
"Serius, Shan?" ucap Fayyadh lemah.
"Kabarnya gitu. Ai malah tanya langsung...."
Fayyadh kian lunglai. Sementara Shan tergelitik untuk tidak tersenyum.
"Gitu amat. Belum tentu juga dia mau, masih punya peluang kok, doa aja Mas," saran Shan menepuk bahu Fayyadh hendak bangkit.
"Shan, Shan, tunggu dulu ngapa. Main ngeloyor aja, nasib gue macam mana?" keluhnya lagi.
"Besok kan aku masih kesana sekali lagi, Mas. Belum pamitan resmi ke korlap juga jajaran keamanan. Aku selidiki lebih lanjut dah ya," ujar Shan lagi.
"Bukannya kamu langsung ke Surabaya? kan mau syukuran disana?" ingat Fayyadh.
"Iya. Langsung ke Surabaya setelah melepas bus laskar juga Hubabah pulang. Kita pergi juga," ujar Shan kemudian.
"Kamu bikin gak bisa tidur lah, Shan. Aku ikut besok ya," bujuk Fayyadh berusaha.
Keinginannya dikabulkan oleh Shan, toh mempelai pria itu adalah sahabat baiknya juga, mungkin Fayyadh akan langsung menanyakan pada Allen.
...***...
Keesokan pagi.
Tuan muda Kusuma sudah bersiap sejak jam enam pagi. Dia berkali mondar-mandir didepan kamar pasangan Qavi, ingin mengetuk pintunya namun segan.
"Mas! astaghfirullah, ngapain disana?" tegur Danarhadi kala melihat Fayyadh berdiri mematung di depan kamar Maira.
"Nunggu Shan bangun," ujarnya polos seraya menunjuk ke arah pintu kayu jati itu.
"Tuh, Shan dan Maira. Jogging didepan," kekeh Danarhadi seraya berlalu.
"Kalau lagi galau, emang keliatan bodohnya," sambung Danarhadi lagi.
"Uyuuuttttt!" serunya tak terima, dia lalu mengejar pasangan Qavi.
"Mas! masa jogging pake sarung, oooyyy, Maasss!" seru Abah melihat kekonyolan Fayyadh.
"Innalillahi." Putra Aiswa pun kembali masuk ke dalam hunian. Tak dia hiraukan tawa menggema kedua sepuh nya itu.
"Pada jahat emang, jahat sama aku," cebiknya saat kembali keluar rumah kala melewati kakek dan buyutnya yang masih terpingkal.
Melihat kelakuan Fayyadh yang tak semestinya, Danarhadi menanyakan hal tersebut pada Wisesa. Namun Abah pun tak mengetahuinya duduk perkara yang sebenarnya.
"Palingan mau ketemu Fio," ujar sang Arya Tumenggung.
"Bukan. Fio itu gak tahu kemana, Tuan Glenn kabarnya masih mencari keberadaan anak itu," ujar Abah lagi.
"Kalau Fio jadi cicit mantuku, Glenn gimana ya?"
"Selama gak pindah keyakinan, mungkin direstui Kek. Beda cerita jika Fio muallaf, mungkin akan di tentang setengah mati ... dan ku rasa, Fio gak akan sanggup menentang ayahnya," ujar Wisesa, membagi opini.
Keduanya berbincang, Danarhadi terkesan akan sikap Fiora yang menurutnya manja, dewasa juga lucu disaat tertentu tanpa di buat-buat. Ditemani kopi panas juga rebusan kacang yang masih mengepul, kedua Kusuma menghabiskan waktu pagi menjelang duha itu di teras Joglo seraya menikmati kicau burung murai.
Jam tujuh pagi.
Kusuma generasi ketiga memasuki pelataran Joglo Ageng. Fayyadh segera berlari masuk kedalam sementara pasangan Qavi memilih stretching sebelum menginjakkan kaki mereka di teras hunian utama.
__ADS_1
"Shan, langsung packing atau pulang dulu?"
"Pulang dulu, Bah. Repot kalau sekalian berangkat. Banyak yang dibawa soalnya nitip ke bus laskar. Aku siap-siap dulu ya, Bah, Uyut," ujar Shan, sementara Maira melenggang pergi.
"Nduuukk, gak cium uyut dulu, kamu jual mahal ya sekarang!" sewot Danarhadi.
Maira berbalik, daripada runyam. Dia menghadiahi kecupan di pipi kedua sepuhnya tanpa banyak kata dan kembali masuk.
"Shan, maaf ya. Ini udah tua tapi selera masih abege, disuruh nikah lagi katanya gak sanggup," kekeh Abah melihat kelakuan kakeknya.
Shan hanya tersenyum menanggapi kedua sepuhnya. Toh dirinya juga demikian bila sudah berdekatan dengan eyang Deva.
Tak lama, mereka pun pergi bersama menuju As-shidqu.
Shan dan Maira mengumpulkan laskar juga korlap dibantu Arwa dan Shofie. Juga staff keamanan setempat yang masih standby disana. Briefing singkat berlangsung sepuluh menit, dan yel laskar bergema kala hendak membubarkan diri.
Fayyadh setia menunggu semua prosesi itu berakhir. Kode lampu hijau Maira lambaikan agar Fayyadh mengikuti Shan saat mereka berjalan menuju sisi Aula.
Nyata usaha Maira untuk menahan Arwa berhasil. Namun nampak gadis itu paham ada pria bukan mahram tengah memperhatikan.
"Ana permisi, Nona Maira," suaranya sangat lembut nyaris tidak terdengar.
"Kemana?" tanya Maira.
"Arwa mau latihan rebana, sebab acara nanti malam masih berlangsung di pondokan putri," ujar Shofie membantu sahabatnya.
Gadis bergamis serba hitam itu membungkukkan badan. Menangkupkan kedua telapak tangan di dada untuk Shan, lalu mundur dua langkah dan berbalik arah.
Fayyadh kecewa, ada dorongan kuat untuk mengikuti gadis itu, mumpung masih di lingkungan umum. Putra Amir, mengejarnya.
"Aku cuma ingin menegaskan sesuatu," jawab Fayyadh segan.
"Jika hal pribadi. Afwan, sahabat Ana sedang dalam masa ta'aruf," tegasnya lagi.
"Ana tidak bicara denganmu, izinkan Arwa yang bicara," kesal Fayyadh pada khidmat satu ini.
"Beliau tidak bicara dengan selain mahram, jika tiada keperluan mendesak atau dalam situasi sulit," sergah Shofie mulai jengah.
"Mbak Shofie, afwan. Beliau hanya ingin memastikan sesuatu saja. Mbak Arwa, boleh menghadap kami tiga detik?" pinta Maira menengahi mengejar mereka di tengah halaman depan pesantren.
Hening.
Jeda.
Wuszzzz. Angin menerbangkan surai hijab panjang yang menjulur.
Arwa berbalik, namun matanya terpejam sebab debu yang beterbangan.
Satu, dua detik. Mata itu terbuka.
Degh.
"Benar, itu kamu, siapa kau sebenarnya?" lirih Fayyadh.
Wajah ayu Fiora seketika terlintas di pelupuk mata, Fayyadh memandang sendu sosok yang telah berbalik badan dan melangkah menjauh.
"Afwan, Nona Maira. Kami permisi," ujar shofie menyusul sang sahabat.
__ADS_1
Fayyadh menatap penuh misteri kepergian gadis itu, dia rindu Fiora.
"Mas."
"Shan, benar dia gadis dalam mimpiku. Tapi tiba-tiba aku kangen Fio, gimana ini?" keluhnya.
"Fio sedang aku cari, Mas. Sabar, mereka dua pribadi yang berbeda kurasa," ucap Shan kala mengamati keduanya.
"Hem, bertolak belakang. Fio-ku lembut dan ceria. Tiada ketegasan di sorot matanya bila bersitatap denganku. Hatiku...."
"Coba tanya Allen, siapa tahu dia lebih banyak memberikan petunjuk," saran Maira.
"Tidak sekarang, dia sibuk dan aku gak mau ganggu kebahagiannya," balas Fayyadh.
"Pulang yuk."
Putra sulung Aiswa berjalan pelan menuju mobil mereka. Bayang senyum Fiora tak hilang dari ingatan. Namun sorot mata itu, membuatnya gundah.
"Aku kudu gimana?" lirih sang pangeran Kusuma.
...***...
Menjelang petang.
Fayyadh dan Shan mendapatkan undangan mendadak khusus ikhwan dari Allen. Dia memaksa Shan untuk hadir dan menunda keberangkatan hingga esok pagi, mengambil jadwal flight di jam awal.
Kedua pria pun pergi menghadiri pasar rakyat khusus untuk para warga malam itu. Kabarnya semua sajian di masak oleh para chef handal juga menggaet banyak umkm rekanan bisnis sang Nyai.
Saat sedang asik menikmati hidangan di salah satu tenda. Fayyadh tak sengaja menangkap signal stiker ponselnya berkedip. Awalnya dia tak menyadari namun saat lampu kecil itu beberapa kali menyala, lelaki tampan pun mulai mencari ke sekitar.
"Mas. Kenapa?" tanya Shan saat melihat Fayyadh meletakkan kudapan di meja, asal. Lalu mencari sesuatu seraya menggenggam ponselnya.
"Fio. Fio disini, aku lagi nyari dia," ujarnya cepat.
"Gak paham, kemana?"
"Kita couple stiker lampu, bakalan nyala kalau ada pasangannya disekitar. Bantuin aku cari ponsel yang ada ikon begini," ujarnya menepuk bahu Shan.
Degh.
Degh.
Degh.
Fayyadh berhenti di salah satu stand mainan permen kapas, dia melihat sosok gadis dari belakang, kerlip lampunya kian kuat.
"F-fio?"
"Fioo? Fio-ku?"
"Ya?"
.
.
..._____________________...
__ADS_1