sudah dulu. Assalamu'alaikum." Abah memutus panggilan sepihak dan bangkit dari sofa.


"Kek, tunggu disini ... Mas Bima, monggo ke depan saja, kita bicara," ajak Abah bergegas menarik lengan tamunya yang diam-diam menerobos masuk.


"Jangan mau dihasut, Sa! kamu waspada akal bulus Arundati!" Uyut berteriak lantang. Namun tak Wisesa hiraukan.


"Monggo duduk," sambung Abah ketika mereka diruang tamu.


"Tolong Afra. Kabulkan permintaannya," ujar lelaki itu.


"Mengenai apa?"


Lelaki gagah masih mengenakan pakaian dinas itu, menundukkan wajah. Pandangannya terlihat sendu saat kilas awal Abah melihat sorot matanya. Dia membayangkan hal buruk akan menimpa Afra bila tak segera di tangani, terlebih keinginan putrinya itu sangat mustahil dikabulkan.


Bima menurunkan ego mendatangi kediaman Danarhadi guna memohon pada sesepuh keras kepala itu agar merestui hubungan para cicit mereka.


"Apa tidak ada jalan keluar?" tanya Bima, mengangkat wajahnya. Gurat kesedihan nampak jelas diwajah senja itu.


"Maksudnya bagaimana? saya kurang paham, silakan Mas Bima ceritakan dahulu duduk perkara yang sesungguhnya," Abah memberi kesempatan pada pria dihadapan agar semua kian jelas.


"Putriku...."


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2