ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 85. ANOTHER WAY


__ADS_3

Lusa.


Fayyadh baru saja landing dan kini lelaki tampan itu tengah menunggu untuk flight kembali dengan pesawat transit penerbangan lokal menuju Solo.


Sementara di kediaman Tusakti.


Sejak kemarin, setelah penjemputan Fiora di kost-an Kenanga. Glenn justru tak mengajaknya bicara bahkan mengurung anak gadisnya bak Rapunzel didalam kamar mewah kediaman Tusakti.


Glenn juga mengalihkan konsentrasi putra bungsunya agar tak mencari sosok sang Kakak dengan mengatakan bahwa Fio pindah tempat tinggal.


Tekanan yang dialami keluarga Tusakti, membuat Glenn tak memperhatikan pola makan akibat stress melanda. Di hari kedua aksi penyekapan Fiora, sang tuan besar ditemukan pingsan di kamar mandi oleh asistennya.


Merasa butuh bantuan dalam pengambilan keputusan, para maid terpaksa membuka kunci pintu kamar sang nona muda.


Fio panik. Dia langsung membawa ayahnya menuju rumah sakit terdekat. Dalam kondisi setengah sadar saat dalam perjalanan, Glenn meracau. "Kembalikan Fio padaku," lirih sang pemilik lembaga pendidikan itu.


Tiga jam sudah, Fiora menemani sang ayah di kamar rawat inap VIP Rumah Sakit Kencana Biru. Namun kesadaran pria paruh baya itu tak kunjung hadir.


"Papa. Aku akan tetap teguh pada pendirian ku. Izinkanlah," isaknya lirih di sisi tempat tidur sang ayah.


Dia memutuskan menginap di rumah sakit meski Sindy dan Aldo menawarkan bantuan bergantian menjaga sang majikan.


Hingga malam menjelang, Fiora masih setia disisi sang Ayah. Bibirnya sedari tadi basah oleh sholawat yang baru berhasil dia hafalkan sebab merasakan ketenangan dan damai.


"Fio."


"Pa, mana yang sakit?"


"Ini. Heart. " Glenn menunjuk ke arah jantungnya.


"Sehat dulu ya, Pa. Aku tetap disini, bertengkar juga butuh tubuh yang sehat. Karena apabila Papa meyakini membujuk ku dengan kekerasan atau segala cara agar melunak, aku tetap teguh. Tiada yang mengambil ku dari Papa," ujar Fio tersenyum manis.


"Makan dulu sedikit ya Pa, aku suapin," ujarnya lagi, seraya mengambil hidangan lu-mat bagi sang ayah.


Glenn hanya diam. Tak menanggapi, dia memilih menutup mata kembali.


Sepanjang malam Fio terjaga, khawatir keselamatan sang ayah yang kerap mengeluh sesak. Hingga menjelang subuh, dia ingat bahwa ini adalah waktu mustajab untuk berdoa.


Fio menuju bathroom, dia mulai mempraktikkan cara berwudhu. Air matanya menetes, jemari dan tubuh ramping itu bergetar halus.


"Bismillah, bimbing aku ya Robb."


Detik-detik berharga dilalui anak gadis Tusakti hanya dengan Tuhan yang dia yakini. Hingga adzan subuh bergema samar via udara menyadarkan Fio dari doa panjangnya.


"Umma."


Aku harus call Umma. Fio bergegas mencari ponsel yang tengah dia isi daya sejak semalam, mencari kontak wanita sholihah.

__ADS_1


Tuuut.


"Assalamu'alaikum, Umma."


"Wa'alaikum, Fio kenapa?" ucap Aiswa yang mendengar suara sumbang.


Terdengar isak tangis Fiora yang tertahan.


"Um-maa, doain Papa ya agar lekas sehat lagi. Beliau kena serangan jantung ringan, kesadaran belum sepenuhnya pulih. Um-maa, bagaimana jika aku harus memilih?"


"Innalillahi, semoga lekas sehat kembali ya Papa Fio ... kewajiban anak terhadap orang tua itu tetap sama Fio, berbakti kepada mereka kecuali terhadap urusan yang Fio yakini. Selama mereka masih hidup berinteraksilah dengan santun, akhlak baik dan perilaku yang mulia,” tutur Aiswa.


"Jika yang di maksud oleh Fio memilih antara Papa dan satu prinsip hidup, keduanya gak bisa terpisah, Sayang. Apapun itu, tunjukkan bahwa apa yang Fio pelajari serta yakini mengajarkan tentang keindahan juga kebaikan. Ya Sayang," imbuh istri Amirzain.


Fiora mengangguk, meski Aiswa tak dapat melihat responnya. "I-iya Um-maa. Syukron," balas Fio.


Aiswa tertegun sesaat. Beberapa detik suaranya menghilang. "Afwan, Fiora. Jangan lupa makan, istirahat dan tetap berdoa pada Tuhan," saran Aiswa.


"Mengenai bisnis, Umma masih mau melanjutkan kerjasama dengan aku kan?"


"Tentu dong, Fio. Umma gak ada masalah dengan Floffy kan? kenapa tanya begitu?" Aiswa belum tahu pemutusan kerjasama di antara Kusuma.


"Papa wan prestasi. Memutus kerjasama dengan Arthaflo. Umma, banyak yang mengatakan bahwa harus menghindari orang-orang seperti kami sebab memfitnah Tuhan kalian juga Rosulullah. Mengapa Umma tidak seperti mereka?" selidik Fiora.


"Rosululloh berbisnis dengan orang-orang di luar agama kami. Jika dalam keyakinan Umma, tertuang dalam hadist bukhari dan muslim. Tentang Nabiyullah yang membeli makanan dari kaum Yah-udi dengan menggadaikan baju perang atau menyewakan lahan untuk di garap dan hasil panen dibagi dua bersama kaum Yah-udi, juga banyak lagi contoh kisah lain."


"Ajaran Umma juga melarang kami berbuat dzolim terhadap sesama, apapun jenis muamalahnya. Apa jawaban ini bisa menenangkan Fio?" tanya Aiswa.


Fiora terisak. "I-iya. Alhamdulillah, a-aku lega."


Obrolan yang terjalin lembut bagai curhatan anak gadis dengan ibunya. Aiswa banyak mendoakan putri sulung Tusakti ini agar kuat menopang diri selama di situasi genting.


...***...


Menjelang siang.


Abah mengetuk pintu kamar Fayyadh agar sang cucu bersiap menjenguk Afra di rumah sakit Kencana Biru.


Tok. Tok.


"Mas. Kesayangan Umma, ayo bangun. Katanya mau ikut jenguk Afra," ujar Abah tak henti mengetuk pintu.


"Be-iiikk, he em, mandi dulu," suara Fayyadh masih mode mengantuk.


Lelaki muda Kusuma bergegas bersiap hingga tiga puluh menit kemudian dirinya telah rapi.


"Maa sya Allah, ganteng banget nih. Mau ketemu siapa sih? curiga nih."

__ADS_1


"Gimana bibit sih kalau ini," gelak Fayyadh, menggamit lengan sang kakek untuk segera masuk ke dalam mobil agar berhenti menggodanya.


"Mas. Mas. Mas." Suara Danarhadi memanggil Fayyadh. Dia berlari kecil mengejar cicitnya.


"Beiiiikk, Uyut. Jangan lari-lari," Fayyadh berbalik badan, menyongsong buyutnya.


"Salam buat Fio yang cantik ya," ujar Danarhadi dengan senyum mengembang.


"Mau jenguk Afra, Afra Yut, bukan Fio. Udah tua Yut, cengengesan mulu tiap liat wanita cantik," balas Fayyadh meninggalkan sepuh genitnya itu.


"Pipi Fio gemesin Mas," kekeh Danarhadi seraya berseru meski diabaikan Fayyadh.


...*...


Rumah sakit Kencana Biru.


Saat memasuki lobby dan menanyakan kamar Afra Arundati pada staff bagian informasi, tiba-tiba Abah ditegur seseorang.


"Ahmad Zaid," suara seorang pria. (nama lain Wisesa)


Abah menoleh, mencari sumber panggilan. Netra tuanya bersinar ketika melihat sosok yang dia kagumi.


"Maa sya Allah. Yai Zain, kaifa haaluk?" sapa Abah menyongsong sang sahabat lama. (apa kabar?)


"Ana bi khoirin. Kok kebetulan ya ketemu disini, sama siapa?" tanya beliau masih saling memegang lengan. (aku baik, alhamdulillah)


"Cucu. Ini mau jenguk putri kawan kecil Ana disini. Antum juga?" balas sang Kakek Fayyadh.


"Iya. Kerabat jauh sudah lama gak ketemu. Ini baru ambil hantaran, maklum Ana sudah sepuh jadi banyak lupa nya," kekeh Zainal.


Abah mengenalkan Fayyadh yang sedari tadi diam. "Ini cucuku, Fayyadh," Abah mengenalkan keduanya.


"Ana Fayyadh, Yai." Putra Aiswa meraih telapak tangan Zainal untuk salim.


"Loh, ini kan cucunya Hariri salim," tebak Zainal kala melihat Fayyadh.


"Antum kenal? darimana? putra Antum satu kampus kah dengan cucu Ana?" cecar Abah, penasaran sebab Fayyadh tidak pernah menjalin hubungan dengan orang-orang diluar lingkungannya.


Zainal sumringah. Sementara Abah bingung, namun Fayyadh menduga sesuatu.


"Jangan-jangan."


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Riba : kelebihan nominal pengembalian hutang pokok yang dibebankan pada peminjam. Gharar : ketidakjelasan objek, penyerahan, maupun harga (tipuan). Maisir : transaksi adu keberuntungan (judi atau taruhan)....


__ADS_2